THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 07 Agustus 2015

Sinopsis Ashoka Samrat episode 22 by Jonathan Bay

apa mahaputra bisa menyaingi ashoka ya? cus mahaputra juga kan cerdik. tapi ashoka tetep nomor 1 bagusnya, disusul oleh jodha akbar sih tapi karna jodha akbar sekarang episodnya dah mainstream romance getu jadi males ikutinnya, mending mahaputra aja de karna abg labil pemerannya kayak ashoka juga yang selalu penasaran. hm sebagai epik tuk remaja si sebenarnya ga begitu suka kalo adegan peperangan getu kan ada darah2nya untunglah di hitam putihkan n diblur darahnya, kalo sasaran dewasa si ga apalah. jadi teringat kill bill juga kan padahal film dewasa getu tapi adegan berdarahnya waktu bertarung tu dihitam putihkan karna banyak darah2nya. hm apa banyak penonton yang takut liat darah ya? kan darahnya juga bohongan, tapi napa masi ada juga yang ngeri liatnya?
 

Sinopsis Ashoka Samrat episode 22 by Jonathan Bay. Dharma sedang mengemasi barang-barangnya ketika Ashok datang dan bertanya, "ma, anda mau pergi kemana?" Dharma menjawab kalau Samrat akan pergi berburu dan dia akan ikut denganya. Ashok tersenyum dan dengan riang berkata kalau hari ini adalah hari pertama dia pergi sekolah. Dia ingin berkat dari Dharma. Ashok hendak menyentuh kaki Dharma. Tapi dharma melangkah pergi. Ashok terpana tak percaya. Dia segera bangkit dan menarik lengan Dharma. Dharma berhenti didepan Ashok, Ashok dengan mata berkaca-kaca menatap dharma. Ibu dan anak saling berpandangan dengan perasaan yang sukar di ungkapkan. Tak kuat menahan perasaannya, Ashok segera memeluk Dharma. Dharma tidak membalas pelukan Ashok. Dia menyuruh Ashok pergi. Tapi Ashok tak mau, "aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa meninggalkan anda." Setelah cukup lama, Dharma melepas pelukan Ashok, Ashok dengan berurai airmata berkata, "ma, aku tahu anda tidak setuju dengan keptusanku. Tapi setidaknya percayalah pada anakmu. Dengan berkatmu aku tidak akan tersesat." Dharma mengelus pipi Ashok lembut, "aku tahu Ashok, kau tak ingin membunuh orang. Tapi ketika berjalan di jalan yang salah lalau bagaimana kita mengharap hal yang baik kita dapatkan? Tapi jika kau bahagia dengan ini, maka aku tidak akan menghentikanmu. Setiap anak akan merentang sayapnya untuk terbang. Hari ini kau membuka sayapmu untuk terbang. Aku berdoa untuk masa depan yang baik bagimu. Aku akan selalu berdoa untukmu. Aku akan berdoa jika ada sesuatu yang salah terjadi melalui tanganmu maka Tuhan akan memaafkanmu." Dharma menatapnya penuh kasih sayang, "kapanpun kau ingin menemukan aku,  hindari kekerasan. Ikuti jalan damai, dan kau akan menemukan aku di sana." Dharma lalu menyetuh kepala Ashoka dan memberi kan berkatnya. Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi dia melangkah pergi. Tapi baru beberapa langkah Ashok memanggilnya, Dharma menghentikan langkahnya. Ashok dengan penuh harap berkata, "ma, setidaknya tersenyumlah padaku sekali lagi sebelum pergi." Dharma menoleh, menatap Ashok, lalu tersenyum pada putra kesayangannya. Ashok turut tersenyum. Lalu Dharma pergi sambil menanggis. Ashok pun begitu, melihat ibunya pergi, senyumnya hilang, wajahnya terlihat sedih.
Diiringi suara genderang, Bindu dan rombongan berangkat ke hutan untuk berburu. Di tengah perjalanan, prajurit yang memimpin rombongan memberi tanda agar rombongan berhenti. Prajurit itu melihat jejak singa dan segera berlari untuk melihatnya. Tiba-tiba terdengar teriakannya yang menyeyat hati. Bindu dan rombongan yang lain segera berlari kearahnya. Mereka menemukan si prajurit terkapar dengan luka-luka bekas cakaran di sekujur tubuh. Semua orang menatap sekeliling tapi singa itu sudah hilang. Bindu berkata kalau singa itu sangat pintar, butuh waktu untuk menangkapnya.
Ashok datang ke sekolah kerajaan. Dia melihat sekeliling dan lanagsung jatuh cinta dengan suasananya. Anak-anak berlatih pedang dan berlatih olah kanuragan. Ada juga yang berlatih menulis. Semua sibuk dengan latihannya masing-masing. Ashok melihat pangeran Drupat datang di dampingi pengawalnya. Meski melangkah di samping Ashok, sang pangeran tidak menyapa. Ashok tidak perduli, dia tetap tersenyum senang dan bicara pada diri sendiri, "ma, aku berjanji, setelah pelajaranku selesai anda akan bangga padaku." Ashok melangkah kedalam sekolahan. Dia melihat ruang kosong yang unik. Dia masuk kedalamnya dengan penuh rasa ingin tahu. Dengan wajah berbinar-binar dia menatap sekeliling ruangan. Seorang teman Sushim yang bernama Indrajeet muncul dari belakang Ashok dan menyapa dengan nada mengejek, "tempat ini bukan untuk anak-anak murahan." Anak yang lain muncul dan menimpali, "kami bahkan tidak sudi menjadikamu pelayan, dan kau ingin belajar bersama kami?" Teman-teman Sushim semakin banyak yang datang, mereka mengelilingi Ashok sambil berkata kalau lebih baik Ashok pergi dari sekolah ini.  Ashok hanya menatap mereka dengan diam. Lalu muncul Sushim dari belakang Indrajeet. Melihat Ashok dia mengejek, "oh ini Samrat Vanraj, dia punya ego yang besar, tapi kenapa sekarang kau diam? Katakan sesuatu ashok!" Ashok tersenyum kecil, "jadi kau menyiapkan semua ini untuk menyambutku? Bagus sekali, kau telah memecahkan masalahku. Aku sedang berpikir bagaimana mencari teman di sini, tapi sekarang aku tahu, kalian tidak layak menjadi temanku! Kalian berteman hanya dengan melihat pakaian bukan bakat. Mental kalian sangat sempit."  Sushim menjadi geram, dia berkata pada teman-temannya, "dia menghina kalian, dan kalian hanya diam mendengarkan? Hajar dia!" Lalu mereka semua serentak menghajar Ashok, memukuli dan menendangnya. Sushim menatap licik kekerasan yg terjadi di depannya sambil berpikir, "aku akan membuat hidupmu seperti di neraka, samrat vanraj!"
Prajurit yang di serang singa di bawah ke klinik Dharma. Dharma segera mengobati prajurit itu. Pada rombongannya Bindu berkata kalau besok mereka akan memburu singa itu ke hutan. Justin melihat Dharma dan menyerigai licik.
Ashok di pukuli oleh teman-teman Sushim, tapi sedikitpun dia tidak membalas. Dia hanya mengigit bibir menahan sakit. Tiba-tiba satu persatu penyerang Ashok berteriak kesakitan dan jatuh kelantai. Sushim heran, dia menatap sekeliling, di pintu tampak Siamak dengan ketapelnya menyerang teman-teman Sushim satu persatu. Sushim menatap Siamak dengan penuh kebencian. Siamak menghampiri mereka dan berkata, "mengeroyok anak itu tidak baik. Jika kalian tidak meninggalkan tempat ini, aku akan mengadu pada guru." Mendengar ancaman itu teman-teman Sushim segera bergegas pergi, di ikuti oleh Sushim. Siamak segera membantu Ashok bangun di bantu teman-temannya. Ashok dengan susah payah berdiri, sambil tersenyum menahan sakit, dia mengucapkan terima kasih pada Siamak. Siamak menyahut, "kau temanku, jangan berterima kasih pada teman." Keduanya saling melempar senyum penuh persahabatan.
Di hutan, Dharma teringat kalau Ashok berjanji tidak akan memukuli siapapun tapi ketika dia diserang, Ashok terpaksa melanggar sumpahnya, demi dirinya. Dia juga ingat bagaimana Ashok mengatakan kalau dirinya perlu belajar berjuang untuk melindungi dirinya dan datang menemuinya di klinik untuk meminta berkat. Teringat Ashok, Dharma menjadi sedih.
Seorang prajurit muncul memberitahu Dharma kalau Ashok membutuhkan Dharma di sekolah kerajaan karena dia baru saja di pukuli oleh beberapa temannya. Dharma kaget. Prajurit berkata kalau Samrat mengizinkan dia untuk pergi. Dharma segera meminta prajurit itu mengantarkannya ke sekolah kerajaan. Sambil menoleh kekiri-kekanan, si prajurit membawa Dharma pergi. Sepeninggal Dharma, Justin muncul dari balik tenda Dharma sambil menyerigai licik.
Dharma duduk di gerobak dengan hati cemas. Dia teringat bagaimana Ashok terluka sebelumnya. Dharma berpikir, "Ya tuhan, apa yang Ashok lakukan pada orang lain sampai dia menderita seperti ini? Dia selalu membantu orang, tapi kenapa setiap kali dia selali kena hajar?" Seorang pemanah duduk diatas pohon dan mengarahkan anak panahnya kearah belakang gerobak di mana Dharma duduk. Dharma kaget saat melihat anak panah menancap di dinding gerobak, hanya beberapa inci dari wajahnya. Dengan panik Dharma menanyai tukang gerobak, kemana dia akan di bawa, karena jalan yang di lalui gerobak itu bukanlah jalan menuju sekolah Ashok. Si tukang gerobak hanya diam saja, dia malah mempercepat laju kudanya. Dharma berteriak meminta sais menghentikan gerobaknya. Di suatu tempat yang sepi, gerobak itu berhenti.  Tak lama kemudian, beberapa berandal yang di sewa Helena mengelilingi gerobak itu dengan senjata terhunus. Ada yang bersenjata cakar harimau, pedang bahkan panah. Mereka siap menyeru gerobak dan menghabisi Dharma. Tapi ketika pintu gerobak mereka serbu, mereka semua terkejut, karena Dharma suddah tak ada di tempat. Mereka segera berpencar memburu Dharma.
Dharma sendiri, begitu gerobak berhenti segera kabur menyelamatkan diri. Dia berlari tanpa arah dan berhasil menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon. Sayangnya berandal yang mengejarnya melihat kain Dharma dan segera mengepungnya. Terdengar suara Dharma memohon agar mereka membiarkan dia pergi dan tidak membunuhnya. Tapi para berandal yang bersenjata cakar dengan kejam menyerang Dharma tepat di wajahnya. Dharma berteriak. Di sekolah, Ashok tersentak bangun dari tidurnya dengan wajah tegang. Di hutan, para berandal mengayunkan senjata bertubi-tubi hingga Dharma tersungkur tak bernyawa.
Ashok berlatih pedang di arena latihan, tengah malam, seorang diri. Dia mencoba memainkan pedang sebisanya sambil menyerang target sasaran yang tergantung di depannya. Tapi beberapa kali pula dia gagal, bahkan target sasaran itu yang menumbuk dirinya. Hingga akhirnya Siamak datang dan menegurnya, "musuh tidak bisa di bunuh seperti itu." Ashok menatap Siamak dengan rasa ingin tahu, "lalu bagaimana?" Siamak mengambil pedang dan menunjukan caranya pada Ashok. Ashok melihat apa yang di lakukan Siamak, lalu menirunya. Siamak melihat gerakan Ashok dan berkata, "kau belajar dengan cepat." Ashok menjawab kalau dirinya perlu belajat cepat, karena waktunya mendesak. Siamak kemudian mengajari Ashok cara bertarung pedang. Siamak menyerang Ashok dan Ashok menangkis pedangnya. Melihat itu Siamak tersenyum, "apakah kau begitu khawatir dengan kakak Sushim?" Ashok menjawab, "bukan dia. Tapi aku ingin belajar bertarung untuk melindungi ibuku."
Para berandal menemukan tubuh Dharma tergeletak di tanah tertutupi kerudungnya. Salah satu dari berandal itu membuka kain yang menutupi wajah itu dan memberitahu teman-temannya kalau wajahnya sudah hancur. Dia tidak mungkin di kenali melalui wajah. Setelah berkata begitu mereka semua sepakat untuk meninggalkan tubuh itu bergitu saja.
Ashok memberitahu Siamak kalau dirinya ingin berlatih semua ini demi ibunya, tapi ibunya tak ingin dia belajar semua ini, "aku berharap dia ada sisini..sehingga aku dapat membujuknya... " Sinopsis Ashoka Samrat episode 23

Kamis, 06 Agustus 2015

ending terbuka vs ending tertutup

 ne aku waktu masi baby, yang pengen cubit pada telat karna babynya uda gede! si baby mah dah doyan nulis sejak SD, dan waktu TK tuh suka mendongeng. ampe sekarang tuh masih terus belajar, ampe tua sekali pun! selain belajar plot twist, ama EYD, aku juga lagi belajar ending yang kece tuh kayak apa. n aku nemu ending terbuka tuh dah banyak dipake orang. kan biasanya orang pake ending tertutup, tapi aku menaruh perhatian besar ama ending terbuka ini. ending terbuka kayak yang di goosebumps, ftv horor trans tv contohnya. hm asal tahu aja ya, meski ftv romance di sctv tuh bagus2 banget, tapi aku pasti males nonton ampe habis. kenapa? karna endingnya klise, ending tertutup terus yang dipake n pastinya endingnya mudah ditebak, pasti selalu pacaran tokoh utamanya. makanya aku mengundurkan diri menontonnya sampe habis dan berpindah canel aja karna dah tahu pasti endingnya selalu begitu, ga ada syok2nya. aku suka banget nonton sampe habis ftv horor di trans tv, ama di trans 7 juga idenya asik! kalo di indosiar suka ftv religinya bagus tu alur ceritanya meski endingnya si mudah ketebak, tapi konfliknya si asik. kembali ke horor, penerbit horor fave ku ya tetep mediakita sih, penerbit itu dah membangkitkan asiknya horor dari alam kubur di tahun 2013 di kalaku bete karna dikit amat horor yang fresh! meski awalnya si kala terbitan mediakita itu membanjir di gramed tu aku sempat ragu beli, tapi kupikir2 ga ada salahnya lah dicicipi n dipelajari dulu. n sesuai dugaanku kala itu, kumcernya masih biasa2 ajalah! masi kurang seru plus masi dibumbuhi mainstream2 yang bertebaran sana sini, tapi wih pas waktu berlalu tu makin baguslah buku2 penerbit ini! n koleksi horor terbanyakku si ya penerbit mediakita si. pas ada tulisannya @kisahhoror tuh, tamba bagus deh! tapi tergantung penulisnya juga si. tapi rata2 bagus! btw ada juga antologi horor si penerbit lain tema horor kota, yah aku kapok beli kalo tema seperti ini karna hanya kayak baca buku pelajaran budaya aja, bikin ngantuk, ga asik, ga seru, hanya dikit aja cerpen yang seru. aku beli di penerbit horor terpercaya aja kayak: mediakita, bukune, gerrmedia, yang lain masi mikir2 dulu. sayang uangnya kalo aku beli tapi gak asik, gak seru, mainstream, idenya basi dsb...

berikutnya, neh si lepi buat nulis! sebenarnya si aku lagi belajar nulis ending terbuka, tapi dengan formula yang baru. ending terbuka itu yang kayak masih buat penikmatnya kepikiran karna seolah tak ada habis2nya konfliknya. aku biasa pake ending terbuka! meski kebanyakan karyaku ya ending tertutuplah, ending yang konvensional dipake orang2. kalo dah pake ending kebuka ya pastilah mudah ditebak oleh orang yang selalu menemui ending kebuka itu, pastinya tu orang rajin ngebaca n nonton. aku merasa ending terbuka yang kupake si masi biasa2 ajalah. contoh ending terbuka kayak di novel rahasia lantai keempat tuh n aku merasa ending terbukanya ya masi standar bangetlah! makanya aku lagi nyari karangan yang ending terbukanya tuh unik, aku lagi usaha juga meramu formula ending terbuka versi terbaru n fresh. n novel contoh tadi tuh, dah ketebak banget maunya penulis tu pasti mo pake ending terbuka! aku dah bisa menebaknya hanya dengan membaca prolog bab endingnya itu, pasti selalu ada tokoh baru alias figuran di bab ending itu, selalu itu jadi ciri utama ending terbuka. figuran itu hanya nongol di bab ending sebagai penutup ending terbukanya. selalu begitu gaya penulis ending terbuka! makanya aku lagi mikir2, karna ending terbuka karanganku sendiri yah masih standar juga sih hiks2. ending terbuka seperti apa ya kira2 yang belum kepikirkan penulis lainnya? ya aku berusaha nemuin jawabannya itu dengan menggali2 buku2 di pasaran, terutama horor. kalo ending gantung? mungkin lain kali aku akan pake ending gantung di karanganku agar pembaca kesel hehe! aku selalu berusaha make twist ending di tulisanku. n ne ada rahasianya ne agar pembaca baca ampe habis, yaitu menaruh endingnya sebelum bab penutup, tapi bab penutupnya itu ending tertutup. tu kudapatkan di novel vasca vannisa. dy selalu nulis tuh gak naruh nama pelakunya di bab endingnya, tuh aku akui cerdik banget ne penulis seksi! kan novelnya tu tebel banget, jadinya aku gak sabaran mo cari tahu siapa pelakunya, jadinya aku ke bab ending eh ga nemu2 juga akhirnya udah de aku lanjut aja baca huh tebel amat si bukunya, eh pas menghampiri ending tuh baru deh ketahuan pelakunya, dikit lagi tu aku sampe hoho. wow! nah, ketipu kan? gak duga kan kalo nama pelakunya ada di bab sebelum ending?! b^0^d

hehe, nih lagi bobo ama partnerku si Pooh pinker. tahu gak sih, kalo nama Pooh ini dah beberapa kali kumasukin dalam tiap karanganku. kalo mo kenel Pooh yang ini ne temen boboku. gak bisa bobo tanpa memeluk kelembutannya! hm, masi suka sebel ama novel tebel banget hiks. meski novelnya vasca vannisa tu bagus2, hanya aja ya itu de tebel banget malas bacanya meski menarik juga si. ne aja setahun belum kelar2 kubaca. kalo aku si ada triknya agar novelku ga begitu tebal yaitu dengan menggunakan ide tulisan di novel yang kelebihan tebal itu ke ide lain, kan gak ada salahnya dijadikan ide baru, daripada kehabisan ide karna novelnya terlalu tebal getu? beda lagi ama novelnya tu rahasia lantai keempat si memang dah bagus hanya aja ne sebaliknya, tipis amat sih, terus petualangannya juga pas2an bangetlah! ini gak memuaskan pembaca. kalo mo jujur sih, awalnya novelnya memang bagus tapi lama2 ampe ending ih standar bangetlah! selain mediakita n bukune tuh, ada penerbit horor lagi yang aku suka bangetlah namanya penerbit gerrmedia, liat aja buku2nya tuh antimainstream banget, mana idenya fresh n juga plot twistnya berimbanglah, tapi tergantung penulisnya juga si. cus aku nemu buku terbitan gerrmedia yang judulnya kamar mayat, astaga, cerpen2nya mah mainstream2 banget hiks. gak kayak penulis lainnya kayak maria rosa itu mah keren2 bukunya. di kumcer kamar mayat, selalu aja ada repetisinya kayak misalnya tu kalo ada hantunya pasti selalu ada bau melatilah, angin dinginnyalah, ah malas banget aku baca kalimat2 itu, n idenya pun dah rata2 basi si. tapi aku suka banget ama gerrmedia karna gambar2 horornya keren bangetlah! belakangan ne aku juga suka ama kover2 horor bukune, cantik banget! liat aja kover2 2015 nya, daripada tahun lalu tuh sumpeh ya aku jadi malas beli buku2 horor terbitan bukune karna kovernya gak serem! kayak lukisan abstrak getu tapi kesan horornya hilang! terus ada penerbit horor baru kayak penerbit makam tuh, aku masih belum sreg karna aku liat judul2nya kayaknya ide2nya mainstream2 tuh, aku kayak ga menemukan angin segar pada horornya dari judul n sinopsisnya. makanya aku ragu belinya, lebi suka ama terbitan mediakita aja... 

Sinopsis Ashoka Samrat episode 21 by Sally Diandra

bicara tentang plot twist sekarang. seneng banget plot twist ashoka dan mahaputra. ya mahaputra memang bagus sih tapi tentu aja masih lebih seru ashoka menurutku. gak seperti sinetron2 sih, keduanya bisa nipu2 penontonnya dan aku suka dah beberapa kali ketipu kayak getu. misalnya di mahaputra tuh ternyata si ibu muda itu jahat, aku ketipu karena awalnya saja dia baik banget ama mahaputra, baru deh di episod beberapa tuh diperkenalkan watak aslinya. ini juga sebagai pelajaran dalam kreatif writing plot twist, agar tidak memperkenalkan seluruh karakter suatu tokoh pada awal, tapi secara bertahap dikondisikan getuh. biarkan orang penasaran, bahkan ketipu ama karakter tokoh itu dan menduga2nya. pasti syok kan dan dari dulu berpikiran napa gak ada permaisuri yang jahat di mahaputra, ternyata ada api dalam sekamnya. juga soal racun itu, kirain udah dibubuhin di ikat pinggang mahaputra eh ternyata kagak. ketipu lagi deh!
 

Sinopsis Ashoka Samrat episode 21 by Sally Diandra. Helena sedang berada di kamarnya sambil berbicara dengan dirinya sendiri “Aku baru tahu kalau Raskshasa telah datang ke Patliputra tapi mengapa dia tidak menemui aku ?” tiba tiba Acharaya menemui Helena di kamarnya dan berkata “Aku telah tahu apa rencanamu Ratu Helena” Helena terkejut begitu melihat kehadiran Acharaya di kamarnya “Apa yang sedang kamu bicarakan ?” Acharaya hanya tersenyum melihat kepanikan Helena “Kamu ingin membuktikan bahwa aku dan Ashoka yang menyerang Samrat kan ? Dengan begitu kami berdua akan di usir keluar dari istana dan anakmu yang akan menjadi Maharaja selanjutnya” ujar Acharaya geram, sementara Helena hanya menatap Acharaya dengan tatapan tidak suka dan tajam “Ashoka ketahuan memiliki akar akaran herbal itu membuktikan bahwa kamu ingin Samrat membenci Ashoka”, “Apakah kamu mempunya bukti untuk hal ini ?” ujar Helena sambil mendongakkan wajahnya “Bukti pertama adalah expresi pada wajahmu dan bukti kedua adalah ini !” tiba tiba Acharaya menunjukkan kalung Rudraraksh milik Raskshasa seraya berkata “Inilah bukti dengan siapa kamu membuat sebuah rencana dan dia sekarang ada di penjaraku, dia memiliki bukti bukti tentang perbuatanmu dan dia yang akan aku bawa keluar ke pengadilan” Helena sangat terkejut sambil hendak memegang kalung tersebut “Jika kamu mencoba untuk mencelakakan Ashoka maka aku akan membawa Raskshasa kehadapan Samrat !”, “Apa lagi yang kamu tunggu ? Katakan saja padanya” ujar Helena dengan nada sombong “Aku akan mengatakan padanya jika kamu tidak menghargai aku, bagiku kamu adalah seorang pengkhianat tapi untuk rakyat kamu adalah Ratu Patliputra, jika mereka tahu kebenaran tentang dirimu, maka rasa hormat mereka pada Ratu akan berkurang dan hal ini juga bisa berimbas pada Samrat” ujar Acharaya tenang “Kamu ingin menjadikan Ashoka sebagai Samrat tapi dia telah menolak untuk masuk ke sekolah kerajaan”, “Ashoka bisa memutuskan apapun akan tetapi tidak bisa merubah takdirnya dan takdirnya adalah dia akan menjadi Samrat selanjutnya, hanya Ashoka yang bisa menjadi Samrat selanjutnya, selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan Yunani menganggu Magadha sekecil apapun !” ujar Acharaya sambil berbalik keluar kamar Helena, sepeninggal Acharaya, Helena sangat kesal dan marah atas semua perbuatan Acharaya terhadap dirinya, Helena langsung berteriak sambil menghempaskan selendangnya.
Tak lama kemudian Helena mengundang Bal Govin “Ashoka adalah temanku, Ratu Helena ... aku tidak bisa menghianatinya, aku tidak tahu apa apa tentang dia tapi meskipun aku tahu aku tidak akan menceritakannya padamu” ujar Bal Govin cemas “Aku baru tahu kalau kamu ini ternyata memang tolol, tidakkah kamu bisa melihat bahwa Ashoka itu sangat egois, dia diterima di sekolah kerajaan, mengapa dia tidak menceritakan tentang kamu ke Samrat ? Dia seharusnya bisa menceritakan tentang kamu ke Samrat dan membiarkan kamu masuk ke sekolah kerajaan juga tapi karena dia hanya ingin untuk kebaikannya sendiri, dia tidak melakukannya, sekarang cari tahu kenapa Ashoka menolak masuk sekolah ? Jika kamu menemukannya maka aku akan membebaskanmu atau aku akan membunuhmu !” Bal Govin sangat terkejut
Sementara itu Ashoka sedang berdiri di pinggir sungai, tak lama kemudian Dharma menemuinya sambil membawa pakaian dan perbekalan untuk Ashoka “Ibu, kamu ingin aku untuk tidak masuk ke sekolah tapi mengapa aku tidak senang dengan keputusan ibu ?” Dharma bingung harus menjawab apa, tiba tiba beberapa orang tidak dikenal dengan pakaian serba hitam datang menemui mereka, orang orang tersebut menutup sebagian muka mereka, hingga hanya tersisa matanya yang terlihat.
Sementara itu di istana kerajaan Magadha, Radhagupta bertanya pada gurunya Acharaya “Mengapa kamu mengirimkan para preman berbaju hitam itu ke Ashoka ?”, “Dengan begitu Ashoka bisa belajar bahwa suatu saat nanti dia harus melawan orang orang jahat itu untuk melindungi rakyatnya” ujar Acharaya mantap “Ketika aku tahu kalau dia menolak untuk masuk ke sekolah, aku tahu kalau hanya Dharmalah yang bisa memintanya untuk melakukan hal itu, aku tahu kalau Ashoka pasti akan mengangkat senjatanya jika Dharma dilukai oleh orang orang jahat itu, seseorang yang berjanji untuk tidak melakukan tindakan kekerasan akan bertarung saat ini”
Dilain pihak, Ashoka dan Dharma mulai tegang ketika berhadapan dengan orang orang tidak dikenalnya yang ternyata orang suruhan Acharaya, Dharma mencoba melindungi Ashoka, Ashoka disuruh berlindung dibelakangnya namun Ashoka tidak mau, dia malah mau melindungi Dharma, tak lama kemudian Ashoka mulai diserang oleh orang orang tersebut, dengan sekuat tenaga Ashoka melawan mereka dengan tangan kosong, Ashoka berhasil menjatuhkan lawannya yang menyerangnya dengan tongkat kayu, namun tak lama kemudian Ashoka terjatuh, Dharma yang tidak tahan melihat anaknya di pukuli segera menghampiri Ashoka dengan maksud menghentikan orang orang itu memukuli Ashoka namun salah satu orang orang tersebut menggeret Dharma, Ashoka tidak terima ketika melihat ibunya terluka karena jatuh tersungkur, Ashoka langsung marah dan mulai menghajar habis orang orang tidak dikenal itu, Dharma sangat terkejut ketika melihat Ashoka yang mulai melanggar janjinya demi melindungi dirinya, ketika Ashoka sudah dipuncak amarahnya, Dharma mencoba menghentikan tindakan Ashoka dan orang orang tidak di kenal itu lari tunggang langgang meninggalkan mereka.
Ditempat Acharaya “Kejadian ini akan memaksa Ashoka untuk melawan ibunya, aku tidak ingin semua ini terjadi tapi Dharma tidak memberikan pilihan apapun padaku” ujar Acharaya sedih
Di tempat Ashoka, saking marahnya Ashokapun berteriak keras “Aaaarrgggghhhhh !!!!” Dharma terkejut mendengarnya lalu mendekati anaknya “Mengapa kamu mulai memukuli mereka ?”, “Sekarang aku baru sadar bahwa ternyata aku ini lemah, aku bahkan tidak bisa melindungi ibu !”, “Kamu telah melindungi ibu, nak” Dharma membelai wajah Ashoka “Tapi ibu terluka, lihat ini ... aku tidak bertarung untuk melindungi ibu” ujar Ashoka sambil menunjukkan luka di lengan Dharma “Kekerasan itu bukan jadi jalan keluar untuk semua permasalahan, aku tidak akan pernah menginginkan kamu mengangkat tanganmu untuk memukuli orang, banyak orang yang memberikan kehidupan mereka tidak untuk kekerasan” Ashoka semakin tidak mengerti apa maksud ibunya “Aku tidak bisa tinggal diam dimana ada banyak konspirasi disini, ibu ! Kalau begitu jangan penuhi janji ibu pada Acharaya dan kita bisa pulang ke kota kita” Dharma menatap Ashoka dengan perasaan sedih “Ibu tidak bisa melakukan hal itu, Ashoka”, “Kalau begitu aku harus melanggar janjiku padamu, jika kita tinggal disini maka aku harus masuk ke sekolah kerajaan, untuk melindungi ibu, aku bisa melawan prinsip prinsipmu, aku harus belajar bertarung untuk keselamatanmu, aku bisa melawan janjimu untuk melindungi ibu dan aku akan melakukan ini semua, bu !” ujar Ashoka sambil berjalan mundur menjauh dari Dharma, Dharma menatap anak semata wayangnya ini dengan sedih, sementara dari kejauhan ternyata Bal Govin melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Dikamar Helena, Bal Govin menghadap ke Helena dan menceritakan semua yang didengarnya di sungai tentang Ashoka dan ibunya “Apakah kamu yakin, Bal Govin ?”, “Saya yakin sekali, Ratu Helena ... perempuan itu yang telah mengobati Samrat Bindusara selama beberapa hari ini ternyata adalah ibu kandung Ashoka, Ashoka menolak masuk ke sekolah hanya karena ibunya” sesaat Helena tertegun, Helena teringat ketika mendapati Ashoka berada di dalam istana sambil membawa ladu ditangannya “Apakah aku bisa bebas sekarang ?” tanya Bal Govin dengan mata berbinar binar, sementara Helena hanya tersenyum sambil menatapnya.
Di dalam istana, Dharma sedang berjalan menuju ke kamar Bindusara sambil berkata dalam hati “Ashoka ingin menggunakan kekerasan hanya karena aku, aku akan berbicara dengan Samrat Bindusara” ketika Dharma menemui Bindusara di kamarnya ternyata Ashoka sudah ada disana “Dewi, kamu disini ! Ashoka telah memutuskan untuk masuk ke sekolah kerajaan”, “Aku hanya tahu bagaimana caranya mengobati luka luka pada tubuh orang” ujar Dharma sambil menutupi wajahnya dengan dupattanya “Ashoka akan melindungi rakyat” ujar Bindusara bangga “Meskipun untuk melindungi rakyat, dia akan menggunakan kekerasan, pasti akan ada pertumpahan darah”, “Apakah kamu mengira kalau aku akan menjadi seperti iblis jika aku belajar bertarung ?” Ashoka ikut menimpali pembicaraan mereka “Dia betul ! Dia bisa melayani rakyat, untuk melindungi daerah kekuasaanmu dari musuh, kamu perlu prajurit !”, “Pertarungan hanya akan membunuh orang orang dan pembunuhan bukan satu satunya cara untuk segala macam permasalahan” Dharma masih tidak suka kalau Ashoka belajar bertarung “Aku berjanji padamu kalau aku tidak akan menyalahgunakan kekuatanku dalam bertarung, aku hanya akan melayani rakyat dengan menolong mereka melalui kekuatanku dalam bertarung” ujar Ashoka “Kalau begitu Ashoka akan mulai masuk sekolah besok !” ujar Bindusara bangga sambil tersenyum, sementara Dharma masih kurang suka dengan keputusan Ashoka, Ashoka juga senang ketika melihat Bindusara namun langsung berubah sedih ketika melirik kearah ibunya.
Dikamar Helena, Justin menemui Helena disana dan Helena langsung memberikan informasi pada anaknya “Justin, kamu tahu ... Dewi itu adalah ibu kandungnya Ashoka, nyawa Ashoka tergantung pada ibunya dan nyawa Acharaya itu tergantung pada Ashoka, jika Dewi kita bunuh maka Ashoka akan menyalahkan Acharaya yang telah membawa Dewi kesini hingga akhirnya terbunuh, mereka akan saling menyerang satu sama lain, dan kita ... kita akan menggunakan permasalahan ini sampai kamu mendapatkan tahtamu” ujar Helena dengan mata berbinar binar “Lalu bagaimana kita akan melakukan rencana kita, ibu ?” tanya Justin “Kita akan melakukannya di pengadilan nanti”
Di dalam ruang sidang “Aku ingin pergi berburu hari ini” ujar Bindusara “Kamu seharusnya mengajak Justin dan Khurasan bersamamu, Samrat” Helena ikut menimpali pembicaraan Bindusara “Lalu siapa yang akan menjaga istana ?”, “Perdana Menteri yang akan mengurusi semuanya disini, Samrat” ujar Justin sambil melirik ke arah ibunya, Helena tersenyum sinis dengan mata penuh dengan kelicikan “Waaah, bagus itu !” ujar Bindusara, Perdana Menteri menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Bindusara, sementara itu dalam hati Helena berkata “Bindusara akan pergi berburu hewan, maka aku akan berburu Dewi disini” bathinnya sambil tersenyum sinis. Sinopsis Ashoka Samrat episode 22

Rabu, 05 Agustus 2015

anti mainstream

hm kalo temen2ku aktifnya di fb bikin status, aku si antimainstream, aku milih update status di blog cus aku orangnya kuper n rada takut sama orang, suka trauma gak jelas getuh. aku suka sensitif makanya jarang bicara ama orang, takut ada kalimatnya yang bikin aku kesinggung getuh. makanya terkadang aku memilih tuk menyepi sendiri, di blog gak banyak orang sih jadi cucok tuh tuk karakterku ne. lagian update curhat di blog kan bisa diliat terus tapi kalo di fb bisa kehapus oleh timeline, karna curhatku penting ya aku ga update di fb, makanya di blog aja sambil post foto2. kalo statusku gak penting baru de aku update di bbm hihi kayak bilang laperlah, dah bangunlah dll. kalo temen2ku pada buat penerbit indie mereka, aku sih mulanya mau sih tapi aku gak jadi ikutan karena teringat karakteristikku ini, aku orangnya gak gaul, kalo mereka sih gaul bangetlah, lagian aku lebi suka milih urus naskah ndiri daripada urusin naskah orang. getuh. kalo urusin naskah orang juga, aku lebih milih yang horor. hm, aku si sukanya nulis horor yang ada pesan moralnya agar gak takut hantu karna manusia sebenarnya lebi kuat daripada hantu itu ndiri dengan doa2. kan hantu ciptaan Allah juga lagian kan dah mati dy. ngapain takut ama benda mati? hantu tu sebenarnya jin yang menyamar jadi orang mati n mereka iseng banget nakuti orang tuh kerjaannya memang. gak tahu napa ya mereka hobi nakut2i getu apa dapat makan ya dari itu apa demi kepuasan batin kali ya? makanya aku males banget baca horor yang selalu aja lari ketemu setan, seneng tuh setannya karna ditakuti padahal orang mahluk khalifah di muka bumi ne, penguasa dunia! masa takut ama yang bukan khalifah? yang berhak ditakuti hanya penciptanya yaitu Allah! kalo kita ga ganggu mereka, mereka juga dong jangan ganggu agar adil. tapi hm, sayangnya gak, meski aku ga ganggu jin, mereka tetap ganggu aku gak tahu napa padahal gak ada salahku sama mereka. kurang kerjaan kali mending bantu aku bersih2 rumah ato cari kucingku misalnya kan dapat pahala. daripada jin2 itu dosa nakut2i orang mulu. aku memang orangnya antimainstream, kata temen2 si aku orangnya unik...

dalam hal nulis horor juga aku tu orangnya antimainstream! aku banyak baca buku horor tuk gali kualitas seperti apa yang ada di pasaran sana. n seneng bangetlah daripada yang dulu2 tu buku2 horor pada basi banget n sekarang si dah banyak ide fresh n aku suka tu. sambil membaca si aku orangnya suka muji n ngejek juga. misalnya sebuah buku pada bab 1 aku muji2 karna prolognya bikin penasaran eh pas endingnya aku ngejek karna dah gampang ditebak! sumpeh, aku paling males banget ama karakteristik hantu yang mainstream habis kayak: rambut panjang acak2an, mata melotot, hihihihihi, tangan dingin, wajah pucat, baju putih, berdarahlah, muka rusak, kepala kepenggal, belatunglah. dah mainstream bangetlah! gak seram menurutku cus aku gak perlu baca bagian kalimat tersebut, aku dah bisa tebak karakteristik hantunya pasti begitu selalu, seragam! dan betul kan, buang2 waktu aja aku kalo baca kalimat yang sudah bisa kutebak begitu kondisi hantunya, padahal menurut logika kan hantu itu terbuat dari api (jin) kok dingin sih bukannya panas? n juga napa harus mukanya pucat? kalo dah bilang begitu ciri2nya dah kebaca bangetlah tuh hantu, coba disembunyikan ciri2 hantunya itu hingga gak ketebak ama pembaca. aku kan kalo membaca tuh sambil nebak2. jadi paling maleslah ama karakteristik hantu yang mainstream kayak getu kalo terus2an kan ga serem lagi kan karna dah ditahu getu2 aja karakteristiknya, makanya tu kalo aku si nulis horor biasanya ga pake hantu2, aku pake suntik2 misalnya bedah2 operasi pake kadaver misalnya pokoke yang kayak di rumah sakit getu kan serem juga. n aku juga paling males penulis yang pake pocong, kuntilanaklah dsb di tulisannya. huh, biasanya si aku ga penasaran bacanya karna gak ada yang baru soal mereka, getu2 aja ceritanya. n yang mainstream tuh kalo ketemu hantu pasti selalu lari ketakutan, napa gak ada reaksi yang lain misalnya aja menguap getuh? apa hantunya membunuh n mencelakakan? kalo orang baca doa, pasti dy lah yang akan mencelakakan hantu itu. btw aku nulis horor sambil kasih pesan moral juga agar ga kejebak takut ama hantunya, bisa dibaca di web gwp ya!

Sinopsis Ashoka Samrat episode 20 by Jonathan Bay

hm dah episod banyak2 ne. dah ada pula epik kolosal india terbaru si mahaputra bagus juga si lumayan tapi masih lebih baguslah ashoka! mahaputra juga seru si n pemerannya abg labil kesukaanku hehe. kalo jodha akbar dah ga begitu liat lagi karna labony nya dah ga main lagi hiks padahal seru banget kalo ada labony nya itu loh, yang lain di rumah juga berpendapat sama. masih lebih cakep juga ashoka daripada mahaputra itu meski keduanya si sama2 cerdiknya. aku suka kolosal yang cerdik2 seperti ini. jadi aku juga cari ide kayak getu cerdiknya karna aku gak cerdik jadi mau riset dulu. novel kolosalku lagi buntu2nya jadi sebagai gantinya aku kerjain 4 draft buku horor sekaligus ne sebagai penggantinya. n aku tuh orangnya moody banget hiks, kalo dulu aku pernah rajin banget jadi pj even misalnya sekarang malah jadi malas banget n lebi luangkan waktu tuk impian diri ndiri. ya aku memang gak cucok urus2 orang, lebih cendrung urus draft naskah ndiri aja dulu hiks. ne keburukanku kalo dah moody kalo dah megang eh malah buntu karna begini sifat burukku nongol di tengah jalan. gemana ini?
 

Sinopsis Ashoka Samrat episode 20 by Jonathan Bay. Pada Nikator, Rakhasa mengatakan kalau penyerang yang di kirimnya adalah orang yang setia, dia bahkan bisa mengorbankan nyawa untuk dirinya. Tapi Nikator sangsi karena penyerang itu tidak mencapai  di mana dia seharusnya, "aku merasa telah melakukan kesalahan dengan mempercayai anda." Rakhasa punya dugaan kalau Chanakya ada hubungannya dengan ketidakhadiran si penyerang, "kalau tidak berada dalam penjara Chanakya, dia pasti sudah datang padaku."
Helena  mengeluh pada Justin kalau Chanakya selalu mengagalkan rencana mereka, "kita harus membunuh chanakya." Justin tidak setuju, "apa yang akan kita dapatkan dengan membunuhnya? Dia sudah membagi rencananya dengan Ashok. Ashok akan menjalankan misi itu kedepannya jika terjadi apa-apa pada Chanakya." Helena berkata kalau begitu mereka harus membunuh Ashok juga. Justin meminta Helena agar tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Helena kesal,  "apa yang harus kita lakukan?" Justin terdiam sebentar, dengan kalem dia berkata, "mungkin itu pertanda kalau kita tidak bisa menaklukan tahta ini." Helena terbelalak menatap Justin, "aku tidak menyangka anakku seorang pengecut!" Justin langsung emosi di katakan pengecut, "lalu apa yang kau lakukan ma? Anda tidak sabaran karena ketidaksabaranmu kita selalu gagal. Anda harus sadar kalau kita tidak bisa merebut tahta, karena kita tidak punya kemampuan itu. Kalau anda menginginkan kebaikan saya, jika anda ingin menjadikan saya Samrat Magadha maka anda perlu menghormati saya dan pemikiran saya. Anda harus membiarkan saya tumbuh dan mengambil keputusan sendiri. Anda harus berhenti menyuapi saya." Helena tertegun mendengar curahan isi hati Justin. Helena ingin menenangkan Justin dengan menyentuh pundaknya. Tapi Justin menepis tangan Helena dan pergi meninggalkannya. Helena terlihat sedih.
Di klinik Dharma sedang melayani pasien. Sebelum pergi, pasien itu memuji kalau Dharma memiliki sihir di tangannya. Dharma tersenyum. Bindusara datang ke klinik. Dharma cepat-cepat menarik kerudung untuk menutupi wajahnya. Bindu melihat-lihat kondisi sekitar di mana banyak pasien yang masih terbaring sakit. Bindu bertanya pada Dharma, "apakah engkau membutuhkan bantuan dari istana?" Dharma menjawab, "tidak lagi. Kami sudah mendapat bantuan dari sana karena itulah kami bisa membantu para pasien." Seorang gadis yang pernah di bantu Ashok menghampiri Dharma dan menanyakan Ashok. Dharma menjawab kalau Ashok tidak ada di klinik. Gadis itu memberitahu Dharma kalau Ashok berjanji akan memberinya Laddo. Dharma kemudian mengambil Laddo dan memberikannya pada gadis itu. Gadis itu tersenyum, mengucapkan terima kasih dan berkata kalau Ashok sangat baik. Dharma tersenyum. Bindu berkata kalau semua orang sangat mencintai Ashok, "saya bertemu Ashok hari ini, dia sangat hebat. Dia memiliki bakat untuk menjadi pejuang besar. Jika dia belajar di sekolah kerajaan dia bisa menjadi pemimpin pasukan istana." Dharma tertegun, "pemimpin pasukan? Anakku? Tidak. Anakku tidak boleh melakukan kekerasan."
Dikamarnya, Noor sedang berbicara manis dengan Siamak ketika Justin datang. Mendengar kedatangan Justin, Noor segera meminta Siamak pergi ke kamarnya sendiri dan juga menyuruh semua pelayan pergi. Ketika hendak keluar, Siamak berpapasan dengan Justin, siamak menyapanya dengan berkata kalau suatu hari dirinya akan mengalahkan Justin. Justin tersenyum, "benarkah?" lalu di mengelus kepala Siamak sebelum anak itu berlalu dari hadapannya.
Justin menghampiri Noor. Noor menyambutnya dengan dingin. Justin kemudian duduk di sampingnya dan berkata kalau dirinya ingin menghabiskan waktu dengan Noor sehingga hatinya merasa sedikit damai. Noor mengingatkan Justin, "bagaimana kalau ada orang datang dan bertanya apa yang kau lakukan di sini?" Justin menyentuh lengan Noor dan menjawab, "dulu kau menyukaiku dan tidak mempertanyakan keberadaanku." Noor menyahut, "dulu kau berbeda. Dulu kau mau mendengarkan aku, mau memecahkan masalahku tapi sekarang kau hanya berpikir tentang dirimu sendiri." Justin berkata, "percayalah padaku, aku akan melindungi siamak, masadepannya terjamin." Noor menyela, "saat masadepan mu sendiri tidak aman, bagaimana kau menjamin masa depan siamak?" dengan rendah hati Justin mengatakan kalau dirinya mungkin tidak punya banyak kemampuan, tapi dia berjanji kalau dirinya akan mejadikan Siamak seorang yang kuat, sehingga dia tidak akan membutuhkan siapa-siapa untuk terus maju dimasa depan, "aku bisa memberikan hidupku untukmu!" Noor menarik tubuh Justin mendekat dan berbisik, "apa yang membuatmu berpikir kalau aku membutuhkan hidupmu dan kau tidak memberikannya maka aku akan meninggalkanmu?" Justin tersenyum dengan mata berbinar-binar bahagia.
Di kandang kuda, Bal Ghovin dan Ashok sedang berjalan-jalan sambil berbincang. Bal memuji Ashok dengan mengatakan kalau dirinya sangat suka saat Ashok bicara hebat. Ashok merasa itu sudah tugasnya. Tapi Bal berkata Ashok berbeda dan luar biasa. Ashok hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Bal Ghovin. Teman Bal datang menghampirinya, sambil menatap kepergian Ashok anak itu berkata, "Ashok akan melupakan kita saat ia sudah pergi ke sekolah." Bal Ghovin dengan penuh keyakinan menyahut, "tidak akan seperti itu.." Anak itu menatang Bal Ghovin untuk menguji Ashok apakah dia akan berubah setelah pergi ke sekolah. Bal Ghovin berpikir sejenak, lalu bertanya. "apa yang harus aku lakukan?" Anak itu menyuruh Bal Ghovin meminta Ashok memohonkan pengampunan untuk dirinya, karena Samrat Bindusara mau mendengarkan Ashok. Bal Ghovin setuju. Dia menatangi Ashok dan menceritakan kondisinya, "teman, aku bekerja disini untuk membayar hutang ayahku. Samrat selalu mendengarmu, bisakan kau meminta dia untuk mengampuni aku?" Ashok seperti paham apa yang di minta Bal Ghovin, dengan akrab dia menepuk pundak Bal, "teman, aku bisa memintakan itu pada samrat, tapi beliau tidak akan pilih kasih. Suatu saat kau pasti akan mendapat kesempatan untuk menyelesaikan tugasmu dan bebas dari sini. Aku tidak bisa meminta samrat untuk pilih kasih." Setelah memberi bal Ghovin pengertian, Ashok melangkah pergi. Bal Ghovin menarik nafas berat. Temannya datang dan berkata, "kau lihat itu? Ashok sangat pintar, dia tahu apa yang harus dikatakan dan bagaimana menipu orang. Begitu pergi dari sini, dia akan segera melupakan kita dan berteman dengan anak-anak bangsawan." Bal dengan berat hati terpaksa setuju dengan kata-kata temannya itu.
Ashok mulai bisa bebas di istana. Dia datang ke ruang tahta yang kosong di mana sidang pengadilan selalu di langsungkan. Ashok berdiri di tengah aula dan menatap Tahta dengan senyum bangga. Ia ingat bagaimana dirinya dulu di tuduh berkali-kali, di masukan kedalam penjara dan di siksa, "..hari ini aku tidak punya tuduhan di kepalaku, di hormati. Sebelumnya aku hanya bisa melihat dinding pengadilan ini sebagai pesakitan tapi sekarang aku datang kesini dengan hormat.." Sambil tersenyum lepas Ashok meninggalkan ruang pengadilan dengan langkah yang ringan dan gagah.

Seorang dayang menemui si penyerang di penjara sambil membawakan makanan. Pelayan itu membujuk si penyerang agar tidak marah pada makanan dan memakan makanan yang di bawanya. Pelayan itu bahkan bejanji akan membantu si penyerang. Tapi si penyerang tak menghiraukan apa yang di katakan pelayan, bahkan dia mendorong si pelayan hingga terjatuh kelantai. Makanan yang di bawanya berserakan, bahkan kunci yang terselip di pinggangnya terjatuh di lantai. Dengan kesal pelayan berdiri dan berkata dengan nada mengingatkan bahwa kalau sampai mereka menemukan siapa konspirator sebenarnya, maka si penyerang tidak akan selamat. Lalu pelayan itu meletakan makanan di samping si penyerang dan beranjak pergi keluar sel. Di depan pintu pelayan melirik si penyerang dan tersenyum tipis sebelum akhirnya dia berlalu pergi dari penjara.
Di halaman istana, Justin dan Siamak sedang berlatih pedang. Ashok melihatnya dari kejauhan sambil tersenyum. Noor yang duduk di tepi arena mengamati latihan itu dengan senyum bangga. Latihan berlangsung dengan penuh semangat. Saat Noor melihat Siamak menahan pedang Justin, Noor dengan cemas berteriak, "hati-hati, nak!" Siamak menoleh kearah noor dan berkata, "jangan kuatir, ma. Aku akan membuat paman kalah hari ini." Karena hilang kosentrasi., Justin berhasil menodongkan pedang kearah Siamak. Siamak terkejut. Justin tersenyum, "jangan lupa siamak, aku lebih kuat darimu!" Siamak dengan penuh percaya diri mengatakan kalau dirinya kebih percaya pada kekuatanya sendiri dan bukan pada kekuatan musuh. Lalu siamak kembali mengayunkan pedang. Justin menangkisnya. Tiba-tiba Siamak menyodorkan pedang ke arah wajah Justin, dengan kaget Justin menghindar. Akibat gerakannya yang mendadak itu Justin terpelset dan jatuh ketanah. Noor bertepuk tangan. Justin tersenyum penuh arti. Ketika justin hendak berdiri, Siamak menghampirinya dengan pedang terhunus. Justin tertawa, "kau sudah mulai menggunakan pedang seperti aku.." Noor yang mendengar itu menyahut, "mengapa tidak? bagaimanapun juga dia adalah..."~Justin menatap Noor dengan tatapan menunggu, Noor tersadar, dia meralat kata-katanya, "..maksudku dia adalah muridmu." Justin tersenyum penuh arti pada Noor. Lalu dia mengulurkan tangan pada Siamak. Siamak menyambut uluran tangan Justin dan menggenggamnya dengan erat. Ashok melihat semua adegan itu dari atas balkon istana.
Di penjara, si penyerang melihat kunci yang di jatuhkan pelayan. Setelah menoleh ke kiri dan kekanan, dia dengan cepat mengambil kunci itu dan membuka gembok penjara. Setelah pintu terbuka, si penyerang tanpa buang waktu lagi segera kabur keluar. Sayang seorang prajurit jaga memergokinya, si prajurit segera berteriak memberitahu teman-temannya. Kejar-kejaran pun terjadi di lorong penjara. Sampai di jalan buntu, si penyerang menemukan jendela, dia menimbang hendak pergi kemana. Serombongan pelayan muncul dari sisi lain jendela secara diam-diam. Si penyerang tidak sadar kalau ada yang mengamati, dia bicara sendiri, "..aku tahu di mana Rakhasa, aku akan menemuinya..!" Setelah berkata begitu, si penyerang melompak keluar jendela. Nirjara tersenyum, "achari Chanakya benar, si penyerang itu akan pergi menemui tuannya." lalu dengan isyarat dia menyuruh prajurit mengikuti si penyerang.
Dharma sedang menumbuk ramuan ketika Ashok menemuinya di klinik. Ashok memberitahu Dharma tentang Justin dan Siamak berlatih pedang. Cara Ashok bercerita begitu bersemangat membuat Dharma berpikir kalau Ashok mulai menyukai senjata. Ashok berkata kalau semua akan baik, dirinya akan masuk sekolah kerajaan dan menjadi pejuang besar. Lalu dia akan bekerja sehingga Dharma bisa istirahat. Dharma tidak menyahuti kata-kata Ashok, dia bangkit dari duduknya dan menjauhi Ashoka dengan wajah sedih. Ashok mendekati Dharma dan masih berbicara tentangg harapan-harapannya, Dharma menatap Ashok dengan tatapan sedih. Dharma berkata, "kau terpesona melihat kekerasan di sini. Padahal aku selalu ingin kau berjuang untuk perdamaian. Itu adalah mimpiku melihatmu hidup damai, melayani orang, tidak membunuh orang." Dharma mengatakan kalau menjadi prajurit harus membunuh orang dimedan perang. Prajurit menyukai pertumpahan darah, "dan kau ingin aku bahagia melihatmu menjadi prajurit? Bagaimana aku bisa bahagia mengetahui anakku membunuh anak ibu lain? Kalau kau membunuh untuk memenangkan perang, bagaimana kau bisa mendapatkan ketenangan pikiran dan kedamaian hati?" Ashok bertanya apakah Dharma tidak senang dirinya pergi ke sekolah kerajaan? Dharma menjawab kalau dirinya lebih senang jika Ashok tidak pergi kesana.
Dengan jatuh bagun, si penyerang terus berlari melewati lorong rahasia untuk menemui Rakhasa. Dugaannya tepat, dari arah berlawanan muncul Rakhasa yang segera menyambut si penyerang dengan hati lega. Rakhasa berkata, "aku senang melihatmu masih hidup." Keduanya lalu berpelukan. Dari tempat tersembunyi muncul prajurit Chanakya, siap mengepung Rakhasa.  Dengan rasa ingin tahu rakhasa bertanya pada si penyerang bagaimana dia sampai bisa lari dari penjara? Si penyerang berkata kalau dirinya menemukan kunci yang terjatuh di sel penjaranya. Rakhasa tersadar kalau mereka telah terjebak dalam rencana Chanakya. Rakhasa mengajak si penyerang kabur dari tempat itu. Tapi terlambat, pasukan Chanakya sudah mengepungnya dan segera menangkap mereka berddua.
Ashok meminta kejelasan akan sikap Dharma dengan bertanya, "ma, kau tak suka bukan kalau aku pergi ke sekolah kerajaan?" Dharma memengang bahu Ashok dan memberi pengertian, "aku tidak ingin kau menjadi kejam, suka kekerasan." Ashok menjawab dengan wajah setengah sedih bahwa dirinya sangat ingin pergi kesekolah tapi pemikiran Dharma adalah segalanya bagi dirinya, menurut Ashok belajar bertarung dan senjata bukan berarti dirinya akan menjadi kejam dan menyukai pertumpahan darah, "tapi jika ibuku tidak suka, maka aku tidak akan pergi." Lalu dengan memendam rasa kecewa Ashok pergi meninggalkan Dharma di kuti tatapan sedih darinya.
Rakhasa di masukan penjara dengan tangan terikat. Chanakya menemuinya. Melihat Chanakya, Rakhasa berkata kalau dirinya mendapat tahu tentang Ashok dan bahwa Chanakya akan menjadikan anak itu sebagai raja berikutnya. Chanakya dengan kalem berkata, "karena itu kau ingin menjebaknya dengan membuktikan kalau Ashok akan menjadi samrat berikutnya. Katakan kenapa Helena melakukan semua itu? Aku akan membebaskanmu." Rakhasa berkata kalau Chanakya pernah membodohinya sekali, "kau membodohiku dengan mengatakan kau akan menjadikan aku  perdana menteri kalau chadragupta menjadi samrat, tapi kau tidak memenuhi janjimu." Chanakya menyahut, "niatmu tidak tulus. Kau ingin menjadi perdana menteri agar kau bisa menghabisi aku dan Chandragupta dan menjadi samrat baru. Kau selalu ingin menjadi samrat." Rakhasa bilang kalau Chanakya tidak punya bukti untuk membuktikan teorinya, "kau mengirimku ke daerah lain sehingga aku tidak menjadi perdana menteri." Chanakya menyahut kalau dirinya bisa melakukan apa saja untuk melindungi Magadha. Rakhasa mengejek Chanakya dengan mengatakan kalau chanakya ingin menjadi dewa pelindung magadha dengan membunuh atau membungkan orang yang menentang dirinya. Chanakya tak mengubris kata-kata Rakhasa, dia mencoba bertanya sekali lagi apa niat Helena sebenarnya? Rakhasa berkata, "kau bilang akan melakukan apa saja untuk Magadha. Aku memberimu tawaran, bunuh dirilah sekarang juga dan aku akan memberitahu tentang Helena pada Bindu." Chanakya berkata kalau dirinya bisa saja bunuh diri sekarang juga, masalahnya adalah dia tidak mempercayai Rakhasa. Rakhasa berkata, "kalau begitu aku tidak akan memberitahu apa rencana Helena." Chanakya kemudian memerintahkan prajurit membawa Rakhasa kepinggiran Patliputra, tapi sebelum itu dia menyuruh prajurit itu melepas kalung Rudraksa dari lehernya. Setelah Rakhasa di bawah peri radhagupta menghampiri chanakya dan bertanya mengapa dia mengambil kalung Rudraksa dari leher Rakhasa. Chanakya berkata kalau dia akan menunjukan kalung itu pada Helena untuk mengetahui reaksinya.
Bindusara sedang berlatih ketika Ashok menemuinya dengan wajah sedih. Bindusara bertanya kenapa Samrat Vanrajnya tampak sedih? Ashok memberitahu Bindusara kalau dirinya tidak bisa menerima tawarannya untuk masuk sekolah kerajaan. Helena dan Dharma mendengarkan percakapan itu dari jauh. Dengan wajah heran Bindu bertanya, "mengapa? Apakah Sushim mengatakan yang tidak-tidak?" Ashok menjawab, "tidak, rajkumar Sushim tidak mengatakan apa-apa." Bindu bertanya, "lalu apa alasannya?" Ashok meminta maaf pada Bindu karena tidak bisa memenuhi keinginannya, "tapi rasa hormat yang anda berikan untukku sangat besar. Anda mengizinkan aku tinggal di istana agar aku bisa bersekolah di sekolah kerajaan. Tapi sekarang saya tidak akan tinggal di sana. Saya kan pergi." Ashok memberi salam hormat pada Bindusara lalu beranjak meninggalkannya. Bindu menatap kepergian Ashok dengan perasaan tak mengerti. Helena berpikir, "mengapa Ashok menolak kesempatan besar seperti itu dan peri begitu saja. Apa alasan di balik semua itu?"
Dharma dengan sedikit rasa besalah berkata-kata sendiri, "apakah aku benar dengan tidak membiarkan Ashok bertemu ayahnya? tapi hidup Ashok akan ada dalam bahaya sekarang apalagi kalau kebenaran tentang siapa ayahnya di ketahui banyak orang." Bindu muncul di belakang Dharma dan memberitahunya kalau Ashok menolak untuk pergi ke sekolah kerajaan. Bindu meminta Dharma membujuk Ashok dan menyakinkannya agar mau menerima tawaran itu lagi karena menurut Bindu, Ashok memiliki bakat yang unik dan perlu di poles. Bindu meminta dharma membujuk Ashok, karena Dharma sudah seperti ibu baginya, dan Ashok pasti akan mendengarkan kata-katanya.  Setelah berkata begitu Bindusara meninggalkan Dharma. Dharma tercenung bingung, "satu sisi adalah keinginan Ashok untuk pergi ke sekolah, sisi lain adalah pemikiranku tentang kekerasan. Mana yang harus kupilih?" Sinopsis Ashoka Samrat episode 21

Minggu, 02 Agustus 2015

horor mania

aku suka ngoleksi horor, selalu beli baik tuh film, komik ato buku! nih koleksiku terbitan mediakita sih karna banyak horor yang diterbitkannya. karna rajin beli ya udah deh dikasi hadiah ama mediakita 3 buku paling atas sana, asik deh! memang ne penerbit horor fave ku sih, tapi yang kedua aku suka ama terbitan horor bukune, asal gak mainstream, aku sukalah...

tahun lalu ikutan gwp aku tentu kirim horor dong 2 anakku kukirim ke gwp 2 sana. aku suka yang gak mainstream, jadi aku nulisnya yang lain daripada yang lain idenya agar menang. baca aja hororku, gak mainstream, kan? tuh aja idenya dari mimpi loh! aku yakin ideku menarik n bisa jadi best seller nanti bahkan difilmkan n diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. amin!

hm yah, uang yang kupunya dipake tuk beli buku horor hehe. kalo cewe tuh biasanya beli baju, tas, sepatu, jilbab dll fashion2 tuh aku lebi suka nongkrong di gramed lama2. bagiku buku horor ya dah jadi santapan aja, tiap beli tuh aku pelajari apakah ada ide uniknya yang baru n fresh n antimainstream. hm sebenarnya sih buku2 hororku yang mainstream tuh kukasih orang aja, yang kukoleksi yang berani beda aja...

hay, aku penulis horor sih sebenarnya. sebenarnya sih awalnya aku suka nulis epik kolosal taun 1998-an zaman SD karna suka nonton film cina kolosal, film kungfu zaman kerajaan getuh. jadinya terpengaruh. suka nulis horor sekitar tahun 2000an pas 13 taun lah. aku juga suka bangetlah nulis action berkat kegemaranku nonton film2 kungfu zaman moderen. kalo romance si ga begitu suka, tapi aku juga nulis romance tapi pasti ada adegan action/bertarungnya agar seru, aku gak suka nulis adegan slow2, mendayu2, kalem2, percintaan yang lebay, aku sukanya nulis yang banyak adegan bergeraknya, penuh ketegangan, seru, jadi kalo romance si pastilah cowoknya jago berkelahi. penuh adegan cepatlah, aku gak suka nulis dialog yang mubasir, gaya dialogku sih kayak komik2 action karna bahasanya beda n asik juga menantang, keren bagiku dialog di komik2 action itu. bye, ampe ketemu lagi... \(^0^)

Sinopsis Ashoka Samrat episode 19 by Jonathan Bay

hm ashoka semakin seru aja yah! sayangnya, kedua novel epik kolosalku mengalami kebuntuan, mau cari di internet dulu soal budaya dan kearifan lokal setting nusantara aja zaman kerajaan, hm susah ya? karna ceritaku perang2, ya harus cari tahu juga tentang strategi peperangan zaman itu, pokoke dibalut ama hasil ideologis ndiri deh! jadinya aku fokus aja dulu ama keempat hororku deh. gene, aku tuh malas banget deh baca kalo dah judul horor pake poconglah, kuntilanaklah dsb. bagiku dah mainstream bangetlah! di novel2 hororku ga pake sosok begituanlah, cus aku nemu terobosan seram yang baru. pst, masih rahasialah! aku nemu hole di horor2 mainstream itu, kenapa tiap hantu perempuan harus panjang rambutnya dan disebut kuntilanak semua? padahal kunti kan khusus tuk hantu yang matinya dalam keadaan hamil. terus apa mua hantu harus jadi pocong? kan yang non muslim gak pake kafan. begitu pemikiranku, jadi selain fiksi aku mikirin juga akar2nya, hingga terciptalah horor yang antimainstream di benakku itu... 
 
https://www.youtube.com/watch?v=cYDZX4p7mOw&index=19&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ
Sinopsis Ashoka Samrat episode 19 by Jonathan Bay. Chanakya dan Radhagupta menemui petugas yang mengurus izin masuk ke Patliputra. Chanakya pura-pura bertanya tentang daftar beberapa orang, petugas langsung tegang dan bingung. Dia membolak-balik buku yang ada di tanganya samabil sesekali menatap Chanakya. Chanakya memberi isyarat pada Radhagupta. Rahagupta maju untuk menunjukan sebuah buku dan surat izin masuk pada si petugas. Si petugas melihat gulungan kertas yang mempunyai cap kerajaan yang diberikan Radhaagupta terlihat panik. Dengan kalem Chanakya bertanya, mengapa petugas itu sampai memberikan dokumen sepenting itu pada orang yang tidak setia? Chanakya bertanya pada siapa petugas memberikan dokumen itu. Si petugas coba mengelak. Chanakya memberi isyarat, prajurit yang mengikutinya dengan pedang terhunus mendekati si petugas, yang seketika terlihat bertambah panik dan ketakutan.
Sushim dan kawan-kawannya pergi ke istal. Mereka menyelipkan sesuatu di barang-barang Ashok. Sushim berkata kalau sekarang dia akan membawa prajurit untuk menangkap Ashok dan Bindusara akan membatalkan niatnya untuk mengirim Ashok kesekolah kerajaan.
Rencana Rakhasa mulai di jalankan oleh Guru, Helena dan Justin. Setelah Helena menghasut Bindu tentang Chanakya yang akan menjadikan Ashok Samrat, kini guru Amakya menjalankan tugasnya untuk menfitnah Chanakya dengan meletakan surat palsu yang berisi persekongkolan Chanakya dan orang-orang Kalinga untuk membunuh Bindu. Dengan membodohi pendeta yang membersihkan kamar Chanakya, Guru berhasil menelipkan surat palsu itu didalam laci meja Chanakya. Sedangkan Justin berhasil pula meletakkan akar herbal diantara barang-barang Ashok.
Sushim melaporkan kehilangannya dan menyuruh prajurit memeriksa kamar Ashok. Prajurit menurut apa yang di perintahkan Sushim. Dia mengeledah setiap sudut kamar Ashok dan menemukan herbal yang di selipkan Justin. Sushim dan kawan-kawannya kaget. Prajurit memberitahu Sushim kalau akar itu seperti herbal yang terlibat dengan kasus yang kini sedang di selidiki Chanakya. Prajurit berkata kalau dia akan melaporkan penemuannya itu pada Bindusara. Justin yang mengintip semua itu dari balik jendela merasa sedikit cemas, karena segalanya tidak sesuai dengan rencana Rakhasa.
Bindu sedang bersama Helena, keduanya sedang melihat aktivitas para prajurit yang hilir mudik mengangkuti air untuk di bagikan pada penduduk. Melihat hiruk pikuk itu Helena tersenyum puas karena rencana Rakhasa berjalan lancar. Prajurit yang mengeledah kamar Ashok muncul sambil membawa akar herbal. Dia melapor kalau menemukan akar itu di kamar Ashok. Bindu tertegun kaget, "apa dalam kamar Ashok?" Helena terlihat heran, pikirnya, "bagaimana langkah ini muncul lebih dulu dalam rencana? pasti Justun melakukan kesalahan." Prajurit memberitahu Bindu kalau Sushim yang mengajaknya memeriksa barang-barang Ashok dan dia menemukan akar herbal itu. Helena kesal. Dalam hati dia mengumpat, "Sushim sungguh bodoh. Dia membuat rencana kami berubah."

Bindu berkata kalau Ashok tidak mungkin menjadi bagian dari konspirasi itu. Tapi Helena terus menghasutnya dengan mengatakan kalau itu semua adalah rencana Chanakya dan Ashok, "achari selalu membela Ashok dalam segala hal. Ini menunjukan kalau dia begitu ingin menjadikan Ashok sebagai samrat baru." Bindu menyangkal, "tidak seperti itu." Prajurit yang lain datang memberitahu kalau perdana menteri telah mengirim surat yang mengatakan kalau petunjuk yang di berikan Chanakya salah. Nikator tidak memiliki petunjuk apapun tentang serangan dan juga tidak punya rencana untuk menyerang Patliputra. Bindu terlihat binggung. Helena kembali menghasutnya dengan mengatakan kalau semua itu adalah rencana Chanakya, "pertama dia menciptakan masalah dengan air, lalu membuat anda berperang dengan Yunani, setelah itu dia akan merebut tahta dari anda..." Helena menyarankan agar mereka mengeledah kamar Chanakya untuk mencari tahu rencana apa lagi yang dia punya. Bindu dengan penuh keyakinan berkata kalau dirinya percaya pada Chanakya, "tapi untukmu ma, aku akan mengirim prajurit untuk mengeledah kamarnya."
Di aula kerajaan, pengadilan sedang berlangsung. Ashok di hadapkan dengan tubuh di rantai di depan semua orang. Dharma terlihat cemas dan panik. Seorang prajurit datang dan dengan gugup menberitahu kalau dia menemukan surat di kamar Chanakya. Dalam surat itu di tulis kalau samrat akan di bunuh lalu kekuatan kalinga akan menyerang Patliputra untuk menguasainya. Dan Chanakya yang telah menyusun rencana ini dengan bekerja sama dengan pasukan Kalinga. Prajurit menyerahkan surat itu pada Bindu, Bindu membacanya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Selesai membaca dia menanyai Ashok, "apa kau tahu tentang konspirasi ini?" Ashok menjawab, "saya tidak tahu apa-apa. Apa yang sedang terjadi disini? Saya juga tidak tahu bagaimana akar herbal itu ada bersama barang-barangku." Helena meminta Bindusara memanggil Chanakya, karena dia yang membawa Ashok ke istana, "kita menemukan akar herbal di kamar Ashok dan surat konspirasi di kamar achari Chanakya. Panggil dia..." Belum selesai Helena bicara, Chanakya sudah muncul. Semua orang menatap kehadiran Chanakya dan dengan rasa penasaran memberi hormat.
Bindu memberitahu Chanakya kalau prajurit menemukan surat di kamarnya. Chanakya mengangguk cepat dan menyela, "ya Samrat. Aku tahu dalam surat itu tertulis kalau aku dan Ashok di bantu oleh orang Kalinga akan menjadikan Ashok sebagai samrat baru..." Semua orang tertegun dan semakin penasaran. Chanakya berkata kalau bukti di temukan dengan begitu mudah, pasti ada konspirasi yang jauh lebih besar daripada bukti yang di temukan. Helena berkata dengan nada mengejek pada Chanakya bahka ketika bukti yang menentang Chanakya di temukan, dia mengatakan kalau ini konspirasi. Padahal bukti itu di peroleh berkat kerja keras prajuritnya. Chanakya tidak membantah kata-kata Helena, tapi malah menyetujuinya. Chanakya mengatakan kalau Helena benar, tapi orang yang membuat konspirasi itu melakukan kesalahan besar. Chanakya tahu kalau rencana mereka membuat kekacauan di Magadha dengan memanipulasi air adalah untuk mengalihkan perhatiannya. Konspirator itu yakin kalau dirinya pasti akan menyelidiki masalah air itu, karena itu mereka memberikan petunjuk melalui surat yang mengatakan kalau Yunani akan menyerang Patliputra. Para konspirator itu berpikir rencana mereka akan berjalan dengan lancar, itu kesalahan mereka. Chanakya mengatakan kalau hatinya terluka karena Bindu mengirim tentara untuk mengeledah kamarnya, "tapi saya tahu, itu penting untuk menemukan kebenaran. Aku senang anda mau mendengarkan dan mempercayaiku.."
Kilas balik terlihat bagaimana Chanakya memberitahu Bindu kalau sebuah konspirasi sedang berlangsung. Dia meminta Bindu mengirim pasukan ke perbatasan dan sedikit pasukan untuk mengecek apakah Yunani punya niat menyerang Magadha.
Di pengadilan Chanakya berkata bahwa terbukti Yunani tidak berniat menyerang Magadha. Bindu bertanya, "lalu konspirasi ini tentang apa?" Chanakya berkata dia tidak tahu, dan akan segera mencari tahu mengapa semua ini terjadi dan untuk apa. Chanakya juga berkata kalau dalam prosesnya, pelaku konspirasi selalu membuat kesalahan yang akan memudahkan dirinya melakukan penyelidikan. Kesalahan itu memberinya celah untuk mengetahui rencana apa yang sedang di jalankan konspirator.
Kilas balik memperlihatkan bagaimana Chanakya mengertak petugas yang memberikan stempel surat izin untuk masuk ke Patliputra. Karena takutnya petugas itu menyebutkan sebuah nama.
Bindu meminta Chanakya mengatakan nama orang yang menyuruh petugas itu memberikan surat izin, dia akan menghukum orang itu seberat-beratnya. Chanakya mengatakan kalau orang yang terlibat adalah Guru Amakya. Justin dan Helena terlihat tegang. Bindu terkejut, "kenapa dia melakukan itu?" Chanakya berkata hanya Amakya yang bisa menjawab itu dan hanya dia pula yang bisa menjawab mengapa dirinya dan Ashok di jebak. Helena dan Justin bertatapan. Helena memberi siyarat, Justin mengangguk. Justin llau menatap seorang prajurit dan memberinya isyarat dengan gerakan mata dan dagu. Si prajurit mengangguk dan segera menyelinap peri meningalkan aula. Bindu memerintahkan seorang prajurit memanggil Amakya. Bindu berkata kalau semua ini jelas-jelas sebuah konspirasi dadn Ashok tidak terlibat di dalamnya karena itu dia menyuruh prajurit membebaskaan Ashok. Ashok tertawa senang. Dharma tersenyum lega. Begitu pula Chanakya.
Di kamarnya, sambil membakar surat, Amakyaokar berkata, "achari Chanakya, kau adalah pemimpin politik yang hebat tapi sekarang aku akan mengambil tempatmu." amakyaokar tertawa senang dan membuang kertas yang terbakar di tangannya. Seorang prajurit bersenjata mengendap-endap di belakangnya. Amakyaokar merasakan kehadiran prajurit itu. Dengan cepat dia berbalik, tapi begitu dia berhadapan dengan si prajurit, secepat kilat pula si prajurit suruhan Justin itu menikamkan pisau tepat ke jantungnya. Guru Amakyaokar tak sempat menjerit, tubuhnya seketika jatuh ketanah dalam keadaan tak bernyawa. Begitu korbannya mati, si prajurit suruhan Justin segera kabur dari tempat itu. Tak lama kemudian prajurit suruhan Bindu datang dan terkejut melihat guru Amakyaokar sudah tak bernyawa.
Prajurit bergegas memberitahu Bindu kalau Amakyaokar tewas di bunuh. Semua orang terkejut dan prihatin. Justin dan Helena saling bertukar pandang dan tersenyum. Chanakya dengan prihatin berkata, "kita menyebut namanya dan dia tewas di bunuh. Ini membuktikan siapapun pelakunya, dia berjalan dua langkah di depan kita. Tapi dia juga harus tahu, kalau tidak sulit bagi kita untuk melompat dua langkah. Segera aku akan mencapai mereka dan mengetahui apa rencana mereka berikutnya, samrat."
Dengan marah, Helena bergegas ke kamarnya. Justin mengejarnya sambil memangil namanya. Tapi Helena tak perduli. Sampai di kamar, dia segera meluahkan amarahnya dengan membanting perabotan. Justin hanya bisa melihat dengan rasa bersalah. Helena bertanya kemana perginya penyerang itu? Kenapa dia tidak menyerang Bindu? Justin mengingatkan Helena agar bicara perlahan, karena Chanakya memiliki telinga yang besar dan bisa menguping pembicaraan mereka. Helena sangat penasaran dan heran, "kemana perginya penyerang itu? Kenapa dia tidak datang?"
Penyerang yang di tunggu-tunggu Helena sedang di siksa oleh prajurit Chanakya di penjara khusus di saksikan oleh Chanakya dan Radhagupta. Prajurit menyuruh si penyerang mengatakan siapa yang mengirim dirinya. Tapi penyerang itu tetap bungkam, walaupun sudah di siksa begitu rupa. Radhagupta bertanya bagaimana Chanakya bisa tahu kalau Bindu akan di serang? Chanakya berkata kalau tidak ada yang lebih penting bagi sebuah negeri selain samrat. Dan Chanakya punya perasaan kalau konspirasi itu adalah untuk membunuh samrat Bindusara sedangkan masalah air minum adalah sebagai pengalih perhatian saja. Karena itu dia meminta prajuritnya agar selalu waspada.
Kilas balik memperlihatkan bagaimana si penyerang mengendap-endap di dean kamar bindu dengan belati terhunus siap untuk menrobohkan penjaga. Tapi ptajurit Chanakya terlebih dulu menyergapnya dan membawanya pergi tanpa menimbulkan keributan.

Radhagupta bertanya kalau penyerang itu sudah tertangkap kenapa tidak menghadirkannya di pengadilan? Chanakya yakin kalau itu dia lakukan, Bindu pasti akan menyuruh prajurit memasukan penyerang itu ke penjara. Dan kemudian seperti Amakyaokar, penyerang itu pasti akan tewas terbunuh. Chanakya mengatakan kalau dirinya ingin mencapai ke dalam pokok masalah, "Ratu Helena terlibat dalam masalah ini dan sepertinya dia mendapat bantuan dari luar karena akar herbal yang digunakan untuk meracuni air danau bukan berasal dari Patliputra. Aku ingin tahu dari penyerang itu, apa alasan dia datang ke sini dan menyerang samrat Bindusara." Setelah berkata begitu, Chanakya meninggalkan penjara.
Di kandang kuda, Ashok sedang duduk di kelilingi oleh teman-temannya dan beberapa orang prajurit. Pada mereka semua Ashok berkata, "masalah kita adalah kita hanya duduk menunggu dan tidak memikirkan kewajiban kita." Prajurit bertanya apa yang bisa mereka lakukan dalam masalah konspirasi itu? Ashok menjawab kalau mereka bisa membantu membagikan makanan, obat-obatan dan menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing, "dengan cara itu kita membantu negeri kita. Jika kita menjaga sesama kita, maka Samrat dapat kosentrasi pada perang yang terjadi di perbatasan. Jika kita bersatu, maka musuh tidak akan bisa memanipulasi air minum kita. Jika kita terpecah belah, maka musuh akan mengambil keuntungan dari kita."
Sedang Ashok bicara seperti itu, Bindu dan Chanakya datang. Anak-anak segera berdiri memberi hormat, termasuk Ashoka. Chanakya tersenyum melihat Ashoka. Samrat dengan kagum menghampiri Ashok dan berkata, "pemikiranmu sangat bagus, tapi kau juga harus tahu bagaimana menyalurkan pemikiran-pemikiran yang bagus ini. Katakan padaku, Samrat Vanraj, bagaimana rakyat bisa membantu samrat?" Ashok dengan bersemangat menjawab, "ketika rakyat merasa dirinya penting bagi rajanya dan ketika rakyat merasa raja memperhatikan mereka, maka rakyat akan membantu raja. Di negeri di mana rakyat sangat mempercayai rajanya, maka tidak akan ada masalah yang timbul."
Dengan rasa kagum, Bindu memuji, "pemikiranmu sangat hebat, kau bukan anak biasa. Jadi aku telah mengambil keputusan untuk mendaftarkanmu ke sekolah kerajaan." Ashok terkejut, "kesekolah kerajaan?" Bindu mengangguk, "mengapa tidak? Kau anak yang hebat. aku ingin memoles keterampilanmu. Aku ingin kau menjadi orang hebat dan melayani negara..." Bindusara mengatakan kalau dirinya sudah memafkan kesalahannya dan menghapus denda yang harus di bayar Ashok sehingga dia bisa kosentrasi pada pelajarannya. Ashoka tersenyum senang dan mengucapkan terimakasih dengan melipat tangan di depan dada. Bindu tersenyum dan memberkatinya, setelah itu dia pergi dari kandang kuda. Chanakya tersenyum penuh arti.
Melihat anugerah samrat pada Ashok, teman-teman Ashok segera membopong Ashok sambil mengelu-elukan dia  seperti biasa,"hidup samrat vanraj!"  ... Sinopsis Ashoka Samrat episode 20 by Jonathan Bay

Sabtu, 01 Agustus 2015

Sinopsis Ashoka Samrat episode 18 by Sally Diandra.

duh kemaren tuh terjadi huru-hara kebakaran sono. muanya sibuk cari anak masing2 yang ilang, termasuk helena lebi milih nyari justin yang ngilang. sedangkan kakeknya pergi getu aja gak peduli ama putrinya, raja ji juga cemas sebenarnya mo cari putrinya tapi gak jadi. memang tuh naluri seorang ibu cari anaknya lebi kuat! kan aku lage mens, padahal aku orangnya sensitif, palagi kalo mens getu wah super sensitif getu, karna sensitif parah aku malah nangis padahal bukan adegan sedih kan liat ibu cari anaknya. eh, kabar novel2ku? kan dah tanggal 1 nih artinya aku ganti jadwal lagi hanya aja perubahannya getu deh bulan ne kelarin 4 novel hororku, dah selesai si meski baru episod awal2nya. jadi nambah 1 aja. aku yakin ide n jump scare ku tuh antimainstream. moga aja cepet kelar deh lalu kirim ke mayor moga bisa edar di gramed, amin! jadi sukses, penulis terkenal, banyak fans, best seller, kaya raya, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, difilmkan, jadi penulis sangat produktif, dapat muri, dapat nobel, terbitin ratusan novel/kumcer dsb. amin!
 
https://www.youtube.com/watch?v=8nr2lLV7izM&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ&index=18
Sinopsis Ashoka Samrat episode 18 by Sally Diandra. Dharma sedang mengobati luka luka di tubuh Ashoka, melihat anaknya termenung, Dharma bertanya “Ashoka, apa yang sedang kamu pikirkan ?”, “Aku sedang memikirkan tentang Acharaya Chanakya, disatu sisi dia sering menjauhkan aku dari ibu dan sekarang di lain sisi, dia selalu menyelamatkan aku dari semua permasalahan yang aku hadapi, aku tidak bisa menghadapinya” Dharma teringat ketika Acharaya berkata “Kedamaian bukan berarti kalau Ashoka harus selalu diam” Ashoka yang kali ini melihat ibunya sedang merenung berbalik bertanya “Ibu, apa yang ibu pikirkan ?” tepat pada saat itu Bindusara menghampiri mereka, Dharma langsung menutupi wajahnya “Aku dengar kalau temanku saat ini sedang berada di balai pengobatan, itu mengapa aku datang menemui kamu” ujar Bindusara, Ashoka senang melihat kedatangan Bindusara kemudian mendekat ke arahnya dan memberi salam, sementara Dharma terkejut “Siapa temanmu, Samrat ?”, “Ini dia Samrat dari Vanraj ! Dia telah menjadi temanku sejak kemarin” Dharma tersenyum senang mendengarnya “Bagaimana kondisi kesehatannya ?”, “Samrat, tabibmu ini benar benar menakjubkan, dia telah mengobati aku dengan baik” ujar Ashoka sambil menunjuk ke arah Dharma “Ashoka adalah anak yang hebat, dia itu pemberani, dia juga selalu tersenyum meskipun sedang menderita, anak seperti dia pasti membuat orang tuanya bangga” Dharma ikut angkat bicara “Ashoka, kamu telah jauh dari ibu kamu dan Dewi (Dharma) juga telah jauh dari anaknya, mengapa kalian berdua tidak tinggal di istana saja bersama sama ? Aku telah membicarakan mengenai hal ini dengan Acharaya tentang tempat untuk Ashoka didalam istana kerajaan, kalian berdua akan bisa menghabiskan waktu bersama sama juga tapi jika kalian berdua tidak menginginkan maka aku tidak akan memaksa kalian berdua” ujar Bindusara “Tidak tidak Samrat, permintaanmu adalah perintahku, ini adalah sebuah ide yang sangat bagus” Ashoka menimpali “Aku harus memikirkan tentang temanku” ujar Bindusara sambil mengulurkan tangannya ke arah Ashoka, Ashoka pun menyambut uluran tangan Bindusara sambil melirik ke arah Dharma, anak ayah yang saling tidak mengenal itu tampak semakin kompak, Dharma sangat senang melihatnya namun sesaat Dharman memikirkan sesuatu dan berkata dalam hati “Bagaimana jika ada seseorang yang tahu bahwa Ashoka itu sebenarnya adalah anak kandungku sendiri ?”

Sushima sedang berada di kebun istana, dia meletakkan sebuah jeruk di atas kepala seorang anak dan sedang bersiap siap hendak memanahnya dengan anak panahnya akan tetapi temannya yang bernama Inderjeet berkata “Semua orang bisa memanahnya dengan mata terbuka, apakah kamu bisa memanah apel itu dengan mata tertutup ?” Sushima tersenyum sinis “Indrajeet, aku terima tantanganmu !” Sushima segera menutup matanya dan mulai bersiap memanah jeruk tersebut, tiba tiba salah seorang temannya datang dan menginformasikan ke Sushima “Pangeran Sushima, Samrat Bindusara sangat terkesan dengan Ashoka, dia telah memberikan sebuah kamar untuknya di istana dan dia diminta tinggal bersama seorang perempuan yang jadi tabibnya Samrat, dia juga telah memutuskan untuk mengirimkan Ashoka ke sekolah kerajaan” Sushima marah “Ini tidak mungkin ! Ini tidak benar ! Apa sih yang Ashoka punyai sehingga ayahku memberikan perhatian yang berlebihan padanya dan menganggapnya lebih penting dari pada aku ? Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi !”
Guru bertemu dengan seorang prajurit diruangannya dan prajurit itu memberikan sejumlah berkas berkas gulungan kepada Guru, Guru menyeringai sinis ketika menerimanya.
Sushima menemui Bindusara dikamarnya, saat itu Bindusara sedang asyik menulis “Ayah, aku dengar kalau ayah meminta Ashoka untuk tinggal di istana kerajaan dan juga memasukan dia ke sekolah kerajaan, di sekolah kerajaan hanya ada anak dari keluarga kerajaan saja yang boleh masuk !” ujar Sushima marah “Itu adalah pekerjaan untuk membuat seorang ksatria yang tangguh untuk kerajaan Magadha, oleh karena itu dia bisa melindungi Magadha di masa mendatang dan ketika aku melihat Ashoka, aku pikir aku tidak ingin kehilangan dia, dia bisa sangat berguna untuk kerajaan Magadha” ujar Bindusara masih dari tempat duduknya “Ayah, aku meminta padamu, agar ayah tidak memasukan Ashoka ke sekolah kerajaan karena dengan adanya dirinya maka lingkungan di sekolah tidak akan menyenangkan lagi” Sushima masih bersikeras mempengaruhi ayahnya “Cobalah untuk mengerti tentang orang lain, Sushima ... Ashoka adalah anak yang sangat baik, dia itu suka berbicara terus terang dan apa adanya, dia juga pemberani, dia rendah hati dan semua orang memang mempunyai kekurangannya masing masing akan tetapi semua orang tidak bisa menghadapi kekurangan mereka sedangkan Ashoka itu mampu mengatasinya” ujar Bindusara sambil menghampiri Sushima “Ayah, telah melukai perasaanku dengan mendukung musuhku !” ujar Sushima geram “Dia itu temanmu bukan musuhmu dan dia akan masuk ke sekolah” ujar Bindusara “Apakah ini sudah keputusan terakhir ayah ?”, “Ini adalah perintah seorang Maharaja” Sushima sangat kecewa dengan keputusan ayahnya tanpa berkata apa apa, Sushima langsung meninggalkan ayahnya dan begitu sampai di pintu kamar, Sushima berpapasan dengan Helena yang akan menemui Bindusara, sesaat Sushima memandang Helena dengan ketus sambil menahan amarahnya kemudian memberikan salam pada nenek tirinya itu dan berlalu dari sana, Helena merasa ada yang tidak beres yang baru saja terjadi.
“Samrat, kenapa kamu melukai perasaan anakmu demi anak seperti Ashoka ?” Helena mencoba membela cucu tirinya itu “Ibu, Sushima harus bisa mengerti, aku telah melihat banyak sekali kebaikan pada diri Ashoka dan aku ingin mengasahnya” ujar Bindusara “Diantara begitu banyaknya kebaikan yang ada pada diri Ashoka, pasti ada setitik keburukan yang bisa melukaimu, bagaimana jika Ashoka menipu kamu ?”, “Acharaya sangat menyukai Ashoka, itu artinya bahwa Ashoka pasti memiliki sesuatu yang istimewa, ibu ingat kan kalau ayahku Chandragupta Maurya dulu juga seorang anak biasa akan tetapi Acharaya melihat ada sebuah kwalitas yang baik pada dirinya dan membuatnya menjadi Maharaja !” Helena tidak suka dengan ucapan Bindusara “Jangan bandingkan ayahmu dengan anak anak kecil lainnya, dengan cara ini maka Ashoka bisa bermimpi untuk menjadi seorang Samrat !” Bindusara merasa heran dengan ibu tirinya ini “Ibu tidak ingin Acharaya melakukan hal yang sama padamu seperti yang dia lakukan pada Dhana Nand !”, “Jangan khawatir, ibu ... aku percaya pada Ashoka, dia itu anak yang hebat” ujar Bindusara bangga, Helena semakin tidak suka dengan Ashoka, dalam hatinya berkata “Kamu tidak mempunyai pemikiran apapun atas apa yang akan terjadi pada masa mendatang” bathin Helena dalam hati
Tampak beberapa orang orang suruhan Rakshasa memasuki Patliputra dengan berkas gulungan bertanda yang bisa dimengerti oleh prajurit yang berjaga di gerbang istana ketika mereka mencegat orang orang tersebut. Orang orang tadi menemui Guru, kemudian Guru menunjukkan pada mereka sebuah danau, tak lama kemudian mereka memasukan akar akaran yang beracun ke dalam danau pada malam hari. Keesokan harinya ketika warga penduduk mulai minum air dari danau itu, mereka mulai mengerang kesakitan dan tumbang satu persatu.
Di kandang kuda, Ashoka baru saja bangun tidur, Ashoka langsung berbicara dengan Gul Bhushan “Gul Bhushan, kamu tahu kalau aku akan segera tinggal di istana kerajaan ini mulai dari sekarang bersama ibuku, Samrat telah berbuat banyak kebaikan untukku” setelah ngobrol dengan Gul Bhushan, Ashoka mendekati tempat air dan ketika hendak minum air itu tiba tiba Bal Govin melarangnya dan berkata “Ashoka, jangan diminum air itu ! Airnya sepertinya bermasalah, lihat semua orang yang sudah meminumnya, mengerang kesakitan”, “Kita harus menolong mereka !” Ashoka mendatangi orang orang yang sudah meminum air danau dan melihat mereka semua mengerang kesakitan.
Acharaya yang saat itu sedang berada di pasar, juga melihat banyak warga penduduk jatuh sakit, Acharaya memerintahkan prajuritnya untuk menolong semua orang dan memberikannya contoh air danau itu.
Di dalam istana ketika Bindusara sedang berjalan jalan dengan Helena, Bindusara mendapat informasi dari salah seorang prajuritnya “Samrat, air di danau kita rupanya bermasalah, semua warga penduduk langsung jatuh sakit begitu meminum air itu” Bindusara terkejut dan meninggalkan Helena untuk mencari tahu tentang persoalan itu, sementara itu Helena menyeringai senang dan tatapan liciknya.
Acharaya masih berada di pasar dan berkata pada dirinya sendiri “Ini bukan masalah yang mudah seperti kelihatannya”
Didalam istana, para ratu sedang berkumpul bersama anak anak mereka masing masing, Noor berkata pada Siamak “Aku telah membawa segelas air buat kamu, jangan minum air yang biasanya, karena air itu bermasalah, kamu minum yang ini saja” sementara itu Drupata bertanya pada ibunya sendiri “Ibu, apakah semua air ini hanya untuk kak Siamak ?”, “Tidak sayang, kamu juga bisa meminumnya” sementara itu di kamar Charumitra, Charumitra sedang berkumpul dengan Sushima dan dua teman Sushima yang lain, Charumitra menyuruh seorang anak pelayannya meminum air tersebut untuk mengujinya apakah air itu bermasalah atau tidak sebelum Sushima meminumnya, ternyata tidak terjadi sesuatu pada anak itu “Sushima, ini waktunya buat kamu untuk membuktikan dirimu, pergilah ke mereka, para rakyat jelata, bantulah mereka dan tunjukkan kalau kamu adalah pangeran yang hebat !”, “Aku tidak akan pergi menemui rakyat jelata itu, ibu ! Bagaimana jika aku tertular penyakit juga ?” Sushima merasa jijik bila harus bertemu dengan rakyatnya “Jika kamu ingin menjadi seorang Samrat maka kamu harus melakukan ini semua, nak ! Dengan cara ini maka ayahmu akan terkesan padamu juga, hanya dengan menunjukkan wajahmu ke rakyat itu dan kembali, itu saja !”
Sementara itu dihalaman istana, Bindusara sedang berkumpul bersama para anak buahnya, Bindusara bertanya pada panglimanya Khurasan “Bagaimana bisa sebuah permasalahan terjadi dalam satu hari ? Umumkan pada khalayak ramai bahwa kita selalu bersama mereka, kita akan melakukan segala cara untuk menolong mereka” tak lama kemudian Ashoka menemui Bindusara bersama anak anak yang lain “Samrat, anda harus melakukan sesuatu, lihat anda baik baik saja itu artinya orang orang di dalam istana juga baik semua” tepat pada saat itu Acharaya menemui mereka bersama Radhagupta dan berkata “Jika semua air bermasalah maka orang orang di istana akan menderita sakit juga, jadi ini berarti air yang dimanipulasi hanya yang dipinggiran saja, aku akan segera mencari tahu tentang hal ini” dari atas balkon istana, Helena memperhatikan mereka sambil tersenyum sinis “Semuanya berjalan sesuai dengan rencana” sementara itu Ashoka meminta ijin pada Bindusara untuk menggunakan air kerajaan “Samrat, kami minta ijin untuk menggunakan air dari istana untuk membantu para penduduk”, “Ya, aku ijinkan !” ujar Bindusara, kemudian Ashoka dan teman temannya meninggalkan Bindusara.
Acharaya bersama Radhagupta sedang mengadakan penyelidikan di dekat danau, sementara salah seorang pelayannya sedang menyelam di danau tersebut mencari cari sesuatu, Acharaya menemukan akar akaran yang beracun dan membauinya, baunya sangat menyengat, sedangkan pelayannya juga menemukan akar akaran tersebut di dalam danau “Siapa yang bisa melakukan ini ?” Radhagupta merasa penasaran “Kita akan segera mengetahuinya !” ujar Acharaya tepat pada saat itu para prajurit menemui Acharaya di tepi danau dan menginformasikan bahwa mereka menemukan mayat “Air ini bisa membunuh siapa saja, Radhagupta periksa mayat itu !” Radhagupta segera memeriksa mayat yang ada di depannya, Radhagupta menemukan sebuah surat pada mayat tersebut dan menunjukkannya ke Acharaya, itu adalah surat yang sama yang di tulis yang mengatakan bahwa Yunani akan menyerang Patliputra.
Di balai pengobatan, Ashoka membantu para warga penduduk yang menderita kesakitan, ketika ada seorang anak perempuan tidak mau meminum obatnya, Ashoka segera menghampiri “Bagaimana kalau kita memainkan sebuah permainan, yaitu aku akan menghitung dari 1 sampai 10 dan jika kamu meminum obat itu maka kamu akan menang ?” anak perempuan itu setuju, Ashoka mulai menghitung mulai dari angka 1 sambil menutup matanya “Sekarang aku akan menghitung ya 1 ... 2 ... 3 ... 4 ... 5 ...” belum juga Ashoka selesai menghitung anak perempuan itu sudah meminum obatnya sampai habis, dari kejauhan Dharma yang melihat ulah anak semata wayangnya ini merasa kagum dan senang sambil tersenyum bangga “Waaah kamu menang dan aku kalah, kamu bahkan meminumnya sampai habis, hebat !” anak perempuan itu hanya tersenyum, kemudian Ashoka menyuruh anak perempuan itu istirahat di tempat tidur dan segera meninggalkannya untuk membantu yang lain, dari kejauhan Ashoka melihat ibunya, Ashoka segera menghampiri ibunya “Ibu, kita berdua akan segera tinggal bersama”, “Tapi ini tidak baik, Ashoka ... bagaimana jika ada orang yang tahu bahwa kamu itu anak kandungku ?” ujar Dharma dengan rasa cemas dan melihat ke kanan kiri takut ada orang yang mendengar pembicaraan mereka “Mengapa ibu sangat khawatir sekali ? Jika ada seseorang yang mengetahui bahwa aku adalah anak kandungmu ?” ujar Ashoka santai tanpa ada beban sama sekali “Samrat telah memberikan perintah ini maka Acharaya tidak akan bisa melakukan apa apa lagi, ibu ... Sudahlah jangan khawatir semuanya akan baik baik saja” ujar Ashoka sambil memegang bahu ibunya, Dharma hanya bisa tersenyum, kemudian Ashoka berlalu meninggalkannya, sambil melihat kepergian Ashoka, Dharma berkata “Bagaimana caranya mengatakan hal ini pada Ashoka tentang apa yang sangat aku khawatirkan”
Acharaya menemui Bindusara di kamarnya bersama Perdana Menteri “Samrat, yang tertulis di dalam surat ini bahwa Yunani yang telah melakukan semua ini, jadi sementara perhatian kita teralihkan pada permasalahan ini, maka mereka akan menyerang Patliputra, mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk menyerang kita” Bindusara kaget “Perdana Menteri, coba cari tahu tentang permasalahan ini”, “Aku akan mencari tahu bagaimana caranya orang orang ini memasuki Patliputra dan meracuni air di danau kita dengan akar akaran beracun” ujar Acharaya geram “Aku tidak bisa mempercayai orang lain selain kamu untuk permasalahan ini, Acharaya ... cobalah cari tahu tentang hal tersebut” dari balik pintu rupanya Helena menguping pembicaraan mereka dan menyeringai sinis.
Di pasar Ashoka mencoba membagi bagi air bersih yang diambilnya dari istana kerajaan untuk para warga penduduk, sambil berdiri di atas gerobak yang membawa bejana besar berisi air bersih, Ashoka mulai membagi bagi air tersebut satu per satu “Jangan khawatir, Samrat telah menolong kita dan segera air di danau itu akan bersih kembali” tepat pada saat itu Sushima dan dua temannya juga datang ke pasar dengan ekspresi wajah yang aneh dan merasa jijik ketika melihat para warga penduduk yang mengerang kesakitan, tak lama kemudian dia juga melihat Ashoka sedang membagi bagikan air bersih, Sushima juga mendengar obrolan beberapa orang yang memuji sikap Ashoka yang terpuji dengan menolong para warga penduduk “Ashoka itu memang anak yang hebat dan dia pasti akan mendapat imbalan atas perbuatannya ini, aku harap dia bisa sukses dalam kehidupannya” Sushima yang mendengarnya merasa kesal.
Sushima segera menghampiri Ashoka dan berkata pada temannya “Kamu tahu aku akan menceritakan sebuah cerita, ada seekor keledai yang biasanya tinggal di kandang kuda istana, dia mulai berfikir kalau dia itu seekor kuda, kemudian Samrat memberikan kesejahteraan padanya dengan memberinya sebuah tempat tinggal di dalam istana, tapi sekali keledai tetap saja keledai” ujar Sushima sambil melirik ke arah Ashoka berupaya mengejek Ashoka namun Ashoka tetap santai tidak bergeming sambil sesekali tersenyum pada warga penduduk yang minta air, tak lama kemudian Ashoka mengisi tempayannya dengan air bersih yang cukup banyak lalu melompat dan menghampiri Sushima, Ashoka memberikan tempayan berisi air itu ke Sushima dan mengumumkan pada semua orang yang berada disana
“Pengumuman ! Pengumuman ! Kata pangeran Sushima dia akan memberikan air bersih ini untuk semua warga penduduk dan kalian boleh memegang tubuhnya, ayoo ... mari mari sini mintalah air pada pangeran Sushima” ujar Ashoka lantang, semua orang berduyun duyun menghampiri Sushima untuk meminta air darinya dan bisa memegang tubuhnya, satu hal yang sangat jarang sekali bisa dilakukan oleh rakyat jelata bisa memegang tubuh pangerannya, sementara itu Sushima tidak bisa berbuat apa apa, Sushima kesal dan marah pada Ashoka sambil menuangkan air itu untuk warga penduduk dan merasa jijik ketika tangan tangan mereka menyentuh bahu dan lengannya, semantara Ashoka tersenyum senang bisa mengerjai Sushima dan mulai menggoda Sushima “Pangeran, kamu tahu kenapa seekor keledai bisa tinggal di istana seperti seekor kuda ? Aku akan mengatakannya padamu ketika seekor kuda bisa bertingkah seperti seekor keledai maka seekor keledai pun bisa bermimpi menjadi seekor kuda, itu adalah cerita keseluruhannya, lain kali ceritakan keseluruhan cerita meskipun itu tidak akan menyenangkan” bisik Ashoka sambil menyeringai senang dan berlalu dari sana meninggalkan mereka semua, Sushima hanya bisa menahan amarahnya begitu di hina oleh Ashoka.
Bindusara nampak merenungkan sesuatu ketika Helena menemuinya di kamarnya “Ada apa ? Kenapa kamu kelihatan gelisah ?” Bindusara merasa bingung di depan ibu tirinya ini, kemudian Helena menyuruh semua pelayan pergi meninggalkan mereka berdua, Bindusara berkata pada Helena “Ibu, menurut Acharaya rupanya Yunani akan menyerang kita” Helena kaget “Ayahku ? Nicator ( pimpinan pasukan Yunani ) akan menyerang kamu ?”, “Acharaya telah mendapatkan beberapa bukti” ujar Bindusara bingung “Dia itu ingin membuktikan hal ini, katakan padaku bagaimana bisa seorang ayah akan menyerang rumah anak perempuannya sendiri ? Aliansi antara Yunani dan Magadha dapat terlihat dari pernikahanku dengan ayahmu, ayahku selalu memikirkan yang terbaik untuk Magadha”, “Tapi mengapa Acharaya bisa mengatakan sebuah kebohongan ?” Bindusara benar benar tidak percaya “Dia ingin memenuhi telingamu untuk melawan aku, kamu meragukan aku itu artinya kamu tidak menganggap aku sebagai ibumu, bagaimana bisa kamu meragukan ibu Yashodamu ?” ujar Helena sedih, Bindusara meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan berkata “Maafkan aku, ibu ... jika aku telah melukai perasaanmu”, “Acharaya itu mempunyai beberapa rencana, salah satu caranya adalah dengan membawa Ashoka ke sini, aku merasa dia akan melakukan hal yang sama padamu seperti yang dilakukannya pada Dhana Nand yaitu dia ingin membuat Ashoka menjadi Samrat berikutnya” Bindusara semakin bingung “Ashoka itu hanya seorang anak kecil”, “Dhana Nand juga telah membuat kesalahan dengan menganggap kalau Chandragupta adalah seorang anak kecil, kamu tidak seharusnya mempercayai Ashoka maupun Acharaya begitu saja, sebagai seorang Samrat kamu seharusnya meragukan siapa saja” Helena mulai meracuni pikiran Bindusara “Aku tidak mempercayai semua orang 100% akan tetapi dalam mengambil keputusan aku selalu melihat kebenaran dan bukti bukti” ujar Bindusara sambil berlalu meninggalkan Helena, melihat kepergian Bindusara, Helena tersenyum licik dan sinis dan berkata dalam hati “Sekarang kita akan menjadikan Acharaya dan Ashoka menjadi satu dalam satu bingkai, seseorang yang ingin melayani kerajaan Magadha akan disebut sebagai pengkhianat Magadha”  Sinopsis Ashoka Samrat episode 19 by Sally Diandra.