THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 27 Februari 2013

HOW TO IMPROVE YOUR NOVEL SCENE

Salah satu statement yang sering aku dengar dari teman penulis yang lagi mentok adalah: “Clueless beneran, Bang. Nggak kebayang deh gimana caranya menulis novel sampai berpuluh-puluh halaman begitu.”
Nah, semoga setelah ini kamu jadi nggak kayak teman penulis yang itu. Notes kali ini adalah mengenai cara untuk membuat novelmu terasa lebih seru dan (hehe) tebal.

Notes: elemen-elemen yang akan kamu pelajari ini ibaratnya seperti garam. Kalau terlalu sedikit rasanya hambar, terlalu banyak kamu, err, langsung dituduh bakal cepat kawin. :)
Pakai sesuai porsi ya, Dear.
Karena ini lebih ke latihan, gimana kalau kita sekalian praktekkan teorinya.
Contoh adegan yang perlu kita improve:
Malika kaget saat mendapati keberadaan Arya di teras depan rumahnya.
“Udah berapa lama lo nunggu di sini?”
“Sejam setengah kali.”
“Masuk yuk. Lo pasti kedinginan kan, mana nggak pake jaket lagi.”
“Gue nggak dateng kemari buat lo omel-omeli,” cowok itu berkata. “Ngomong-ngomong, yang nganterin lo pulang itu siapa? Mobilnya bagus.”
“Bukan urusan lo!”
IMPROVEMENT #1: Deskripsi
Sedikit rahasia insider, salah satu faktor yang membuat penulis dipertimbangkan naskahnya untuk diterbitkan adalah kemampuannya mengolah deskripsi dalam novelnya. Soalnya, deskripsi adalah salah satu faktor yang menentukan ‘rasa’ novel ini.
Contoh improvement:
Bulan menggantung malas di langit malam itu. Cahayanya tidak terlalu terang karena nyaris disembunyikan awan, tapi masih cukup jelas menerangi sosok tegap yang sedang berdiri di depan teras rumahnya. Malika mengernyit saat mendapati dirinya merasa familier dengan siluet orang itu.
“Udah berapa lama lo nunggu di sini?” dia bertanya.
IMPROVEMENT #2: Backstory
Semua cerita mempunyai backstory, entah yang penting dan berhubungan langsung dengan konflik atau yang memperkuat imajinasi pembaca tentang si tokoh. Apa pun itu, hati-hati ya. Untuk backstory yang sudah dibahas di bab sebelumnya, sebaiknya kamu menuliskannya ulang dengan gaya berbeda atau pembaca akan merasa jenuh karena dicekoki hal yang sama terus.
Contoh improvement:
Malika menggosok-gosokkan lengan kurusnya yang sedikit gemetaran karena embusan angin malam itu. Sebelum menutup pintu gerbang, cewek itu menyempatkan diri untuk melambaikan tangan ke arah cowok yang berada di dalam mobil. Lambaian selamat tinggalnya dibalas dengan suara klakson. How romantic, batinnya sinis.
Rangga memiliki semua yang dia cari, tapi entah kenapa malam ini membuktikan yang sebaliknya. He is so... plain. Like vanilla ice cream—ick. Nggak ada sesuatu dalam dirinya yang mendorong Malika untuk mengenal cowok itu lebih jauh. Bahkan saat dia mencoba men-spice up kencan (kalau acara makan malam itu layak disebut begitu) mereka dengan flirting ringan di sela-sela menikmati dessert, cowok itu hanya menanggapinya dengan tersenyum malu-malu.
Kayak perawan desa—oops, pardon my sarcasm.
Bulan menggantung malas di langit malam itu. Cahayanya tidak terlalu terang karena nyaris disembunyikan awan, tapi masih cukup jelas menerangi sosok tegap yang sedang berdiri di depan teras rumahnya. Malika mengernyit saat mendapati dirinya merasa familier dengan siluet orang itu.
“Udah berapa lama lo nunggu di sini?” dia bertanya.
IMPROVEMENT #3: VARIASI ‘dia berkata’/’katanya’
Kamu bisa variasikan backstory dan deskripsi untuk menggantikan kalimat standar ‘dia berkata’/’katanya’. Khusus yang satu ini, kamu bisa belajar banyak dari membaca novel dan berlatih menulis.
Dengan kening mengernyit dan benak yang disesaki tanda tanya besar, cewek itu mempercepat sedikit langkah kakinya. Sejurus kemudian, saat berada cukup dekat dengan cowok itu, Malika bertanya agak sedikit ketus, “Udah berapa lama lo nunggu di sini?”
IMPROVEMENT #4: Sempurnakan adeganmu hingga jadi sebuah adegan utuh yang menarik
Malika menggosok-gosokkan lengan kurusnya yang sedikit gemetaran karena embusan angin malam itu. Sebelum menutup pintu gerbang, cewek itu menyempatkan diri untuk melambaikan tangan ke arah cowok yang berada di dalam mobil. Lambaian selamat tinggalnya dibalas dengan suara klakson.
How romantic, batinnya sinis.
Rangga memiliki semua yang dia cari sebagai pacar, tapi entah kenapa malam ini membuktikan yang sebaliknya. He is so... plain. Like vanilla ice cream—ick. Nggak ada sesuatu dalam dirinya yang mendorong Malika untuk mengenal cowok itu lebih jauh. Bahkan saat dia mencoba men-spice up kencan (kalau acara makan malam itu layak disebut begitu) mereka dengan flirting ringan di sela-sela menikmati dessert, cowok itu hanya menanggapinya dengan tersenyum malu-malu.
Kayak perawan desa—oops, pardon my sarcasm.
Saat berjalan menuju rumah, Malika baru menyadari keberadaan bulan yang sedang menggantung malas di langit malam itu. Cahayanya tidak terlalu terang karena nyaris disembunyikan awan, tapi masih cukup jelas menerangi sosok tegap yang sedang berdiri di depan teras rumahnya. Keningnya refleks mengernyit saat mendapati dirinya merasa familier dengan siluet orang itu.
Masih dengan benak yang disesaki tanda tanya besar, dia sedikit mempercepat langkahnya, menghampiri Arya, lalu bertanya, “Udah berapa lama lo nunggu di sini?”
“Sejam setengah kali.”
Cowok itu bahkan tak mau bersusah payah berdiri untuk menyambutnya. Kakinya diselonjorkan di undakan teras, udah serasa ada di rumah sendiri aja orang itu. Tapi Malika maklum. Bertetangga dengan Arya sejak kecil membuatnya gampang memaklumi segala sikap cuek dan semau-gue-nya yang bisa dibilang adalah trademark cowok itu dari dulu.
Dan—khusus yang terakhir ini, hanya Malika, buku harian pink-nya, dan Tuhan yang boleh tahu—itu jugalah alasan mengapa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya di sekitar Arya. She’s secretly in love with this boy. And later decides to find a way to get over him. Dengan berkencan sama cowok-plain-vanilla-slash-kelakuan-kayak-perawan-desa bernama Rangga misalnya.
Keputusan itu baru-baru ini diambilnya setelah kenyataan memberi petunjuk dengan jelas (dan lumayan pahit): Arya nggak punya perasaan yang sama seperti dirinya. Senin lalu, cowok itu menghampirinya bersama cewek lain. Teman sekampus tapi beda jurusan, Nana namanya.
Nana, pfuit.
Malika selalu refleks mendengus setiap kali mengeja nama itu di dalam kepalanya. Nggak hanya karena namanya mengesankan cewek itu sosok yang manis dan rapuh, penampilan cewek itu juga seperti mbak-mbak personil girlband Korea yang belakangan ini sedang happening. And she’s friggin’ pretty too—alasan lain untuk semakin iri dan semakin membenci sosok bernama Nana itu.
Begitulah. Seperti yang bisa diduga, keberadaan Nana membuat Malika harus buru-buru move on, rela atau nggak rela. Mencintai tetangga sebelah selama sekian tahun saja sudah kedengaran menyedihkan, apalagi kalau dia masih menyimpan perasaan yang sama meskipun jelas-jelas dia tahu cowok itu sudah punya pacar.
Rencana move on itu resmi dimulai hari ini. Tadinya sih mikir begitu..., sampai dia melihat Arya menunggunya SETENGAH JAM di luar rumah. Meskipun masih belum mengerti alasannya sama sekali, sedikit-banyak gestur itu membuat hatinya hangat. Dan itu seketika membuat dirinya khawatir.
Nggak boleh! Suara hatinya teriak-teriak protes. Nggak boleh suka sama Arya lagi. He’s not available anymore, Lika! Don’t you get it?!
Malika terus berjalan hingga sampai ke depan pintu. Genggaman eratnya di kenop pintu sesaat jadi pengalih perhatian yang ampuh dari godaan dari dalam dirinya untuk ikut duduk di sebelah Arya.
“Masuk yuk,” ajaknya, berusaha terdengar se-friendly dan sewajar mungkin. “Lo pasti kedinginan kan, mana nggak pake jaket lagi.”
“Gue nggak dateng kemari buat lo omel-omeli.” Oh sial. Dia ngambek. Dan saat seperti itu, Arya punya kebiasaan mencibirkan bibir yang—oh, Jesus, Mary, and Joseph!—seksi luar biasa. Malika mendesah pelan saat menyadari sekujur tubuhnya dialiri gelenyar familier yang selalu terjadinya karena Arya seorang.
“Ngomong-ngomong,” cowok itu menunjuk mobil yang pelan-pelan menjauh di luar gerbang dengan dagunya, “yang nganterin lo pulang itu siapa? Mobilnya bagus.”
“Bukan urusan lo!” jawabnya ketus. Setengah karena frustrasi akibat reaksi tubuhnya, setengahnya lagi karena merasa sedang diinterogasi cowok itu.
“Judes amat! Gue kan cuman nanya doang.”
“Bodo! Tetep bukan urusan lo juga!”
....
(penulis terlalu malas untuk melanjutkan contoh ini hehe)
Notes: Yang di atas hanya contoh. That’s just how I usually write—jadi jangan dianggap sebagai acuan mati saat kamu mengerjakan novel kamu sendiri. Aku percaya, kamu pasti punya gaya menulis sendiri yang aku yakin punya potensi untuk berhasil.
Berlatih deh—serius. Dan jangan lupa banyak membaca juga.
OH YA!
dari gagas media...

====================================================================


JASA EDITING NASKAH BERHADIAH!

Menulis adalah kegiatan dan hobi yang sangat menyenangkan dan digemari oleh banyak orang—belum lagi kalau tulisan itu dibukukan hingga dapat dibaca oleh masyarakat luas. Kamu bercita-cita ingin menjadi penulis dengan menuangkan idemu dalam bentuk sebuah buku yang berkualitas?

Namun, sekadar ditulis saja tak cukup untuk melengkapi kualitas tersebut. Diperlukan pula tata bahasa yang sesuai dengan EYD. Masih merasa lemah dalam kualitas EYD? Oleh karena itulah, blogger Menulis Bukti Hidupku (MIBUKU) siap membantu dengan menyediakan jasa editing naskah dalam bahasa Indonesia agar isi bukumu semakin berkualitas!


Setiap naskah memerlukan proses editing sebelum dijual. Tapi tidak semua penulis bisa melakukan editing naskahnya dengan baik. Ia memerlukan bantuan jasa editing naskah. Teman-teman penulis yang membutuhkan jasa, akan mendapatkan editing meliputi koreksi EYD seperti misalnya :
·                    Kalimat yang salah atau kurang,
·                    Tajwid bahasa (pelafalan huruf dan kata),

·                    Kata penghubung apa bagusnya digunakan,

·                    Kata depan,

·                    Kesalahan ketik (typo),
·                    Kalimat baku dan tak baku,
·                    Penggunaan huruf kapital, huruf miring dll,
·                    Penggunaan tanda baca yang tepat seperti elipsis, petik ganda, petik tunggal, tanda hubung seperti en-dash dan em-dash dsb,
·                    dan masih banyak lagi…

Proses editing naskah sangat perlu dilakukan sebelum naskah itu diterbitkan karena bisa saja terjadi kesalahan yang tidak disengaja mau pun salah tulis, juga ketidaktahuan penulis tentang EYD hingga selalu ditolak penerbit mayor karena tata penulisan yang masih kacau. Butuh bantuan jasa editing naskah kami?
Editing yang kami lakukan tidak meliputi isi naskah seperti misalnya pengecekan kebenaran isinya. Dalam editing, kami juga tidak akan mengubah gaya tulisan, makna, dan alur cerita yang kamu tulis.

Apa untungnya mencari jasa editing naskah sendiri? Dengan mencari jasa editing naskah sendiri, tentu saja file hasil editing secara otomatis akan menjadi milik penulis sepenuhnya. Beda kalau diedit secara langsung oleh penerbit karena file hasil editingnya tak akan diberikan.
Hanya dengan TARIF JASA EDITING sebesar Rp 200.000 (DUA RATUS RIBU RUPIAH) maksimal 100 hal (format A4, font TNR 12, spasi 1.5, margin normal) kamu bisa mendapatkan hasil editing naskahmu hingga bisa mempelajari kesalahan kepenulisanmu sendiri. Jadi sekalian bisa belajar EYD secara mandiri, kan?

Tak semua penulis menyadari EYD itu penting dalam menulis. Padahal hal itu sangat mempengaruhi baik dan buruknya tata penulisan mereka agar pembaca dapat memahami tulisan seorang penulis. Baik dan buruknya tata kepenulisan itu merupakan bukti serius atau tidaknya penulis itu berkarya. Jika tak teliti dalam EYD, penulis hanya menulis kata yang tidak berarti.
Dengan menggunakan jasa kami, kami tidak bertanggung jawab atas isi dan konten yang ada di dalam naskah tersebut karena merupakan tanggung jawab penulis naskah seutuhnya. Selain itu, penulis juga harus mencantumkan dalam buku tersebut bahwa editor bukunya adalah MENULIS BUKTI HIDUPKU.

BONUS:
Jasa editing naskah kami ada bonusnya, loh! Tiap naskah yang masuk akan mendapatkan 1 (satu) buah buku koleksi Creepy Pasta’s Group Sister yang akan dikirim langsung ke alamat kamu (persediaan terbatas). Judul buku bisa dipilih.

 

Punya naskah yang mau diterbitkan? Ingin melakukan self editing, tapi merasa kurang memahami EYD? Silakan kontak kami di sini untuk mendiskusikannya:

Facebook (inbox only) : ARIESKA ARIEF & MENULIS BUKTI HIDUPKU
Pin BB (ping! only) : 764A7969
Ponsel (SMS only) : 085 399 566 422
 

Selasa, 26 Februari 2013

7 Tips Memasarkan Buku Self Publishing

Bagaimanapun, segala produk ‘berbentuk’ yang dipasarkan secara online, tetap memerlukan model distribusi konvensional untuk sampai ketangan pembeli. Tidak terkecuali buku yang diproduksi secara online. Kemewahan mengunggah naskah, print on demand, promosi dan transaksi berbasis online, sebagaimana ditawarkan oleh situs nulisbuku.com (dan lulu.com ditingkat global), cenderung lebih banyak dinikmati pihak produsen (penulis). Tagline ‘publish your’e dream’ dari nulisbuku.com semakin menegaskan hal itu, bukan ? Adanya kesenjangan antara waktu transaksi dengan saat buku tiba ditangan pembeli malah menghilangkan kemewahan pembeli untuk menerima buku real time, sebagaimana yang diperolehnya saat membeli di toko buku tradisional.
Masyarakat kita belum terpapar budaya belanja online. Faktor psikologis berupa ketidaksabaran, waktu dan biaya ekstra ongkos kirim, mestilah 3 penyebab utamanya. Bagi penulis yang sekedar inigin ‘menerbitkan mimpinya’ belaka, laku tidaknya buku adalah nomor 2. Namun alangkah senangnya bila buku kita bisa menjangkau pembaca –baca; pembeli- lebih dari yang kita bayangkan. Gagasan kita bisa menginspirasi lebih banyak orang, dan efek ekonomi (royalty) tentu menjadi bagian tidak terpisahkan. Menulis mungkin cuma hobby, namun tidak ada yang lebih membahagiakan didunia ini selain menekuni hobby, dan kita dibayar untuk melakukannya
Maka, tidak ada salahnya untuk menjadi pemasar yang sama handalnya dengan kemampuan kita menulis. Writepreneurs, ok !

Saya pernah mewawancarai 2 penulis yang menerbitkan bukunya di jalur self publishing. Yang pertama Vira Cla, penulis buku antologi cerpen ‘ Lajang Jalang’. Penulis ini memakai model self publishing Print on Demand (PoD) berbasis online di situs nulisbuku.com. penulis kedua adalah Dee Dee Sabrina, menerbitkan buku antologi fiksi ‘ ISI’ memakai jalur self publishing model konvensional. Dari wawancara mereka berdua, saya menarik kesimpulan bahwa, self publishing model offline & online tidak punya perbedaan mendasar, jika sudah sampai pada tahap pemasaran (promosi & distribusi). Dari obrolan secara terpisah dengan kedua penulis, saya mencoba menggabungkan beberapa tips-tips pemasaran buku yang mereka tempuh (sekaligus menimpanya dengan opini saya sendiri sebagai pembaca/konsumen). Semoga tips ini bisa bekerja membantu anda, kawan-kawan se-forum. Berikut tipsnya :
1. Hindari bertumpu pada promosi online
Semua penulis buku melakukannya. Kompetisi terjadi tidak hanya sesama penulis self publishing. Penerbit mainstream rata-rata memiliki situs yang memajang setiap produknya. Mereka gencar memberi insentif bagi blog-blog yang meresensi setiap terbitan terbaru mereka. Penulis indie cenderung menaruh harapan sepenuhnya pada promosi online (gratis ). Anda bisa melihat status facebook dan timeline twitter dibanjiri oleh promosi buku. Buku anda berada diantara kerumunan pasar. Anda tidak punya ‘sesuatu’ yang bisa membuatnya ‘menonjol’. Sebagai salah satu cara, bolehlah. Tetapi sebagai satu-satunya cara, jangan !
2. Manfaatkan Komunitas spesifik anda
Umumnya penulis indie dewasa ini berangkat dari blog ( anda blogger ?). Saya yakin anda punya pembaca, yang lebih dari sekali mengunjungi laman maya anda. Coba buka dashboard ---> Comment. Lihat, dibawah nama pemberi komentar ada tersisip alamat email-nya. Inventaris semua. Lalu, buatlah satu file attachments berisi foto sampul buku, sinopsis buku & testimoni pembaca yang mirip sales letter. Kirim sekaligus ke daftar email tersebut. Mereka suka blog anda, mereka akan suka buku anda.
Jangan lupa berikan sentuhan pribadi berupa tandatangan dan seuntai kalimat bagi pembeli jadi. Sentuhan ini akan jadi kenangan yang memudahkan penjualan buku kedua anda kelak (karena tandatangan dan kalimat terima kasih dari penulis Dee Dee Sabrina, saya berjanji akan membeli lagi buku kedua-nya kelak)
3. Testimoni tokoh
Penulis umumnya –hanya- meminta testimoni dari sesamanya penulis. Dan butuh mukjizat bagi penulis pemula untuk memperoleh testimoni dari penulis ternama. Testimoni adalah ‘pengaruh’. Saya sendiri menghindari membeli buku yang halaman belakangnya dipenuhi testimoni. oleh penulis itu-itu lagi, yang royal mentestimoni semua buku dibawah naungan penerbitnya.
Manfaatkan ‘testimoni tidak tertulis’. Dee Dee Sabrina menceritakan pengalamannya memberikan secara cuma-cuma bukunya pada salah seorang dosen sastra. Tak lama setelah membacanya, Dosen bersangkutan ‘mereferensikan’ buku antologi fiksi ‘ISI’ sebagai bacan yang ‘wajib’ kepada para mahasiswanya.
4. Berdayakan Media lokal (Koran & radio)
Media konvensional seperti koran harus diakui lebih punya kredibilitas ketimbang media online. Tingkat kepercayaan publik telah dibangun media tersebut selama bertahun-tahun. Pembaca mempercayai koran langganannya.
Koran biasanya punya halaman budaya pada edisi hari minggu. Anda bisa menemukan kolom resensi buku disebelah cerpen atau puisi. Setiap daerah pasti bangga atas setiap pencapaian prestasi warganya sendiri. Koran lokal umumnya punya keberpihakan untuk memuat sinopsis –atau resensi- buku dari penulis yang punya keterkaitan dengan wilayah penyebarannya. Media gemar menampilkan sosok yang bisa menginspirasi lingkungannya. Kirimkanlah satu jilid buku anda kepada redakturnya. Antar sendiri lebih bagus, disertai dengan soft copy berisi sinopsis atau resensi siap unggah ke hard disk redaksi.
Dee Dee Sabrina mengungkapkan bagaimana dia mendatangi rekan-rekannya di komunitas radio di kota stabat Medan, untuk menampilkan profilnya sebagai penulis muda dalam satu sesi siaran. Radio butuh berita, jadi win-win solution, bukan ?
5. Datangi bekas sekolah/kampus anda
Sumbangkan satu jilid buku anda untuk perpustakaan kampus. Lebih bagus lagi jika kampus anda punya media internal (majalah/bulletin/Koran/radio). Buat satu forum dimana anda bisa berbagi pengalaman dan inspirasi kepada yunior-yunior anda. Bawa beberapa contoh buku untuk direct selling. Pembaca buku suka membeli lansung dari tangan penulisnya. Jangan shock bila mereka meminta foto dan tanda tangan, yah.
6. Stok buku
Ini tips dari Vira Cla. Dia sengaja membeli bukunya sendiri dalam jumlah yang cukup signifikan sebagai stock. Ini berhubungan dengan psikologi masyarakat kita, yang lebih nyaman bertransaksi dengan manusia ketimbang situs. Yang perlu diingat dalam penjualan online adalah kejelasan profil penulis yang sekaligus merangkap sebagai pemasar. Buat calan pembeli merasa ‘aman’ berhubungan dengan anda, baik melalui blog pribadi maupun akun anda di jejaring sosial. Lengkapi data-data dan foto pribadi anda di akun tersebut. Penulis dengan nama alias/samaran tidak punya tempat di era web 2.0.
7. Kirim buku anda ke editor/kritikus nasional
Ini tidak berdampak lansung bagi penjualan, tapi umpan baliknya bisa diluar dugaan. Manfaatkan fitur pencarian teman di Facebook anda. Cari nama-nama besar semacam Nirwan Dewanto atau Nirwan Ahmad Arsuka. Cobalah untuk berteman dengan mereka. Mereka adalah orang yang ramah. Jika interaksinya sudah dirasa cukup, kirimkanlah satu jilid buku anda kepada mereka. Minta mereka memberi masukan, semata-mata demi perbaikan bagi cetakan buku anda selanjutnya. Mungkin mereka tidak akan meresensinya di Kompas. Paling tidak dia memberikan apresiasi, penyemangat bagi anda. Syukur-syukur dia menuliskannya di status FB atau tweet di timeline mereka. Bila itu terjadi, siap-siaplah untuk bolak-balik ke kantor pos.
Ketujuh tips diatas ibarat aliran sungai-sungai kecil yang akan bermuara pada samudera penjualan yang lebih besar. Harus disadari kalau –khususnya penulis pemula- ‘faktor nama’ di pasar buku masih jadi rujukan pertama bagi konsumen. Ketujuh cara diatas ibarat lahan, anda menyemai benih (nama) yang kelak tumbuh menjadi pohon popularitas. Saya pribadi yakin anda bisa melakukannya, buktinya, anda telah berhasil menerbitkan buku, yang bagi sebagian orang masih merupakan mimpi belaka.
Last edited by puang Anto; 04-04-11 at 03:44 PM. dari forum.kompas.co



=================================================================



JASA EDITING NASKAH BERHADIAH!

Menulis adalah kegiatan dan hobi yang sangat menyenangkan dan digemari oleh banyak orang—belum lagi kalau tulisan itu dibukukan hingga dapat dibaca oleh masyarakat luas. Kamu bercita-cita ingin menjadi penulis dengan menuangkan idemu dalam bentuk sebuah buku yang berkualitas?

Namun, sekadar ditulis saja tak cukup untuk melengkapi kualitas tersebut. Diperlukan pula tata bahasa yang sesuai dengan EYD. Masih merasa lemah dalam kualitas EYD? Oleh karena itulah, blogger Menulis Bukti Hidupku (MIBUKU) siap membantu dengan menyediakan jasa editing naskah dalam bahasa Indonesia agar isi bukumu semakin berkualitas!


Setiap naskah memerlukan proses editing sebelum dijual. Tapi tidak semua penulis bisa melakukan editing naskahnya dengan baik. Ia memerlukan bantuan jasa editing naskah. Teman-teman penulis yang membutuhkan jasa, akan mendapatkan editing meliputi koreksi EYD seperti misalnya :
·                    Kalimat yang salah atau kurang,
·                    Tajwid bahasa (pelafalan huruf dan kata),

·                    Kata penghubung apa bagusnya digunakan,

·                    Kata depan,

·                    Kesalahan ketik (typo),
·                    Kalimat baku dan tak baku,
·                    Penggunaan huruf kapital, huruf miring dll,
·                    Penggunaan tanda baca yang tepat seperti elipsis, petik ganda, petik tunggal, tanda hubung seperti en-dash dan em-dash dsb,
·                    dan masih banyak lagi…

Proses editing naskah sangat perlu dilakukan sebelum naskah itu diterbitkan karena bisa saja terjadi kesalahan yang tidak disengaja mau pun salah tulis, juga ketidaktahuan penulis tentang EYD hingga selalu ditolak penerbit mayor karena tata penulisan yang masih kacau. Butuh bantuan jasa editing naskah kami?
Editing yang kami lakukan tidak meliputi isi naskah seperti misalnya pengecekan kebenaran isinya. Dalam editing, kami juga tidak akan mengubah gaya tulisan, makna, dan alur cerita yang kamu tulis.

Apa untungnya mencari jasa editing naskah sendiri? Dengan mencari jasa editing naskah sendiri, tentu saja file hasil editing secara otomatis akan menjadi milik penulis sepenuhnya. Beda kalau diedit secara langsung oleh penerbit karena file hasil editingnya tak akan diberikan.
Hanya dengan TARIF JASA EDITING sebesar Rp 200.000 (DUA RATUS RIBU RUPIAH) maksimal 100 hal (format A4, font TNR 12, spasi 1.5, margin normal) kamu bisa mendapatkan hasil editing naskahmu hingga bisa mempelajari kesalahan kepenulisanmu sendiri. Jadi sekalian bisa belajar EYD secara mandiri, kan?

Tak semua penulis menyadari EYD itu penting dalam menulis. Padahal hal itu sangat mempengaruhi baik dan buruknya tata penulisan mereka agar pembaca dapat memahami tulisan seorang penulis. Baik dan buruknya tata kepenulisan itu merupakan bukti serius atau tidaknya penulis itu berkarya. Jika tak teliti dalam EYD, penulis hanya menulis kata yang tidak berarti.
Dengan menggunakan jasa kami, kami tidak bertanggung jawab atas isi dan konten yang ada di dalam naskah tersebut karena merupakan tanggung jawab penulis naskah seutuhnya. Selain itu, penulis juga harus mencantumkan dalam buku tersebut bahwa editor bukunya adalah MENULIS BUKTI HIDUPKU.

BONUS:
Jasa editing naskah kami ada bonusnya, loh! Tiap naskah yang masuk akan mendapatkan 1 (satu) buah buku koleksi Creepy Pasta’s Group Sister yang akan dikirim langsung ke alamat kamu (persediaan terbatas). Judul buku bisa dipilih.

 

Punya naskah yang mau diterbitkan? Ingin melakukan self editing, tapi merasa kurang memahami EYD? Silakan kontak kami di sini untuk mendiskusikannya:

Facebook (inbox only) : ARIESKA ARIEF & MENULIS BUKTI HIDUPKU
Pin BB (ping! only) : 764A7969
Ponsel (SMS only) : 085 399 566 422

Senin, 25 Februari 2013

3 unsur penting untuk nembus gpu

Judul di atas adalah jawaban dari pertanyaan, “Mbak, gimana sih caranya supaya novel saya bisa nembus ke GPU (Gramedia Pustaka Utama)? Seperti apa naskah yang Mbak sukai?” Ah, mari saya salin di sini tulisan yang pernah dimuat di notes Facebook saya tgl 20 Maret 2009.

Bagi saya, novel yang baik memiliki tiga unsur penting di bawah ini. Tiga ini berhasil kamu atasi dengan baik, novelmu akan lancar jaya. 


1.Tokoh

Novel-novel laris biasanya memiliki tokoh-tokoh yang melekat di benak pembaca. Sebut saja nama-nama tokoh seperti Harry Potter, Scarlett O’Hara, Holden Caulfield, atau Edward Cullen. Buat tokoh dengan karakter yang kuat, nama yang khas bisa membantu. Tapi yang terpenting adalah meniupkan nyawa ke dalam diri si tokoh. Tokoh tersebut harus hidup, bergerak, dan bernapas pada saat kita membacanya. Si tokoh harus hidup dalam bentuk 3 dimensi di benak pembaca, bukan cuma tertulis di atas kertas.

Keputusan-keputusan yang diambil si tokoh dalam perjalanannya di sepanjang novel itu harus sesuai dengan karakter si tokoh. Seorang Edward Cullen akan melemparkan dirinya di depan mobil demi menyelamatkan gadis yang dicintainya, sementara Holden Caulfield akan memutar bola matanya lalu menganalisis kejadian tersebut dengan sinis. Scarlett O’Hara akan membunuh orang lebih dulu dibanding harus mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan keluarganya, sementara Harry Potter tidak ragu mengorbankan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.

Dan tolong deh, nggak perlu menyebutkan semua karakteristik tokoh lengkap dengan sifat-sifatnya pada halaman 2, paragraf pertama sehabis si tokoh datang terlambat ke sekolah. Misalnya, “Len adalah gadis berusia 16 tahun berambut pendek berponi dan hobi main basket. Dia sedikit tomboy tapi baik hati makanya dia punya banyak teman. Len anak tunggal konglomerat yang setiap hari diantar jemput ke sekolah dengan Jaguar. Dia berbintang Libra, makanya dia sering plin-plan mengambil keputusan. Len naksir Leo, anak basket yang juga ketua OSIS. Len paling suka pelajaran seni di sekolahnya, mungkin karena ibunya pelukis. “

Dijamin pada halaman 20, Len sudah tidak menarik lagi karena saya nyaris sudah tahu “segalanya” tentang Len dalam satu paragraf, dan pada halaman 30 saya sudah malas bacanya…

2.Alur Cerita
Kadang-kadang pengarang sering mengajak pembacanya muter-muter nggak keruan hanya karena si penulis kepingin aja memasukkan jalinan peristiwa atau dialog yang kalau ditanya kenapa dia melakukannya, jawabannya adalah, “Because I like it.”

Alur cerita seharusnya dibuat untuk menghasilkan efek tertentu. Ada hubungan sebab akibat yang terjadi di dalam alur. Kejadian A menghasilkan peristiwa B, yang berlanjut ke C, dan seterusnya. Bahkan dialog pun harus ada tujuannya. Bukan cuma, “hm, lucu nih kalo gue masukin adegan tokohnya nongkrong kongkow-kongkow di Starbucks lalu ngobrol-ngobrol seperti yang suka gue lakuin sama temen-temen gue.”

Atau yang lebih menyebalkan adalah pengarang-pengarang yang suka banget pamer pengetahuan yang nggak nyambung sama alur cerita, hanya untuk menunjukkan, “Nihhh… gue ceritain ya… Gue kasih tau nih tentang gimana membuat roket.” Hanya karena dia tahu caranya…

3.Tema Cerita
Tidak perlu membuat cerita yang harus BEDA dan ORISINAL yang TIDAK ADA DUANYA, walaupun beda, orisinal, dan tak ada duanya memang menarik perhatian pada pandangan pertama. Daur ulang adalah hal biasa, dan tambahkan bumbumu sendiri. Baca saja Twilight Saga, Shakespeare akan menari dalam kuburnya melihat bagaimana konsep kisah cinta terlarang yang tak kesampaian dan hanya bisa dipisahkan maut yang ditulisnya 400 tahun lalu diramu sedemikian rupa oleh Stephenie Meyer. Sementara Joss Whedon akan nyengir mendengar konsep “vampire with a soul”. ” Ke mane aja, Mbak Steph?” Mungkin itu kata Anne Rice. Dan yeah, sedikit cinta segitiga tidak pernah merugikan untuk dijadikan tema atau sub tema.

Banyak pengarang memulai cerita dengan membawa kegelisahan dan gagasan, tapi melupakan fakta bahwa tulang punggung fiksi adalah cerita. Sehingga cerita dipaksakan masuk untuk memuat gagasan dan kegelisahan tersebut. Jangan melemparkan kegelisahanmu bulat-bulat kepada pembaca. Mulailah dengan cerita, selipkan kegelisahan dan gagasan itu dalam bab demi bab dalam novel. Selain membuat pembaca jadi penasaran setiap membalik halaman, efek cuci otaknya dijamin akan lebih dahsyat.

Semoga sukses!

@HetihRusli, 2011

PS: Untuk mengirim naskah ke redaksi Gramedia Pustaka Utama, kirimkan print out naskahmu ke:

PT Gramedia Pustaka Utama

Jl. Palmerah Barat no. 29-37 Gd. Gramedia lt. 5

Jakarta 10270

====================================================================


JASA EDITING NASKAH BERHADIAH!

Menulis adalah kegiatan dan hobi yang sangat menyenangkan dan digemari oleh banyak orang—belum lagi kalau tulisan itu dibukukan hingga dapat dibaca oleh masyarakat luas. Kamu bercita-cita ingin menjadi penulis dengan menuangkan idemu dalam bentuk sebuah buku yang berkualitas?

Namun, sekadar ditulis saja tak cukup untuk melengkapi kualitas tersebut. Diperlukan pula tata bahasa yang sesuai dengan EYD. Masih merasa lemah dalam kualitas EYD? Oleh karena itulah, blogger Menulis Bukti Hidupku (MIBUKU) siap membantu dengan menyediakan jasa editing naskah dalam bahasa Indonesia agar isi bukumu semakin berkualitas!


Setiap naskah memerlukan proses editing sebelum dijual. Tapi tidak semua penulis bisa melakukan editing naskahnya dengan baik. Ia memerlukan bantuan jasa editing naskah. Teman-teman penulis yang membutuhkan jasa, akan mendapatkan editing meliputi koreksi EYD seperti misalnya :
·                    Kalimat yang salah atau kurang,
·                    Tajwid bahasa (pelafalan huruf dan kata),

·                    Kata penghubung apa bagusnya digunakan,

·                    Kata depan,

·                    Kesalahan ketik (typo),
·                    Kalimat baku dan tak baku,
·                    Penggunaan huruf kapital, huruf miring dll,
·                    Penggunaan tanda baca yang tepat seperti elipsis, petik ganda, petik tunggal, tanda hubung seperti en-dash dan em-dash dsb,
·                    dan masih banyak lagi…

Proses editing naskah sangat perlu dilakukan sebelum naskah itu diterbitkan karena bisa saja terjadi kesalahan yang tidak disengaja mau pun salah tulis, juga ketidaktahuan penulis tentang EYD hingga selalu ditolak penerbit mayor karena tata penulisan yang masih kacau. Butuh bantuan jasa editing naskah kami?
Editing yang kami lakukan tidak meliputi isi naskah seperti misalnya pengecekan kebenaran isinya. Dalam editing, kami juga tidak akan mengubah gaya tulisan, makna, dan alur cerita yang kamu tulis.

Apa untungnya mencari jasa editing naskah sendiri? Dengan mencari jasa editing naskah sendiri, tentu saja file hasil editing secara otomatis akan menjadi milik penulis sepenuhnya. Beda kalau diedit secara langsung oleh penerbit karena file hasil editingnya tak akan diberikan.
Hanya dengan TARIF JASA EDITING sebesar Rp 200.000 (DUA RATUS RIBU RUPIAH) maksimal 100 hal (format A4, font TNR 12, spasi 1.5, margin normal) kamu bisa mendapatkan hasil editing naskahmu hingga bisa mempelajari kesalahan kepenulisanmu sendiri. Jadi sekalian bisa belajar EYD secara mandiri, kan?

Tak semua penulis menyadari EYD itu penting dalam menulis. Padahal hal itu sangat mempengaruhi baik dan buruknya tata penulisan mereka agar pembaca dapat memahami tulisan seorang penulis. Baik dan buruknya tata kepenulisan itu merupakan bukti serius atau tidaknya penulis itu berkarya. Jika tak teliti dalam EYD, penulis hanya menulis kata yang tidak berarti.
Dengan menggunakan jasa kami, kami tidak bertanggung jawab atas isi dan konten yang ada di dalam naskah tersebut karena merupakan tanggung jawab penulis naskah seutuhnya. Selain itu, penulis juga harus mencantumkan dalam buku tersebut bahwa editor bukunya adalah MENULIS BUKTI HIDUPKU.

BONUS:
Jasa editing naskah kami ada bonusnya, loh! Tiap naskah yang masuk akan mendapatkan 1 (satu) buah buku koleksi Creepy Pasta’s Group Sister yang akan dikirim langsung ke alamat kamu (persediaan terbatas). Judul buku bisa dipilih.

 

Punya naskah yang mau diterbitkan? Ingin melakukan self editing, tapi merasa kurang memahami EYD? Silakan kontak kami di sini untuk mendiskusikannya:

Facebook (inbox only) : ARIESKA ARIEF & MENULIS BUKTI HIDUPKU
Pin BB (ping! only) : 764A7969
Ponsel (SMS only) : 085 399 566 422
 

Senin, 04 Februari 2013

pegangan


tidak ada sebuah pegangan
yang memberikan kekuatan diri sejati!
padahal tak ada satu pegangan
yang lebih kuat dari keyakinan
akan Allah Yang Agung
yang dengannya kita mampu membangun
kepercayaan diri yang tinggi
yaitu kepercayaan diri yang bersumber
pada Yang Abadi
sehingga kita mampu
menyaring efek negatif 
dari lingkungan sekitar

(munasyirah, 250113)

saat terjatuh


ketahuilah...
Allah senantiasa mendampingimu
dengan suara-suara hati yang
merupakan sifat-sifat-Nya
apabila kamu terjatuh, sadarlah
itu artinya masih banyak 
ilmu Allah yang belum kamu ketahui
pelajarilah kesalahan tersebut
cari jawaban mengapa kamu jatuh
lalu bangkitlah!
Allah Maha Agung begitu mencintaimu

(munasyirah, 290113)

alam kubur


setiap tarikan nafas adalah satu langkah menuju kematian.
Hidupmu terbatas, nafasmu sudah dihitung.
Selangkah demi selangkah kamu menuju alam kubur.

(munasyirah, 200113).

kematian


Katakanlah, sesungguhnya kematian
yang kamu lari padanya, ia pasti menemui kamu.
Kemudian kamu akan dikembalikan pada Allah,
yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata.
Lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan!
(QS Al-Jumu’ah: 8).

(munasyirah, 190113)

sakinah


Mengapa engkau sering tak setuju?
Saat seseorang mengajukan dirinya kepadamu?
Mengapa engkau sering berkata tidak?
 Saat berulangkali proposal nikah teraju?
Apakah engkau memilih fisik yang tampan?
Apakah engkau mencari yang sempurna?
Ini dunia, saudariku.
Engkau akan lelah mencari yang sempurna.
Dunia ini fana.
Ketampanan pun akan sirna dimakan usia.
Carilah yang beragama dan takut kepada Tuhannya.
Niscaya kan kautemukan bahagia.
Rumah tanggamu akan menuai sakinah.

(munasyirah, 120113)

jatuh cinta


Pernahkah kita merasakan jatuh cinta pada Allah?
Dia yang memberikan nafas kita setiap detik,
 memberi berbagai makanan yang kita suka,
memberi mata yang dengan itu kita bisa melihat indahnya dunia,
memberi tangan yang membuat kita bisa berkarya,
memberi kecerdasan yang membuat kita mampu berkreasi,
serta memberi kita segala macam kebutuhan kita
tanpa meminta imbalan sedikit pun,
 adakah semua itu kita rasakan?
Mengapa kita tidakjatuh cinta pada-Nya?
Sejauh mana bukti cintamu pada-Nya?
Mengapa kamu jarang mengingat-Nya?
Sedikit sekali kamu bersyukur!

(munasyirah, 100113)

hati dipilih


Saya belajar dari kisah hidup seseorang.
Hati tak pernah memilih.
Hati dipilih.
Jadi kalau diri mengatakan,
saya telah memililhmu,
selamanya kamu tak akan pernah tulus mencintainya.
Karena hati tak perlu memilih.
Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.

(munasyirah, 080113)

Allah rindu


saudaraku pernahkah kau merasa sedih
dan gundah tanpa kau tahu sebabnya?
Sadarilah, ada yang sedang rindu padamu.
Dia sedih melihatmu jauh dari-Nya,
Dia iri kau lebih sibuk dengan dunia dan urusanmu.
Dia ingin kau kembali pada-Nya.
Dia buat hatimu sedih agar hanya Dia tempatmu
menitikkan air mata dan mengadu.
Jika saat ini kau sedang gundah tak menentu
dan ada masalah mengikutimu,
itu bukti bahwa Allah sedang rindu padamu.
Rindu dengan air matamu dan
rindu rintihan pintamu pada-Nya.
Subhanallah.
Allah rindu padamu.
Tidakkah engkau rindu pada-Nya???

(munasyirah, 060113).

tutup panci


Tutup luka hatimu dengan kebaikanmu.
Tutup kekuranganmu dengan kelebihanmu.
 Tutup dosamu dengan amal dan tobatmu.
Tutup kesedihanmu dengan senyum dan tawa riangmu.
Tutup panciku hilang,
coba tolong liat ada di rumahmu ya?
justkiddingpisss.

(ufla, 131012)

beriman


Kamu belum bisa disebut orang yang beriman
sebelum kamu mencintai Allah dan rasul-Nya
melebihi segala sesuatu yang lain
(hr. bukhari dan muslim).

(munasyirah, 150812).

sahabat di hati


Saat terluka, dunia mungkin tak terlihat indah.
Namun tetap tersenyum, karena senyuman adalah warna dunia.
Ketika disakiti, mungkin kamu akan menangis.
Tapi cobalah untuk tertawa, karena tawa adalah jantung bumi.
Di saat cinta menyakiti, janganlah engkau membenci,
karena dengan cintamu, dunia ini masih berputar.
Juga saat sepi, kamu masih punya sosok sahabat di hatimu.

(ufla, 060812)

kurma


Sesungguhnya adalah sunnah
bila seseorang itu berbuka dengan kurma.
Dan sesungguhnya akan datanglah siksaan baginya,
jika tertelan bijinya.
Dan celakalah mereka
yang tak mau menolongnya
(h rony-pasar tanah abang).

(el, 260712).

di dalam qalbu


Ar-rabi’ bin anas berkata:
di antara tanda kecintaan seorang hamba
kepada Allah adalah banyak berzikir kepadanya,
karena tidaklah anda mencintai sesuatu
melainkan anda akan banyak mengingat
dan menyebut-nyebut namanya.
Kisah ketika rasulullah SAW sedang bersama sahabatnya,
mereka bertanya kepada nabi SAW,
wahai rasulullah, di manakah Allah?
Di bumi atau di langit?
Rasulullah menjawab,
di dalam qalbu hamba-Nya yang beriman.

(munasyirah, 240712)

sambut ramadhan


Bersyukurlah kita masih diberi kesempatan
dan kesehatan untuk menikmati berkah ramadhan bulan ini
yang tinggal beberapa hari lagi.
Bersihkan hati, jernihkan pikiran, indahkan akhlak.
Sambut jiwa yang baru di bulan ramadhan
dengan saling memaafkan

(munasyirah, 170712)