THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 26 Juli 2015

Sinopsis Ashoka Samrat episode 12

aku baru pulang neh ada acara halal bi halalnya lante travel umroh jadinya baru bisa berguru ama ashoka sore2. tahu nih napa tiap main lagunya tumhe2 tuh yang slow, eh malah silent/mute adegannya. padahal lagunya bagus tuh. aku ga hanya belajar soal gaya ending per episod aja tapi juga mempelajari plot twist, kan banyak tuh plot ashoka yang suka nipu2 kan? misalnya waktu episod banyak2 tuh, subahu kan di pertandingan tuh dy kena sial pertama kalinya eh tahu2nya endingnya malah juara 3 dan dikira menyerah saat final. kena tipu deh penontonnya. aku mo belajar nipu2 pembaca melalui plot twist, terutama dalam plot novel hororku tuh aku usahakan banyak plot twistnya, ga mudah ketebak. pembaca bisa nebak ini tapi endingnya ternyata itu. doain ya moga novelku yang mengandung banyak plot twist dan jebakan ini menghibur dan bisa diterima penerbit mayor. amin! btw, didoain dulu moga cepet kelar baru deh dikirim ke mayor publishing, moga bisa edar di gramed. amin! yuk, klik dulu episod ini neh sambil makan2...
 
https://www.youtube.com/watch?v=f4GyOruu1Dg&index=12&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ

Sinopsis Ashoka Samrat episode 12.  Charumitra sedang menjalani ritual sihir ketika dia mendengar suara berisik di luar kamarnya. Dia memanggil pelayan dan bertanya ada apa. Pelayan memberitahu Charu kalau para prajurit sedang memperketat keamanan istana. Charumitra bertanya, "kenapa?" Pelayan berkata kalau iblis telah membawa Ashok, dan tidak ada yang tahu apakah Ashok selamat atau tidak. Charumitra berguman, "Ashok?"
Bindusara sedang duduk termenung di kamarnya ketika Dharma datang dan memberitahu Bindu kalau sudah saatnya mengambil obat. Bindu tanpa di suruh membaringkan tubuh di ranjang.  Dharma mengoleskan obat ke lukanya sambil bertanya,  "kenapa keamanan di perketat? Apakah ada masalah? Anda juga tampak tegang." Bindu memberitahu dharma kalau ada iblis berkeliaran di Patliputra. Binatang itu mengambil anak-anak dan membawanya pergi, "jika musuh dari luar tidak sulit menangkapnya, tapi musuh dari dalam, sangat sulit untuk mencari tahu." Bindu memberitahu Dharma kalau kemarin malam iblis itu membawa pergi Ashok. Dharma terkesima dan langsung panik, "Ashok?" Bindusara berkata kalau dirinya merasa tidak tenang karena Ashok, "entah mengapa aku merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpa Ashok." Dharma sangat sedih, tubuhnya bergetar karena panik, beberapa kali ia menyebut nama Ashoka. Dharma teringat bagaimana dia memasrahkan keselamatan Ashok pada Chanakya. Tanpa memikirkan yang lain-lain lagi, Dharma segera berpamitan pada Bindusara dan pergi meninggalkannya. Bindusara menatap kepergian Dharma dengan heran..
Di sebuah tempat yang misterius, Ashok terikat pada sebuah pilar. Berkali-kali Ashok mengeliatkan tubuh berusaha untuk melepaskan diri. Tapi ikatan itu sepertinya sangat kuat.  Iblis menghampiri Ashok dan berkata, "kau berjanji akan membuat aku tertangkap, karena itu aku menculikmu." Ashok tanpa gentar berkata, "ini adalah kebodohan anda." Iblis memberitahu Ashok kalau tidak ada seorangpun yang bisa pergi dari tempatnya setelah tertangkap. Ashok mengejek Iblis dengan mengatakan kalau dia tidak cukup kuat. Iblis berkata kalau Ashok bukan apa-apa dihadapan dirinya. Ashok tertawa mengejek dan menantang Iblis, "buka ikatanku, dan kita lihat siapa yang lebih kuat."  Mendengar tantangan Ashok, Iblis marah, dia mencabuk tubuh Ashok tanpa ampun. Ashok mengerang sambil mengatupkan gigi untuk menahan kesakitan.
Di istana, Dharma mencari Chanakya di kamarnya. Tapi kamar itu lenggang, tak ada tanda-tanda kehidupan. Dharma memanggil Chanaknya, karena tak ada jawaban, Dharma bergegas pergi.
Di tempat misterius, iblis masih terus mencambuki tubuh Ashoka. Disela-sela usahanya menahan rasa sakit, Ashoka masih bisa tertawa mengejek, "aku tidak kesakitan. Kekuatanmu cuma segitu?" Iblis terus mencambuki Ashok. Ashok kembali tertawa dan mengejek, "coba lihatlah tanganmu, kalau-kalau terluka." Iblis melihat tangannya dan dengan geram membuang cambuk di tangan. Melihat itu Ashok tertawa. Iblis melihat kayu runcing tak jauh darinya. Dia seperti mendapat ide.
Dharma berlari kesana kemari mencari Chanakya. Dharma juga bertanya pada siapa saja dia temui. Tentara yang di tanya mengatakan dia melihat Chanakya keluar. dharma segera berlari kearah yang ditunjuk tentara.
Iblis mengambil kayu runcing itu dan menusuk perut Ashoka. Ashoka nyengir kesakitan. Iblis berkata kalau Ashok bukan apa-apa di depannya. Ashok kembali tertawa dan mengejek, "kau lebih cocok menjadi penghibur daripada binatang buas. Aku merasa inggin tertawa merasakan siksaanmu ini."
Dharma masih berusaha menemukan Chanakya. Saat bertemu pendeta, dia bertanya padanya, begitu pula saat berpapasan dengan dayang-dayang. Tapi baik pendeta ataupun para dayang, tak seorangpun yang bisa memberitahu Dharma akan keberadaan Chanakya.
Di ejek Ashok begitu rupa lagi, iblis membuang tongkatnya dan membungkuk untuk mengambil cambuk yang tadi di lemparnya ke lantai. Kesempatan itu di gunakan Ashok untuk membuka ikatan tanganya. Ashok berhasil. Sebelum iblis berdiri tegak, Ashok sudah menyerangnya. Perkelahian sengitpun terjadi. Keduanya saling hantam dan saling dorong. Kalau di lihat dari postur tubuh, tentu saja jagoan kita kalah body. Tapi tekad Ashok untuk mengalahkan iblis sangat besar. Karena itu dia tetap berusaha menjatuhkan iblis. Sayangnya, tenaganya yang kecil tidak cukup kuat untuk mengalahkan Beast. Hingga pada suatu kesempatan, iblis berhasil mendorong tubuh Ashok hingga kepalanya membentur tiang. Sambil memegangi keningnya, tubuh Ashok mengelosor jatuh. Pingsan.
Dharma dengan putus asa duduk didepan mandir, berdoa pada dewa Syiwa agar menyelamatkan anaknya, "aku selalu menyebarkan mengabarkan kedamaian, aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku tidak pernah mengeluhkan nasibku. Aku menerima apapun yang kau berikan padaku. Tak pernah bertanya apapun padamu. Tapi hari ini, aku ingin bertanya, kenapa kau lakukan ini padaku dan anakku? Aku tidak pernah menginginkan Ashok menjadi Samrat. Lalu kenapa semua ini terjadi? Aku tidak pernah meminta apapun dari mu. Tapi hari ini aku menginginkan kehidupannya, selamatkan dia, selamatkan Ashokku. Jika terjai sesuatu pada Ashok, aku akan mulai tidak percaya padamu." Sambil berdoa Dharma menangis tersedu-sedu.
Ashok masih terduduk pingsan ketika iblis dengan sebuah pisau di tangan siap menghabisi nyawanya. Tapi sebelum iblis mengangkat senjata seseorang yang tubuhnya terbalut kain muncul dan menghentikannya. Beast segera membalikan badan menatap sosok tubuh itu. Si empunya tubuh menyibakkan kain yang menutupinya, terlihatlah wajah Charumitra. Dengan wajah menahan marah, Charumitra mendekati Beast dan menamparnya dengan keras sampai topengnya terlepas dan memperlihatkan wajah Sushim. Sushim melotot menatap Charu. Sekali lagi Charu menampar pipi Sushim sambil berkata, "aku sudah memintamu agar tidak melakukan sesuatu yang akan menempatkan dirimu dalam masalah. Tapi kau bawa anak itu kesini, anak yang membuat ayahmu terkesan. Sekarang seluruh kekuatan di kerahkan untuk menemukan Ashok. mereka akan menangkapmu dan kau akan mendapat hukuman mati. Sebelum ada yang menemukamu, habisi anak ini dan segera pergi dari sini." Charu kemudian menghampiri Ashok dan mengoleskan sesuatu kematanya. Charu berkata kalau untuk sementara Ashok akan kehilangan penglihatannya, "aku akan kembali ke istana sehingga tak seorangpun meragukan dirimu." Charu meninggalkan gua misterius itu. Sushim mendekati Ashok dan membungkuk hendak mengambil senjatanya ketika Ashok memukulnya dengan sebuah pot. Sushim segera terjatuh dan pingsan. Ashok berdiri, dia heran ketika matanya tidak bisa melihat apa-apa. Ashok mengosok matanya dengan kedua tangan, tapi tetap saja penglihatanya tidak kembali. Dengan susah payah dan sambil meraba-raba Ashok menemukan pintu yang segera di dorongnya hingga terbuka. Ashokpun berhasil keluar dari tempat misterius itu.
Di sebuah keramaian, beberapa orang rajurit sedang berdiskusi dengan temannya. Ketika Ashok sambil meraba-raba layaknya orang buta membuat keributan setelah menabrak sekumpulan tifa. Mendengar keributan itu, prajurit menoleh, saat di lihatnya Ashok mereka segera berlari mendekat dan membantunya berdiri. Ashok meminta prajurit  membawanya menghadap Samrat.
Ashok berdiri di depan Bindusara yang duduk gagah di tahta, dan Chanakya yang duduk di kursi menteri. Melihat Ashok memejamkan mata dan tak bisa melihat apa-apa Bindu bertanya, "kalau kau tak bisa melihat, bagaimana kau akan membawa prajurit ke tempat misterius itu?" Ashok menjawab kalau seperti orang buta mengingat jalan, seperti itu pula dia akan membawa prajurit ketempat itu. Bersama Khurasan dan Achari Chanakya, Ashok pergi ke tempat misterius itu dengan mata tertutup. Saat dia mendengar suara kambing mengembik, Ashok yakin kalau dia berada di jalur yang tepat. Ashok menunjuk sebuah jalan, semua orang terkejut. Guru (Perdana menteri) mengatakan kalau itu adalah jalan menuju ke... Chanakya menyela dengan mengatakan kalau mereka tidak punya waktu untuk meragui Ashok. Ashok melanjutkan langkahnya dan semua orang mengikutinya dengan rasa penasaran. Ashok membawa mereka kesebuah rumah, Perdana menteri mengatakan kalau itu adalah rumah tabib istana. Chanakya mengajak mereka semua masuk kedalam. Dalam rumah itu terlihat rapi dengan perabotan tertata apik. Ashok berkata kalau dia yakin tempat misterius itu ada di sekitar sini. Ashok terus meraba-raba dan tersentuh sebuah lemari. Dengan perasaannya yang peka, ashok meminta prajurit memindahkan lemari itu. Ketika lemari itu di bawa pergi, tanpaklah sebuah pintu di belakangnya. Semua terkejut. Tanpa pikir panjang lagi, mereka lalu membuka pintu itu dan masuk kedalamnya. Sebagian besar dari mereka terbelalak kaget melihat tempat misterius yang di terangi cahaya obor itu. Sesosok tubu htergeletak ditanah dengan mengenakan kostum dan topeng iblis. Khurasan mendekati sosok itu dan membuka topengnya, semua terkejut melihat wajah tabib kerajaan. Guru (perdana menteri) berkata dengan prihatin kalau tabib bunuh diri karena takut tertangkap. Khurasan menyahut, "setidaknya misteri di balik penculikan itu sudah terungkap." Semua terlihat puas, hanya Achari Chanakya yang terlihat sangsi. Prajurit melapor kalau mereka menemukan banyak anak-anak di sekap di tempat itu. Kondisi mereka sangat buruk. Khurasan menyuruh mereka membawa anak-anak itu ke tabib.
Dharma masih berdoa di depan mandir Syiwa ketika mendengar seorang parjurit memberitahu temannya kalau Asshok sudah di selamatkan dan iblis yang menangkapnya sudah mati. Dharma memanjatkan puji syukur pada dewa. Dia lalu terpikir untuk menemui Ashok. Chanakya menghalangi jalanya. Dharma berkata kalau dirinya ingin menemui Ashok dan Achari tidak boleh menghentikan dirinya. Chanakya menyahut, "karena itu aku membawanya kemari. Anda bisa tinggal dengan Ashok..tidak sebagai ibu, tapi sebagai tabib." Setelah berkata begitu, Chanakya meninggalkan tempat itu. Dharma segera berlari menghampiri Ashok yang terbaring di tempat tidur dengan mata tertutup kain. Dharma dengan sedih duduk di samping ashok dan menyentuh tubuhnya. Ashok merasakan sentuhan itu dan memanggil, "ma?" Dharma mengatakan kalau dirinya tabib. Ashok tidak peduli, dia meraih jemari Dharma dan menggenggamnya. Dharma dengan gesit melepas genggaman Ashok dan mulai meracik obat sambil menangis. Ashok berkata kalau iblis itu telah bunuh diri, "sekarang anak-anak Patliputra aman." Sambil menahan tangis, Dharma merawat Ashok. Dia mengganti perban di matanya dengan ramuan baru. Ashok terlihat tenang. Dharma membelai Ashok penuh kasih sayang. Airmatanya terus meleleh laksana air hujan. Tiba-tiba terdengar pengumuman kalau Samrat Bindusara datang. Dengan cepat Dharma berdiri, menghapus airmata dan menarik selendang untuk menutupi wajahnya. Dia berdiri kaku di samping permbaringan Ashok ketika Bindusara datang dan berkata, "samrat vanraj, kau telah memenuhi janjimu menangkap iblis itu." Mendengar suara Samrat, Ashok bangun dari berbaringnya, ketika akan turun dari tempat tidur, Ashok sempoyongan dan hampir jatuh. Refleks Dharma dan Bindusara berlari untuk menolongnya. Berdua mereka memegangi tubuh Ashok dan membantunya berdiri tegak. Chanaka amelihat kejadian itu dari tempatnya berdiri sambil menghela nafas. Bindu mengeluarkan sekantong koin dan menyerahkannya pada Ashok sebagai hadiah. Ashok mengembalikan koin-koin itu tanpa memegangnya sambil berkata, "ambillah kembali koin itu Samrat, sebagai bayaran denda saya pada anda seperti yang seharusnya. Sekarang antara kita sudah jelas." Samrat Bindusara tersenyum kagum, "ya antara kita sudah jelas. Kau bebas sekarang. kau bisa pergi darai sini tapi setelah mendapatkan perawatan." Ashok mengangguk senang. Bindu membelai kepala Ashok lalu beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Ashok terbangun dengan rasa haus. Dia menyentuh tekaknya yang terasa kering dan meminta air.Tak ada yang datang melayaninya. Ashok berteriak memanggil ibunya, "Ma.." Di luar, Dharma mendengar panggilan Ashok, tapi tidak bisa beruat apa-apa, sambil menangis dia berkata, 'Bhagwan, ibu Ashok bersamanya, tapi dia tidak bisa melayaninya. Kenapa kau hukum kami seperti ini?" Ashok turun dari tempat tidur dan berjalan sambil meraba-raba. Bal Ghavin datang menyodorkan segelas air pada Ashok sambil berkata, "aku Bal Ghovin." Ashok menepuk lengan Bal Ghovin dengan gembira, "temanku Bal Ghovin?" Bal Ghovin membantu Ashok duduk di tepi tempat tidur. Ashok meminum air yang di berikan Bal Ghovin di iringi tatapan haru darinya. Bal Ghovin berkata, "tak ada yang pernah memanggilku teman, Ashok." Ashok menjawab, "aku berbeda..karena aku Samrat Vanraj.." Bal Ghovin tersenyum dan menegaskan kalau Ashok adalah temannya. Bal berkata Ashok sangat cerdas, karena itu dia bebas dari hukuman Samrat. Ashok juga berkata kalau suatu saat Bal Ghovin juga akan mendapat kesempatan yang sama untuk membebaskan diri dari bekerja di istal. Bal Ghovin teringat perkataan Helena kalau dirinya mau memberi informasi tentang Ashok, maka helena akan membebaskan Bal. Teringat janji Helena itu, Bal Ghovin berkata pada Ashok, "jika engkau tinggal di sini, maka saya punya kesempatan bebas?" Ashok bertanya, "apa?" bal Ghavin meralat kata-katanya dengan berkata kalau Ashok tinggal, maka ashok bisa membantunya. Ashok mengangguk setuju. Kedua teman itu saling berjabatan tangan.
Pagi harinya, sambil memandikan kuda, Bal Ghovin bicara sendiri. Dia bingung harus menyampaikan apa pada Helena perihal Ashok. Tiba-tiba dia teringat pembicaraan Ashok dan Gul Bushan malam itu, kalau Ashok akan pergi menemui ibunya di istana. Bal Ghovin berniat memberitahu Helena tentang hal ini. Tapi Bal Ghovin berpikir lagi, Ashok adalah temannya, bagaimana mungkin dia menjerumuskan Ashok? Apa yang akan di lakukan helena kalau tahu tentang ibu Ashok? Semua anak punya ibu.
Di klinik, Dharma membuka perban Ashok. Ashok berkata pada Dharma kalau dia sangat merindukan ibunya. Ashok bilang ibunya juga merawat orang-orang. Setelah perban terlepas, Dharma mengusap mata Ashok. Cepat Ashok meraih tangan Dharma dan menggenggamnya. Dharma tak sanggup menarik tangannya. Ashok berkata, "terima kasih. Anda merawatku persis seperti ibuku memperlakukan aku dulu." Dharma kemudian membuka perban di mata Ashok. Ashok mencoba mengedip-ngedipkan matanya. Dia berkata kalau dirinya tidak bisa melihat, pandanganya kabur. Dharma menjadi sangat cemas, "bagaimana mungkin?" Dia menarik Ashok pergi kedepan Jendela yang terdapat banyak cahaya. Ashok masih terus berkata kalau pandanganya kabur sambil beranjak pergi dari depan jendela. Ashok memanggil-manggil ibunya. Dharma megikutinya dengan cemas. Dia menguncang-guncang tubuh Ashok sambil bertanya bagaimana bisa dia tak melihat apa-apa? Ashok membalikkan badannya menatap Dharma, menatap langsung kewajahnya. Dengan lembut dia membuka kerudung Dharma lalu menyentuh wajahnya sambil berkata, "engkau tidak memperdulikan aku yang kesakitan, karena itu aku pura-pura tidak melihat." Mendengar kata-kata Ashok, Dharma menangis haru. Ashokpun ikut menangis, lalu memeluk ibunya dengan penuh kerinduan. Dharma balas memeluk Ashok dengan penuh kasih sayang. Kedua ibu dan anak itupun bertangisan. Setelah pelukan terlepas, Ashok memprotes Dharma karena tidak memberitahu dirinya kalau dia juga ada di istana. Ashok teringat kejadian yang berhubungan dengan wanita bercadar. Ashok baru sadar kalau wanita bercadar yang di lihatnya di beberapa tempat termasuk di pengadilan waktu itu adalah Dharma. Ashok bertanya, "mengapa anda menyembunyikan sesuatu dari aku, ma? Apakah anda berada dalam tekanan brahmana tua itu? Jangan kuatir, ma. Samrat telah membebaskan aku. Kita akan pergi dari sini. Ayo ma, kita pergi!" Ashok menarik Dharma mengajaknya pergi. Tapi Dharma tak mau ikut. Ashok menoleh pada Dharma dengan tatapan sedih. Dharma menggeleng dan melepaskan tanganya dari genggaman Ashok. Ashok menghampiri Dharma sambil berkata, "orang-orang di sini tidak baik, ma. Ini bukan tempat kita!" Dharma menggeleng, "aku telah berjanji pada Achari Chanakya, aku tidak bis a pergi dari sini." Ashok kaget, "Apa? Kenapa? dia yang bertanggung jawab untuk semua masalah yang kualami." Dharma mengingatkan Ashok kalau dia pernah berjanji akan mendengarkan apapun kata Chanakya. Ashok dengan kesal berkata, "Achari Chanakya! Aku akan bicara padanya. Samrat sudah membebaskan aku. Tidak ada yang lebih berkuasa lebih dari samrat." Setelah berkata begitu, Ashok pergi meninggalkan Dharma, tanpa peduli panggilan Dharma .
Bindusara sedang latihan mengangkat gada ketika Chanakya menemuinya. Melihat Chanakya, Bindu segera meletakkan gadanya dan memberi salam. Chanakya mengangkat tangan memberkati Bindu. Chanakya senang melihat Bindu latihan. Bindu melihat wajah Chanakya yang muram dan bertanya, "anda terlihat khawatir?" Chanakya membenarkan, menurutnya selama penyerang Bindusara belum tertangkap, selama itu pula dia akan di cekam kehawatiran. Bindu menyuruh orang pergi, hingga tinggal dirinya dan Chanakya. Bindu berkata kalau dirinya merasa tidak nyaman mengetahui ada iblis berkeliaran secara terang-terangan tapi menteri-menterinya tidak berbuat apa-apa. Bindu merasa kalau dia tidak ada apa-apanya di bandingkan samrat chandragupta. Chanakya menyahut bahkan setelah begitu banyak masalah, begitu banyak konspirasi, Bindu masih bisa menyatukan orang-orangnya, "ini menunjukan kalau anda raja besar." Bindu merasa Chandragupta selalu mendampinginya. Tiba-tiba terdengar suara Sushim membentak para pelayan. Bindu dan Chanakya sama-sama menoleh ke arah datangya suara. Melihat itu bindu meminta Chanakya agar membimbing anak-anaknya terutama Sushim, "aku tidak tahu apakah dia bisa menjadi Samrat yang baik karena dia sangat pemarah. Aku tidak ingin diliputi rasa bersalah karena tidak bisa memberikan Samrat yang baik untuk Magadha." Bindu meminta Chanakya berjanji untuk menemukan samrat yang baik untuk Magadha. Chanakya mengangguk, "aku berjanji aku akan memberikan samrat yang hebat untuk Magadha setelah dirimu. Banyak masalah yang datang, aku merasa kita sebaiknya melakukan upacara puja pada Mahashivrati untuk mendapatkan perdamaian." Bindu berkata kalau dirinya menurut saja apa kata Chanakya.
Ashok sedang menunggu Chanakya di kamarnya sambil berjalan hilir mudik dengan gelisah. Chanakya datang. Ashok menatapnya tanpa gentar. Chanakya balas memandang Ashok dengan rasa ingin tahu. Ashok berkata kalau dirinya akan meninggalkan Patliputra karena hukumannya sudah selesai dan Chanakya tidak bisa menghentikan dirinya, "tapi anda telah membuat ibuku berjanji untuk tinggal.." Chanakya bertanya di mana Ashok bertemu ibunya? Ashok dengan nada mencela balik bertanya, "..apa yang membuat anda berpikir bisa menjaga ibuku  jauh dariku? Aku melihatnya di istana. Aku sudah bertemu dia. Sudah bicara denganya. Dan lagi aku juga sudah menangkap iblis, dan dia sudah mati. Samrat membebaskan aku." Chanakya dengan rasa inggin tahu balik bertanya, "apa yang membuatmu berpikir kalau iblis sudah mati?" Ashok mengingatkan Chanakya kalau mereka semua melihat tubuh tabib di sana, "dia sudah mati!" Chanakya bertanya lagi, "lalu kenapa ia tidak bunuh diri dengan meminum racun? Kenapa dia bunuh diri dengan menggunakan senjata?" Ashok sedikit bingung, "aku hanya tahu tubuh iblis di temukan di sana." Chanakya berkata, "saat Samrat di serang di hutan, kau juga ada disana dengan alat memanah. Tapi kau bukan penyerangnya kan?" Ashok dengan curiga berkata, "sepertinya anda ingin aku tinggal di sini dengan cara apapun. Ini tidak akan berhasil, aku tetap akan pergi bersama ibuku." Chanakya dengan kalem berkata, "kalau kau pikir iblis itu sudah mati, maka kau boleh pergi. Aku tidak akan menghentikanmu. Tetapi yang sebenarnya, iblis itu masih hidup. Dan menunggu untuk membunuh anak-anak lainya." Mendengar kata-kata Chanakya, Ashok terlihat tercengang.... Sinopsis Ashoka Samrat episode 13

Sabtu, 25 Juli 2015

Sinopsis Ashoka Samrat episode 11 by Sally Diandra

hm sekarang mainnya tinggal senin-jumat, mungkin karena uda mo habis kali ye. makanya nonton di yutub si ga ada jadwalnya, asal ada sinyal. bisa gak ya novel epik kolosalku difilmkan kayak ashoka dkk? eh kok aku liat episod terbarunya tinggal 20-an menit ya kan awal2nya 40-an menit. duh tamba pendek getu mungkin karna itulah ashoka mainnya jadi sependek itu. ending twist di tiap episod nya juga keren neh, selalu diambil adegan yang klimaks agar orang penasaran nonton episod berikutnya. kayak di episod lalu tuh siamak dilempari belati ama sushima di situ aku merasa ada yang missing eh rupanya di episod ini kayak diulas awalannya jadi gak bingung napa tiba2 sushima lempari siamak pake belati itu. begitu rupanya. pinter juga ya crew film ini bikin ending twistnya. jadi aku dapat pelajaran tiap pergantian episod mungkin bagusnya aku niru2 dikit gaya ending nya ashoka getu. jadi orang kayak merasa alur endingnya kayak ada yang missing, eh rupanya alur selengkapnya disembunyikan di episod berikutnya. doain ya novel horor n epik kolosalku cepat kelarnya n moga best seller karna aku belajar sana-sini dari film2...
https://www.youtube.com/watch?v=wTxT0cooTiY&index=11&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ

Sinopsis Ashoka Samrat episode 11 by Sally Diandra. Masih diruang sidang, Maharaja Bindusara memutuskan agar kedua anaknya Sushima dan Siamak saling berkompetisi adu ketangkasan pedang, Ratu Noor memberikan dukungan pada anaknya Siamak, kemudian mereka berdua Sushima dan Siamak berjalan agak menengah untuk mengambil tempat, setelah ada aba aba dari salah satu pendeta kerajaan, Sushima dan Siamak saling beradu ketangkasan pedang satu sama lain, Sushima dengan sombongnya hanya menggunakan satu tangan sementara Siamak menggunakan kedua tangannya menyerang Sushima, walaupun tubuh dan usianya yang masih kecil namun kemampuan Siamak tidak bisa dianggap sebelah mata karena beberapa kali Sushima berusaha menahan serangan Siamak hingga akhirnya Siamak berhasil menjatuhkan pedang Sushima.
Semua yang hadir disana terkesan dengan ketangkasan Siamak tidak terkecuali Ratu Noor dan Maharaja Bindusara. Namun sayangnya Sushima tidak terima dirinya dikalahkan begitu saja oleh adik tirinya yang masih kecil ini, Sushima segera mengambil belati yang telah dibawanya sedari tadi dipinggangnya dan melemparkannya ke arah Siamak, untungnya Siamak mampu mengelak serangan belati Sushima dengan cepat, tiba tiba belati yang dilempar oleh Sushima tadi dipegang oleh seorang anak yang berdiri dibelakang Siamak yang mengenakan sebuah topeng, semua yang hadir disana terkejut melihat kehadiran anak bertopeng ini “Cukup untuk hari ini !” Maharaja Bindusara segera menghentikan kompetisi tersebut “Sushima, sebelum kamu menggunakan senjata ini, kamu seharusnya tahu apa konsekwensinya” Acharaya menasehati Sushima, Sushima mencoba menahan amarahnya.
“Nampaknya Ratu Charumitra tidak memberitahu pada anaknya tentang peraturan dalam sebuah pertandingan, Sushima telah menyerang anakku” ujar Ratu Noor sambil melirik sinis kearah Ratu Charumitra “Mereka berdua adalah saudara, jangan buat mereka jadi saling bermusuhan, lihat aku dan Justin, aku ingin Sushima dan Siamak mengikuti kebersamaan yang aku miliki bersama Justin” ujar Bindu sambil melirik ke arah Justin, Justin hanya tersenyum, begitu pula Helena hanya memandangi kedua anaknya itu “Sushima, kamu harus menjadi Samrat yang baik, kamu harus menjadi orang yang baik dan menjadi orang yang baik itu harus bisa mengontrol emosi, kemarahan adalah musuhmu, hal itu bisa membuat kamu kehilangan kontrol” Sushima hanya diam saja sambil terus menahan amarahnya
“Sekarang, pertunjukkan bisa dimulai” tak lama kemudian datanglah tiga anak bertopeng, anak bertopeng yang memegang belati Sushima juga masih disana “Kami datang untuk mencari Samrat dari Vanraj tapi inilah Samrat yang sesungguhnya, jika kami tidak memberikan hiburan maka kami akan dipukul !” ujar anak anak bertopeng itu, namun secara diam diam anak bertopeng pemegang belati tadi pergi menyelinap kebelakang secara diam diam, ketika melihat diruangan itu banyak makanan, anak bertopeng itu sangat senang dan bermaksud ingin mengambilnya, tiba tiba salah seorang prajurit menghentikannya “Hei ! Kamu tidak boleh makan disini, bukannya kamu seharusnya bergabung dengan teman temanmu ?” prajurit mendorong anak bertopeng pembawa belati tadi ke tengah ruangan untuk bergabung dengan anak bertopeng yang lain.
Salah satu anak bertopeng yang melihat anak bertopeng itu berkata “Kami datang kesini cuma bertiga, bagaimana bisa menjadi empat, kamu datang dari mana ?” anak bertopeng tadi hanya diam saja, kemudian ketiga anak bertopeng mulai melakukan hiburannya dengan melompat, kemudian teman temannya bergabung dan mereka melakukan aksi lucu lucuan dengan saling menjatuhkan diri satu sama lain sambil bermain bola bola ditangan mereka, semua yang hadir disana merasa terhibur dan tertawa termasuk Bindusara. Anak bertopeng pemegang belati yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan mereka, tiba tiba ikut bergabung dengan ketiga anak bertopeng itu, kemudian dia memainkan lempar bola dengan sangat lihai, tidak ada satupun bola yang jatuh, Bindusara terkesan melihatnya.
Dharma yang sedari tadi melihat aksi anak anak ini juga terkesan dengan permainan anak anak ini sambil menutupi wajahnya. Semua orang menikmati permainan bola tangkap anak bertopeng itu “Permainan bagus seperti itu hanya bisa dilakukan oleh satu orang saja yaitu Samrat dari Vanraj Ashoka” ujar salah seorang anak bertopeng. Ashoka yang sedari tadi memakai topeng menghentikan permainan bola tangkapnya “Permainan yang bagus !” puji Bindusara, hiburanpun berakhir dan Ashoka meninggalkan ruang sidang.
Ashoka yang masih memakai topeng masuk ke dapur kerajaan, Ashoka teringat ketika dirinya mengatakan pada teman temannya yang bekerja diistal kuda bahwa dia akan membawakan mereka makanan dari istana, belum sempat Ashoka mengambil makanan makanan itu, tiba tiba Sushima memegang bahunya dari belakang, ketika Ashoka menoleh, Sushima segera membuka topeng yang dikenakan Ashoka dan terkejut ketika mengetahui bahwa anak bertopeng itu adalah Ashoka. Sushima segera membawa Ashoka keruang sidang, untuk dihadapkan pada ayahnya “Ayah, selama ini ayah telah menghormati anak ini, menyuruhnya untuk duduk dikudamu tapi apa yang telah aku dapatkan saat ini, aku telah menangkap basah anak ini ketika dia sedang mencuri makanan didapur !” ujar Sushima marah “Apakah kamu mencuri makanan ?”, “Ya, itu betul, Samrat tapi aku memikirkan tentang seseorang yang terpaksa mencuri makanan, aku memberikan makanan di istal kuda dimana kuda saja tidak mau memakannya, kemudian aku juga tahu bahwa ada 56 pelayan diistana ini, maka hatikupun tergerak, anda boleh saja memberikan hukuman padaku tapi tolong katakan padaku apa masalahnya ? Apakah ini adalah masalah rakyat jelata yang terpaksa mencuri makanan atau masalah Samrat yang tidak bisa memberikan makanan yang layak untuk para pekerjanya ?” Acharaya tersenyum dan berkata “Yang dikatakannya benar, Samrat” sesaat Bindusara menatap Ashoka tajam “Rupanya aku telah melewati untuk memberikan semua anak anak pekerja ini makan makanan istana” Ashoka tersenyum dengan senyuman khasnya “Siapa anak ini ?” Charumitra mulai penasaran “Seorang anak yang telah mengalahkan anakmu di pertandingan kemarin” ujar Noor dengan senyuman sinisnya, Charumitra merasa kesal.
Ditempat Bal Govin disekap, Bal Govin berusaha melarikan diri dari ikatan yang dibuat oleh pria misterius itu, dengan perasaan yang panik dan was was Bal Govin mulai membuka tali yang mengikat tubuhnya, ketika sudah terbuka, tiba tiba saja dirinya jatuh diruangan yang gelap dan kotor itu, Bal Govin segera melarikan diri dari sana.
Sementara itu, Ashoka hendak pulang ke istal kuda dengan membawa makanan istana untuk teman temannya, tiba tiba saja dia melihat semak semak disampingnya bergerak gerak, saat itu hari sudah malam jadi Ashoka tidak bisa melihat dengan jelas “Hey ! Siapa itu yang disana ?” teriak Ashoka, tidak ada jawaban dari balik semak semak, Ashoka segera menghampiri dan dilihatnya Bal Govin sedang bersembunyi dibalik semak semak sambil menatapnya ketakutan “Bal Govin, apa yang terjadi ?”, “Selamatkan aku, iblis itu akan membunuhku !” ujar Bal Govin dengan wajah ketakutan dan gelisah “Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan apapun yang terjadi pada kamu” Ashoka segera memapah Bal Govin pergi dari tempat tersebut.
Ashoka membawa Bal Govin yang terluka itu ke hadapan Maharaja Bindusara diruang sidang, semua orang yang hadir disana terkejut melihat kedatangan Ashoka, Ashoka kemudian membaringkan Bal Govin dilantai “Ada apa ini ?” ujar Khurasan “Ada seorang iblis disini dan ini adalah kenyataan yang sebenarnya” ujar Ashoka “Iblis ?” Bindusara terkejut “Ada seorang iblis yang suka sekali membunuh anak anak di Patliputra, iblis ini mengambil anak anak dalam beberapa hari ini, meskipun dia tidak kembali atau datang ke daerah ini tapi lihatlah Bal Govin, apa yang telah iblis itu lakukan padanya, tadinya aku tidak mempercayai kalau ini adalah perbuatan iblis tapi ketika aku melihat Bal Govin dalam keadaan seperti ini, aku merasa yakin dia ada disini” ujar Ashoka “Kita sedang menyelidiki permasalahan ini, kita akan segera tahu tentang hal itu” Guru menimpali ucapan Ashoka, “Nona, tolong obati anak itu” Dharma segera mendekati Bal Govin, mengecek kondisinya dan berkata “Iblis itu bisa jadi adalah seorang manusia”, “Dan iblis itu juga bisa menyerang anak ini lagi” ujar Acharaya “Khurasan, kamu yang bertanggungjawab pada keselamatan anak ini” perintah Bindusara, Bal Govin langsung diangkat oleh para prajurit dan dibawa dari sana “Rakyat mencuri makanan, iblis mengambil anak ini, makanan kerajaan tidak berarti lagi untukku sekarang, lakukan sesuatu dengan kekuatan kamu dan tetap mencari tahu tentang iblis ini” perintah Bindusara pada anak buahnya “Kita seharusnya melakukan sesuatu, seperti umumkan pada semua orang bahwa siapa saja yang bisa menangkap iblis ini maka mereka akan mendapatkan hadiah, oleh karena itu semua orang harus mengumpulkan keberaniannya juga” ujar Acharaya geram, Bindu menyetujui ucapan Acharaya dan berkata “Kalau begitu buat pengumumman kepada semua orang bahwa siapapun yang bisa menangkap iblis itu akan mendapatkan hadiah !” perintah Bindusara “Jika permasalahannya seperti itu maka aku berjanji aku akan memberikan informasi tentang iblis itu pada anda, dengan cara ini maka aku akan terbebas dari hukuman anda” Acharaya tersenyum mendengar ucapan Ashoka.
Ashoka sampai di istal kuda sambil membawa makanan dari istana untuk teman temannya “Samrat telah mengirimkan makanan dari istana ini untuk kalian” ujar Ashoka sambil menunjukkan makanan yang dibawanya sedari tadi “Kalian benar, ternyata iblis itu ada, Bal Govin telah melarikan diri dari tempat iblis itu” teman teman Ashoka terperangah “Ini artinya si iblis itu pasti sangat marah, dia pasti akan membunuh kita sekarang” Ashoka tersenyum dan berkata “Sekarang iblis itu pasti takut, aku akan menangkap iblis itu !” teman teman Ashoka tidak percaya “Apakah kamu tidak takut ?” dengan lantang Ashoka berteriak “Samrat Vanraj tidak akan takut pada siapapun !” tepat pada saat itu teman teman Ashoka yang memakai topeng tadi yang datang dari Vann (tempat tinggal Ashoka) menemuinya, Ashoka sangat sekali melihat kedatangan mereka
“Kalian seharusnya tidak usah datang kesini” ujar Ashoka “Kami harus menghadapi banyak masalah untuk bertemu denganmu tapi kami tahu jika ada seseorang yang melihat kami maka itu akan menjadi masalah untuk kamu, oleh karena itu kami akan segera pergi dari sini” ujar salah satu teman Ashoka “Tapi sebentar, pertama kalian harus makan makanan dari istana dulu bersama aku, bagaimana ?” teman teman Ashoka dari Vann setuju, kemudian mereka menikmati makanan dari istana bersama sama. Setelah selesai menikmati makan malam, Ashoka mengantar teman temannya yang datang dari Vann hingga pintu keluar istal, sepeninggal teman temannya itu Ashoka mencuci tangannya di kolam air yang berada ditengah tengah istal kuda kemudian mendekati Gul Bushan dan berkata “Gul Bhusan, kamu tahu, hari ini adalah hari yang sangat sibuk untukku, apakah kamu pernah melempar pangeran Sushima dari punggungmu ? Jangan pernah mencoba ya ! Dia itu jahat ! Aku tidak tahu mengapa dia itu begitu egois ? Dia itu bukan Samrat, dia tadi hampir saja mau membunuh adiknya sendiri” tiba tiba terdengar ada suara gaduh dan anginpun bertiup sangat kencang, Ashoka hanya menatapnya sambil sesekali memejamkan matanya, Gul Bhushan gelisah sambil meringkik ketakutan
“Gul Bhushan, aku tidak takut ! Samrat Vanraj tidak takut pada siapapun !” ujar Ashoka bangga tiba tiba Ashoka mendengar ada suara aneh dan ketika berbalik menghadap ke Gul Bhushan lagi, dari arah belakang ada seseorang yang menutup kepala Ashoka dengan kain hitam, orang itu adalah iblis yang menculik Bal Govin, sang iblis segera membawa Ashoka dari tempat tersebut” Gul Bhushan meringkik ketakutan, sementara teman teman Ashoka sedang bersiap siap untuk tidur, sedangkan Ashoka dibawa oleh iblis itu ketempat rahasianya, sang iblis mengikat Ashoka persis dimana dirinya mengikat Bal Govin yaitu pada sebuah pilar, tak lama kemudian sang iblis datang menemuinya dan membuka kain penutup kepala Ashoka, Ashoka terkejut ketika melihat didepannya sudah berdiri sang iblis “Hari ini kamu tidak akan selamat !”, “Tidak hari ini !” ujar Ashoka lantang, tiba tiba sang iblis mengambil sebuah besi yang telah dipanaskan di api dan mulai menyakiti Ashoka dengan besi panas tadi, Ashoka berteriak menahan sakit, tubuhnyapun terluka.
Sementara Acharaya ada dikamarnya, Acharaya sedang menulis sesuatu, tiba tiba ketika Acharaya sedang memandang keluar jendela, dilihatnya singa yang biasanya menandakan keberadaan masa depan Magadha yaitu Ashoka, Acharaya sangat kaget ketika melihat singa yang merupakan jelmaan Chandragupta (kakek Ashoka / ayah Bindusara) terlihat sangat khawatir, Acharaya segera menghentikan aktifitas menulisnya dan melangkah kearah jendela sambil terus melihat singa tersebut “Apa yang akan terjadi ini ?” tepat pada saat itu Radhagupta menemui Acharaya “Acharaya, Maharaja Bindusara menginginkan kehadiranmu disidang” Acharaya mulai khawatir akan sesuatu.
Keesokan harinya, teman teman Ashoka yang bekerja diistal kuda bangun dari tidur mereka “Teman teman, Gul Bhushan meringkik terus sejak tadi malam” ujar salah seorang anak tersebut, mereka kemudian membahas soal Bal Govin “Ashoka tidak penah percaya pada kita sebelumnya bahwa iblis itu benar benar ada !” kemudian salah seorang anak menyadari kalau Ashoka tidak ada bersama mereka “Dimana Ashoka ?” tepat pada saat itu Acharaya menemui anak anak tersebut diistal kuda dan berkata “Ashoka tidak ada disini rupanya ?”, “Mungkin dia pergi untuk mencari iblis itu” ujar salah seorang anak “Tapi mengapa Gul Bhushan terus meringkik ketakutan ?” Acharaya merasa ada yang tidak beres dengan teriakan kuda Maharaja “Kami tidak tahu” tiba tiba salah seorang anak menemukan sebuah gelang yang tergeletak ditanah dan menunjukkan pada Acharaya, Acharaya memperhatikan gelang itu kemudian memperhatikan jejak ditanah yang menunjukkan ada seseorang yang diseret sampai keluar pintu istal kuda.
Dharma masih mengobati Bal Govin disebuah kamar, Bal Govin mulai siuman “Apakah kamu sudah merasa baikkan sekarang ?” Bal Govin berteriak ketakutan “Tolong selamatkan aku ! Selamatkan aku !” Dharma panik “Tidal ada siapa siapa disini, jangan khawatir” tepat pada saat itu beberapa prajurit menemui Dharma dan berkata “Samrat memerintahkan pada kami untuk membawa anak ini ke ruang sidang”
Diruang sidang, Bindu bertanya pada Khurasan “Panglima Khurasan, mengapa kamu tidak memberitahu padaku tentang iblis ini ?”, “Saat itu kamu sedang sakit jadi aku pikir aku akan menangkap iblis ini sendirian” jawab Khurasan kalem “Aku ingin bertanya padamu bagaimana caranya menyelamatkan anak anak ini ? Iblis itu telah menculik Bal Govin dari istal kuda kerajaan dan orang orang kamu tidak melakukan apa apa” tepat pada saat itu Sushima datang keruang sidang dan duduk dikursinya, Bindu kurang suka dengan kedatangan Sushima yang datang begitu saja seenak hatinya “Sushima, disini kamu bukan anakku dengan mendatangi ruang sidang seenaknya saja, kamu seharusnnya datang keruang sidang pada saat yang tepat” ujar Bindusara, para prajurit datang keruang sidang sambil memapah Bal Govin
“Bal Govin, sekarang kamu aman, kami ingin menangkap iblis itu secepat mungkin, apakah kamu bisa menceritakan pada kami tentang iblis ini ? Apakah kamu ingat dimana tempatnya ?” Bal Govin teringat bagaimana iblis itu menyiksa dirinya dan tiba tiba saja terjatuh tidak sadarkan diri, Dharma segera mendekati Bal Govin dan berkata “Mental anak ini belum siap untuk memberikan kesaksian, Samrat ... berikan dia waktu hingga saatnya nanti dia siap” Khurasan kurang suka dengan pendapat Dharma “Kita tidak mempunyai banyak waktu karena anak anak yang lain dalam keadaan bahaya !”
Acharaya datang keruang sidang bersama Radhagupta dan berkata “Itu memang benar ! Bal Govin memang belum sembuh benar, aku meminta padamu untuk mengirimkannya ke rumah pengobatan” Bindusara menyetujui pendapat Acharaya, Dharma segera membawa Bal Govin yang digotong oleh para prajurit keluar dari ruang sidang. Sepeninggal Dharma dan Bal Govin, Acharaya berkata “Saat ini iblis itu telah menculik lagi seorang anak dan nama anak itu adalah Ashoka” Bindu kaget kemudian dirinya teringat ketika Ashoka memenangkan pertandingan lari dan terjatuh dipelukkannya, ketika dirinya mengobati kaki Ashoka yang terluka, bagaimana mereka berdua naik kuda bersama sama “Kita harus segera mengambil keputusan secepatnya karena nyawa Ashoka dalam keadaan bahaya” Bindusara segera memerintahkan pasukannya untuk mencari Ashoka bagaimanapun caranya... Sinopsis Ashoka Samrat episode 12 by Sally Diandra.

http://sinopsisashokasamrat.blogspot.com/2015/05/sinopsis-ashoka-samrat-episode-11-by.html 

Jumat, 24 Juli 2015

Sinopsis Ashoka Samrat episode 10

kayaknya tuh bagusnya aku bilang kalo bulan neh jadwal menyepi dari keramaian sos-med. hanya sedikit akun yang aktif dulu. cus aku butuh menyepi agar tak terpengaruh lingkungan dan bisa fokus nyelesain novel horor, n lagi aku lagi belajar nulis epik kolosal. jadi kalo aku belum bisa balas sana-sini, jangan ngambek ya plis cus aku lagi mo fokus, butuh keheningan. agar tenang nyelesain muanya getuh. sekarang lagi asik ama ashoka. aku mah getuh orangnya, susah dipahami kalo gak ngomong napa aku ilang-ilang...
 
https://www.youtube.com/watch?v=4lFwY_askJU&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ&index=10

Sinopsis Ashoka Samrat episode 10. Bindusara membantu Ashoka bangkit sambil memuji Ashok sebagai atlet yang sangat baik, karena telah mengalahkan Sushim dan Shera, Bindu terlihat senang. Dia mengeluarkan sekantong koin dan hendak menyerahkannya pada Ashoka ketika Sushim berteriak mengatai Ashok, curang karena mengambil jalan pintas. Tapi beindu membela Ashok dengan mangatakan kalau itu bukan kecurangan tapi kepintaran. Yang terpenting adalah siapa yang tiba di garis finish tercepat, bukan jalan yang di tempuhnya. Bindu menyuruh Sushim mengakui kemenangan Ashok dan menerima kekalahannya. Sushim dengan marah meninggalkan arena. Bindu tak memperdulikan kepergian Sushim, dia mengajak Ashok pulang bersama. Ashok dengan rendah hati menolak. Tapi Bindu memaksa. Dia mengajak Ashok naik Gul Bushan bersamanya. Ashok terlihat senang. Bindu menyuruh pelayan membawakan kudanya. Dia lalu mengangkat tubuh Ashok dan mendudukannya di atas punggung Gul Busha. Setelah itu ia sendiri naik di belakang Ashok. Bindu tersenyum, sambil memegang bahu Ashok dia menarik tali kekang kuda. Gul Bushan pun melaju kencang menuju istana.
Ratu Noor menemui dharma dan bertanya dengan nada marah mengapa Darma membiarkan Bindusara pergi bersama Sushim. Dharma menjawab, "beliau ingin menghabiskan waktu bersama anaknya, bagaimana saya bisa menghentikannya?" Noor mengancam , kalau sampai terjadi sesuatu pada Bindu, dia tidak akan memaafkan Dharma. Lalu dengan geram Noor pergi. Sepeninggal Noor terdengar pengumuman kalau Bindusara datang. Dharma berjalan ke jendela, dia melihat Ashok dan Bindusara berkuda bersama. Dharma terkejut tapi senang, "samrat dan Ashok berkuda bersama?" tapi saat di lihatnya Ashok meringis kesakitan, Dharma terlihat khawatir.
Turun dari kuda, Bindu membopok tubuh Ashok dan membaringkannya di atas tempat tidur. Telapak kaki Ashok berdarah. Dharma terlihat cemas. Cepat-cepat dia menghampiri Ashok dan menyentuh kakinya. Bindu berkata dengan nada menyesal, "seharusnya aku menghentikan Sushim. Semua salahku, sampai anak ini terluka. Sekarang dia menjadi tanggung jawabku. Obati dia." Tanpa buang waktu, Dharma segera mengambil ramuan obar dan mengobati kaki Ashok sambil meneteskan air mata. Dia seperti merasakan sakit yang di rasakan Ashok. Dengan penuh kasih sayang, dia mengobati dan membalut luka di kaki Ashok. Merasakan sentuhan Dharma, Ashok teringat pada ibunya saat dia mengobati dirinya yang sedang terluka dengan wajah cemas, dulu sekali. Teringat kenangan itu, Ashok berkata, "anda seperti ibuku." Dharma tertegun. Bindupun tertegun mendengar kata-kata Ashok. Tapi tidak sempat berkomentar karena Chanakya datang. Bindu memberi hormat pada Chanakya. Ashoka berkata pada Dharma lagi kalau cara Dharma mengobati lukanya sama persis dengan yang dilakukan ibunya. Dharma tidak menyahut, dia tetap berusaha menutupi wajahnya engan selendang. Chankay menegur Ashoka, "aku dengar kau menantang pangeran Sushim?" Ashok membantah, kalau bukan dirinya yang mulai, tapi Sushim. Bindu membenarkan, "itu hanya sebuah kompetisi, anak ini memiliki berbakat." Chanakya senang melihat reaksi Bindu yang memuji Ashok, "tapi ia menyebut dirinya samrat." Ashok menyahut, "bukan hanya menyebut, tapi akan jadi." Bindu tersenyum, "anak ini seperti anak dari keluarga kerajaan." Dharma menatap Bindu. Bindu berkat alagi dengan antusias, "dia berbakat..." Mendengar pujian Bindu, Ashok langsung besar kepala, "terimakasih, Samrat. Hanya anda yang bisa melihat bakatku, achari ini menganggap remeh diriku." Menedngar kata-kata Ashok yang tidak sopan pada Chanakya, Bindu naik darah dan memperingatkan Ashok agar tidak bicara seperti itu lagi pada Chanakya. Ashok meminta maaf.
Dua orang pengawal muncul sambil membawa tandu. Chanakya berkata kalau dia akan membawa Ashok pergi denganya. Tapi Ashok tak mau di tandu. Dia langsung berdiri dan bicara kalau dirinya tidak membutuhkan pengobatan apapu. Sebelum pergi dia memberi hormat pad Dharma dan mengucapkan terima kasih. bindu dan Chanakya menatapnya pergi dengan langkah pincang. Begitu juga Dharma. Sepeninggal Ashok, Chanakya berkata pada bindu, "anda seharusnya tidak pergi begitu saja." Bindu menyahut kalau kematian bisa datang kapan saja dalam hidupnya, dia ingin mulai melakukan sesuatu yang dia kerjakan dalam hidupnya, "aku punya pekerjaan yang belum terselesaikan. Sampai aku menuntaskannya, aku tidak akan mati." Chanakya mengamini keinginan Samrat dan berpamitan. Bindu segera melipat tanganya memberi salam. Sebelum peri, Chanakya menatap Dharma yang juga memberinya salam meski dengan wajah terutup kerudung.
Chanakya terlihat gundah dan seperti sedang banyak pikiran. Radhagupta yang melihat itu bertanya, "apa yang terjadi Achari?" Chanakya berkata, "aku telah membuat anak dan ibu terpisah. Ini sangat kejam. Anak yang seharusnya tinggal di istana harus tinggal di kandang kuda. Merawat kuda, dan melayani samrat tanpa tahu kalau itu anaknya sendiri. Kelak orang-orang akan menganggap aku sangat egois, tapi di balik keegoisan ini adalah kebaikan untuk Magadha. Ashok adalah masa depan Magadha. Dan apapun yang di perlukan untuk menjadikannya Samrat, akan aku lakukan."
Charumitra sedang berhias di kamarnya ketika Sushim datang dengan marah-marah. Katanya, "dia orang biasa, tinggal di kandang kuda. Dan ayah memujinya di depan aku. Siapa anak itu? Dia bukan siapa-siapa dan ayah membawanya kembali ke istana dengan menaiki kudanya." Charu mencoba menenangkan Sushim, "kau memiliki begitu banyak kemarahan dan ini layak di miliki oleh seorang samrat. Tetapi kau harus menggunakan kemarahanmu dengan cara yang benar." Dengan geram Sushim berkata kalau dirinya tidak tahan melihat Bindu mencintai orang lain. Charu membenarkan, "akupun tidak tahan. Kau putra sulungnya, samrat harus lebih mencintaimu. Hari ini ada perayaan kembalinya Samrat. Bersiap-siaplah. Emosimu sangat berharga, jangan mengumbar kemarahan untuk anak biasa." Lalu Charu mengambil kotak dan mengeluarkan sejenis ular beracun. Charu mengamati ular itu sambil senyum. Sushim mengambil botol dari dalam kotak dan memberikannya pada Charu. Dengan botol itu, Charu menanpung bisa ular sambil bercerita kalau ketika Sushim berusia 1 tahun, Bindu diserang. Semua orang berpikir kalau Bindu sudah mati dan justin sudah siap mengambil alih tahta yang merupakan hak Sushim, "hari itu aku sangat takut akan nasibmu, karena itu aku mulai mengontrol roh jahat yang datang diantara dirimu dan tahta. Percayalah pada kekuatanmu. Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. Tenang dan percayalah pada ibumu." Charu memberikan botol berisi racun itu pada Sushim, lalu Sushim menyimpannya dalam kotak.
Ratu Noor sedang mandi, Justin datang. Noor meminta semua pelayan pergi. Justin menghampiri Noor dan duduk di belakangnya. Justin berkata kalau sangat tidak adil untuk wanita lain, karena noor memiliki kecantikan melebihi mereka. Noor berkata, "tidak baik kalau kau datang kekamarku seperti ini." Justin sambil mengelus wajah Noor berkata kalau noor adalah miliknya dan Bindu tidak akan membawa Noor jauh dari dirinya. Dengan gesit Noor meraih belati dan menghunuskannya ke leher Justin. Justin tidak mengelak, ataupun takut. Dia hanya diam tak bergerak. Noor mengancam Justin kalau sampai Justin berkata seperti itu lagi, dia akan membunuhnya. Setelah berkata begitu, Noor keluar dari bak mandi menuju ke cermin. Justin tertawa. Dia melangkah mendekati Noor dan berdiri di belakangnya. Justin mengendus rambut Noor dan memanggilnya kucing liar. Noor membalas mengejek Justin dengan berkata kalau menjadi kucing liar lebih baik daripada kucing domestik yang bersembunyi dibelakang ibunya. Justin tertawa sambil mengaku kalau dirinya tak akan menang kalau adu ejekan dengan noor. Sebelum pergi, Justin berkata kalau mereka akan bertemu lagi di perayaan. Noor tersenyum licik.
Persiapan untuk perayaan besar itu di lakukan dengan masimal. banyak hidangan kerajaan di persiapkan. Bindu sedang bersiap di kamarnya. Dharma ada di sana. Pelayan membawakan mahkota ke depan Bindu. Bindu berkata kalau perayaan itu diadakan karena dia kembali hidup. Dia ingin ibunya saja yang meletakkan mahkota itu ke kekepalanya. Helena datang. Bindu tersenyum senang, "ma, aku sedang membicarakanmu." Bindu bertanya kenapa Helena belum bersiap. Helena menjawab kalu dirinya tidak punya hak untuk datang ke perayaan. Dia meminta maaf atas apa yang dia katakan tentang Achari Chanakya kemarin, "aku tahu saya telah menyakiti hatimu. Seharusnsya aku tidak amengatakan semua itu." Bindu berkata, "mengapa anda mengatakan semua ini? saya tahu anda sangat peduli padaku. Anda peduli pada keselamatanku sehingga anda berkata begitu. Sudah saya katakan, anda adalah orang yang paling penting untukku. Bagaikan Krishna mempunyai yasoda. AKu mempunyai anda. Jika ana menentangku, itu pasti demi kebaikanku. Jika anda tidak datang ke perayaan, maka aku akan menghentikannya." Helena melarang, "jangan. Rakyat Patliputra menunggumu. Mereka mempunyai haak atasmu. Biarkan mereka merayakannya. Tapi katakanlah kalau engkau memaafkan aku." Bindu berkata kalau dirinya bahkan tak bisa mengatakan kata-kata itu helena, dia lebih baik mati. Dharma tersentak. Helena menutup bibir Bindu dan menggengam tangan di depannya. Bindu meraih tangan Helena. Helena tersenyum dan meraih mahkota. Dia menatap Mahkota dengan tamak, dan membayangkan dirinya sedang memasangkan mahkota itu kekepala Justin yang tertawa bahagia. tapi bayangan itu hanya selintas saja, karena kemudian helena tersadar. Dengan senyum di bibir, dia memasangkan mahkota ke kepala Bindu. Bindu mengucapkan terima kasih dan meminta Helena pergi bersiap-siap.  Setelah Helena pergi Dharma menghampiri Bindu dan menyerahkan gelas berisi ramuan. Bindu mengambil gelas itu dan berkata kalau dia merasa Dharma datang padanya dan merawatnya adalah karena doa ibunya. Dia merasa beruntung Dharma ada di sisinya dan mengobatinya. Dharma tersenyum.  Bindu mengundang Dhrama datang ke perayaan, karena itu adalah malam khusus untuk pelayan. Setelah berkata begitu, Bindu meminum obat buatan Dharma dan pergi. Setelah tinggal sendiri di kamar, Dharma dengan mata berkaca-kaca berpikir, "bagaimana aku akan memakan makanan kerajaan kalau anakku tidak ikut menikmatinya."
Di kandang kuda, Ashok dan kawan-kawan sedang menikmati makan malamnya. Ashok membolak-balik bagiannya danberkata kalau makanan iu tidak sedap. Temannya menyahut setengah menyindir dengan berkata kalau itu bedanya samrat asli dan samrat palsu. "makanan ini adalah hadiah karena menang melawan pangeran Sushim." Yang lain mengatakan kalau Sushim memiliki 51 hidangan makan malam. Hidnagan itu sangat menakjubkan. Ashok berkata kalau dirinya yang menang, jadi dia akan merayakannya. Dia berjanji akan membuat kawan-kawannya di istal makan makanan kerajaan.
rakyat mulaia berdatangan memasuki istana, perdana menteri yang menyambut mereka. Khorasan memanggil pengawal dan menyuruh mereka memperketat penjagaan. Ketika para pengawal mulai berjaga, tiga orang anak dengan topeng menutupi wajah muncul. Mereka membicarakan Samrat Ashok. Lalu sejenak mereka membuka topengnya menampakan wajah asli mereka. Ternyata mereka adalah teman-teman Ashok dari desa. Teman-teman setia yang selalu melayani dan menemani Ashok.
Dengan topeng menutupi wajah mereka berusaha masuk ke istana. Tapi Khorasan menghentikan mereka dan menanyainya. Mereka menjawab kalau mereka datang untuk menghibur Samrat. Perdana menteri tertawa dan berkata kalau mereka bertiga tampak lucu, lalu meminta agar Khorasan mengizinkan mereka masuk. Khorasa amengangguk. Ketiga anak itupun berhasil masuk keistana. Para pengawal melaor pada Khorasan. Khorasan berkata kalau dirinya yang akan mengawasi keamanan malam ini. Dia tidak ingin musuh menyelinap dan menyerang Samrat lagi. Para pengawal mengangguk dan pergi. Tiba-tiba seorang pria datang tergopoh-gopoh sambil memanggil senopati. Prajurit segera menghentikannya. Pria itu memberitahu Khorasan kalau anaknya di bawa binanga buas. Perdana menteri dan Khorasan segera menghampirinya dan mengusir pria itu. Pria itu memprotes perlakuan Khorasa dan berkata kalau rakyat di landa kecemasan karena binatang buas tapi raja malah mengadakan pesta di istana. Perdana menteri dan Khorasa terdiam, Chanakya datang dan bertanya apa yang terjadi? Khorasan memberitahu Chanakya kalau pria itu mengatakan anaknya di ambil binatang. Chanakya memprotes reaksi Khorasan, "anda tahu bagaimana sakitnya kehilangan anak karena anda juga pernah mengalaminya. Aku tidak ingin mencampuri pekerjaan anda, tapi seharausnya anda tidak menghalanginya untuk datang mengeluh pada Samrat. Ini haknya." Setelah berkata begitu, Chanakya peri, Khorasan terlihat berpikir.
Dengan mengendap-endap, Ashok datang ke istana. Saat melihat Chanakya lewat di depannya, Ashok cepat-cepat menyembunyikan diri. Begitu suasana lenggang, dengan gesit Ashok masuk ke sebuah kamar. Dia melihat pakaian tergeletak. Dia mendapat ide. Dengan peratalatan yang ada di kamar itu, Ashok berdandan, melukis tubuhnya dan memakai topeng. Entah darimana dia mendapatkan topeng itu, tapi topeng yang di pakainya sama persis dengan topeng yang di pakai ketiga temanya.
Bindusara di dampingi Justin, Helena, Khorasan dan perdana menteri memasuki aula. Diantara rombongan para dayang, terlihat Dharma yang berjalan di belakang Justin sambil memegangi selendang untuk menutupi wajahnya. Semua orang menyambut Samrat. Samrat duduk di tahtanya lalu berkata kalau semua orang berdoa untuk keselamatannya, dia mengucapkan terima kasih untuk itu. Bindu memerintahkan agar perayaan di mulai. Tapi tiba-tiba Chanakya dan Radha gupta datang memasuki aula. Semua orang berdiri memberi Achari salam hormat, Begitu juga samrat, dia berdiri dan memberi salam pad Chanakya. Chanakya tersenyum, mengangkat tangan sambil berkata,  "aku ingin memberimu hadiah pad akesempatan ini, tapi sebagai acharya aku hanya akan memberimu berkat." Bindu menjawab kalau berkat Achari ternilai harganya. Chanakya hendak beranjak ke tempat duduknya ketika Helena menghampirinya. Dengan arogan dia berkata pada Chanakya kalau dulu  chanakya pernah duduk di samping Samrat, tetapi sekarang dia duduk jauh darinya. Helena tahu betapa Chanakya berusaha keras untuk merebut posisi itu kembali, tapi semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Chanakya hanya tersenyum. Sebelum pergi, dengan penuh percaya diri Helena memberitahu Chanakya  kalau kini semua ada di bawah kendalinya. Sambil tersenyum licik, helena kembali ke tempat duduknya. Chanakya menarik nafas lega.
Charumitra memasuki aula di dampingi Sushim. Dia langsung menghadap Bindusara dan berkata kalau Sushim sangat senang Bindu pergi berkuda denganya. Bindu menjawad dengan diplomatis meskipun dirinya samrat, tapi dia juga seorang ayah. Dan Sushim adalah putra sulungnya. Charu menyahut cepat, "senang rasanya melihat Anda memberinya hak sebagai putra sulung, karena aku tidak pernah mendapatkan hak ku sebagai istsri pertama." Bindu tersenyum pengertian, lalu meminta Charu duduk disampingnya. Charu menurut. Kesempatan itu di gunakan Charu untuk menyempaikan isi hatinya pada Bindu. Charu berkata kalau dirinya sangat khawatir dengan nasib Sushim kalau sampai terjadi sesuatu pada Samrat. Karena hanya dia seorang yang memikirkan kebaikan Sushim. Helena menegur Charu karena berbicara tentang kesehatan Bindu seperti itu. Charu membela diri, "ketika seorang ibu bicara, dia tidak memikirkan hal lain lagi." Helena berkata, "tapi kau seharusnya melihat situasi." Bindu menengahi dengan bertanya kalau-kalau Charumitra ingin meminta sesuatu yang lain. Charu mengangguk, dia ingin Bindu mengumumkan Sushim sebagai berikutnya. Semua orang tertegun. Noor muncul bersama Siamak. Mendengar pemintaan Charu Noor langsung menyela, "mengapa mengabaikan pangeran Siamak ketika bicara tentang samrat berikutnya?" Charu menoleh kearah Noor dan berkata kalau pembicaraan ini membuatnya khawatir, "Sushim adalah putra tertua, dia berhak atas tahta." Noor menyahut dengan pedas, "dia mungkin putra tertua, tapi dia yang gemilang yang harus menduduki tahta. Dan Sushim...aku dengar Sushim kalah dari anak biasa..."  Noor mengatakan kalau saat ini adalah saat yang tepat untuk mengumumkan samrat berikutnya. Biarlah ada kompetisi antara Sushim dan Siamak, yang menang diantara merekalah yang berhak menjadi Samrat. Perseteruan terang-terangan pun di mulai. Sushim dan Siamak saling berpandangan dengan tatapan penuh rasa bermusuhan. Masing-masing ingin terlihat garang bagi yang lainnya. Tiba-tiba tanpa peringatan, Sushim mencabut belati dan melempatkannya kearah Siamak. Semua yang hadir terkejut. Tapi Siamak berhasil menghindar, belati itu melayang melewati siamak dan di tangkap oleh sebuah tangan penuh lukisan... tangan seorang anak yang memakai topeng.... tangan Ashoka.......Sinopsis Ashoka Samrat episode 11

Sinopsis Ashoka Samrat episode 9 by Sally Diandra

episod yang ini lagi seru banget, ada adegan rush-nya lagi, aku suka! jadi harus pelajari juga tu adegan getuannya to? hm, kayaknya banyak yang cariin aku deh napa ilang sana-sini. cus tiap tanggal 1 kan aku ganti jadwal getuh. jadi sabar ya napa aku ga balas sana-situ. ntar kalo aku buka akun-akunnya pasti aku balas, jangan ngambek plis. bukannya cuek juga sih, aku orangnya ikutin jadwal yang aku komitmenkan. n sekarang jadwalnya nulis novel epik kolosal, jadi aku ga posting info lomba menulis dulu...
 
https://www.youtube.com/watch?v=0_dg-WFmYjs&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ&index=9

Sinopsis Ashoka Samrat episode  9 by Sally Diandra. Dharma bersembunyi dibalik pilar pilar besar agar tidak terlihat oleh Khurasan, para prajurit berjalan kesana kemari, Khurasan bertanya pada para prajurit “Apa yang terjadi ?”, “Disana ada seorang monster buas yang membawa anak itu pergi dan kami juga menemukan kepala kepala, dia ada disini !” ujar prajurit, Dharma yang bersembunyi nampak panik “Samrat saat ini masih kurang sehat, dia tidak boleh tahu tentang hal ini, aku akan menangani masalah ini, lindungi pangeran Sushima dan pangeran Siamak” perintah Khurasan
Ashoka sedang berada diruang sidang, dia duduk disinggasana Maharaja, Ashoka bersandiwara layaknya seorang Samrat dan berkata “Kamu penjaga toko yang telah menipu, kamu akan dihukum!” tepat pada saat itu Acharaya mengintip tingkah lakunya dari balik pintu bersama Radhagupta, muridnya. Rhadagupta tertawa melihat tingkah laku Ashoka yang pura pura menjadi Samrat, tak lama kemudian Acharaya keluar dari persembunyiannya dan menemui Ashoka, Ashoka terkejut begitu melihat Acharaya berdiri diepan pintu, para prajurit juga tiba disana “Tangkap anak itu !” perintah Acharaya lantang, para prajurit bergegas mengejar Ashoka “Kamu selalu menghianati aku !” ujar Ashoka sambil melompat dan menghindar dari kepungan para prajurit, Acharaya sangat terkesan melihatnya, Ashoka membuat semua prajurit berlari lari mengejarnya kesana kemari, Radhagupta yang penasaran dengan tujuan Acharaya mulai bertanya “Acharaya, mengapa kamu melakukan ini semua ?”, “Dia selalu mencoba untuk bertemu dengan ibunya” pada saat itu Dharma datang menemui Acharaya dan berkata “Ini adalah tindakan yang kejam untuk seorang anak kecil dengan tidak membiarkan aku bertemu dengannya”, “Kamu telah memberikan janjimu, ini semua untuk perlindungannya, kamu harus menjauh darinya untuk keselamatannya, selama aku masih hidup maka dia akan tetap aman” ujar Acharaya “Aku percaya padamu tapi ketika Samrat tidak selamat lalu bagaimana dengan Ashoka” Dharma sangat panik “Tidak ada tempat untuk keragu raguan ketika kamu sudah mempercayai seseorang, Dewi”, “Selama ini kami hidup bahagia di Vann, kamu telah melibatkan kami dalam masalah dengan membawa kami kesini” Dharma kelihatan sedih “Ashoka tahu bagaimana cara keluar dari masalah ini” ujar Acharaya dan berlalu meninggalkannya.
Saat itu Ashoka bersembunyi dari para prajurit, Ashoka melihat Helena sedang berbicara dengan Bindusara, Bindusara melihat ada sekelebat bayangan “Heiii ! Siapa itu ? Keluarlah !” perintah Bindusara, Ashoka segera meninggalkan tempat tersebut secara diam diam. “Acharaya saat ini telah amat sangat melewati batas, Bindusara” ujar Helena “Dia itu orang yang baik, ibu” ujar Bindusara “Acharaya telah membunuh banyak orang, aku tidak percaya padanya sepenuhnya, mengapa dia kembali lagi setelah berbagai macam alasan, apa alasannya ?”, “Permasalahan dalam kehidupankulah yang telah membawanya kembali”, “Mungkin dia mengira bahwa kamu tidak layak menjadi seorang Samrat dan dia pikir seseoranglah yang seharusnya menjadi Samrat” Helena berupaya meracuni pikiran Bindu agar membenci Acharaya “Aku percaya padanya” ujar Bindu, Helena nampak tidak suka dengan ucapan Bindu, Helena menjauhi Bindu dan pura pura sedih “Kamu lebih mempercayai dia daripada aku ? Kamu memiliki kekuasaan, Acharaya memiliki kekuasaan, sedangkan aku, aku hanya seorang ibu, aku mengkhawatirkan kamu, besok adalah pesta perayaan penyambutan kepulanganmu kembali akan tetapi aku tidak mempunyai hak sepenuhnya padamu, jika aku adalah ibu kandungmu maka kamu seharusnya memikirkan aku lebih serius” ujar Helena dengan nada memelas “Ibu, kamu memang adalah ibuku yang sesungguhnya, kamulah yang paling berharga untukku, aku mohon tolong jangan meminta aku untuk memilih antara kamu dengan Acharaya, aku membutuhkan kamu dan Magadha membutuhkan Acharaya” ujar Bindusara sambil melipat tangannya didepan dada memohon pada Helena yang saat itu menoleh dan berjalan mendekati Bindu, tak lama kemudian Dharma menemui mereka dan berkata “Maaf mengganggu anda, tapi ini saatnya pengobatan” ujar Dharma sambil menutupi wajahnya dengan dupattanya, Helena mendekatinya dan berkata “Acharaya dan Maharaja percaya padamu, jangan sampai kamu menipunya !” ujar Helena, Dharma menganggukkan kepalanya.
Didalam istana, ada seorang anak yang memasuki kamar ibu Ratu Helena, anak tersebut merasa takjub dengan dekorasi kamar ibu Ratu Helena yang sangat indah, anak yang bernama Bal Govin itu berkata dalam hati “Ibu Ratu Helena pasti akan senang dengan aku, dia pasti akan memberikan aku hadiah, aku tidak bodoh” tepat pada saat itu prajurit datang kesana dan bertanya “Sedang apa kamu disini ? Hey kamu tidak boleh datang ke istana ini dengan pakaian seperti ini ! Apakah kamu kesini mau mencuri ?” Bal Govin panik “Tidak ! Aku datang kesini untuk pekerjaan penting dengan ibu Ratu Helena”, “Kamu bohong pada kami !” para prajurit tidak percaya dengan Bal Govin “Aku bekerja di istal kuda, kamu bisa bertanya pada ibu Ratu Helena” prajurit akhirnya mengijinkan Bal Govin pergi “Baiklah kalau begitu, pergi dari sini !” Bal Govin segera meninggalkan tempat tersebut.
Bal Govin sudah berada diluar ruangan, dirinya merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dan tiba tiba Bal Govin melihat bayangan seseorang yang sangat misterius mendatangi tempat itu dengan jubah hitamnya, Bal Govin sangat panik dan berusaha melarikan diri dari tempat itu, namun apa daya dirinya dibawa oleh pria misterius tersebut.
Maharaja Bindusara sedang berada dikamarnya menatap rembulan melalui celah jendela kamarnya, dirinya sangat merindukan Dharma, lagu Tum Hi To Mere Ho pun mulai terdengar, Dharma menemui Bindusara, hendak melakukan pengobatan, Bindu berbaring ditempat tidur, Dharma mengobati Bindu dan berkata “Luka anda berdarah, Maharaja”, “Aku sudah terbiasa dengan darah dan bila darah itu keluar untuk bangsaku maka aku tidak peduli” ujar Bindu sendu “Kadang kadang merasa menderita memang lebih baik” ujar Dharma sambil mengobati luka Bindu “Ketika rakyat melihat seorang Maharaja, mereka melihat kemewahannya, mereka melihat keuntungannya akan tetapi mereka tidak melihat permasalahan yang ada pada tahtanya dimana dia harus menghadapi semua persoalan ini, akan tetapi diatas semua itu aku telah menderita kehilangan Dharma” Dharma yang mendengarkan sedari tadi terkejut “Aku telah memberikan kehidupanku untuknya, aku telah memberikan nyawaku, cintaku untuknya dan aku telah menjauh darinya bahkan hari ini, aku telah meninggalkannya atas desakkannya” Dharma teringat ketika dulu dia meminta Bindu untuk pulang memerintah Magadha kembali dan meninggalkannya “Aku telah melakukan semuanya apa yang seorang Maharaja harus lakukan akan tetapi setelah 14 tahu, aku masih menderita kehilangan Dharma” Dharma benar benar panik, Bindusara kemudian bangun dan tidak sengaja tangannya menyentuh pipi Dharma, Bindusara terkejut dan teringat bagaimana ketika dulu dirinya menyentuh wajah Dharma, Dharma segera menutupi kembali wajahnya, ketika Bindusara hendak menyentuh wajah Dharma lagi, Dharma menghindar dan berkata “Saya akan datang lagi dengan obat obatan yang lain”, “Mengapa aku merasa aku pernah kenal denganmu ?”, “Saya telah mengobati anda selama beberapa hari mungkin anda baru mulai menyadari keberadaan saya” ujar Dharma sambil masih terus menutupi wajahnya kemudian pergi meninggalkan Bindusara “Tidak, aku telah melihatnya di ruang sidang tapi kenapa aku masih merasa bahwa dia adalah Dharma ? Mungkin ini hanya imaginasiku saja” ujar Bindu sedih
Ashoka kembali ke istal kuda, dia menemukan seorang anak yang sedang menangis “Jangan takut padaku” salah satu anak berkata “Setelah Bal Govin, mereka pasti akan mengambil aku juga” Ashoka kaget “Apa ? Dimana Bal Govin ?” salah satu anak menunjuk kesebuah tembok dimana terdapat gambar tengkorak menempel ditembok tersebut “Ini adalah tanda dari hewan buas itu, dia telah mengambil Bal Govin” ujar anak tersebut “Aku tidak pernah melihat hewan buas di Vann (tempat tinggal Ashoka), apakah kamu pernah melihatnya ?”, “Seseorang yang bisa melihatnya akan dibunuh ! Dulu dia mengambil dua teman kami dan sekarang dia mengambil Bal Govin, kami tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada mereka”.
Pada saat itu Bal Govin sedang diikat dalam sebuah ruangan, seorang pria misterius menemuinya, pria itu mengenakan pakaian bergambar tengkorak dengan aksesoris tulang tulang manusia melingkar dilehernya, Bal Govin berteriak ketakutan, ditempat Ashoka dan teman teman barunya, Ashoka berkata “Tidak ada hewan buas yang masih ada sekarang”, “Lalu kemana anak anak itu pergi ?” tanya salah satu anak. Ditempat Bal Govin disekap, Bal Govin meminta pada pria misterius untuk melepaskan dirinya “Aku membawa anak anak kesini untuk menikmati penderitaan mereka” kembali pria misterius itu mencambuk Bal Govin.
Sementara itu di tempat Ashoka, Ashoka masih tidak percaya kalau ada hewan buas “Itu hanya mitos belaka, Bal Govin pasti melarikan diri dari sini, apakah kamu semua ingin tinggal disini ? Dia pasti telah merencanakan untuk melarikan diri dari sini” Ashoka mencoba menghibur teman temannya yang panik “Bagaimana dengan tanda ini ?” tanya salah satu anak “Ini pasti telah direncanakan oleh dia, jika aku tahu lebih dulu cerita ini maka aku akan melarikan diri juga seperti Bal Govin” Ashoka masih mencoba mencairkan ketegangan yang dirasakan oleh teman temannya dan tak lama kemudian diapun pergi meninggalkan teman teman barunya itu yang masih panik memikirkan hewan buas yang akan segera menyerang mereka.
Sushima saat itu juga hendak pergi tidur, Charumitra (ibu kandung Sushima) menemuinya dan menyalakan lilin yang melingkar dikamar di Sushima dan berkata “Tidak baik bila calon Maharaja tidur terlalu malam”, “Aku tidak ingin ada yang mencampuri urusan pribadiku !” ujar Sushima marah “Kamu adalah anakku, kamu seharusnya menghormati aku, ibumu!”, “Lebih baik kita ngobrolnya besok pagi saja” Sushima enggan berdebat dengan ibunya itu langsung menarik selimut menutupi tubuhnya, Charumitra langsung menarik selimut tersebut “Saat ibu berusia 16 tahun, ibu sangat mendambakan sebuah cinta, ibu harus menanggung semua ini hingga akhirnya kamu menjadi Maharaja”, “Apa yang ibu inginkan akan ibu dapatkan, aku akan menjadi Maharaja” ujar Sushima optimistis “Itu adalah tugasku, untuk mengatakan padamu apa bedanya antara kasar dan perilaku, ingat jika ayahmu tahu tentang rahasiamu ini, dia tidak akan menjadikan kamu raja, kamu harus memperbaiki sifatmu, keamanan sangat ketat, jangan buat kesalahan yang bodoh yang akan membuatmu menyesal seumur hidup karena ibu tidak akan bisa menerima kalau kamu tidak menjadi Maharaja !” ujar Charumitra kesal kemudian berlalu meninggalkan Sushima, Sushima teringat ketika ibunya mengatakan bahwa dirinya harus memperbaiki sikapnya, Sushima berteriak “Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan aku menjadi seorang Samrat ! Tidak juga ayahku !” teriak Sushima lantang
Keesokan harinya Ashoka sedang tertidur diistal kuda, Ashoka merasa kegelian karena jilatan kuda yang berada didekatnya, tepat pada saat itu seorang prajurit datang menghampirinya dan menendang tempat tidur Ashoka, membuat Ashoka terjatuh dari tempat tidurnya “Bangun ! Ayo kerja !” Ashoka segera bangun dan memulai bekerja sambil bergumam “Aku baru saja mimpi indah tadi”
Didalam istana, ketika Sushima hendak menemui ayahnya dikamarnya, didepan pintu Sushima bertemu Dharma yang menutupi wajahnya sambil berkata “Maharaja sedang beristirahat, jangan ganggu dia, pangeran” Sushima marah “Jangan pernah untuk berani melakukan kesalahan, pelayan !” ujar Sushima sambil menyeruak masuk kekamar Bindusara “Orang orang bilang kalau ayah sakit tapi aku merasa ayah sudah siap untuk pergi keluar denganku, ayoo kita pergi keluar seperti yang biasa kita lakukan setiap hari” Bindusara mendekati anaknya “Sushima anakku, kamu sangat senang sekali pergi keluar dan aku tidak pernah berkata tidak padamu, ayah pasti akan pergi dengan kamu” Dharma masuk ke kamar Bindu sambil menutupi wajahnya dan berkata “Luka anda masih belum sembuh benar, tidak baik kalau anda pergi keluar, Samrat” Bindu tersenyum “Aku tidak pernah punya waktu untuk bersama sama dengan anakku, jadi aku tidak bisa menolak keinginan anakku hanya karena lukaku ini, aku tidak khawatir tentang lukaku ini karena kamu ada disini” ujar Bindu sambil berlalu meninggalkan tempat tersebut, Sushima yang mengekor dibelakang ayahnya menatap tajam kearah Dharma dengan muka kesalnya sambil berlalu dari sana.
Ashoka masih ada di istal kuda, Ashoka mendekati kuda yang hendak ditunggangi oleh Samrat Bindusara, kuda itu namanya Gul Bhushan “Kamu ini juga Samrat berkaki empat, aku juga Samrat dan jika kita berdua saling menghormati satu sama lain maka itu akan baik” ujar Ashoka sambil berusaha menaruh pelana diatas punggung Gul Bhushan namun Gul Bhushan menolak sambil meringkik, Gul Bhushan tidak ingin disentuh sama Ashoka, kembali Ashoka mencoba namun gagal lagi, anak anak yang lain yang bekerja di istal kuda itu tertawa melihat tingkah Ashoka “Kamu ini jangan keras kepala ! Baiklah aku akan mencoba cara yang lain” Ashoka kemudian mengambil makanan dan memberikannya ke kuda tersebut, Gul Bhushan memakan makanan yang diberikan Ashoka melalui tangan Ashoka, ketika si kuda sedang asyik makan, secepat kilat Ashoka menaruh pelana kuda dipunggung Gul Bhushan, Gul Bhushan tidak menolak, Ashoka sangat senang akhirnya misinya sukses, anak anak yang tadi mentertawakannya terperangah melihat usaha Ashoka “Lihat ! Gul Bhushan bisa aku tangani” ujar Ashoka dengan senyuman khasnya tepat pada saat itu Bindusara memasuki istal kuda dan berkata “Tidak mudah untuk mengatasi Gul Bhushan”, “Bal Govin tidak ada disini jadi akulah yang mengurusi Gul Bhushan” ujar Ashoka bangga “Jadi Samrat dari negara Vann bekerja untukku ?” ujar Bindu sambil mendekati Ashoka “Segera setelah saya membayar hutang saya, saya akan terbang dari sini” Bindu tersenyum, pada saat itu Dharma juga masuk kedalam istal kuda, namun bersembunyi dibalik tumpukan jerami, Dharma sangat senang melihat pembicaraan Bindu dan Ashoka yang terlihat akrab, tak lama kemudian Ashoka memberikan tangannya untuk Bindu agar bisa memanjat kekudanya, Bindu segera naik keatas kudanya. Sushima yang melihat perlakuan Ashoka ke Bindu segera memanggil Ashoka dan meminta Ashoka untuk memberikan tangannya juga untuknya agar dia bisa memanjat ke kudanya, ketika Sushima sudah naik kekudanya, Sushima langsung menendang Ashoka, semua yang melihatnya terkejut, Ashoka jatuh terjerembab ke tanah “Kamu tidak bisa mengurusi dirimu sendiri, bagaimana bisa kamu mengurusi kuda ?” ejek Sushima dengan tatapan sinisnya, Bindu menghampiri mereka “Kamu memang belum terbiasa dengan kuda tapi kamu akan tahu tentang mereka” ujar Bindu “Tidak ! Kudamu tidak mengenal aku, mereka tidak terbiasa denganku, aku ini Pawan, aku lebih cepat daripada kuda makanya mereka itu cemburu padaku” ujar Ashoka bangga “Jadi kamu mau balapan dengan kudaku Shera ?” Sushima menantang Ashoka “Jangan, itu tidak akan sama, Ashoka dengan kakinya sendiri sementara kamu dengan kudamu, itu tidak baik” Bindusara mencoba melerai mereka berdua “Aku terima tantangan pangeran Sushima, Samrat !”, “Aku bukan pangeran tapi Yuvraj Sushima !” bentak Sushima.
Ditengah lapangan, Ashoka sudah siap bertanding dengan Sushima yang mengendarai kudanya, Shera “Aku akan menunggu kalian berdua digaris finish” ujar Bindusara sambil bersiap memberikan aba aba dengan benderanya, tak lama kemudian pertandinganpun dimulai, Ashoka berlari sekuat tenaga sementara Sushima memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, Ashoka kemudian mengganti haluan larinya melalui jalur alternatif yang membuatnya mencapai garis finish terlebih dahulu, Ashoka berjalan didepan Sushima dan berhasil menginjak garis finish, Bindusara yang sudah menanti kedatangan mereka merasa senang begitu melihat Ashoka memenangkan pertandingan, Ashoka lari kearah Bindusara dan terjatuh dalam pelukan Bindu, Bindu segera memegangnya lalu menyuruhnya untuk duduk diatas batu, dilihatnya kaki Ashoka berdarah, Bindu berlutut lalu membersihkan luka Ashoka dengan jubahnya, Ashoka tersenyum kearah Bindu “Ayah, apa yang kamu lakukan ?” Sushima yang masih menunggangi kudanya tidak suka ketika melihat ayahnya berlutut dan membersihkan luka di kaki Ashoka “Ini apa yang dilakukan oleh seorang Samrat pada Samrat yang lain” ujar Bindu sambil melirik kearah Ashoka, Ashoka tersenyum dengan senyuman khasnya dan teringat ketika dirinya berkata pada Bindusara kalau dirinya adalah Samrat “Seperti yang seharusnya Samrat lakukan pada Samrat yang lain” ujar Ashoka, ayah anak yang tidak saling mengenal ini saling tersenyum satu sama lain. Sinopsis Ashoka Samrat episode  10

Kamis, 23 Juli 2015

Sinopsis Ashoka Samrat episode 8

nonton ASHOKA versi india tiap pagi sambil sarapan dan bersihkan kamar. nunggu di tv jam setenga 10 malam tu pun dah ngantuk cus krisna lama amat mainnya. ashoka n joda hanya main 1 kali aja :'( padahal lagi seru2nya. krisna kayaknya 3 kali mainnya :'( jadi bobo2 dulu ampe main ashoka :'( cus ga suka ama krisna. mamaku juga ampe kesel ama krisna moga cepet habis ya. mama tu doyan amatlah ama ashoka. teneng aja, ntar novel epik kolosalku kuusahakan sekeren ASHOKA! duh, kepedeannya dah kayak ashoka ya...
 
https://www.youtube.com/watch?v=QkfshAfPoKs&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ&index=8

Sinopsis Ashoka Samrat episode 8. Helena sedang berdiri di depan jendela dengan wajah sedih. Justin menghampirinya dan dengan rasa heran bertanya, "ada apa ibu? Kenapa menangis?" Helena memberitahu Justin kalau dirinya baaru 16 tahun ketika ayahnya, Nikator di kalahkan oleh Chandragupta Maurya. Dan untuk perdamaian, Nikator mengorbankan Helena dengan menikahkannya dengan Chandragupta tanpa bertanya apakah dia mau menikahi chandragupta atau tidak, "bagi Samrat Chandragupta aku adalah piala kemenangan, dan tetap menyandang status itu sampai akhir hayatnya. Ayahku dan suamiku tidak mmenghormatiku, tapi aku punya harapan dari anakku, tapi sekarang kupikir dia tidak lagi menghormatiku. Dia tidak akan membalas dendam atas apapun yang terjadi padaku." Sambil berkata begitu Helena menangis dan jatuh terduduk di kursi. Justi bergegas menghampirinya dan berkata, "ibu, aku berjanji padamu, saatnya akan tiba untuk kita memerintah mereka." Mendengar itu, Helena tersenyum.
Persiapan untuk pergike Patliputra sudah di mulai. Semua orang sibuk bersiap. Chanakya dan Radhagupta sedang berbincang-bincang. Radhagupta berkata, "anda menyelamatkan Ashok tapi dia kabur begitu saja." Chanakya menyahut, "sangat susah untuk memahami dia." Tiba-tiba terdengar suara Ashok menyela, "sangat susah juga untuk membahami anda." Chankay dan Radhagupta menoleh kearah datangnya suara. Mereka menemukan Ashok sedang duduk diatas lemari dengan santainya. Melihat itu, Chanakya berdiri sambil bersendekap sambil mengamati Ashok. Ashok balas menatap Chankay dengan tatapan lugunya sambil berkata, "dengan panah itu anda bisa terbunuh, tapi untuk membuktikan kalau aku tidak bersalah, anda membahayakan hidup anda. Kenapa? Apa hubungan kita? Aku ini apa anda?" Chanakya dengan diplomatis menjawab, "aku hanya mebela yang benar, anakku." dengan nada menyesal, Ashok berkata, "...kini aku harus melayani Samrat Bindusara." Chanakay balas berkata, "kau menghina prajurit karena itu mendapat hukuman." Ashok menjawab dengan ringan kalau dia melakukan itu semua juga karena chankya, "anda kembalikan ibuku dan aku akan pergi dari sini." Chanakya mencegah, "tidak. Kau harus dengan kami ke Patliputra." Ashok menyahut, "aku akan pergi kesana ketika aku menjadi samrat." Chanakya menatapnya dengan tatapan yang susah untuk di mengerti. Dharma datang. Chankya yang mendengar bunyi gelang kakinya segera menoleh. Dharma memandang kearah mana Cahankya dan Radahgupta menatap sebelum menoleh padanya. Dia terkejut melihat Ashok duduk diatas lemari, "Ashok!" Ashok pun tertegun melihat Dharma, matanya berbinar-binar penuh bahagia. Dharma menghampiri Ashok dan menyuruhnya turun. Ashok masihh tertagun. Dharma memintanya turun sekali lagi. Lalu dengan gesit Ashok meloncat turun dari atas lemari dan mendarat tepat di depan Dharma. Dengan penuh haru ibu dan anak itu saling berpelukan. Chanakya yang melihat itu ikut terharu. Sambil melepas pelukannya, Dharma berkata, "nak, mulai sekarang kau harus mendengarkan perinta Achari." Ashok menuding kearah Chanakya dengan tatapan menuduh, "dia memaksamu mengatakan ini, bu?" Dharma menjawab, "tidak, nak. Bagiku keselamatanmu adalah yang paling penting. Aku telah memberinya tanggungjawab atasmu. Seseorang yang dapat menempatkan hidupnya dalam bahaya demi dirimu akan membuatmu menjadi orang hebat... ~Ashok hendak membantah, tapi Dharma tidak memberinya kesempatan~  Dia memikirkan dirimu dan Magadha saja. Berjanjilah padaku, Ashok. Kau akan menuruti semua perinta Achari. Berjanjilah!" Dharma mengulurkan tanganya. Ashok menatapnya lama sekali. Dharma menunggu dengan tangan menggantung di udara. Tak tega menolak permintaan ibunya, Ashok kemudian menggenggam tangan Dharma dan berjanji kalau dia akan menuruti apapun yang diminta Dharma, "keinginamu adalah perintah bagiku. Tugasku adalah mengikuti kata-katamu. Saya akan melakukan apapun yang kau suruh. Tapi... apakah aku tidak bisa berkata tidak pada Achari selamanya?" Dharma tersenyum, "ketika kau bingung saat menegakan keadilan, turutilah kata hatimu." Dharma melepas genggaman tangan Ashok dan pergi meninggalkanya dengan wajah sedih. Ashok mengejarnya, tapi Radhagupta menarik tanganya. Ashok menatap radhagupta dengan garang. tapi saat melihat Chanakya, tatapannya meredup. Dan dia tanpa di perintah melangkah mendekat. Chanakya memberitahu Ashok kalau ibunya akan datang ke Patliputra juga. Ashok terlihat senang. Chankaya melanjutkan kalimatnya, "tapi kau tidak akan bertemu denganya. Kau juga tidak boleh memberitahu siapapun tentang dia. Kau tidak punya hubungan apapun denganya. Ashok dengan sedih berteriak memanggil ibunya, 'ma..!" Dharma menghentikan langkahnya mendengar panggilan Ashok dan menangis sedih. Ashokpun menangis.Dharma menguatkan dirinya, dia menghapus airmatanya dan bergegas pergi dasri sana.
Akhirnya rombongan Bindusara tiba di Patliputra. Sepanjang perjalana, rakyat mengelu-elukan rajanya. Ashok dan Dhrma meski dalam barisan berbeda terlihat berjalan dalam rombongan itu. Noor dan Helena duduk diatas tandu. Sesekali mereka mengintip keluar melihat keriuhan massa. Di istana, ratu Charumitra menyambut rombongan Samrat. Achari Chanakya turun dari kudanya dan menyentuh tanah Patliputra sasmbil berkata kalau bertahun-tahun lalu dia berjanji akan hidup demi tanah ini, "hari ini, aku membawa seseorang yang akan menjagamu." Di belakangnya, Ashok memasuki istana berdampingan dengan radhagupta. radha megingatkan Ashok kalau dia bukan samrat di sini, tapi tahanan. Ashok dengan penuh percaya diri menyahut, "bagaimana kalau aku segera menjadi samrat di sini?" menengar itu, Radhagupta hanya tersenyum penuh arti.
Dharma bersama para dayang memasuki gerbang istana. Dia lewat di samping Chanakya tapi tidak menyadari keberadaanya. Chanakya menegurnya, "apakah anda tidak suka berada di sini, dewi?" Dharma memberitahu kalau bertahun-tahun dirinya melindungii Ashok dari semua ini, "saya tidak tahu apakah saya melakukan hal benar atau salah, Achari. Tapi saya tidak ingin keputusan ini menjadi kesalahan terbesar saya." Tanpa menunggu sahutan Chanakya, Dharma bergegas melangkah pergi.
Ratu Charumitra melakukan arti untuk menyambut Bindusara. Smeua menanti dengans abar hingga upacara selesai. Ratu Noor terlihat kesal. Dharma yang menyaksikan upacara itu terlihat cemas. Charumitra sendiri terlihat bahagia. Setelah arti selesai, charumitra berkata kalau dirinya sangat senang Samrat sudah kembali, apalagi dia terlihat fit dan tiak kurang suatu apa. Bincusara tersenyum. lalu dia menggandeng Charumitra memasuki gerbang istana.
Radhagupta membawa Ashok kekandang kuda. Ashok bertanya mengapa dirinya kesini? Dia memuji kalau kuda di istal itu bagus-bagus, hanya aja dia tidak tahu, untuk apa dia di bawa ke kandang. Radha memanggil Yadupati, jurukunci istal. Radha memberitahu yadupati kalau Ashok akan bekerja di kandang kuda sebagai hukuman. Ashok kaget, "apa? tapi mereka bau!" Radhagupta berkata kalau itu adalah tugas ashok untuk membersihkannya. Tanpa pamit, Radhagupta meninggalkan Ashok.
Yadupati bertanya siapa nama Ashok. Dengan angkuh Ashok menjawab kalau namanya Samrat. Mendengar Ashok menyebut namanya, anak-anak yang bekerja di istal menertawakannya. Yadupati terlihat sabar walaupun sedikit kesal berkata kalau dirinya akan melihat samrat seperti apa Ashok, dia menyuruh Ashok memberi makan kuda Gul Busha. Anak-anak tertegun. Salah seorang anak bernama Bhavin menyela, "tapi Gul Bushan.." Yadupati menyuruhnya diam. Dia menyuruh anak itu mengantar Ashok memberi makan kuda Gul Bushan. Ashok mengambil pakan kuda lalau mendekati kuda putih yang meringkik tegang. Ashok mendekati kuda oitu dari belajkang dan memanggil namanya. Telinga kuda langsung tegak. Ashok berkata kalau Gul Bushan beruntung mendapat makan dari tangan Samrat masadepan. tanpa peringatan Gul bushan menendang Ashoka hingga Ashoka terpelanting dan jatuh diatas kotoran kuda. Yadupati dan semua anak-anak tertawa. hanya anak yang membantu menunjukan kuda Gul Bushan saja yang terlihat prihatin. Ashok menatap yadupati dan anak-anak yang menertawakannya. Merasa tertantang, Ashoka mencoba lagi. Kali inipun sama, Gul bushan menenang Ashoka sampai dia memecahkan kendi air. Anak-anak bergantian memberitahu Ashok kalau Gul Busha adalah kuda kesayangan Bindusara dan hanya bindusara yang mampu mengendalikannya. Mendengar itu Ashok mendekati Gul Bushan dari depan. Dia bertanya pad asi kuda apakah Bindu yang menaikinya atau dia di naiki bindusara? Dengan keangkuhana yang sudah menjadi cirikhasnya, Ashok berkata kalau suatu saat Gul Bushan akan berada di bawah kendalinya.
Bindu masuk kekamarnya. Dia melepas atribut kebesarannya satu persatu dan memberikannya pada pelayan. Dia kemudian hendak berbaring di tempat tidur. Tapi ketika dia sudah duduk di tepi ranjang dan hendak menarik badannya, dia menjerit kesakitan. Dharma mendengar jeritan itu. Cepat-cepat dia berlari menghampiri samrat. Dharma melihat luka bindu kembali mengeluarkan darah. Dharma cepat-cepat mengambil obat. Dengan cekatan dia melap darah di perut Bindu dan mengoleskan obat. Dharma menenangkan Bindu. Bindusara mengerang kesakitan sambil mencengkeram tangan Dharma. Dharma amenjadi gugup dan tegang. Sambil menahan sedih, Dharma menahan sakit akibat cengkeraman tangan Bindu. Cengkeraman itu baru lepas setelah Bindu tidak lagi merasa sakit.
Setelah tenang, Bindu menoleh kearah Dharma yang masih menutupi wajahnya dengan kerundung. Samrat berkata, "kau menyelamatkan nyawa Samrat, kau bisa minta apa saja...apa saja." Dharma amenyahut, "tinggalkan kekerasan, ikuti jalan damai." Mendengar kata-kata Dharma, bindu teringat bagaimana Dharmanya mengatakan kalimaat yang sama berberapa tahun yang lalu. Dengan rasa ingin tahu, bindusara bertanya, "siapa dirimu?" Dharma dengan gugup mengatakan kalau namanya "Subhadrangi..." dengan tatapan menerawang Bindu berkata, "aneh sekali. 14 tahun yang lalu seorang wanita menyelamatkan ku dan dia mirip denganmu. Kalau aku tidaka melihat wajahmu di pengadilan, aku pasti menyangkah kau adalah dirinya." Sambil berkata begitu, Bindusara membayangkan saat-saat bahagia bersama Dharma. Bindu berguman, "kau tak mungkin Dharma. Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Di atidak amenyukai kekerasan. Dan aku telah meninggalkan kekerasan untuknya. Aku samrat, aku berhutang padamu. Mintalah apapun.." Dharma menolak, dia tak mau meminta apapun. Bindu kemudian berjanji pad Dharma kalau dirinya akan menyelamatkan hidup seseorang di masadepan untuk Dharma.
Ratu Noor datang, Dharma segera menutupi wajahnya rapat-arapat. Noor meminta semua orang pergi. Setelah hanya berdua dengan Bindu, Noor berkata kalau setiap kali melihat Dharma, dia merasa tidak suka. Bindu mengatyakan kalau Dharma menyelamatkan hidupnya. Noor berkata kalau itu sudah tugasnya, "anda tidak perlu merasa berhutang apapun." Bindu menyela, "ini aneh, kau marah padanya tapi tidak pernah merasa cemburu pada Dharma." Mendengar kata-kata Bindu Noor tersenyum di depannya, tapi melirik geram  tanpa setahu Bindu..
Helena memanggil Bhavin dan menanyainya tentang Ashok, apakah ashok ada bicara? Bhavin menjawab, "ya". helena dengan antusia bertanya, "dengan siapa? Bhavin menjawab dengan Gul bhusan. Helena bertanya siapa Gul Bhusan? Bhavin mengatakan kalau Gul Bhusan adalah kuda Samrat. Helena berkata kalau dia bisa membebaskan Bhavin, tapi dengan syarat dia harus mencari informasi secara detail tentang Ashok. untuk itu Bhavin harus menjadi temannya, menanyakan misinya, dan mencari tahu apa hubungan Ashok dan Chanakya. Setelah mendengar perintah Helena secara detail, Bhavin pergi. Sepeninggal Bhavin, Helena berkata pada Justin, kalau sampai Bhavin tidak melakukan apa yang mereka suruh, mereka akan menghabisinya.
Ashok dan Bhavin tidur di depan kandang kuda. Bhavin sudah nyenyak tertidur. Tapi Ashok tidak dapat tidur karena bau. Ashok memanggil Bhavin, tapi Bhavin tidak terbangun akhirnya Ashok mengusir sepi dengan bicara pada Gul Bushan. Pada Gul Bushan, Ashok mengadu kalau Chanakya menjebaknya dengan denda yang sangat banyak sehingga dia harus membayar sepanjang denda itu spenajang hidupnya, tapi dia akan berupaya untuk melarikan diri dari tempat ini, "Gul Bhusan, aku tahu kau ingin bebas juga, katakan yang sebenarnya, apakah kau tidak merasa sesak nafas di sini?" Ashok berkata kalau ibunya berkata.... Ashok tak mampu melanjutkan kalimatnya, dia terlihat sedih dan memanggil Dharma dengan penuh kerinduan, "ma..." Di tempatnya, Dharma melihat bulan dan merasakan kerinduan yanag sama seperti yang di rasakan Ashok. Dharma hanya bisa menangis sedih. Di istal Ashok memanggil Dharma dan berniat menemukannya. Ashok pamitan pada Gul BHusan, dan melarangnya memberitahu siapapun kalau ada yang bertanya. Dengan mengendap-endap Ashok pergi dari istal. Bhavin terbangun dan melihat ashok keluar dengan pandangan curiga.
Ashok menyelinap kedalam istana. Dia mencoba menemukan Dharma. Karena bingung, Ashok berputar-putara dan tanpa sengaja menyengol obor hingga terjatuh. Prajurit muncul meneriakinya. Ashok kabur dari sana sambil berguman kalau prajurit- prajurit itu tak punya kerjaan selain mengejar dirinya. Ashok masuk ke ruang singgasana. Dia melihat tahta dan terpesona. Ashok mendekati tahta. Prajuroit datang. Ashok segera berlari ke belakang singgasana. Setelah prajurit pergi, Ashok merangkak keluar dari persembunyiannya. Chanakya dari tempat tersembunyi melihat Ashok merangkak dari belakang Singgasana persis seperti seekor singa yang pernah hadir dalam mimpinya dulu. Ashok berdiri di hadapan tehta dengan gagah. Dia menoleh kebelakang lalau duduk diatas tahta sambil bicara sendiri. Ashok berkata, "aku Samrat Vanraj memberi perintah agar Gul Bhusan di bebaskan. Aku menyuruh kalian menangkap Achari Chanakya dan mengharuskan dia membayar denda deng meminum Kadha buatan ibuku." Mendengar itu Chanakya tersenuyum. Radhagupta muncul di belakangnya dan bertanya, "apakah anda melihat samrta masadepan?" Chanakya mengangguk, "ya. Tapi Ashok masih jauh dari tujuan yang ingin di raihnya. Aku berdoa pada dewa semoga aku bisa melihat dia menjadi Samrat." Di atas tahtanya Ashok sedang bergaya laksana seorang samrat yang sedang mendengarkan kasus di pengadilan. Melihat itu Chanakya berpikir dengan mata berkaca-kaca menahan haru, "aku telah memenuhi janjiku pada Samrat Chandragupta untuk menemukan Samrat bagi Magadha. Sekarang aku akan menunggu hari penobatan ketika Ashok menjadi samrat. Sekarang masadepan Magadha ada di tangan yang aman."
Dharma sedang membuat ramuan di kamarnya ketika dia mendengar para prajurit ribut hendak menangkap anak kecil. Dharma langsung menduga kalau mereka akan menangkap Ashok. Tanpa pikir panjang, Dharma segera berlari keluar. Dia melihat prajurit hilir mudik. Dan ada Khorasan juga. Melihan Khorasan Dharma menghentikan langkahnya. Dharma lupa tidak membawa selendang. Khorasan menoleh, dia terkejut... Dharma terlihat tegang.... Sinopsis Ashoka Samrat episode 9

Rabu, 22 Juli 2015

Sinopsis Ashoka Samrat episode 7

aku ketiduran nungguin ASHOKA, tumben neh lama amat mainnya. kok krisna ampe jam setengah 10 sih?! karena kirain ga main ya uda de aku bobo aja. eh pas besoknya aku tanya mamaku, rupanya main kok! duh ketinggalan, tapi gak apalah. kata kokiku juga sih mainnya hanya 1 kali kan biasanya 2 kali. iya nih, kulihat jodha akbar juga 1 kali main. aneh! plis dong anteve, ASHOKA mainnya 2 kali seperti biasanya alias 1 jam. kalo perlu, jangan kemalaman, geser aja krisna sore2 biar ASHOKA main di jadwalnya krisna :'(
 
https://www.youtube.com/watch?v=1ftP8eTvGws&list=ELklHI1DlGOftEFqF6SNgLmQ

Sinopsis Ashoka Samrat episode 7. Achari chanakya memberitahu Dharma kalau musuh berencana menyerang Magadha. Samrat terlalu egois. Pertumpahan darah akan terjadi dan Ashoka adalah masadepan Magadha, karena itu takdirnya. Dharma memprotes, "anda berssikap egois dengan melibatkan Ashoka dalam masalah itu." Chanakya mengaku kalau dirinya egois, "semua untuk kebaikan Magadha." Dharma berkata, "anda tidak tahu Achari, apa yang dirasakan oleh seorang ibu pada anaknya." Chanakya menyahut, "Magadha seperti ibu bagiku, dan aku melakukan apa yang seorang anak harus lakukan. Aku memikirkan masadepan Magadha. Aku berpikir untuk menghacurkan musuh-musuh ini dan mengakhiri keegoisan dan egoisme ku sendiri. Seperti kau melindungi anakmu, seperti itu pula aku akan melindungi Magadha. Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Magadaha. Cintaku paa magadha tidk akan berkurang sedikitpun. Jika kau ingin membawa putramu pergi dari sini, silahkan, aku tak akan menghentikanmu, dewi." Dharma melipat tanganya memohon, "aku hanya ingin anakku selamat." Chanakya mengatakan kalau dia bisa melidungi Ashoka hanya jika Dharma mau memberikan hidup Ashoka di bawah kendalinya, demi masa depan. Dengan ragu Dharma bertanya, "jika keselamatannya terjamin?" Chanakya mengangguk, "kalau kau beri aku tanggung jawab itu, maka Ashok akan terlindungi dan kau bisa hidup bersama Bindusara. Ashok dan dirimu akan pergi ke Patliputra bersamaku dan aku akan mempersiapkan masa depan Ashok." Dharma bertanya, "kupikir dia akan berjuang untuk perdamaian." Achari Chanakya menyahut, "untuk menciptakan perdamaian terkadang kita harus menggunakan kekerasan." Mendengar itu Dharma menangis.
Samrat Bindusara memasuki ruang singgasana dengan di papah Justin dan Helena. langkahnya masih tertatih-tatih menahan sakit. Semua orang tersenyum gembira dan mengelu-elukannya. Bindu melihat Chanakya yang tersenyum, di depan Chanakya dia berhenti, memberi hormat dengan menundukan kepala takzim. Setelah itu Bindusara melanjutkan langkahnya dan duduk di singgasananya yang telah lama tidak dia duduki. Pada Chanakya, Bindu berkata, "saya melihatmu setelah 14 tahun dan itu juga ketika anda membela orang yang akan membunuhku." Chanakya dengan kalem menjawab, "aku mengambil sisi Samrat Chandragupta saat beliau berjuang untuk keadilan dan aku sedang melakukan hal yang sama." Bindu menjamin kalau keadilan pasti akan di tegakkan, "tubuhku terluka, tapi bukan pikiranku. Bawa anak itu kesini."

Kembali dengan tubuh terantai Ashok di bawah ke hadapan Samrat Bindusara. Ashok menatap lurus kearah Bindusara. Bindusarapun melakukan hal serupa. Ayah-anak yang tidak saling mengenal itu saling berpandangan. Khorasan menegurnya, "kau tidak tahu bagaimana bersikap di depan Samrat?" Ashok melipat tanganya di dada dan menundukan kepala untuk memberi hormat. Bindusara bernama, "siapa namau?" Ashok tanpa gentar menjawab, "saya yang membuat orang bebas dari rasa sakit.. Ashoka!" Bindu berkata, "kau di bawah ke pengadilan karena di duga menyerang aku. Kau coba membunuhku. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap padamu." Ashok menjawab, "bersikaplah seperti seorang samrat seharusnya bersikap pada samrat lainnya." Semua orang terkejut mendengarnya. Begitu juga Bindu, "apa yang kau katakan?" Ashok menjawab, "perlakukan saya seperti Samrat." Bindu menatap Chanakya, "anda dengan itu Achari?" Pada Ashok bindu bertanya, "samrat dari mana dirimu?" Dengan berani shok menjawab kalau dia samratnya rakyat. Bindu menanyakan nama ayahnya. Ashok menjawab kalau dia hanya punya ibu, "yang di kakinya duniaku terletak." Bindu menanyakan nama ibunya. Ashoka henak menyahut, tapi Chanakya memotong pembicaraan, "Samrat, biarkan saja. Anak ini sangat pandai memutar kata-katanya. Dia pintar tapu bukan pelakunya." Ganti guru yang menyela Chanakya, "maafkan saya, Achari. Aanak ini belum terbukti tidak bersalah." Achari Chanakya menjawab, "dia juga tidak terbukti bersalah. Semuanya berdasarkan teori.Tidak ada yang bisa membuktikan di sini kalau dia penyerangnya." Ashok menyela, "percayalah padaku. Aku melihat tabib membuat panah khusus untuk menyerang Samrat. Prajurit mengejarku, karena itu aku bersembunyi di hutan. Lalu Samrat di bawah kesana dan prajurit itu menyerangnya, tapi semua orang berpikir aku penyerangnya. Tapi disana ada seorang wanita, ia melihat penyerang itu. panggil dia!" Khorasan memberitahu Bindu kalau wanita itu belum sempat bersaksi kemarin. Dia menyuruh orang memanggil wanita itu. Dharma kembali di bawah sebagai saksi. Dia masih menutupi wajahnya dengan selendang. Guru bertanya pada Dharma apakah dia ada di sana saat pada waktu serangan? Dharma mengangguk membenarkan. Khorasan menolak pernyataan Dharma sampai identitasnya terungkap, "kita tidak bisa percaya padanya sampai kita bisa melihat wajahnya dan tahu identitasnya." Guru setuju. Dharma menolak secara halus dengan berkata kalau di keluarganya para wanita tidak menunjukan wajah secara terbuka. Bindusara menengahi dengan berkata kalau dirinya menghormati tradisi Dharma, tapi ada yang lebih penting daripada tradisi, yaitu keadilan, "tugasmu adalah membantuku menegakan keadilan." Chanakya membuka suara, " tetapi Samrat, anda tidak bisa memaksa wanita melanggar tradisinya untuk menegakan keaadilan, karena dengan memaksanya melanggar tradisi adalah ketidakadilan itu sendiri." Helena menyela, "tidak ada yang lebih dari hidup samrat."  Semua penasaran ingin tahu wajah siapa di balik kerudung itu. Helena menghampiri Dharma dan menarik kerudungnya, nampaklah seraut wajah, tapi bukan wajah Dharma. Begitu kerudung terbuka dan tidak terjadi apa-apa, Chanakya tersenyum dan menarik nafas lega. Chanakya teringat bagaimana dia berkata pada Dharma kalau masalah akan semakin rumit kalau sampai Bindusara melihat dirinya. Karena itu Chanakya menyuruh Nirjara mengantikan Dharma pergi ke pengadilan.
Khorasan menanyai Nirjara, "apakah kau melihat anak ini menyerang Samrat?" Nirjara dengan cepat menyahut, "tidak. Saya tidak melihat anak ini menyerang Samrat. Ketika Samrat di serang, saya melihat anak ini berlari di belakang seseorang, meminta orang itu untuk berhenti." Guru bertanya, "apakah kau melihat penyerang yang sesungguhnya?" Nirjara menjawab, "tidak." Guru mengambil kesimpulan, "dia tidak melihat orang lain lagi, dia melihat Ashok berlari setelah menyerang Anda. Anak ini adalah pelakunya, Dia harus di hukum mati, Samrat." Achari Chanakya dengan tenang mengeluarkan opininya pada Samrat., "jika anak ini adalah penyerangnya, dia harus mendapat hukuman. Tapi apa yang dikatakan guru berdasarkan hipoteis semata, tidak didasarkan pada bukti-bukti sehingga tidak layak di jadikan landasan. Saya tidak ingi ketidakadilan terjadi. Untuk memperlihatkan kebenaran agar lebih jelas, saya ingin minta izin untuk mengulang kejadian ketika Samrat di serang di hutan. hanya untuk membuktikan beberapa point." Bindu mengangguk, "lakukan apa saja yang di perlukan untuk menegakan keadilan. Anda bisa melakukan itu." Achari Chanakya mengucapkan terima kasih.
Di waktu yang di tetapkan, semua orang berada di hutan untuk reka ulang perkara penyerangan Samrat Bindusara. Chanakya menjelaskan pada Bindu, "seperti Ashok duduk di atas pohon dengan alat memanah, seperti itu pula aku menyuruh prajurit duduk disana. Kita akan melihat apakah dia bisa menyerangku dari posisi itu." Dharma ada di sana juga, dia bersembunyi di belakang semak. Chanakya berkata kalau dirinya akan berbaring seperti Bindu saat itu terbaring. Chanakya kemudian berbaring dan menyuruh prajurit memanahnya. Prajurit melepaskan panah. Tapi panah itu tidak dapat mengenai Chanakya, karena ada pilar yang menghalanginya. Ashak berkata, "kalau prajurit saja tidaka dapat mengenai sasaran, bagaimana saya bisa? Dan lagi saya tidak bisa memanah." Chanakya mengatakan kalau penyerang pasti duduk di atas pohon yang lain. Ashok menunjuk pohon di mana dia melihat si penyerang duduk. Chanakya lalau menyuruh prajurit duduk di pohon yang di tunjuk Ashok, dan menyuruhnya melepaskan panah. panah itu tepa mengenai Chanakya.  Semua orang tertegun. Chanakya menarik panah dari tubuhnya. Bindu dengan was-was bertanya, "kenapa membahayakan hidup anda?" Chanakya menyahut, "tidak ada yang lebih penting daripada kebenaran. Dan kebenarannya adalah Ashok terbukti tidak bersalah. Ashok tidak menyerang anda." Bindu setuju, "ini kebenarannya. Bebaskan anak ini!" Dharma mengucap syukur mendengar Ashok di bebaskan. Tapi Justin dan helena tidak terima. Guru berkata, "ashok terbukti tidak menyerang Samrat. Tapi ada tuduhan lain kalau Ashok menghina prajurit, memaksa mereka berlari mengejarnya." Ashok berkata, "Achari Chanakya akan membebaskan aku dari tuduhan itu juga." Chanakya menjawab dengan cepat, "tidak. kau membuat tentara mengejarmu. Kau pantas di hukum." Lalu Chanakya meminta Bindu memerintahkan Ashok membayar denda. Ashok kesal, "berilah aku hukuman mati daripada hukuman ini." Chanakya berkata kalau mereka harus memberi contoh agar keadilan dapat di tegakkan, "jika dia bisa membuat prajurit pontang-panting di usianya, apalagi yang bisa dia lakukan di masa depan? Dia bisa dihukum untuk memberikan arah hidupnya." Bindu bertanya, "lalu hukuman apa yang harus aku berikan?" Chanakya memberi ide, "dia berhutang pada magadha. Untuk itu dia harus melayani Samrat. Dia harus melakukan apapun yang di inginkan Samrat." Ashok tidak terima, "ini tidak baik." Bindu setuju, "ini bagus. Hukumanmu adalah membayar denda. Kau harus membayarku dengan melayaniku." Chanakya mengatakan kalau mereka harus membawa Ashok ke Patliputra sehingga dia bisa menjalani hukumannya. Guru mengingatkan, kalau masih ada tuduhan yang lain, yaitu Ashok menghina tahta kerajaan dengan menyebut dirinya samrat, dia menghina samrat. Ashok membela diri, "saya hanya mengatakan kebenaran." Bindu bertanya, "kebenaran apa?" Ashok menjawab, "saya memberitahu orang-orang apa yang samrat baik seharusnya lakukan, saya  melakukan dengan cara menghibur, karena orang-orang tertarik." Bindu berkata kalau dirinya ingin di hibur juga. Ashok bertanya pada bindu, "apakah anda akan memaafkan saya?" Bindu berkata, "aku oingin mendengarnya dulu." Ashok memulai atraksinya. Dia mulai bericara dengan gayanya. Tanpa gentar Ashok mengatakan kalau rakyat mati dan Samrat menikmati. Bindu bertanya, "sekarang katakan padaku seperti apakah seorang samrat seharusnya?" Dengan gayanya Ashok melangkah, lalu bersaldo dan mendarat di depan Bindusara, "samrat harus sederhana. Harus hidup secara sederhana. Bersama rakyatnya." Bindu bertanya, apakah aku tidak layak menjadi samrat?" Ashok menjawab, "anda layak. Itu mengapa anda punya musuh yang berpura-pura untuk mengambil hidup anda. ~Ashok memandang Helena~ Anda kembali hidup adalah kekalahan bagimusuh anda. ~Helena geram~ Putra Samrat Chandragupta tidak akan melakukan ketidakadilan." Bindu terkesan, "Achari benar. Kita harus membawanya ke Patlipura." Ashok mendengar itu dan berkata, "sekarang orang-orang ingin aku melompat lagi." Lalu dengan gayanya, Ashok bersalto tinggi dan kabur dari hadapan Bindusara. Semua orang tertegun. Tapi bindu melarang orang mengejarnya. Bindu malah meminta Khorasan, guru dan ke kamarnya, dia juga menawari Chanakya untuk turut serta bersamanya.
Dalam kamarnya, Bindu berkata kalau apa yang dikatakan Ashok adalah benar. Dia harus menyelami musuh-musuhnya, "Achari, Magadha membutuhkanmu. tolong terima posisimu kembali." Khorasa kurang setuju, 'pikirkan lagi, Samrat. Posisi perdana menteri adalah sangat penting dan seseorang yang pernah di curigai tidak layak menempati posisi itu." Bindu menyahut, "Khorasan, kau tidak lupa tuduhan pada Achari Chanakya 14 tahun yang lalau, tapi kau lupa kalau hari ini aku hidup karena Achari chanakya saja. Dia membawa wanita yang menrawatku." Lalu pada Chanakya Bindu berkata, "saya tahu saya atelah melukai perasaanmu dengan menuduhmu membunuh ibuku, karena itu anda meninggalkan Patliputra. Saya dulu ingin meminta maaf, tapi saya tidak bisa. hari ini, saya minta maaf padamu, achari." Samrat melipat tanganya di dada dengan penuh penyesalan, "saya tahu anda memotong perut ibu saya untuk menyelamatkan saya, tapi tidak ada yang bisa memahaminya. Saya juga minta maaf atas nama ratu. jangan berpikir karena saya merasa bersalah maka saya meminta anda menjadi perdanan menteri. Tidak. saya hanya mengkhawatirkan masa depan Magadha. Jika anda menerima posisi ini, akan sangar bagus." Chanakya dengan halus menolak, "saya juga hanya ingin yang baik saja untuk Magadha. Dan untuk itu saya tidak butuh posisi. Saya akan melayani anda sebagai seorang guru istana. jadikanlah guru lain sebagai perdana menteri. Bindu setuju, "jika itu keinginan anda, baiklah." Bindusara segera menunjuk guru yang ada di situ sebagai perdana menteri. Dengan senang hati guru menerimanya dan merasa senang karena Bindu berpikir dirinya layak untuk menempati posisi itu. Bindu berkata, "kini saatnya untuk kembali ke Patliputra."  Ashok ikut rombongan Chanakya pergi ke Patliputra.. Sinopsis Ashoka Samrat episode 8