Minggu, 26 Juli 2015
Sinopsis Ashoka Samrat episode 12
aku baru pulang neh ada acara halal bi halalnya lante travel umroh jadinya baru bisa berguru ama ashoka sore2. tahu nih napa tiap main lagunya tumhe2 tuh yang slow, eh malah silent/mute adegannya. padahal lagunya bagus tuh. aku ga hanya belajar soal gaya ending per episod aja tapi juga mempelajari plot twist, kan banyak tuh plot ashoka yang suka nipu2 kan? misalnya waktu episod banyak2 tuh, subahu kan di pertandingan tuh dy kena sial pertama kalinya eh tahu2nya endingnya malah juara 3 dan dikira menyerah saat final. kena tipu deh penontonnya. aku mo belajar nipu2 pembaca melalui plot twist, terutama dalam plot novel hororku tuh aku usahakan banyak plot twistnya, ga mudah ketebak. pembaca bisa nebak ini tapi endingnya ternyata itu. doain ya moga novelku yang mengandung banyak plot twist dan jebakan ini menghibur dan bisa diterima penerbit mayor. amin! btw, didoain dulu moga cepet kelar baru deh dikirim ke mayor publishing, moga bisa edar di gramed. amin! yuk, klik dulu episod ini neh sambil makan2...
Sinopsis Ashoka Samrat episode 12. Charumitra
sedang menjalani ritual sihir ketika dia mendengar suara berisik di
luar kamarnya. Dia memanggil pelayan dan bertanya ada apa. Pelayan
memberitahu Charu kalau para prajurit sedang memperketat keamanan
istana. Charumitra bertanya, "kenapa?" Pelayan berkata kalau iblis telah
membawa Ashok, dan tidak ada yang tahu apakah Ashok selamat atau tidak.
Charumitra berguman, "Ashok?"
Bindusara sedang
duduk termenung di kamarnya ketika Dharma datang dan memberitahu Bindu
kalau sudah saatnya mengambil obat. Bindu tanpa di suruh membaringkan
tubuh di ranjang. Dharma mengoleskan obat ke lukanya sambil bertanya,
"kenapa keamanan di perketat? Apakah ada masalah? Anda juga tampak
tegang." Bindu memberitahu dharma kalau ada iblis berkeliaran di
Patliputra. Binatang itu mengambil anak-anak dan membawanya pergi, "jika
musuh dari luar tidak sulit menangkapnya, tapi musuh dari dalam, sangat
sulit untuk mencari tahu." Bindu memberitahu Dharma kalau kemarin malam
iblis itu membawa pergi Ashok. Dharma terkesima dan langsung panik,
"Ashok?" Bindusara berkata kalau dirinya merasa tidak tenang karena
Ashok, "entah mengapa aku merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpa
Ashok." Dharma sangat sedih, tubuhnya bergetar karena panik, beberapa
kali ia menyebut nama Ashoka. Dharma teringat bagaimana dia memasrahkan
keselamatan Ashok pada Chanakya. Tanpa memikirkan yang lain-lain lagi,
Dharma segera berpamitan pada Bindusara dan pergi meninggalkannya.
Bindusara menatap kepergian Dharma dengan heran..
Di
sebuah tempat yang misterius, Ashok terikat pada sebuah pilar.
Berkali-kali Ashok mengeliatkan tubuh berusaha untuk melepaskan diri.
Tapi ikatan itu sepertinya sangat kuat. Iblis menghampiri Ashok dan
berkata, "kau berjanji akan membuat aku tertangkap, karena itu aku
menculikmu." Ashok tanpa gentar berkata, "ini adalah kebodohan anda."
Iblis memberitahu Ashok kalau tidak ada seorangpun yang bisa pergi dari
tempatnya setelah tertangkap. Ashok mengejek Iblis dengan mengatakan
kalau dia tidak cukup kuat. Iblis berkata kalau Ashok bukan apa-apa
dihadapan dirinya. Ashok tertawa mengejek dan menantang Iblis, "buka
ikatanku, dan kita lihat siapa yang lebih kuat." Mendengar tantangan
Ashok, Iblis marah, dia mencabuk tubuh Ashok tanpa ampun. Ashok
mengerang sambil mengatupkan gigi untuk menahan kesakitan.
Di
istana, Dharma mencari Chanakya di kamarnya. Tapi kamar itu lenggang,
tak ada tanda-tanda kehidupan. Dharma memanggil Chanaknya, karena tak
ada jawaban, Dharma bergegas pergi.
Di tempat
misterius, iblis masih terus mencambuki tubuh Ashoka. Disela-sela
usahanya menahan rasa sakit, Ashoka masih bisa tertawa mengejek, "aku
tidak kesakitan. Kekuatanmu cuma segitu?" Iblis terus mencambuki Ashok.
Ashok kembali tertawa dan mengejek, "coba lihatlah tanganmu, kalau-kalau
terluka." Iblis melihat tangannya dan dengan geram membuang cambuk di
tangan. Melihat itu Ashok tertawa. Iblis melihat kayu runcing tak jauh
darinya. Dia seperti mendapat ide.
Dharma berlari
kesana kemari mencari Chanakya. Dharma juga bertanya pada siapa saja
dia temui. Tentara yang di tanya mengatakan dia melihat Chanakya keluar.
dharma segera berlari kearah yang ditunjuk tentara.
Iblis
mengambil kayu runcing itu dan menusuk perut Ashoka. Ashoka nyengir
kesakitan. Iblis berkata kalau Ashok bukan apa-apa di depannya. Ashok
kembali tertawa dan mengejek, "kau lebih cocok menjadi penghibur
daripada binatang buas. Aku merasa inggin tertawa merasakan siksaanmu
ini."
Dharma masih berusaha menemukan Chanakya.
Saat bertemu pendeta, dia bertanya padanya, begitu pula saat berpapasan
dengan dayang-dayang. Tapi baik pendeta ataupun para dayang, tak
seorangpun yang bisa memberitahu Dharma akan keberadaan Chanakya.
Di
ejek Ashok begitu rupa lagi, iblis membuang tongkatnya dan membungkuk
untuk mengambil cambuk yang tadi di lemparnya ke lantai. Kesempatan itu
di gunakan Ashok untuk membuka ikatan tanganya. Ashok berhasil. Sebelum
iblis berdiri tegak, Ashok sudah menyerangnya. Perkelahian sengitpun
terjadi. Keduanya saling hantam dan saling dorong. Kalau di lihat dari
postur tubuh, tentu saja jagoan kita kalah body. Tapi tekad Ashok untuk
mengalahkan iblis sangat besar. Karena itu dia tetap berusaha
menjatuhkan iblis. Sayangnya, tenaganya yang kecil tidak cukup kuat
untuk mengalahkan Beast. Hingga pada suatu kesempatan, iblis berhasil
mendorong tubuh Ashok hingga kepalanya membentur tiang. Sambil memegangi
keningnya, tubuh Ashok mengelosor jatuh. Pingsan.
Dharma
dengan putus asa duduk didepan mandir, berdoa pada dewa Syiwa agar
menyelamatkan anaknya, "aku selalu menyebarkan mengabarkan kedamaian,
aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku tidak pernah mengeluhkan
nasibku. Aku menerima apapun yang kau berikan padaku. Tak pernah
bertanya apapun padamu. Tapi hari ini, aku ingin bertanya, kenapa kau
lakukan ini padaku dan anakku? Aku tidak pernah menginginkan Ashok
menjadi Samrat. Lalu kenapa semua ini terjadi? Aku tidak pernah meminta
apapun dari mu. Tapi hari ini aku menginginkan kehidupannya, selamatkan
dia, selamatkan Ashokku. Jika terjai sesuatu pada Ashok, aku akan mulai
tidak percaya padamu." Sambil berdoa Dharma menangis tersedu-sedu.
Ashok
masih terduduk pingsan ketika iblis dengan sebuah pisau di tangan siap
menghabisi nyawanya. Tapi sebelum iblis mengangkat senjata seseorang
yang tubuhnya terbalut kain muncul dan menghentikannya. Beast segera
membalikan badan menatap sosok tubuh itu. Si empunya tubuh menyibakkan
kain yang menutupinya, terlihatlah wajah Charumitra. Dengan wajah
menahan marah, Charumitra mendekati Beast dan menamparnya dengan keras
sampai topengnya terlepas dan memperlihatkan wajah Sushim. Sushim
melotot menatap Charu. Sekali lagi Charu menampar pipi Sushim sambil
berkata, "aku sudah memintamu agar tidak melakukan sesuatu yang akan
menempatkan dirimu dalam masalah. Tapi kau bawa anak itu kesini, anak
yang membuat ayahmu terkesan. Sekarang seluruh kekuatan di kerahkan
untuk menemukan Ashok. mereka akan menangkapmu dan kau akan mendapat
hukuman mati. Sebelum ada yang menemukamu, habisi anak ini dan segera
pergi dari sini." Charu kemudian menghampiri Ashok dan mengoleskan
sesuatu kematanya. Charu berkata kalau untuk sementara Ashok akan
kehilangan penglihatannya, "aku akan kembali ke istana sehingga tak
seorangpun meragukan dirimu." Charu meninggalkan gua misterius itu.
Sushim mendekati Ashok dan membungkuk hendak mengambil senjatanya ketika
Ashok memukulnya dengan sebuah pot. Sushim segera terjatuh dan pingsan.
Ashok berdiri, dia heran ketika matanya tidak bisa melihat apa-apa.
Ashok mengosok matanya dengan kedua tangan, tapi tetap saja
penglihatanya tidak kembali. Dengan susah payah dan sambil meraba-raba
Ashok menemukan pintu yang segera di dorongnya hingga terbuka. Ashokpun
berhasil keluar dari tempat misterius itu.
Di
sebuah keramaian, beberapa orang rajurit sedang berdiskusi dengan
temannya. Ketika Ashok sambil meraba-raba layaknya orang buta membuat
keributan setelah menabrak sekumpulan tifa. Mendengar keributan itu,
prajurit menoleh, saat di lihatnya Ashok mereka segera berlari mendekat
dan membantunya berdiri. Ashok meminta prajurit membawanya menghadap
Samrat.
Ashok berdiri di depan Bindusara yang
duduk gagah di tahta, dan Chanakya yang duduk di kursi menteri. Melihat
Ashok memejamkan mata dan tak bisa melihat apa-apa Bindu bertanya,
"kalau kau tak bisa melihat, bagaimana kau akan membawa prajurit ke
tempat misterius itu?" Ashok menjawab kalau seperti orang buta mengingat
jalan, seperti itu pula dia akan membawa prajurit ketempat itu. Bersama
Khurasan dan Achari Chanakya, Ashok pergi ke tempat misterius itu
dengan mata tertutup. Saat dia mendengar suara kambing mengembik, Ashok
yakin kalau dia berada di jalur yang tepat. Ashok menunjuk sebuah jalan,
semua orang terkejut. Guru (Perdana menteri) mengatakan kalau itu
adalah jalan menuju ke... Chanakya menyela dengan mengatakan kalau
mereka tidak punya waktu untuk meragui Ashok. Ashok melanjutkan
langkahnya dan semua orang mengikutinya dengan rasa penasaran. Ashok
membawa mereka kesebuah rumah, Perdana menteri mengatakan kalau itu
adalah rumah tabib istana. Chanakya mengajak mereka semua masuk kedalam.
Dalam rumah itu terlihat rapi dengan perabotan tertata apik. Ashok
berkata kalau dia yakin tempat misterius itu ada di sekitar sini. Ashok
terus meraba-raba dan tersentuh sebuah lemari. Dengan perasaannya yang
peka, ashok meminta prajurit memindahkan lemari itu. Ketika lemari itu
di bawa pergi, tanpaklah sebuah pintu di belakangnya. Semua terkejut.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka lalu membuka pintu itu dan masuk
kedalamnya. Sebagian besar dari mereka terbelalak kaget melihat tempat
misterius yang di terangi cahaya obor itu. Sesosok tubu htergeletak
ditanah dengan mengenakan kostum dan topeng iblis. Khurasan mendekati
sosok itu dan membuka topengnya, semua terkejut melihat wajah tabib
kerajaan. Guru (perdana menteri) berkata dengan prihatin kalau tabib
bunuh diri karena takut tertangkap. Khurasan menyahut, "setidaknya
misteri di balik penculikan itu sudah terungkap." Semua terlihat puas,
hanya Achari Chanakya yang terlihat sangsi. Prajurit melapor kalau
mereka menemukan banyak anak-anak di sekap di tempat itu. Kondisi mereka
sangat buruk. Khurasan menyuruh mereka membawa anak-anak itu ke tabib.
Dharma
masih berdoa di depan mandir Syiwa ketika mendengar seorang parjurit
memberitahu temannya kalau Asshok sudah di selamatkan dan iblis yang
menangkapnya sudah mati. Dharma memanjatkan puji syukur pada dewa. Dia
lalu terpikir untuk menemui Ashok. Chanakya menghalangi jalanya. Dharma
berkata kalau dirinya ingin menemui Ashok dan Achari tidak boleh
menghentikan dirinya. Chanakya menyahut, "karena itu aku membawanya
kemari. Anda bisa tinggal dengan Ashok..tidak sebagai ibu, tapi sebagai
tabib." Setelah berkata begitu, Chanakya meninggalkan tempat itu. Dharma
segera berlari menghampiri Ashok yang terbaring di tempat tidur dengan
mata tertutup kain. Dharma dengan sedih duduk di samping ashok dan
menyentuh tubuhnya. Ashok merasakan sentuhan itu dan memanggil, "ma?"
Dharma mengatakan kalau dirinya tabib. Ashok tidak peduli, dia meraih
jemari Dharma dan menggenggamnya. Dharma dengan gesit melepas genggaman
Ashok dan mulai meracik obat sambil menangis. Ashok berkata kalau iblis
itu telah bunuh diri, "sekarang anak-anak Patliputra aman." Sambil
menahan tangis, Dharma merawat Ashok. Dia mengganti perban di matanya
dengan ramuan baru. Ashok terlihat tenang. Dharma membelai Ashok penuh
kasih sayang. Airmatanya terus meleleh laksana air hujan. Tiba-tiba
terdengar pengumuman kalau Samrat Bindusara datang. Dengan cepat Dharma
berdiri, menghapus airmata dan menarik selendang untuk menutupi
wajahnya. Dia berdiri kaku di samping permbaringan Ashok ketika
Bindusara datang dan berkata, "samrat vanraj, kau telah memenuhi janjimu
menangkap iblis itu." Mendengar suara Samrat, Ashok bangun dari
berbaringnya, ketika akan turun dari tempat tidur, Ashok sempoyongan dan
hampir jatuh. Refleks Dharma dan Bindusara berlari untuk menolongnya.
Berdua mereka memegangi tubuh Ashok dan membantunya berdiri tegak.
Chanaka amelihat kejadian itu dari tempatnya berdiri sambil menghela
nafas. Bindu mengeluarkan sekantong koin dan menyerahkannya pada Ashok
sebagai hadiah. Ashok mengembalikan koin-koin itu tanpa memegangnya
sambil berkata, "ambillah kembali koin itu Samrat, sebagai bayaran denda
saya pada anda seperti yang seharusnya. Sekarang antara kita sudah
jelas." Samrat Bindusara tersenyum kagum, "ya antara kita sudah jelas.
Kau bebas sekarang. kau bisa pergi darai sini tapi setelah mendapatkan
perawatan." Ashok mengangguk senang. Bindu membelai kepala Ashok lalu
beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Ashok
terbangun dengan rasa haus. Dia menyentuh tekaknya yang terasa kering
dan meminta air.Tak ada yang datang melayaninya. Ashok berteriak
memanggil ibunya, "Ma.." Di luar, Dharma mendengar panggilan Ashok, tapi
tidak bisa beruat apa-apa, sambil menangis dia berkata, 'Bhagwan, ibu
Ashok bersamanya, tapi dia tidak bisa melayaninya. Kenapa kau hukum kami
seperti ini?" Ashok turun dari tempat tidur dan berjalan sambil
meraba-raba. Bal Ghavin datang menyodorkan segelas air pada Ashok sambil
berkata, "aku Bal Ghovin." Ashok menepuk lengan Bal Ghovin dengan
gembira, "temanku Bal Ghovin?" Bal Ghovin membantu Ashok duduk di tepi
tempat tidur. Ashok meminum air yang di berikan Bal Ghovin di iringi
tatapan haru darinya. Bal Ghovin berkata, "tak ada yang pernah
memanggilku teman, Ashok." Ashok menjawab, "aku berbeda..karena aku
Samrat Vanraj.." Bal Ghovin tersenyum dan menegaskan kalau Ashok adalah
temannya. Bal berkata Ashok sangat cerdas, karena itu dia bebas dari
hukuman Samrat. Ashok juga berkata kalau suatu saat Bal Ghovin juga akan
mendapat kesempatan yang sama untuk membebaskan diri dari bekerja di
istal. Bal Ghovin teringat perkataan Helena kalau dirinya mau memberi
informasi tentang Ashok, maka helena akan membebaskan Bal. Teringat
janji Helena itu, Bal Ghovin berkata pada Ashok, "jika engkau tinggal di
sini, maka saya punya kesempatan bebas?" Ashok bertanya, "apa?" bal
Ghavin meralat kata-katanya dengan berkata kalau Ashok tinggal, maka
ashok bisa membantunya. Ashok mengangguk setuju. Kedua teman itu saling
berjabatan tangan.
Pagi harinya, sambil
memandikan kuda, Bal Ghovin bicara sendiri. Dia bingung harus
menyampaikan apa pada Helena perihal Ashok. Tiba-tiba dia teringat
pembicaraan Ashok dan Gul Bushan malam itu, kalau Ashok akan pergi
menemui ibunya di istana. Bal Ghovin berniat memberitahu Helena tentang
hal ini. Tapi Bal Ghovin berpikir lagi, Ashok adalah temannya, bagaimana
mungkin dia menjerumuskan Ashok? Apa yang akan di lakukan helena kalau
tahu tentang ibu Ashok? Semua anak punya ibu.
Di
klinik, Dharma membuka perban Ashok. Ashok berkata pada Dharma kalau dia
sangat merindukan ibunya. Ashok bilang ibunya juga merawat orang-orang.
Setelah perban terlepas, Dharma mengusap mata Ashok. Cepat Ashok meraih
tangan Dharma dan menggenggamnya. Dharma tak sanggup menarik tangannya.
Ashok berkata, "terima kasih. Anda merawatku persis seperti ibuku
memperlakukan aku dulu." Dharma kemudian membuka perban di mata Ashok.
Ashok mencoba mengedip-ngedipkan matanya. Dia berkata kalau dirinya
tidak bisa melihat, pandanganya kabur. Dharma menjadi sangat cemas,
"bagaimana mungkin?" Dia menarik Ashok pergi kedepan Jendela yang
terdapat banyak cahaya. Ashok masih terus berkata kalau pandanganya
kabur sambil beranjak pergi dari depan jendela. Ashok memanggil-manggil
ibunya. Dharma megikutinya dengan cemas. Dia menguncang-guncang tubuh
Ashok sambil bertanya bagaimana bisa dia tak melihat apa-apa? Ashok
membalikkan badannya menatap Dharma, menatap langsung kewajahnya. Dengan
lembut dia membuka kerudung Dharma lalu menyentuh wajahnya sambil
berkata, "engkau tidak memperdulikan aku yang kesakitan, karena itu aku
pura-pura tidak melihat." Mendengar kata-kata Ashok, Dharma menangis
haru. Ashokpun ikut menangis, lalu memeluk ibunya dengan penuh
kerinduan. Dharma balas memeluk Ashok dengan penuh kasih sayang. Kedua
ibu dan anak itupun bertangisan. Setelah pelukan terlepas, Ashok
memprotes Dharma karena tidak memberitahu dirinya kalau dia juga ada di
istana. Ashok teringat kejadian yang berhubungan dengan wanita bercadar.
Ashok baru sadar kalau wanita bercadar yang di lihatnya di beberapa
tempat termasuk di pengadilan waktu itu adalah Dharma. Ashok bertanya,
"mengapa anda menyembunyikan sesuatu dari aku, ma? Apakah anda berada
dalam tekanan brahmana tua itu? Jangan kuatir, ma. Samrat telah
membebaskan aku. Kita akan pergi dari sini. Ayo ma, kita pergi!" Ashok
menarik Dharma mengajaknya pergi. Tapi Dharma tak mau ikut. Ashok
menoleh pada Dharma dengan tatapan sedih. Dharma menggeleng dan
melepaskan tanganya dari genggaman Ashok. Ashok menghampiri Dharma
sambil berkata, "orang-orang di sini tidak baik, ma. Ini bukan tempat
kita!" Dharma menggeleng, "aku telah berjanji pada Achari Chanakya, aku
tidak bis a pergi dari sini." Ashok kaget, "Apa? Kenapa? dia yang
bertanggung jawab untuk semua masalah yang kualami." Dharma mengingatkan
Ashok kalau dia pernah berjanji akan mendengarkan apapun kata Chanakya.
Ashok dengan kesal berkata, "Achari Chanakya! Aku akan bicara padanya.
Samrat sudah membebaskan aku. Tidak ada yang lebih berkuasa lebih dari
samrat." Setelah berkata begitu, Ashok pergi meninggalkan Dharma, tanpa
peduli panggilan Dharma .
Bindusara sedang
latihan mengangkat gada ketika Chanakya menemuinya. Melihat Chanakya,
Bindu segera meletakkan gadanya dan memberi salam. Chanakya mengangkat
tangan memberkati Bindu. Chanakya senang melihat Bindu latihan. Bindu
melihat wajah Chanakya yang muram dan bertanya, "anda terlihat
khawatir?" Chanakya membenarkan, menurutnya selama penyerang Bindusara
belum tertangkap, selama itu pula dia akan di cekam kehawatiran. Bindu
menyuruh orang pergi, hingga tinggal dirinya dan Chanakya. Bindu berkata
kalau dirinya merasa tidak nyaman mengetahui ada iblis berkeliaran
secara terang-terangan tapi menteri-menterinya tidak berbuat apa-apa.
Bindu merasa kalau dia tidak ada apa-apanya di bandingkan samrat
chandragupta. Chanakya menyahut bahkan setelah begitu banyak masalah,
begitu banyak konspirasi, Bindu masih bisa menyatukan orang-orangnya,
"ini menunjukan kalau anda raja besar." Bindu merasa Chandragupta selalu
mendampinginya. Tiba-tiba terdengar suara Sushim membentak para
pelayan. Bindu dan Chanakya sama-sama menoleh ke arah datangya suara.
Melihat itu bindu meminta Chanakya agar membimbing anak-anaknya terutama
Sushim, "aku tidak tahu apakah dia bisa menjadi Samrat yang baik karena
dia sangat pemarah. Aku tidak ingin diliputi rasa bersalah karena tidak
bisa memberikan Samrat yang baik untuk Magadha." Bindu meminta Chanakya
berjanji untuk menemukan samrat yang baik untuk Magadha. Chanakya
mengangguk, "aku berjanji aku akan memberikan samrat yang hebat untuk
Magadha setelah dirimu. Banyak masalah yang datang, aku merasa kita
sebaiknya melakukan upacara puja pada Mahashivrati untuk mendapatkan
perdamaian." Bindu berkata kalau dirinya menurut saja apa kata Chanakya.
Ashok
sedang menunggu Chanakya di kamarnya sambil berjalan hilir mudik dengan
gelisah. Chanakya datang. Ashok menatapnya tanpa gentar. Chanakya balas
memandang Ashok dengan rasa ingin tahu. Ashok berkata kalau dirinya
akan meninggalkan Patliputra karena hukumannya sudah selesai dan
Chanakya tidak bisa menghentikan dirinya, "tapi anda telah membuat ibuku
berjanji untuk tinggal.." Chanakya bertanya di mana Ashok bertemu
ibunya? Ashok dengan nada mencela balik bertanya, "..apa yang membuat
anda berpikir bisa menjaga ibuku jauh dariku? Aku melihatnya di istana.
Aku sudah bertemu dia. Sudah bicara denganya. Dan lagi aku juga sudah
menangkap iblis, dan dia sudah mati. Samrat membebaskan aku." Chanakya
dengan rasa inggin tahu balik bertanya, "apa yang membuatmu berpikir
kalau iblis sudah mati?" Ashok mengingatkan Chanakya kalau mereka semua
melihat tubuh tabib di sana, "dia sudah mati!" Chanakya bertanya lagi,
"lalu kenapa ia tidak bunuh diri dengan meminum racun? Kenapa dia bunuh
diri dengan menggunakan senjata?" Ashok sedikit bingung, "aku hanya tahu
tubuh iblis di temukan di sana." Chanakya berkata, "saat Samrat di
serang di hutan, kau juga ada disana dengan alat memanah. Tapi kau bukan
penyerangnya kan?" Ashok dengan curiga berkata, "sepertinya anda ingin
aku tinggal di sini dengan cara apapun. Ini tidak akan berhasil, aku
tetap akan pergi bersama ibuku." Chanakya dengan kalem berkata, "kalau
kau pikir iblis itu sudah mati, maka kau boleh pergi. Aku tidak akan
menghentikanmu. Tetapi yang sebenarnya, iblis itu masih hidup. Dan
menunggu untuk membunuh anak-anak lainya." Mendengar kata-kata Chanakya,
Ashok terlihat tercengang.... Sinopsis Ashoka Samrat episode 13
Diposting oleh arieska arief (@_@) di 4:15 PM 0 komentar
Label: sinopsis
Sabtu, 25 Juli 2015
Sinopsis Ashoka Samrat episode 11 by Sally Diandra
hm sekarang mainnya tinggal senin-jumat, mungkin karena uda mo habis kali ye. makanya nonton di yutub si ga ada jadwalnya, asal ada sinyal. bisa gak ya novel epik kolosalku difilmkan kayak ashoka dkk? eh kok aku liat episod terbarunya tinggal 20-an menit ya kan awal2nya 40-an menit. duh tamba pendek getu mungkin karna itulah ashoka mainnya jadi sependek itu. ending twist di tiap episod nya juga keren neh, selalu diambil adegan yang klimaks agar orang penasaran nonton episod berikutnya. kayak di episod lalu tuh siamak dilempari belati ama sushima di situ aku merasa ada yang missing eh rupanya di episod ini kayak diulas awalannya jadi gak bingung napa tiba2 sushima lempari siamak pake belati itu. begitu rupanya. pinter juga ya crew film ini bikin ending twistnya. jadi aku dapat pelajaran tiap pergantian episod mungkin bagusnya aku niru2 dikit gaya ending nya ashoka getu. jadi orang kayak merasa alur endingnya kayak ada yang missing, eh rupanya alur selengkapnya disembunyikan di episod berikutnya. doain ya novel horor n epik kolosalku cepat kelarnya n moga best seller karna aku belajar sana-sini dari film2...
Sinopsis Ashoka Samrat episode 11 by Sally Diandra.
Masih diruang sidang, Maharaja Bindusara memutuskan agar kedua anaknya
Sushima dan Siamak saling berkompetisi adu ketangkasan pedang, Ratu Noor
memberikan dukungan pada anaknya Siamak, kemudian mereka berdua Sushima
dan Siamak berjalan agak menengah untuk mengambil tempat, setelah ada
aba aba dari salah satu pendeta kerajaan, Sushima dan Siamak saling
beradu ketangkasan pedang satu sama lain, Sushima dengan sombongnya
hanya menggunakan satu tangan sementara Siamak menggunakan kedua
tangannya menyerang Sushima, walaupun tubuh dan usianya yang masih kecil
namun kemampuan Siamak tidak bisa dianggap sebelah mata karena beberapa
kali Sushima berusaha menahan serangan Siamak hingga akhirnya Siamak
berhasil menjatuhkan pedang Sushima.
Semua yang
hadir disana terkesan dengan ketangkasan Siamak tidak terkecuali Ratu
Noor dan Maharaja Bindusara. Namun sayangnya Sushima tidak terima
dirinya dikalahkan begitu saja oleh adik tirinya yang masih kecil ini,
Sushima segera mengambil belati yang telah dibawanya sedari tadi
dipinggangnya dan melemparkannya ke arah Siamak, untungnya Siamak mampu
mengelak serangan belati Sushima dengan cepat, tiba tiba belati yang
dilempar oleh Sushima tadi dipegang oleh seorang anak yang berdiri
dibelakang Siamak yang mengenakan sebuah topeng, semua yang hadir disana
terkejut melihat kehadiran anak bertopeng ini “Cukup untuk hari ini !”
Maharaja Bindusara segera menghentikan kompetisi tersebut “Sushima,
sebelum kamu menggunakan senjata ini, kamu seharusnya tahu apa
konsekwensinya” Acharaya menasehati Sushima, Sushima mencoba menahan
amarahnya.
“Nampaknya
Ratu Charumitra tidak memberitahu pada anaknya tentang peraturan dalam
sebuah pertandingan, Sushima telah menyerang anakku” ujar Ratu Noor
sambil melirik sinis kearah Ratu Charumitra “Mereka berdua adalah
saudara, jangan buat mereka jadi saling bermusuhan, lihat aku dan
Justin, aku ingin Sushima dan Siamak mengikuti kebersamaan yang aku
miliki bersama Justin” ujar Bindu sambil melirik ke arah Justin, Justin
hanya tersenyum, begitu pula Helena hanya memandangi kedua anaknya itu
“Sushima, kamu harus menjadi Samrat yang baik, kamu harus menjadi orang
yang baik dan menjadi orang yang baik itu harus bisa mengontrol emosi,
kemarahan adalah musuhmu, hal itu bisa membuat kamu kehilangan kontrol”
Sushima hanya diam saja sambil terus menahan amarahnya
“Sekarang,
pertunjukkan bisa dimulai” tak lama kemudian datanglah tiga anak
bertopeng, anak bertopeng yang memegang belati Sushima juga masih disana
“Kami datang untuk mencari Samrat dari Vanraj tapi inilah Samrat yang
sesungguhnya, jika kami tidak memberikan hiburan maka kami akan dipukul
!” ujar anak anak bertopeng itu, namun secara diam diam anak bertopeng
pemegang belati tadi pergi menyelinap kebelakang secara diam diam,
ketika melihat diruangan itu banyak makanan, anak bertopeng itu sangat
senang dan bermaksud ingin mengambilnya, tiba tiba salah seorang
prajurit menghentikannya “Hei ! Kamu tidak boleh makan disini, bukannya
kamu seharusnya bergabung dengan teman temanmu ?” prajurit mendorong
anak bertopeng pembawa belati tadi ke tengah ruangan untuk bergabung
dengan anak bertopeng yang lain.
Salah satu anak
bertopeng yang melihat anak bertopeng itu berkata “Kami datang kesini
cuma bertiga, bagaimana bisa menjadi empat, kamu datang dari mana ?”
anak bertopeng tadi hanya diam saja, kemudian ketiga anak bertopeng
mulai melakukan hiburannya dengan melompat, kemudian teman temannya
bergabung dan mereka melakukan aksi lucu lucuan dengan saling
menjatuhkan diri satu sama lain sambil bermain bola bola ditangan
mereka, semua yang hadir disana merasa terhibur dan tertawa termasuk
Bindusara. Anak bertopeng pemegang belati yang sedari tadi hanya diam
saja memperhatikan mereka, tiba tiba ikut bergabung dengan ketiga anak
bertopeng itu, kemudian dia memainkan lempar bola dengan sangat lihai,
tidak ada satupun bola yang jatuh, Bindusara terkesan melihatnya.
Dharma
yang sedari tadi melihat aksi anak anak ini juga terkesan dengan
permainan anak anak ini sambil menutupi wajahnya. Semua orang menikmati
permainan bola tangkap anak bertopeng itu “Permainan bagus seperti itu
hanya bisa dilakukan oleh satu orang saja yaitu Samrat dari Vanraj
Ashoka” ujar salah seorang anak bertopeng. Ashoka yang sedari tadi
memakai topeng menghentikan permainan bola tangkapnya “Permainan yang
bagus !” puji Bindusara, hiburanpun berakhir dan Ashoka meninggalkan
ruang sidang.
Ashoka yang masih memakai topeng
masuk ke dapur kerajaan, Ashoka teringat ketika dirinya mengatakan pada
teman temannya yang bekerja diistal kuda bahwa dia akan membawakan
mereka makanan dari istana, belum sempat Ashoka mengambil makanan
makanan itu, tiba tiba Sushima memegang bahunya dari belakang, ketika
Ashoka menoleh, Sushima segera membuka topeng yang dikenakan Ashoka dan
terkejut ketika mengetahui bahwa anak bertopeng itu adalah Ashoka.
Sushima segera membawa Ashoka keruang sidang, untuk dihadapkan pada
ayahnya “Ayah, selama ini ayah telah menghormati anak ini, menyuruhnya
untuk duduk dikudamu tapi apa yang telah aku dapatkan saat ini, aku
telah menangkap basah anak ini ketika dia sedang mencuri makanan didapur
!” ujar Sushima marah “Apakah kamu mencuri makanan ?”, “Ya, itu betul,
Samrat tapi aku memikirkan tentang seseorang yang terpaksa mencuri
makanan, aku memberikan makanan di istal kuda dimana kuda saja tidak mau
memakannya, kemudian aku juga tahu bahwa ada 56 pelayan diistana ini,
maka hatikupun tergerak, anda boleh saja memberikan hukuman padaku tapi
tolong katakan padaku apa masalahnya ? Apakah ini adalah masalah rakyat
jelata yang terpaksa mencuri makanan atau masalah Samrat yang tidak bisa
memberikan makanan yang layak untuk para pekerjanya ?” Acharaya
tersenyum dan berkata “Yang dikatakannya benar, Samrat” sesaat Bindusara
menatap Ashoka tajam “Rupanya aku telah melewati untuk memberikan semua
anak anak pekerja ini makan makanan istana” Ashoka tersenyum dengan
senyuman khasnya “Siapa anak ini ?” Charumitra mulai penasaran “Seorang
anak yang telah mengalahkan anakmu di pertandingan kemarin” ujar Noor
dengan senyuman sinisnya, Charumitra merasa kesal.
Ditempat
Bal Govin disekap, Bal Govin berusaha melarikan diri dari ikatan yang
dibuat oleh pria misterius itu, dengan perasaan yang panik dan was was
Bal Govin mulai membuka tali yang mengikat tubuhnya, ketika sudah
terbuka, tiba tiba saja dirinya jatuh diruangan yang gelap dan kotor
itu, Bal Govin segera melarikan diri dari sana.
Sementara
itu, Ashoka hendak pulang ke istal kuda dengan membawa makanan istana
untuk teman temannya, tiba tiba saja dia melihat semak semak
disampingnya bergerak gerak, saat itu hari sudah malam jadi Ashoka tidak
bisa melihat dengan jelas “Hey ! Siapa itu yang disana ?” teriak
Ashoka, tidak ada jawaban dari balik semak semak, Ashoka segera
menghampiri dan dilihatnya Bal Govin sedang bersembunyi dibalik semak
semak sambil menatapnya ketakutan “Bal Govin, apa yang terjadi ?”,
“Selamatkan aku, iblis itu akan membunuhku !” ujar Bal Govin dengan
wajah ketakutan dan gelisah “Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan
apapun yang terjadi pada kamu” Ashoka segera memapah Bal Govin pergi
dari tempat tersebut.
Ashoka membawa Bal Govin
yang terluka itu ke hadapan Maharaja Bindusara diruang sidang, semua
orang yang hadir disana terkejut melihat kedatangan Ashoka, Ashoka
kemudian membaringkan Bal Govin dilantai “Ada apa ini ?” ujar Khurasan
“Ada seorang iblis disini dan ini adalah kenyataan yang sebenarnya” ujar
Ashoka “Iblis ?” Bindusara terkejut “Ada seorang iblis yang suka sekali
membunuh anak anak di Patliputra, iblis ini mengambil anak anak dalam
beberapa hari ini, meskipun dia tidak kembali atau datang ke daerah ini
tapi lihatlah Bal Govin, apa yang telah iblis itu lakukan padanya,
tadinya aku tidak mempercayai kalau ini adalah perbuatan iblis tapi
ketika aku melihat Bal Govin dalam keadaan seperti ini, aku merasa yakin
dia ada disini” ujar Ashoka “Kita sedang menyelidiki permasalahan ini,
kita akan segera tahu tentang hal itu” Guru menimpali ucapan Ashoka,
“Nona, tolong obati anak itu” Dharma segera mendekati Bal Govin,
mengecek kondisinya dan berkata “Iblis itu bisa jadi adalah seorang
manusia”, “Dan iblis itu juga bisa menyerang anak ini lagi” ujar
Acharaya “Khurasan, kamu yang bertanggungjawab pada keselamatan anak
ini” perintah Bindusara, Bal Govin langsung diangkat oleh para prajurit
dan dibawa dari sana “Rakyat mencuri makanan, iblis mengambil anak ini,
makanan kerajaan tidak berarti lagi untukku sekarang, lakukan sesuatu
dengan kekuatan kamu dan tetap mencari tahu tentang iblis ini” perintah
Bindusara pada anak buahnya “Kita seharusnya melakukan sesuatu, seperti
umumkan pada semua orang bahwa siapa saja yang bisa menangkap iblis ini
maka mereka akan mendapatkan hadiah, oleh karena itu semua orang harus
mengumpulkan keberaniannya juga” ujar Acharaya geram, Bindu menyetujui
ucapan Acharaya dan berkata “Kalau begitu buat pengumumman kepada semua
orang bahwa siapapun yang bisa menangkap iblis itu akan mendapatkan
hadiah !” perintah Bindusara “Jika permasalahannya seperti itu maka aku
berjanji aku akan memberikan informasi tentang iblis itu pada anda,
dengan cara ini maka aku akan terbebas dari hukuman anda” Acharaya
tersenyum mendengar ucapan Ashoka.
Ashoka sampai
di istal kuda sambil membawa makanan dari istana untuk teman temannya
“Samrat telah mengirimkan makanan dari istana ini untuk kalian” ujar
Ashoka sambil menunjukkan makanan yang dibawanya sedari tadi “Kalian
benar, ternyata iblis itu ada, Bal Govin telah melarikan diri dari
tempat iblis itu” teman teman Ashoka terperangah “Ini artinya si iblis
itu pasti sangat marah, dia pasti akan membunuh kita sekarang” Ashoka
tersenyum dan berkata “Sekarang iblis itu pasti takut, aku akan
menangkap iblis itu !” teman teman Ashoka tidak percaya “Apakah kamu
tidak takut ?” dengan lantang Ashoka berteriak “Samrat Vanraj tidak akan
takut pada siapapun !” tepat pada saat itu teman teman Ashoka yang
memakai topeng tadi yang datang dari Vann (tempat tinggal Ashoka)
menemuinya, Ashoka sangat sekali melihat kedatangan mereka
“Kalian
seharusnya tidak usah datang kesini” ujar Ashoka “Kami harus menghadapi
banyak masalah untuk bertemu denganmu tapi kami tahu jika ada seseorang
yang melihat kami maka itu akan menjadi masalah untuk kamu, oleh karena
itu kami akan segera pergi dari sini” ujar salah satu teman Ashoka
“Tapi sebentar, pertama kalian harus makan makanan dari istana dulu
bersama aku, bagaimana ?” teman teman Ashoka dari Vann setuju, kemudian
mereka menikmati makanan dari istana bersama sama. Setelah selesai
menikmati makan malam, Ashoka mengantar teman temannya yang datang dari
Vann hingga pintu keluar istal, sepeninggal teman temannya itu Ashoka
mencuci tangannya di kolam air yang berada ditengah tengah istal kuda
kemudian mendekati Gul Bushan dan berkata “Gul Bhusan, kamu tahu, hari
ini adalah hari yang sangat sibuk untukku, apakah kamu pernah melempar
pangeran Sushima dari punggungmu ? Jangan pernah mencoba ya ! Dia itu
jahat ! Aku tidak tahu mengapa dia itu begitu egois ? Dia itu bukan
Samrat, dia tadi hampir saja mau membunuh adiknya sendiri” tiba tiba
terdengar ada suara gaduh dan anginpun bertiup sangat kencang, Ashoka
hanya menatapnya sambil sesekali memejamkan matanya, Gul Bhushan gelisah
sambil meringkik ketakutan
“Gul Bhushan, aku
tidak takut ! Samrat Vanraj tidak takut pada siapapun !” ujar Ashoka
bangga tiba tiba Ashoka mendengar ada suara aneh dan ketika berbalik
menghadap ke Gul Bhushan lagi, dari arah belakang ada seseorang yang
menutup kepala Ashoka dengan kain hitam, orang itu adalah iblis yang
menculik Bal Govin, sang iblis segera membawa Ashoka dari tempat
tersebut” Gul Bhushan meringkik ketakutan, sementara teman teman Ashoka
sedang bersiap siap untuk tidur, sedangkan Ashoka dibawa oleh iblis itu
ketempat rahasianya, sang iblis mengikat Ashoka persis dimana dirinya
mengikat Bal Govin yaitu pada sebuah pilar, tak lama kemudian sang iblis
datang menemuinya dan membuka kain penutup kepala Ashoka, Ashoka
terkejut ketika melihat didepannya sudah berdiri sang iblis “Hari ini
kamu tidak akan selamat !”, “Tidak hari ini !” ujar Ashoka lantang, tiba
tiba sang iblis mengambil sebuah besi yang telah dipanaskan di api dan
mulai menyakiti Ashoka dengan besi panas tadi, Ashoka berteriak menahan
sakit, tubuhnyapun terluka.
Sementara Acharaya
ada dikamarnya, Acharaya sedang menulis sesuatu, tiba tiba ketika
Acharaya sedang memandang keluar jendela, dilihatnya singa yang biasanya
menandakan keberadaan masa depan Magadha yaitu Ashoka, Acharaya sangat
kaget ketika melihat singa yang merupakan jelmaan Chandragupta (kakek
Ashoka / ayah Bindusara) terlihat sangat khawatir, Acharaya segera
menghentikan aktifitas menulisnya dan melangkah kearah jendela sambil
terus melihat singa tersebut “Apa yang akan terjadi ini ?” tepat pada
saat itu Radhagupta menemui Acharaya “Acharaya, Maharaja Bindusara
menginginkan kehadiranmu disidang” Acharaya mulai khawatir akan sesuatu.
Keesokan harinya, teman teman Ashoka yang
bekerja diistal kuda bangun dari tidur mereka “Teman teman, Gul Bhushan
meringkik terus sejak tadi malam” ujar salah seorang anak tersebut,
mereka kemudian membahas soal Bal Govin “Ashoka tidak penah percaya pada
kita sebelumnya bahwa iblis itu benar benar ada !” kemudian salah
seorang anak menyadari kalau Ashoka tidak ada bersama mereka “Dimana
Ashoka ?” tepat pada saat itu Acharaya menemui anak anak tersebut
diistal kuda dan berkata “Ashoka tidak ada disini rupanya ?”, “Mungkin
dia pergi untuk mencari iblis itu” ujar salah seorang anak “Tapi mengapa
Gul Bhushan terus meringkik ketakutan ?” Acharaya merasa ada yang tidak
beres dengan teriakan kuda Maharaja “Kami tidak tahu” tiba tiba salah
seorang anak menemukan sebuah gelang yang tergeletak ditanah dan
menunjukkan pada Acharaya, Acharaya memperhatikan gelang itu kemudian
memperhatikan jejak ditanah yang menunjukkan ada seseorang yang diseret
sampai keluar pintu istal kuda.
Dharma masih
mengobati Bal Govin disebuah kamar, Bal Govin mulai siuman “Apakah kamu
sudah merasa baikkan sekarang ?” Bal Govin berteriak ketakutan “Tolong
selamatkan aku ! Selamatkan aku !” Dharma panik “Tidal ada siapa siapa
disini, jangan khawatir” tepat pada saat itu beberapa prajurit menemui
Dharma dan berkata “Samrat memerintahkan pada kami untuk membawa anak
ini ke ruang sidang”
Diruang sidang, Bindu
bertanya pada Khurasan “Panglima Khurasan, mengapa kamu tidak
memberitahu padaku tentang iblis ini ?”, “Saat itu kamu sedang sakit
jadi aku pikir aku akan menangkap iblis ini sendirian” jawab Khurasan
kalem “Aku ingin bertanya padamu bagaimana caranya menyelamatkan anak
anak ini ? Iblis itu telah menculik Bal Govin dari istal kuda kerajaan
dan orang orang kamu tidak melakukan apa apa” tepat pada saat itu
Sushima datang keruang sidang dan duduk dikursinya, Bindu kurang suka
dengan kedatangan Sushima yang datang begitu saja seenak hatinya
“Sushima, disini kamu bukan anakku dengan mendatangi ruang sidang
seenaknya saja, kamu seharusnnya datang keruang sidang pada saat yang
tepat” ujar Bindusara, para prajurit datang keruang sidang sambil
memapah Bal Govin
“Bal Govin, sekarang kamu
aman, kami ingin menangkap iblis itu secepat mungkin, apakah kamu bisa
menceritakan pada kami tentang iblis ini ? Apakah kamu ingat dimana
tempatnya ?” Bal Govin teringat bagaimana iblis itu menyiksa dirinya dan
tiba tiba saja terjatuh tidak sadarkan diri, Dharma segera mendekati
Bal Govin dan berkata “Mental anak ini belum siap untuk memberikan
kesaksian, Samrat ... berikan dia waktu hingga saatnya nanti dia siap”
Khurasan kurang suka dengan pendapat Dharma “Kita tidak mempunyai banyak
waktu karena anak anak yang lain dalam keadaan bahaya !”
Acharaya
datang keruang sidang bersama Radhagupta dan berkata “Itu memang benar !
Bal Govin memang belum sembuh benar, aku meminta padamu untuk
mengirimkannya ke rumah pengobatan” Bindusara menyetujui pendapat
Acharaya, Dharma segera membawa Bal Govin yang digotong oleh para
prajurit keluar dari ruang sidang. Sepeninggal Dharma dan Bal Govin,
Acharaya berkata “Saat ini iblis itu telah menculik lagi seorang anak
dan nama anak itu adalah Ashoka” Bindu kaget kemudian dirinya teringat
ketika Ashoka memenangkan pertandingan lari dan terjatuh dipelukkannya,
ketika dirinya mengobati kaki Ashoka yang terluka, bagaimana mereka
berdua naik kuda bersama sama “Kita harus segera mengambil keputusan
secepatnya karena nyawa Ashoka dalam keadaan bahaya” Bindusara segera
memerintahkan pasukannya untuk mencari Ashoka bagaimanapun caranya... Sinopsis Ashoka Samrat episode 12 by Sally Diandra.
http://sinopsisashokasamrat.blogspot.com/2015/05/sinopsis-ashoka-samrat-episode-11-by.html
Diposting oleh arieska arief (@_@) di 8:43 AM 0 komentar
Label: sinopsis
Jumat, 24 Juli 2015
Sinopsis Ashoka Samrat episode 10
kayaknya tuh bagusnya aku bilang kalo bulan neh jadwal menyepi dari keramaian sos-med. hanya sedikit akun yang aktif dulu. cus aku butuh menyepi agar tak terpengaruh lingkungan dan bisa fokus nyelesain novel horor, n lagi aku lagi belajar nulis epik kolosal. jadi kalo aku belum bisa balas sana-sini, jangan ngambek ya plis cus aku lagi mo fokus, butuh keheningan. agar tenang nyelesain muanya getuh. sekarang lagi asik ama ashoka. aku mah getuh orangnya, susah dipahami kalo gak ngomong napa aku ilang-ilang...
Sinopsis Ashoka Samrat episode 10.
Bindusara membantu Ashoka bangkit sambil memuji Ashok sebagai atlet yang
sangat baik, karena telah mengalahkan Sushim dan Shera, Bindu terlihat
senang. Dia mengeluarkan sekantong koin dan hendak menyerahkannya pada
Ashoka ketika Sushim berteriak mengatai Ashok, curang karena mengambil
jalan pintas. Tapi beindu membela Ashok dengan mangatakan kalau itu bukan kecurangan tapi kepintaran. Yang terpenting adalah siapa yang tiba di garis finish
tercepat, bukan jalan yang di tempuhnya. Bindu menyuruh Sushim mengakui
kemenangan Ashok dan menerima kekalahannya. Sushim dengan marah
meninggalkan arena. Bindu tak memperdulikan kepergian Sushim, dia mengajak Ashok pulang bersama. Ashok dengan rendah hati menolak. Tapi
Bindu memaksa. Dia mengajak Ashok naik Gul Bushan bersamanya. Ashok
terlihat senang. Bindu menyuruh pelayan membawakan kudanya. Dia lalu
mengangkat tubuh Ashok dan mendudukannya di atas punggung Gul Busha.
Setelah itu ia sendiri naik di belakang Ashok. Bindu tersenyum, sambil
memegang bahu Ashok dia menarik tali kekang kuda. Gul Bushan pun melaju
kencang menuju istana.
Ratu Noor menemui dharma
dan bertanya dengan nada marah mengapa Darma membiarkan Bindusara pergi
bersama Sushim. Dharma menjawab, "beliau ingin menghabiskan waktu
bersama anaknya, bagaimana saya bisa menghentikannya?" Noor mengancam ,
kalau sampai terjadi sesuatu pada Bindu, dia tidak akan memaafkan
Dharma. Lalu dengan geram Noor pergi. Sepeninggal Noor terdengar
pengumuman kalau Bindusara datang. Dharma berjalan ke jendela, dia
melihat Ashok dan Bindusara berkuda bersama. Dharma terkejut tapi senang, "samrat dan Ashok berkuda bersama?" tapi saat di lihatnya Ashok meringis kesakitan, Dharma terlihat khawatir.
Turun
dari kuda, Bindu membopok tubuh Ashok dan membaringkannya di atas
tempat tidur. Telapak kaki Ashok berdarah. Dharma terlihat cemas.
Cepat-cepat dia menghampiri Ashok dan menyentuh kakinya. Bindu berkata
dengan nada menyesal, "seharusnya aku menghentikan Sushim. Semua
salahku, sampai anak ini terluka. Sekarang dia menjadi tanggung jawabku.
Obati dia." Tanpa buang waktu, Dharma segera mengambil ramuan obar dan
mengobati kaki Ashok sambil meneteskan air mata. Dia seperti merasakan
sakit yang di rasakan Ashok. Dengan penuh kasih sayang, dia mengobati
dan membalut luka di kaki Ashok. Merasakan sentuhan Dharma, Ashok
teringat pada ibunya saat dia mengobati dirinya yang sedang terluka
dengan wajah cemas, dulu sekali. Teringat kenangan itu, Ashok berkata,
"anda seperti ibuku." Dharma tertegun. Bindupun tertegun mendengar
kata-kata Ashok. Tapi tidak sempat berkomentar karena Chanakya datang. Bindu memberi hormat pada Chanakya. Ashoka berkata pada Dharma lagi kalau cara Dharma mengobati lukanya sama persis
dengan yang dilakukan ibunya. Dharma tidak menyahut, dia tetap berusaha
menutupi wajahnya engan selendang. Chankay menegur Ashoka, "aku dengar
kau menantang pangeran Sushim?" Ashok membantah, kalau bukan dirinya
yang mulai, tapi Sushim. Bindu membenarkan, "itu hanya sebuah kompetisi,
anak ini memiliki berbakat." Chanakya senang melihat reaksi Bindu yang
memuji Ashok, "tapi ia menyebut dirinya samrat." Ashok menyahut, "bukan hanya menyebut, tapi
akan jadi." Bindu tersenyum, "anak ini seperti anak dari keluarga
kerajaan." Dharma menatap Bindu. Bindu berkat alagi dengan antusias,
"dia berbakat..." Mendengar pujian Bindu, Ashok langsung besar kepala,
"terimakasih, Samrat. Hanya anda yang bisa melihat bakatku, achari ini
menganggap remeh diriku." Menedngar kata-kata Ashok yang tidak sopan
pada Chanakya, Bindu naik darah dan memperingatkan Ashok agar tidak
bicara seperti itu lagi pada Chanakya. Ashok meminta maaf.
Dua orang pengawal muncul sambil membawa tandu. Chanakya berkata kalau dia akan membawa Ashok pergi denganya. Tapi
Ashok tak mau di tandu. Dia langsung berdiri dan bicara kalau dirinya
tidak membutuhkan pengobatan apapu. Sebelum pergi dia memberi hormat pad
Dharma dan mengucapkan terima kasih. bindu dan Chanakya menatapnya
pergi dengan langkah pincang. Begitu juga Dharma. Sepeninggal Ashok,
Chanakya berkata pada bindu, "anda seharusnya tidak pergi begitu saja."
Bindu menyahut kalau kematian bisa datang kapan saja dalam hidupnya, dia
ingin mulai melakukan sesuatu yang dia kerjakan dalam hidupnya, "aku
punya pekerjaan yang belum terselesaikan. Sampai aku menuntaskannya, aku
tidak akan mati." Chanakya mengamini keinginan Samrat dan berpamitan.
Bindu segera melipat tanganya memberi salam. Sebelum peri, Chanakya
menatap Dharma yang juga memberinya salam meski dengan wajah terutup
kerudung.
Chanakya terlihat gundah dan seperti
sedang banyak pikiran. Radhagupta yang melihat itu bertanya, "apa yang
terjadi Achari?" Chanakya berkata, "aku telah membuat anak dan ibu
terpisah. Ini sangat kejam. Anak yang seharusnya tinggal di istana harus
tinggal di kandang kuda. Merawat kuda, dan melayani samrat tanpa tahu
kalau itu anaknya sendiri. Kelak orang-orang akan menganggap aku sangat
egois, tapi di balik keegoisan ini adalah kebaikan untuk Magadha. Ashok
adalah masa depan Magadha. Dan apapun yang di perlukan untuk
menjadikannya Samrat, akan aku lakukan."
Charumitra
sedang berhias di kamarnya ketika Sushim datang dengan marah-marah.
Katanya, "dia orang biasa, tinggal di kandang kuda. Dan ayah memujinya
di depan aku. Siapa anak itu? Dia bukan siapa-siapa dan ayah membawanya
kembali ke istana dengan menaiki kudanya." Charu mencoba menenangkan
Sushim, "kau memiliki begitu banyak kemarahan dan ini layak di miliki
oleh seorang samrat. Tetapi kau harus menggunakan kemarahanmu dengan cara yang benar." Dengan geram Sushim berkata kalau dirinya tidak tahan melihat Bindu mencintai orang lain. Charu membenarkan, "akupun tidak tahan. Kau putra sulungnya, samrat harus lebih mencintaimu. Hari
ini ada perayaan kembalinya Samrat. Bersiap-siaplah. Emosimu sangat
berharga, jangan mengumbar kemarahan untuk anak biasa." Lalu Charu
mengambil kotak dan mengeluarkan sejenis ular beracun. Charu mengamati
ular itu sambil senyum. Sushim mengambil botol dari dalam kotak dan
memberikannya pada Charu. Dengan botol itu, Charu menanpung bisa ular
sambil bercerita kalau ketika Sushim berusia 1 tahun, Bindu diserang.
Semua orang berpikir kalau Bindu sudah mati dan justin sudah siap
mengambil alih tahta yang merupakan hak Sushim, "hari itu aku sangat
takut akan nasibmu, karena itu aku mulai mengontrol roh jahat yang
datang diantara dirimu dan tahta. Percayalah pada kekuatanmu. Apa yang
kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. Tenang dan percayalah pada
ibumu." Charu memberikan botol berisi racun itu pada Sushim, lalu Sushim menyimpannya dalam kotak.
Ratu
Noor sedang mandi, Justin datang. Noor meminta semua pelayan pergi.
Justin menghampiri Noor dan duduk di belakangnya. Justin berkata kalau
sangat tidak adil untuk wanita lain, karena noor memiliki kecantikan
melebihi mereka. Noor berkata, "tidak baik kalau kau datang kekamarku
seperti ini." Justin sambil mengelus wajah Noor berkata kalau noor
adalah miliknya dan Bindu tidak akan membawa Noor jauh dari dirinya.
Dengan gesit Noor meraih belati dan menghunuskannya ke leher Justin.
Justin tidak mengelak, ataupun takut. Dia hanya diam tak bergerak. Noor
mengancam Justin kalau sampai Justin berkata seperti itu lagi, dia akan
membunuhnya. Setelah berkata begitu, Noor keluar dari bak mandi menuju
ke cermin. Justin tertawa. Dia melangkah mendekati Noor dan berdiri di
belakangnya. Justin mengendus rambut Noor dan memanggilnya kucing liar. Noor membalas mengejek Justin dengan berkata kalau menjadi kucing liar
lebih baik daripada kucing domestik yang bersembunyi dibelakang ibunya.
Justin tertawa sambil mengaku kalau dirinya tak akan menang kalau adu
ejekan dengan noor. Sebelum pergi, Justin berkata kalau mereka akan
bertemu lagi di perayaan. Noor tersenyum licik.
Persiapan
untuk perayaan besar itu di lakukan dengan masimal. banyak hidangan
kerajaan di persiapkan. Bindu sedang bersiap di kamarnya. Dharma ada di sana.
Pelayan membawakan mahkota ke depan Bindu. Bindu berkata kalau perayaan
itu diadakan karena dia kembali hidup. Dia ingin ibunya saja yang
meletakkan mahkota itu ke kekepalanya. Helena datang. Bindu tersenyum
senang, "ma, aku sedang membicarakanmu." Bindu bertanya kenapa Helena
belum bersiap. Helena menjawab kalu dirinya tidak punya hak untuk datang
ke perayaan. Dia meminta maaf atas apa yang dia katakan tentang Achari
Chanakya kemarin, "aku tahu saya telah menyakiti hatimu. Seharusnsya aku
tidak amengatakan semua itu." Bindu berkata, "mengapa anda mengatakan
semua ini? saya tahu anda sangat peduli padaku. Anda peduli pada
keselamatanku sehingga anda berkata begitu. Sudah saya katakan, anda
adalah orang yang paling penting untukku. Bagaikan Krishna mempunyai
yasoda. AKu mempunyai anda. Jika ana menentangku, itu pasti demi
kebaikanku. Jika anda tidak datang ke perayaan, maka aku akan
menghentikannya." Helena melarang, "jangan. Rakyat Patliputra
menunggumu. Mereka mempunyai haak atasmu. Biarkan mereka merayakannya. Tapi
katakanlah kalau engkau memaafkan aku." Bindu berkata kalau dirinya
bahkan tak bisa mengatakan kata-kata itu helena, dia lebih baik mati.
Dharma tersentak. Helena menutup bibir Bindu dan menggengam tangan di
depannya. Bindu meraih tangan Helena. Helena tersenyum dan meraih
mahkota. Dia menatap Mahkota dengan tamak, dan membayangkan dirinya
sedang memasangkan mahkota itu kekepala Justin yang tertawa bahagia. tapi
bayangan itu hanya selintas saja, karena kemudian helena tersadar.
Dengan senyum di bibir, dia memasangkan mahkota ke kepala Bindu. Bindu
mengucapkan terima kasih dan meminta Helena pergi bersiap-siap. Setelah
Helena pergi Dharma menghampiri Bindu dan menyerahkan gelas berisi
ramuan. Bindu mengambil gelas itu dan berkata kalau dia merasa Dharma
datang padanya dan merawatnya adalah karena doa ibunya. Dia merasa
beruntung Dharma ada di sisinya dan mengobatinya. Dharma tersenyum.
Bindu mengundang Dhrama datang ke perayaan, karena itu adalah malam
khusus untuk pelayan. Setelah berkata begitu, Bindu meminum obat buatan
Dharma dan pergi. Setelah tinggal sendiri di kamar, Dharma dengan mata
berkaca-kaca berpikir, "bagaimana aku akan memakan makanan kerajaan
kalau anakku tidak ikut menikmatinya."
Di kandang
kuda, Ashok dan kawan-kawan sedang menikmati makan malamnya. Ashok
membolak-balik bagiannya danberkata kalau makanan iu tidak sedap.
Temannya menyahut setengah menyindir dengan berkata kalau itu bedanya
samrat asli dan samrat palsu. "makanan ini adalah hadiah karena menang
melawan pangeran Sushim." Yang lain mengatakan kalau Sushim memiliki 51
hidangan makan malam. Hidnagan itu sangat menakjubkan. Ashok berkata
kalau dirinya yang menang, jadi dia akan merayakannya. Dia berjanji akan
membuat kawan-kawannya di istal makan makanan kerajaan.
rakyat
mulaia berdatangan memasuki istana, perdana menteri yang menyambut
mereka. Khorasan memanggil pengawal dan menyuruh mereka memperketat
penjagaan. Ketika para pengawal mulai berjaga, tiga orang anak dengan
topeng menutupi wajah muncul. Mereka membicarakan Samrat Ashok. Lalu
sejenak mereka membuka topengnya menampakan wajah asli mereka. Ternyata
mereka adalah teman-teman Ashok dari desa. Teman-teman setia yang selalu
melayani dan menemani Ashok.
Dengan topeng
menutupi wajah mereka berusaha masuk ke istana. Tapi Khorasan
menghentikan mereka dan menanyainya. Mereka menjawab kalau mereka datang
untuk menghibur Samrat. Perdana menteri tertawa dan berkata kalau
mereka bertiga tampak lucu, lalu meminta agar Khorasan mengizinkan
mereka masuk. Khorasa amengangguk. Ketiga anak itupun berhasil masuk
keistana. Para pengawal melaor pada Khorasan. Khorasan berkata kalau
dirinya yang akan mengawasi keamanan malam ini. Dia tidak ingin musuh
menyelinap dan menyerang Samrat lagi. Para pengawal mengangguk dan
pergi. Tiba-tiba seorang pria datang tergopoh-gopoh sambil memanggil
senopati. Prajurit segera menghentikannya. Pria itu memberitahu Khorasan
kalau anaknya di bawa binanga buas. Perdana menteri dan Khorasan segera
menghampirinya dan mengusir pria itu. Pria itu memprotes perlakuan
Khorasa dan berkata kalau rakyat di landa kecemasan karena binatang buas
tapi raja malah mengadakan pesta di istana. Perdana menteri dan Khorasa
terdiam, Chanakya datang dan bertanya apa yang terjadi? Khorasan
memberitahu Chanakya kalau pria itu mengatakan anaknya di ambil
binatang. Chanakya memprotes reaksi Khorasan, "anda tahu bagaimana
sakitnya kehilangan anak karena anda juga pernah mengalaminya. Aku tidak
ingin mencampuri pekerjaan anda, tapi seharausnya anda tidak
menghalanginya untuk datang mengeluh pada Samrat. Ini haknya." Setelah
berkata begitu, Chanakya peri, Khorasan terlihat berpikir.
Dengan
mengendap-endap, Ashok datang ke istana. Saat melihat Chanakya lewat di
depannya, Ashok cepat-cepat menyembunyikan diri. Begitu suasana
lenggang, dengan gesit Ashok masuk ke sebuah kamar. Dia melihat pakaian
tergeletak. Dia mendapat ide. Dengan peratalatan yang ada di kamar itu,
Ashok berdandan, melukis tubuhnya dan memakai topeng. Entah darimana dia
mendapatkan topeng itu, tapi topeng yang di pakainya sama persis dengan
topeng yang di pakai ketiga temanya.
Bindusara
di dampingi Justin, Helena, Khorasan dan perdana menteri memasuki aula.
Diantara rombongan para dayang, terlihat Dharma yang berjalan di
belakang Justin sambil memegangi selendang untuk menutupi wajahnya.
Semua orang menyambut Samrat. Samrat duduk di tahtanya lalu berkata
kalau semua orang berdoa untuk keselamatannya, dia mengucapkan terima
kasih untuk itu. Bindu memerintahkan agar perayaan di mulai. Tapi
tiba-tiba Chanakya dan Radha gupta datang memasuki aula. Semua orang
berdiri memberi Achari salam hormat, Begitu juga samrat, dia berdiri dan
memberi salam pad Chanakya. Chanakya tersenyum, mengangkat tangan
sambil berkata, "aku ingin memberimu hadiah pad akesempatan ini, tapi
sebagai acharya aku hanya akan memberimu berkat." Bindu menjawab kalau
berkat Achari ternilai harganya. Chanakya hendak beranjak ke tempat
duduknya ketika Helena menghampirinya. Dengan arogan dia berkata pada
Chanakya kalau dulu chanakya pernah duduk di samping Samrat, tetapi
sekarang dia duduk jauh darinya. Helena tahu betapa Chanakya berusaha
keras untuk merebut posisi itu kembali, tapi semua telah berubah seiring
berjalannya waktu. Chanakya hanya tersenyum. Sebelum pergi, dengan
penuh percaya diri Helena memberitahu Chanakya kalau kini semua ada di
bawah kendalinya. Sambil tersenyum licik, helena kembali ke tempat
duduknya. Chanakya menarik nafas lega.
Charumitra
memasuki aula di dampingi Sushim. Dia langsung menghadap Bindusara dan
berkata kalau Sushim sangat senang Bindu pergi berkuda denganya. Bindu
menjawad dengan diplomatis meskipun dirinya samrat, tapi dia juga
seorang ayah. Dan Sushim adalah putra sulungnya. Charu menyahut cepat,
"senang rasanya melihat Anda memberinya hak sebagai putra sulung, karena
aku tidak pernah mendapatkan hak ku sebagai istsri pertama." Bindu
tersenyum pengertian, lalu meminta Charu duduk disampingnya. Charu
menurut. Kesempatan itu di gunakan Charu untuk menyempaikan isi hatinya
pada Bindu. Charu berkata kalau dirinya sangat khawatir dengan nasib
Sushim kalau sampai terjadi sesuatu pada Samrat. Karena hanya dia
seorang yang memikirkan kebaikan Sushim. Helena menegur Charu karena
berbicara tentang kesehatan Bindu seperti itu. Charu membela diri,
"ketika seorang ibu bicara, dia tidak memikirkan hal lain lagi." Helena
berkata, "tapi kau seharusnya melihat situasi." Bindu menengahi dengan
bertanya kalau-kalau Charumitra ingin meminta sesuatu yang lain. Charu
mengangguk, dia ingin Bindu mengumumkan Sushim sebagai berikutnya. Semua
orang tertegun. Noor muncul bersama Siamak. Mendengar pemintaan Charu
Noor langsung menyela, "mengapa mengabaikan pangeran Siamak ketika
bicara tentang samrat berikutnya?" Charu menoleh kearah Noor dan berkata
kalau pembicaraan ini membuatnya khawatir, "Sushim adalah putra tertua,
dia berhak atas tahta." Noor menyahut dengan pedas, "dia mungkin putra
tertua, tapi dia yang gemilang yang harus menduduki tahta. Dan
Sushim...aku dengar Sushim kalah dari anak biasa..." Noor mengatakan
kalau saat ini adalah saat yang tepat untuk mengumumkan samrat
berikutnya. Biarlah ada kompetisi antara Sushim dan Siamak, yang menang
diantara merekalah yang berhak menjadi Samrat. Perseteruan
terang-terangan pun di mulai. Sushim dan Siamak saling berpandangan
dengan tatapan penuh rasa bermusuhan. Masing-masing ingin terlihat
garang bagi yang lainnya. Tiba-tiba tanpa peringatan, Sushim mencabut
belati dan melempatkannya kearah Siamak. Semua yang hadir terkejut. Tapi
Siamak berhasil menghindar, belati itu melayang melewati siamak dan di
tangkap oleh sebuah tangan penuh lukisan... tangan seorang anak yang
memakai topeng.... tangan Ashoka.......Sinopsis Ashoka Samrat episode 11
Diposting oleh arieska arief (@_@) di 9:25 AM 0 komentar
Label: sinopsis
Sinopsis Ashoka Samrat episode 9 by Sally Diandra
episod yang ini lagi seru banget, ada adegan rush-nya lagi, aku suka! jadi harus pelajari juga tu adegan getuannya to? hm, kayaknya banyak yang cariin aku deh napa ilang sana-sini. cus tiap tanggal 1 kan aku ganti jadwal getuh. jadi sabar ya napa aku ga balas sana-situ. ntar kalo aku buka akun-akunnya pasti aku balas, jangan ngambek plis. bukannya cuek juga sih, aku orangnya ikutin jadwal yang aku komitmenkan. n sekarang jadwalnya nulis novel epik kolosal, jadi aku ga posting info lomba menulis dulu...
Sinopsis Ashoka Samrat episode 9 by Sally Diandra. Dharma bersembunyi dibalik pilar pilar besar agar tidak terlihat oleh Khurasan, para prajurit berjalan kesana kemari, Khurasan bertanya pada para prajurit “Apa yang terjadi ?”, “Disana ada seorang monster buas yang membawa anak itu pergi dan kami juga menemukan kepala kepala, dia ada disini !” ujar prajurit, Dharma yang bersembunyi nampak panik “Samrat saat ini masih kurang sehat, dia tidak boleh tahu tentang hal ini, aku akan menangani masalah ini, lindungi pangeran Sushima dan pangeran Siamak” perintah Khurasan
Ashoka sedang
berada diruang sidang, dia duduk disinggasana Maharaja, Ashoka
bersandiwara layaknya seorang Samrat dan berkata “Kamu penjaga toko yang
telah menipu, kamu akan dihukum!” tepat pada saat itu Acharaya
mengintip tingkah lakunya dari balik pintu bersama Radhagupta, muridnya.
Rhadagupta tertawa melihat tingkah laku Ashoka yang pura pura menjadi
Samrat, tak lama kemudian Acharaya keluar dari persembunyiannya dan
menemui Ashoka, Ashoka terkejut begitu melihat Acharaya berdiri diepan
pintu, para prajurit juga tiba disana “Tangkap anak itu !” perintah
Acharaya lantang, para prajurit bergegas mengejar Ashoka “Kamu selalu
menghianati aku !” ujar Ashoka sambil melompat dan menghindar dari
kepungan para prajurit, Acharaya sangat terkesan melihatnya, Ashoka
membuat semua prajurit berlari lari mengejarnya kesana kemari,
Radhagupta yang penasaran dengan tujuan Acharaya mulai bertanya
“Acharaya, mengapa kamu melakukan ini semua ?”, “Dia selalu mencoba
untuk bertemu dengan ibunya” pada saat itu Dharma datang menemui
Acharaya dan berkata “Ini adalah tindakan yang kejam untuk seorang anak
kecil dengan tidak membiarkan aku bertemu dengannya”, “Kamu telah
memberikan janjimu, ini semua untuk perlindungannya, kamu harus menjauh
darinya untuk keselamatannya, selama aku masih hidup maka dia akan tetap
aman” ujar Acharaya “Aku percaya padamu tapi ketika Samrat tidak
selamat lalu bagaimana dengan Ashoka” Dharma sangat panik “Tidak ada
tempat untuk keragu raguan ketika kamu sudah mempercayai seseorang,
Dewi”, “Selama ini kami hidup bahagia di Vann, kamu telah melibatkan
kami dalam masalah dengan membawa kami kesini” Dharma kelihatan sedih
“Ashoka tahu bagaimana cara keluar dari masalah ini” ujar Acharaya dan
berlalu meninggalkannya.
Saat
itu Ashoka bersembunyi dari para prajurit, Ashoka melihat Helena sedang
berbicara dengan Bindusara, Bindusara melihat ada sekelebat bayangan
“Heiii ! Siapa itu ? Keluarlah !” perintah Bindusara, Ashoka segera
meninggalkan tempat tersebut secara diam diam. “Acharaya saat ini telah
amat sangat melewati batas, Bindusara” ujar Helena “Dia itu orang yang
baik, ibu” ujar Bindusara “Acharaya telah membunuh banyak orang, aku
tidak percaya padanya sepenuhnya, mengapa dia kembali lagi setelah
berbagai macam alasan, apa alasannya ?”, “Permasalahan dalam
kehidupankulah yang telah membawanya kembali”, “Mungkin dia mengira
bahwa kamu tidak layak menjadi seorang Samrat dan dia pikir seseoranglah
yang seharusnya menjadi Samrat” Helena berupaya meracuni pikiran Bindu
agar membenci Acharaya “Aku percaya padanya” ujar Bindu, Helena nampak
tidak suka dengan ucapan Bindu, Helena menjauhi Bindu dan pura pura
sedih “Kamu lebih mempercayai dia daripada aku ? Kamu memiliki
kekuasaan, Acharaya memiliki kekuasaan, sedangkan aku, aku hanya seorang
ibu, aku mengkhawatirkan kamu, besok adalah pesta perayaan penyambutan
kepulanganmu kembali akan tetapi aku tidak mempunyai hak sepenuhnya
padamu, jika aku adalah ibu kandungmu maka kamu seharusnya memikirkan
aku lebih serius” ujar Helena dengan nada memelas “Ibu, kamu memang
adalah ibuku yang sesungguhnya, kamulah yang paling berharga untukku,
aku mohon tolong jangan meminta aku untuk memilih antara kamu dengan
Acharaya, aku membutuhkan kamu dan Magadha membutuhkan Acharaya” ujar
Bindusara sambil melipat tangannya didepan dada memohon pada Helena yang
saat itu menoleh dan berjalan mendekati Bindu, tak lama kemudian Dharma
menemui mereka dan berkata “Maaf mengganggu anda, tapi ini saatnya
pengobatan” ujar Dharma sambil menutupi wajahnya dengan dupattanya,
Helena mendekatinya dan berkata “Acharaya dan Maharaja percaya padamu,
jangan sampai kamu menipunya !” ujar Helena, Dharma menganggukkan
kepalanya.
Didalam istana, ada seorang anak yang
memasuki kamar ibu Ratu Helena, anak tersebut merasa takjub dengan
dekorasi kamar ibu Ratu Helena yang sangat indah, anak yang bernama Bal
Govin itu berkata dalam hati “Ibu Ratu Helena pasti akan senang dengan aku, dia pasti akan memberikan aku hadiah, aku tidak bodoh”
tepat pada saat itu prajurit datang kesana dan bertanya “Sedang apa
kamu disini ? Hey kamu tidak boleh datang ke istana ini dengan pakaian
seperti ini ! Apakah kamu kesini mau mencuri ?” Bal Govin panik “Tidak !
Aku datang kesini untuk pekerjaan penting dengan ibu Ratu Helena”,
“Kamu bohong pada kami !” para prajurit tidak percaya dengan Bal Govin
“Aku bekerja di istal kuda, kamu bisa bertanya pada ibu Ratu Helena”
prajurit akhirnya mengijinkan Bal Govin pergi “Baiklah kalau begitu,
pergi dari sini !” Bal Govin segera meninggalkan tempat tersebut.
Bal
Govin sudah berada diluar ruangan, dirinya merasa ada seseorang yang
mengikutinya dari belakang dan tiba tiba Bal Govin melihat bayangan
seseorang yang sangat misterius mendatangi tempat itu dengan jubah
hitamnya, Bal Govin sangat panik dan berusaha melarikan diri dari tempat
itu, namun apa daya dirinya dibawa oleh pria misterius tersebut.
Maharaja
Bindusara sedang berada dikamarnya menatap rembulan melalui celah
jendela kamarnya, dirinya sangat merindukan Dharma, lagu Tum Hi To Mere
Ho pun mulai terdengar, Dharma menemui Bindusara, hendak melakukan
pengobatan, Bindu berbaring ditempat tidur, Dharma mengobati Bindu dan
berkata “Luka anda berdarah, Maharaja”, “Aku sudah terbiasa dengan darah
dan bila darah itu keluar untuk bangsaku maka aku tidak peduli” ujar
Bindu sendu “Kadang kadang merasa menderita memang lebih baik” ujar
Dharma sambil mengobati luka Bindu “Ketika rakyat melihat seorang
Maharaja, mereka melihat kemewahannya, mereka melihat keuntungannya akan
tetapi mereka tidak melihat permasalahan yang ada pada tahtanya dimana
dia harus menghadapi semua persoalan ini, akan tetapi diatas semua itu
aku telah menderita kehilangan Dharma” Dharma yang mendengarkan sedari
tadi terkejut “Aku telah memberikan kehidupanku untuknya, aku telah
memberikan nyawaku, cintaku untuknya dan aku telah menjauh darinya
bahkan hari ini, aku telah meninggalkannya atas desakkannya” Dharma
teringat ketika dulu dia meminta Bindu untuk pulang memerintah Magadha
kembali dan meninggalkannya “Aku telah melakukan semuanya apa yang
seorang Maharaja harus lakukan akan tetapi setelah 14 tahu, aku masih
menderita kehilangan Dharma” Dharma benar benar panik, Bindusara
kemudian bangun dan tidak sengaja tangannya menyentuh pipi Dharma,
Bindusara terkejut dan teringat bagaimana ketika dulu dirinya menyentuh
wajah Dharma, Dharma segera menutupi kembali wajahnya, ketika Bindusara
hendak menyentuh wajah Dharma lagi, Dharma menghindar dan berkata “Saya
akan datang lagi dengan obat obatan yang lain”, “Mengapa aku merasa aku
pernah kenal denganmu ?”, “Saya telah mengobati anda selama beberapa
hari mungkin anda baru mulai menyadari keberadaan saya” ujar Dharma
sambil masih terus menutupi wajahnya kemudian pergi meninggalkan
Bindusara “Tidak, aku telah melihatnya di ruang sidang tapi kenapa aku
masih merasa bahwa dia adalah Dharma ? Mungkin ini hanya imaginasiku
saja” ujar Bindu sedih
Ashoka kembali ke istal
kuda, dia menemukan seorang anak yang sedang menangis “Jangan takut
padaku” salah satu anak berkata “Setelah Bal Govin, mereka pasti akan
mengambil aku juga” Ashoka kaget “Apa ? Dimana Bal Govin ?” salah satu
anak menunjuk kesebuah tembok dimana terdapat gambar tengkorak menempel
ditembok tersebut “Ini adalah tanda dari hewan buas itu, dia telah
mengambil Bal Govin” ujar anak tersebut “Aku tidak pernah melihat hewan
buas di Vann (tempat tinggal Ashoka), apakah kamu pernah melihatnya ?”,
“Seseorang yang bisa melihatnya akan dibunuh ! Dulu dia mengambil dua
teman kami dan sekarang dia mengambil Bal Govin, kami tidak tahu apa
yang akan dia lakukan pada mereka”.
Pada saat
itu Bal Govin sedang diikat dalam sebuah ruangan, seorang pria misterius
menemuinya, pria itu mengenakan pakaian bergambar tengkorak dengan
aksesoris tulang tulang manusia melingkar dilehernya, Bal Govin
berteriak ketakutan, ditempat Ashoka dan teman teman barunya, Ashoka
berkata “Tidak ada hewan buas yang masih ada sekarang”, “Lalu kemana
anak anak itu pergi ?” tanya salah satu anak. Ditempat Bal Govin
disekap, Bal Govin meminta pada pria misterius untuk melepaskan dirinya
“Aku membawa anak anak kesini untuk menikmati penderitaan mereka”
kembali pria misterius itu mencambuk Bal Govin.
Sementara
itu di tempat Ashoka, Ashoka masih tidak percaya kalau ada hewan buas
“Itu hanya mitos belaka, Bal Govin pasti melarikan diri dari sini,
apakah kamu semua ingin tinggal disini ? Dia pasti telah merencanakan
untuk melarikan diri dari sini” Ashoka mencoba menghibur teman temannya
yang panik “Bagaimana dengan tanda ini ?” tanya salah satu anak “Ini
pasti telah direncanakan oleh dia, jika aku tahu lebih dulu cerita ini
maka aku akan melarikan diri juga seperti Bal Govin” Ashoka masih
mencoba mencairkan ketegangan yang dirasakan oleh teman temannya dan tak
lama kemudian diapun pergi meninggalkan teman teman barunya itu yang
masih panik memikirkan hewan buas yang akan segera menyerang mereka.
Sushima
saat itu juga hendak pergi tidur, Charumitra (ibu kandung Sushima)
menemuinya dan menyalakan lilin yang melingkar dikamar di Sushima dan
berkata “Tidak baik bila calon Maharaja tidur terlalu malam”, “Aku tidak
ingin ada yang mencampuri urusan pribadiku !” ujar Sushima marah “Kamu
adalah anakku, kamu seharusnya menghormati aku, ibumu!”, “Lebih baik
kita ngobrolnya besok pagi saja” Sushima enggan berdebat dengan ibunya
itu langsung menarik selimut menutupi tubuhnya, Charumitra langsung
menarik selimut tersebut “Saat ibu berusia 16 tahun, ibu sangat
mendambakan sebuah cinta, ibu harus menanggung semua ini hingga akhirnya
kamu menjadi Maharaja”, “Apa yang ibu inginkan akan ibu dapatkan, aku
akan menjadi Maharaja” ujar Sushima optimistis “Itu adalah tugasku,
untuk mengatakan padamu apa bedanya antara kasar dan perilaku, ingat
jika ayahmu tahu tentang rahasiamu ini, dia tidak akan menjadikan kamu
raja, kamu harus memperbaiki sifatmu, keamanan sangat ketat, jangan buat
kesalahan yang bodoh yang akan membuatmu menyesal seumur hidup karena
ibu tidak akan bisa menerima kalau kamu tidak menjadi Maharaja !” ujar
Charumitra kesal kemudian berlalu meninggalkan Sushima, Sushima teringat
ketika ibunya mengatakan bahwa dirinya harus memperbaiki sikapnya,
Sushima berteriak “Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan aku
menjadi seorang Samrat ! Tidak juga ayahku !” teriak Sushima lantang
Keesokan
harinya Ashoka sedang tertidur diistal kuda, Ashoka merasa kegelian
karena jilatan kuda yang berada didekatnya, tepat pada saat itu seorang
prajurit datang menghampirinya dan menendang tempat tidur Ashoka,
membuat Ashoka terjatuh dari tempat tidurnya “Bangun ! Ayo kerja !”
Ashoka segera bangun dan memulai bekerja sambil bergumam “Aku baru saja
mimpi indah tadi”
Didalam istana, ketika Sushima
hendak menemui ayahnya dikamarnya, didepan pintu Sushima bertemu Dharma
yang menutupi wajahnya sambil berkata “Maharaja sedang beristirahat,
jangan ganggu dia, pangeran” Sushima marah “Jangan pernah untuk berani
melakukan kesalahan, pelayan !” ujar Sushima sambil menyeruak masuk
kekamar Bindusara “Orang orang bilang kalau ayah sakit tapi aku merasa
ayah sudah siap untuk pergi keluar denganku, ayoo kita pergi keluar
seperti yang biasa kita lakukan setiap hari” Bindusara mendekati anaknya
“Sushima anakku, kamu sangat senang sekali pergi keluar dan aku tidak
pernah berkata tidak padamu, ayah pasti akan pergi dengan kamu” Dharma
masuk ke kamar Bindu sambil menutupi wajahnya dan berkata “Luka anda
masih belum sembuh benar, tidak baik kalau anda pergi keluar, Samrat”
Bindu tersenyum “Aku tidak pernah punya waktu untuk bersama sama dengan
anakku, jadi aku tidak bisa menolak keinginan anakku hanya karena lukaku
ini, aku tidak khawatir tentang lukaku ini karena kamu ada disini” ujar
Bindu sambil berlalu meninggalkan tempat tersebut, Sushima yang
mengekor dibelakang ayahnya menatap tajam kearah Dharma dengan muka
kesalnya sambil berlalu dari sana.
Ashoka masih
ada di istal kuda, Ashoka mendekati kuda yang hendak ditunggangi oleh
Samrat Bindusara, kuda itu namanya Gul Bhushan “Kamu ini juga Samrat
berkaki empat, aku juga Samrat dan jika kita berdua saling menghormati
satu sama lain maka itu akan baik” ujar Ashoka sambil berusaha menaruh
pelana diatas punggung Gul Bhushan namun Gul Bhushan menolak sambil
meringkik, Gul Bhushan tidak ingin disentuh sama Ashoka, kembali Ashoka
mencoba namun gagal lagi, anak anak yang lain yang bekerja di istal kuda
itu tertawa melihat tingkah Ashoka “Kamu ini jangan keras kepala !
Baiklah aku akan mencoba cara yang lain” Ashoka kemudian mengambil
makanan dan memberikannya ke kuda tersebut, Gul Bhushan memakan makanan
yang diberikan Ashoka melalui tangan Ashoka, ketika si kuda sedang asyik
makan, secepat kilat Ashoka menaruh pelana kuda dipunggung Gul Bhushan,
Gul Bhushan tidak menolak, Ashoka sangat senang akhirnya misinya
sukses, anak anak yang tadi mentertawakannya terperangah melihat usaha
Ashoka “Lihat ! Gul Bhushan bisa aku tangani” ujar Ashoka dengan
senyuman khasnya tepat pada saat itu Bindusara memasuki istal kuda dan
berkata “Tidak mudah untuk mengatasi Gul Bhushan”, “Bal Govin tidak ada
disini jadi akulah yang mengurusi Gul Bhushan” ujar Ashoka bangga “Jadi
Samrat dari negara Vann bekerja untukku ?” ujar Bindu sambil mendekati
Ashoka “Segera setelah saya membayar hutang saya, saya akan terbang dari
sini” Bindu tersenyum, pada saat itu Dharma juga masuk kedalam istal
kuda, namun bersembunyi dibalik tumpukan jerami, Dharma sangat senang
melihat pembicaraan Bindu dan Ashoka yang terlihat akrab, tak lama
kemudian Ashoka memberikan tangannya untuk Bindu agar bisa memanjat
kekudanya, Bindu segera naik keatas kudanya. Sushima yang melihat
perlakuan Ashoka ke Bindu segera memanggil Ashoka dan meminta Ashoka
untuk memberikan tangannya juga untuknya agar dia bisa memanjat ke
kudanya, ketika Sushima sudah naik kekudanya, Sushima langsung menendang
Ashoka, semua yang melihatnya terkejut, Ashoka jatuh terjerembab ke
tanah “Kamu tidak bisa mengurusi dirimu sendiri, bagaimana bisa kamu
mengurusi kuda ?” ejek Sushima dengan tatapan sinisnya, Bindu
menghampiri mereka “Kamu memang belum terbiasa dengan kuda tapi kamu
akan tahu tentang mereka” ujar Bindu “Tidak ! Kudamu tidak mengenal aku,
mereka tidak terbiasa denganku, aku ini Pawan, aku lebih cepat daripada
kuda makanya mereka itu cemburu padaku” ujar Ashoka bangga “Jadi kamu
mau balapan dengan kudaku Shera ?” Sushima menantang Ashoka “Jangan, itu
tidak akan sama, Ashoka dengan kakinya sendiri sementara kamu dengan
kudamu, itu tidak baik” Bindusara mencoba melerai mereka berdua “Aku
terima tantangan pangeran Sushima, Samrat !”, “Aku bukan pangeran tapi
Yuvraj Sushima !” bentak Sushima.
Ditengah
lapangan, Ashoka sudah siap bertanding dengan Sushima yang mengendarai
kudanya, Shera “Aku akan menunggu kalian berdua digaris finish” ujar
Bindusara sambil bersiap memberikan aba aba dengan benderanya, tak lama
kemudian pertandinganpun dimulai, Ashoka berlari sekuat tenaga sementara
Sushima memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, Ashoka kemudian
mengganti haluan larinya melalui jalur alternatif yang membuatnya
mencapai garis finish terlebih dahulu, Ashoka berjalan didepan Sushima
dan berhasil menginjak garis finish, Bindusara yang sudah menanti
kedatangan mereka merasa senang begitu melihat Ashoka memenangkan
pertandingan, Ashoka lari kearah Bindusara dan terjatuh dalam pelukan
Bindu, Bindu segera memegangnya lalu menyuruhnya untuk duduk diatas
batu, dilihatnya kaki Ashoka berdarah, Bindu berlutut lalu membersihkan
luka Ashoka dengan jubahnya, Ashoka tersenyum kearah Bindu “Ayah, apa
yang kamu lakukan ?” Sushima yang masih menunggangi kudanya tidak suka
ketika melihat ayahnya berlutut dan membersihkan luka di kaki Ashoka
“Ini apa yang dilakukan oleh seorang Samrat pada Samrat yang lain” ujar
Bindu sambil melirik kearah Ashoka, Ashoka tersenyum dengan senyuman
khasnya dan teringat ketika dirinya berkata pada Bindusara kalau dirinya
adalah Samrat “Seperti yang seharusnya Samrat lakukan pada Samrat yang lain” ujar Ashoka, ayah anak yang tidak saling mengenal ini saling tersenyum satu sama lain. Sinopsis Ashoka Samrat episode 10
Diposting oleh arieska arief (@_@) di 9:17 AM 0 komentar
Label: sinopsis
Kamis, 23 Juli 2015
Sinopsis Ashoka Samrat episode 8
nonton ASHOKA versi india tiap pagi sambil sarapan dan bersihkan kamar. nunggu di tv jam setenga 10 malam tu pun dah ngantuk cus krisna lama amat mainnya. ashoka n joda hanya main 1 kali aja :'( padahal lagi seru2nya. krisna kayaknya 3 kali mainnya :'( jadi bobo2 dulu ampe main ashoka :'( cus ga suka ama krisna. mamaku juga ampe kesel ama krisna moga cepet habis ya. mama tu doyan amatlah ama ashoka. teneng aja, ntar novel epik kolosalku kuusahakan sekeren ASHOKA! duh, kepedeannya dah kayak ashoka ya...
Sinopsis Ashoka Samrat episode 8. Helena sedang berdiri di depan jendela dengan wajah sedih. Justin menghampirinya dan dengan rasa heran bertanya, "ada
apa ibu? Kenapa menangis?" Helena memberitahu Justin kalau dirinya
baaru 16 tahun ketika ayahnya, Nikator di kalahkan oleh Chandragupta
Maurya. Dan untuk perdamaian, Nikator mengorbankan Helena dengan
menikahkannya dengan Chandragupta tanpa bertanya apakah dia mau menikahi
chandragupta atau tidak, "bagi Samrat Chandragupta aku adalah piala
kemenangan, dan tetap menyandang status itu sampai akhir hayatnya.
Ayahku dan suamiku tidak mmenghormatiku, tapi aku punya harapan dari
anakku, tapi sekarang kupikir dia tidak lagi menghormatiku. Dia tidak
akan membalas dendam atas apapun yang terjadi padaku." Sambil berkata
begitu Helena menangis dan jatuh terduduk di kursi. Justi bergegas
menghampirinya dan berkata, "ibu, aku berjanji padamu, saatnya akan tiba
untuk kita memerintah mereka." Mendengar itu, Helena tersenyum.
Persiapan
untuk pergike Patliputra sudah di mulai. Semua orang sibuk bersiap.
Chanakya dan Radhagupta sedang berbincang-bincang. Radhagupta berkata,
"anda menyelamatkan Ashok tapi dia kabur begitu saja."
Chanakya menyahut, "sangat susah untuk memahami dia." Tiba-tiba
terdengar suara Ashok menyela, "sangat susah juga untuk membahami anda."
Chankay dan Radhagupta menoleh kearah datangnya suara. Mereka menemukan
Ashok sedang duduk diatas lemari dengan santainya. Melihat itu,
Chanakya berdiri sambil bersendekap sambil mengamati Ashok. Ashok balas
menatap Chankay dengan tatapan lugunya sambil berkata, "dengan panah itu
anda bisa terbunuh, tapi untuk membuktikan kalau aku tidak bersalah,
anda membahayakan hidup anda. Kenapa? Apa hubungan kita? Aku ini apa
anda?" Chanakya dengan diplomatis menjawab, "aku hanya mebela yang
benar, anakku." dengan nada menyesal, Ashok berkata, "...kini
aku harus melayani Samrat Bindusara." Chanakay balas berkata, "kau
menghina prajurit karena itu mendapat hukuman." Ashok menjawab dengan
ringan kalau dia melakukan itu semua juga karena chankya, "anda
kembalikan ibuku dan aku akan pergi dari sini." Chanakya mencegah,
"tidak. Kau harus dengan kami ke Patliputra." Ashok menyahut, "aku akan
pergi kesana ketika aku menjadi samrat." Chanakya menatapnya dengan
tatapan yang susah untuk di mengerti. Dharma datang. Chankya yang
mendengar bunyi gelang kakinya segera menoleh. Dharma memandang kearah
mana Cahankya dan Radahgupta menatap sebelum menoleh padanya. Dia
terkejut melihat Ashok duduk diatas lemari, "Ashok!" Ashok pun tertegun
melihat Dharma, matanya berbinar-binar penuh bahagia. Dharma menghampiri
Ashok dan menyuruhnya turun. Ashok masihh tertagun. Dharma memintanya
turun sekali lagi. Lalu dengan gesit Ashok meloncat turun dari atas
lemari dan mendarat tepat di depan Dharma. Dengan penuh haru ibu dan
anak itu saling berpelukan. Chanakya yang melihat itu ikut terharu.
Sambil melepas pelukannya, Dharma berkata, "nak, mulai sekarang kau
harus mendengarkan perinta Achari." Ashok menuding kearah Chanakya
dengan tatapan menuduh, "dia memaksamu mengatakan ini, bu?" Dharma
menjawab, "tidak, nak. Bagiku keselamatanmu adalah yang paling penting.
Aku telah memberinya tanggungjawab atasmu. Seseorang yang dapat
menempatkan hidupnya dalam bahaya demi dirimu akan membuatmu menjadi
orang hebat... ~Ashok hendak membantah, tapi Dharma tidak memberinya
kesempatan~ Dia memikirkan dirimu dan Magadha saja. Berjanjilah padaku,
Ashok. Kau akan menuruti semua perinta Achari. Berjanjilah!" Dharma
mengulurkan tanganya. Ashok menatapnya lama sekali. Dharma menunggu
dengan tangan menggantung di udara. Tak tega menolak permintaan ibunya,
Ashok kemudian menggenggam tangan Dharma dan berjanji kalau dia akan
menuruti apapun yang diminta Dharma, "keinginamu adalah perintah bagiku.
Tugasku adalah mengikuti kata-katamu. Saya akan melakukan apapun yang
kau suruh. Tapi... apakah aku tidak bisa berkata tidak pada Achari
selamanya?" Dharma tersenyum, "ketika kau bingung saat menegakan
keadilan, turutilah kata hatimu." Dharma melepas genggaman tangan Ashok
dan pergi meninggalkanya dengan wajah sedih. Ashok mengejarnya, tapi
Radhagupta menarik tanganya. Ashok menatap radhagupta dengan garang.
tapi saat melihat Chanakya, tatapannya meredup. Dan dia tanpa di
perintah melangkah mendekat. Chanakya memberitahu Ashok kalau ibunya
akan datang ke Patliputra juga. Ashok terlihat senang. Chankaya
melanjutkan kalimatnya, "tapi kau tidak akan bertemu denganya. Kau juga
tidak boleh memberitahu siapapun tentang dia. Kau tidak punya hubungan
apapun denganya. Ashok dengan sedih berteriak memanggil ibunya, 'ma..!"
Dharma menghentikan langkahnya mendengar panggilan Ashok dan menangis
sedih. Ashokpun menangis.Dharma menguatkan dirinya, dia menghapus
airmatanya dan bergegas pergi dasri sana.
Akhirnya
rombongan Bindusara tiba di Patliputra. Sepanjang perjalana, rakyat
mengelu-elukan rajanya. Ashok dan Dhrma meski dalam barisan berbeda
terlihat berjalan dalam rombongan itu. Noor dan Helena duduk diatas
tandu. Sesekali mereka mengintip keluar melihat keriuhan massa. Di
istana, ratu Charumitra menyambut rombongan Samrat. Achari Chanakya
turun dari kudanya dan menyentuh tanah Patliputra sasmbil berkata kalau bertahun-tahun lalu dia berjanji akan hidup demi tanah ini, "hari ini, aku membawa seseorang yang akan menjagamu." Di belakangnya, Ashok memasuki istana berdampingan dengan radhagupta. radha megingatkan Ashok kalau dia bukan samrat di sini, tapi tahanan. Ashok dengan penuh percaya diri menyahut, "bagaimana kalau aku segera menjadi samrat di sini?" menengar itu, Radhagupta hanya tersenyum penuh arti.
Dharma
bersama para dayang memasuki gerbang istana. Dia lewat di samping
Chanakya tapi tidak menyadari keberadaanya. Chanakya menegurnya, "apakah
anda tidak suka berada di sini, dewi?" Dharma memberitahu kalau
bertahun-tahun dirinya melindungii Ashok dari semua ini, "saya tidak
tahu apakah saya melakukan hal benar atau salah, Achari. Tapi saya tidak
ingin keputusan ini menjadi kesalahan terbesar saya." Tanpa menunggu
sahutan Chanakya, Dharma bergegas melangkah pergi.
Ratu
Charumitra melakukan arti untuk menyambut Bindusara. Smeua menanti
dengans abar hingga upacara selesai. Ratu Noor terlihat kesal. Dharma
yang menyaksikan upacara itu terlihat cemas. Charumitra sendiri terlihat
bahagia. Setelah arti selesai, charumitra berkata kalau dirinya sangat
senang Samrat sudah kembali, apalagi dia terlihat fit dan tiak kurang
suatu apa. Bincusara tersenyum. lalu dia menggandeng Charumitra memasuki
gerbang istana.
Radhagupta membawa Ashok
kekandang kuda. Ashok bertanya mengapa dirinya kesini? Dia memuji kalau
kuda di istal itu bagus-bagus, hanya aja dia tidak tahu, untuk apa dia
di bawa ke kandang. Radha memanggil Yadupati, jurukunci istal. Radha
memberitahu yadupati kalau Ashok akan bekerja di kandang kuda sebagai
hukuman. Ashok kaget, "apa? tapi mereka bau!" Radhagupta berkata kalau
itu adalah tugas ashok untuk membersihkannya. Tanpa pamit, Radhagupta
meninggalkan Ashok.
Yadupati bertanya siapa nama
Ashok. Dengan angkuh Ashok menjawab kalau namanya Samrat. Mendengar
Ashok menyebut namanya, anak-anak yang bekerja di istal menertawakannya.
Yadupati terlihat sabar walaupun sedikit kesal berkata kalau dirinya
akan melihat samrat seperti apa Ashok, dia menyuruh Ashok memberi makan
kuda Gul Busha. Anak-anak
tertegun. Salah seorang anak bernama Bhavin menyela, "tapi Gul Bushan.."
Yadupati menyuruhnya diam. Dia menyuruh anak itu mengantar Ashok
memberi makan kuda Gul Bushan. Ashok mengambil pakan kuda lalau
mendekati kuda putih yang meringkik tegang. Ashok mendekati kuda oitu dari belajkang dan memanggil namanya. Telinga kuda langsung tegak. Ashok berkata kalau Gul Bushan beruntung mendapat makan dari
tangan Samrat masadepan. tanpa peringatan Gul bushan menendang Ashoka
hingga Ashoka terpelanting dan jatuh diatas kotoran kuda. Yadupati dan
semua anak-anak tertawa. hanya anak yang membantu menunjukan kuda Gul Bushan saja
yang terlihat prihatin. Ashok menatap yadupati dan anak-anak yang
menertawakannya. Merasa tertantang, Ashoka mencoba lagi. Kali inipun
sama, Gul bushan menenang Ashoka sampai dia memecahkan kendi air.
Anak-anak bergantian memberitahu Ashok kalau Gul Busha adalah kuda kesayangan Bindusara dan hanya bindusara yang mampu mengendalikannya. Mendengar itu Ashok mendekati Gul Bushan dari
depan. Dia bertanya pad asi kuda apakah Bindu yang menaikinya atau dia
di naiki bindusara? Dengan keangkuhana yang sudah menjadi cirikhasnya,
Ashok berkata kalau suatu saat Gul Bushan akan berada di bawah
kendalinya.
Bindu masuk kekamarnya. Dia melepas
atribut kebesarannya satu persatu dan memberikannya pada pelayan. Dia
kemudian hendak berbaring di tempat tidur. Tapi ketika dia sudah duduk
di tepi ranjang dan hendak menarik badannya, dia menjerit kesakitan.
Dharma mendengar jeritan itu. Cepat-cepat dia berlari menghampiri
samrat. Dharma melihat luka bindu kembali mengeluarkan darah. Dharma
cepat-cepat mengambil obat. Dengan cekatan dia melap darah di perut
Bindu dan mengoleskan obat. Dharma menenangkan Bindu. Bindusara
mengerang kesakitan sambil mencengkeram tangan Dharma. Dharma amenjadi
gugup dan tegang. Sambil menahan sedih, Dharma menahan sakit akibat
cengkeraman tangan Bindu. Cengkeraman itu baru lepas setelah Bindu tidak
lagi merasa sakit.
Setelah tenang, Bindu
menoleh kearah Dharma yang masih menutupi wajahnya dengan kerundung.
Samrat berkata, "kau menyelamatkan nyawa Samrat, kau bisa minta apa
saja...apa saja." Dharma amenyahut, "tinggalkan kekerasan, ikuti jalan
damai." Mendengar kata-kata Dharma, bindu teringat bagaimana Dharmanya
mengatakan kalimaat yang sama berberapa tahun yang lalu. Dengan rasa
ingin tahu, bindusara bertanya, "siapa dirimu?" Dharma dengan gugup
mengatakan kalau namanya "Subhadrangi..." dengan tatapan menerawang
Bindu berkata, "aneh sekali. 14 tahun yang lalu seorang wanita
menyelamatkan ku dan dia mirip denganmu. Kalau aku tidaka melihat
wajahmu di pengadilan, aku pasti menyangkah kau adalah dirinya." Sambil
berkata begitu, Bindusara membayangkan saat-saat bahagia bersama Dharma.
Bindu berguman, "kau tak mungkin Dharma. Dia sudah meninggal beberapa
tahun yang lalu. Di atidak amenyukai kekerasan. Dan aku telah
meninggalkan kekerasan untuknya. Aku samrat, aku berhutang padamu.
Mintalah apapun.." Dharma menolak, dia tak mau meminta apapun. Bindu
kemudian berjanji pad Dharma kalau dirinya akan menyelamatkan hidup
seseorang di masadepan untuk Dharma.
Ratu Noor
datang, Dharma segera menutupi wajahnya rapat-arapat. Noor meminta semua
orang pergi. Setelah hanya berdua dengan Bindu, Noor berkata kalau
setiap kali melihat Dharma, dia merasa tidak suka. Bindu mengatyakan
kalau Dharma menyelamatkan hidupnya. Noor berkata kalau itu sudah
tugasnya, "anda tidak perlu merasa berhutang apapun." Bindu menyela,
"ini aneh, kau marah padanya tapi tidak pernah merasa cemburu pada
Dharma." Mendengar kata-kata Bindu Noor tersenyum di depannya, tapi
melirik geram tanpa setahu Bindu..
Helena
memanggil Bhavin dan menanyainya tentang Ashok, apakah ashok ada bicara?
Bhavin menjawab, "ya". helena dengan antusia bertanya, "dengan siapa?
Bhavin menjawab dengan Gul bhusan. Helena bertanya siapa Gul Bhusan?
Bhavin mengatakan kalau Gul Bhusan adalah kuda Samrat. Helena berkata
kalau dia bisa membebaskan Bhavin, tapi dengan syarat dia harus mencari
informasi secara detail tentang Ashok. untuk itu Bhavin harus menjadi
temannya, menanyakan misinya, dan mencari tahu apa hubungan Ashok dan
Chanakya. Setelah mendengar perintah Helena secara detail, Bhavin pergi.
Sepeninggal Bhavin, Helena berkata pada Justin, kalau sampai Bhavin
tidak melakukan apa yang mereka suruh, mereka akan menghabisinya.
Ashok
dan Bhavin tidur di depan kandang kuda. Bhavin sudah nyenyak tertidur.
Tapi Ashok tidak dapat tidur karena bau. Ashok memanggil Bhavin, tapi
Bhavin tidak terbangun akhirnya Ashok mengusir sepi dengan bicara pada
Gul Bushan. Pada Gul Bushan, Ashok mengadu kalau Chanakya menjebaknya
dengan denda yang sangat banyak sehingga dia harus membayar sepanjang
denda itu spenajang hidupnya, tapi dia akan berupaya untuk melarikan
diri dari tempat ini, "Gul Bhusan, aku tahu kau ingin bebas juga,
katakan yang sebenarnya, apakah kau tidak merasa sesak nafas di sini?"
Ashok berkata kalau ibunya berkata.... Ashok tak mampu melanjutkan
kalimatnya, dia terlihat sedih dan memanggil Dharma dengan penuh
kerinduan, "ma..." Di tempatnya, Dharma melihat bulan dan merasakan
kerinduan yanag sama seperti yang di rasakan Ashok. Dharma hanya bisa
menangis sedih. Di istal Ashok memanggil Dharma dan berniat
menemukannya. Ashok pamitan pada Gul BHusan, dan melarangnya memberitahu
siapapun kalau ada yang bertanya. Dengan mengendap-endap Ashok pergi
dari istal. Bhavin terbangun dan melihat ashok keluar dengan pandangan
curiga.
Ashok menyelinap kedalam istana. Dia
mencoba menemukan Dharma. Karena bingung, Ashok berputar-putara dan
tanpa sengaja menyengol obor hingga terjatuh. Prajurit muncul
meneriakinya. Ashok kabur dari sana sambil berguman kalau prajurit-
prajurit itu tak punya kerjaan selain mengejar dirinya. Ashok masuk ke
ruang singgasana. Dia melihat tahta dan terpesona. Ashok mendekati
tahta. Prajuroit datang. Ashok segera berlari ke belakang singgasana.
Setelah prajurit pergi, Ashok merangkak keluar dari persembunyiannya.
Chanakya dari tempat tersembunyi melihat Ashok merangkak dari belakang
Singgasana persis seperti seekor singa yang pernah hadir dalam mimpinya
dulu. Ashok berdiri di hadapan tehta dengan gagah. Dia menoleh
kebelakang lalau duduk diatas tahta sambil bicara sendiri. Ashok
berkata, "aku Samrat Vanraj memberi perintah agar Gul Bhusan di
bebaskan. Aku menyuruh kalian menangkap Achari Chanakya dan mengharuskan
dia membayar denda deng meminum Kadha buatan ibuku." Mendengar itu
Chanakya tersenuyum. Radhagupta muncul di belakangnya dan bertanya,
"apakah anda melihat samrta masadepan?" Chanakya mengangguk, "ya. Tapi
Ashok masih jauh dari tujuan yang ingin di raihnya. Aku berdoa pada dewa
semoga aku bisa melihat dia menjadi Samrat." Di atas tahtanya Ashok
sedang bergaya laksana seorang samrat yang sedang mendengarkan kasus di
pengadilan. Melihat itu Chanakya berpikir dengan mata berkaca-kaca
menahan haru, "aku telah memenuhi janjiku pada Samrat Chandragupta
untuk menemukan Samrat bagi Magadha. Sekarang aku akan menunggu hari
penobatan ketika Ashok menjadi samrat. Sekarang masadepan Magadha ada di
tangan yang aman."
Dharma sedang membuat
ramuan di kamarnya ketika dia mendengar para prajurit ribut hendak
menangkap anak kecil. Dharma langsung menduga kalau mereka akan
menangkap Ashok. Tanpa pikir panjang, Dharma segera berlari keluar. Dia
melihat prajurit hilir mudik. Dan ada Khorasan juga. Melihan Khorasan
Dharma menghentikan langkahnya. Dharma lupa tidak membawa selendang.
Khorasan menoleh, dia terkejut... Dharma terlihat tegang.... Sinopsis Ashoka Samrat episode 9
Diposting oleh arieska arief (@_@) di 7:07 AM 0 komentar
Label: sinopsis
Rabu, 22 Juli 2015
Sinopsis Ashoka Samrat episode 7
aku ketiduran nungguin ASHOKA, tumben neh lama amat mainnya. kok krisna ampe jam setengah 10 sih?! karena kirain ga main ya uda de aku bobo aja. eh pas besoknya aku tanya mamaku, rupanya main kok! duh ketinggalan, tapi gak apalah. kata kokiku juga sih mainnya hanya 1 kali kan biasanya 2 kali. iya nih, kulihat jodha akbar juga 1 kali main. aneh! plis dong anteve, ASHOKA mainnya 2 kali seperti biasanya alias 1 jam. kalo perlu, jangan kemalaman, geser aja krisna sore2 biar ASHOKA main di jadwalnya krisna :'(
Sinopsis Ashoka Samrat episode 7. Achari
chanakya memberitahu Dharma kalau musuh berencana menyerang Magadha.
Samrat terlalu egois. Pertumpahan darah akan terjadi dan Ashoka adalah
masadepan Magadha, karena itu takdirnya. Dharma memprotes, "anda
berssikap egois dengan melibatkan Ashoka dalam masalah itu." Chanakya
mengaku kalau dirinya egois, "semua untuk kebaikan Magadha." Dharma
berkata, "anda tidak tahu Achari, apa yang dirasakan oleh seorang ibu
pada anaknya." Chanakya menyahut, "Magadha seperti ibu bagiku, dan aku
melakukan apa yang seorang anak harus lakukan. Aku memikirkan masadepan
Magadha. Aku berpikir untuk menghacurkan musuh-musuh ini dan mengakhiri
keegoisan dan egoisme ku sendiri. Seperti kau melindungi anakmu, seperti
itu pula aku akan melindungi Magadha. Aku akan melakukan apapun untuk
menyelamatkan Magadaha. Cintaku paa magadha tidk akan berkurang
sedikitpun. Jika kau ingin membawa putramu pergi dari
sini, silahkan, aku tak akan menghentikanmu, dewi." Dharma melipat
tanganya memohon, "aku hanya ingin anakku selamat." Chanakya mengatakan
kalau dia bisa melidungi Ashoka hanya jika Dharma mau memberikan hidup
Ashoka di bawah kendalinya, demi masa depan. Dengan ragu Dharma
bertanya, "jika keselamatannya terjamin?" Chanakya mengangguk, "kalau
kau beri aku tanggung jawab itu, maka Ashok akan terlindungi dan kau
bisa hidup bersama Bindusara. Ashok dan dirimu akan pergi ke Patliputra
bersamaku dan aku akan mempersiapkan masa depan Ashok." Dharma bertanya,
"kupikir dia akan berjuang untuk perdamaian." Achari Chanakya menyahut,
"untuk menciptakan perdamaian terkadang kita harus menggunakan
kekerasan." Mendengar itu Dharma menangis.
Samrat
Bindusara memasuki ruang singgasana dengan di papah Justin dan Helena.
langkahnya masih tertatih-tatih menahan sakit. Semua orang tersenyum
gembira dan mengelu-elukannya. Bindu melihat Chanakya yang tersenyum, di
depan Chanakya dia berhenti, memberi hormat dengan menundukan kepala
takzim. Setelah itu Bindusara melanjutkan langkahnya dan duduk di
singgasananya yang telah lama tidak dia duduki. Pada Chanakya, Bindu
berkata, "saya melihatmu setelah 14 tahun dan itu juga ketika anda
membela orang yang akan membunuhku." Chanakya dengan kalem menjawab,
"aku mengambil sisi Samrat Chandragupta saat beliau berjuang untuk
keadilan dan aku sedang melakukan hal yang sama." Bindu menjamin kalau
keadilan pasti akan di tegakkan, "tubuhku terluka, tapi bukan pikiranku.
Bawa anak itu kesini."
Kembali dengan tubuh terantai Ashok di bawah ke hadapan Samrat Bindusara. Ashok menatap lurus kearah Bindusara. Bindusarapun melakukan hal serupa. Ayah-anak yang tidak saling mengenal itu saling berpandangan. Khorasan menegurnya, "kau tidak tahu bagaimana bersikap di depan Samrat?" Ashok melipat tanganya di dada dan menundukan kepala untuk memberi hormat. Bindusara bernama, "siapa namau?" Ashok tanpa gentar menjawab, "saya yang membuat orang bebas dari rasa sakit.. Ashoka!" Bindu berkata, "kau di bawah ke pengadilan karena di duga menyerang aku. Kau coba membunuhku. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap padamu." Ashok menjawab, "bersikaplah seperti seorang samrat seharusnya bersikap pada samrat lainnya." Semua orang terkejut mendengarnya. Begitu juga Bindu, "apa yang kau katakan?" Ashok menjawab, "perlakukan saya seperti Samrat." Bindu menatap Chanakya, "anda dengan itu Achari?" Pada Ashok bindu bertanya, "samrat dari mana dirimu?" Dengan berani shok menjawab kalau dia samratnya rakyat. Bindu menanyakan nama ayahnya. Ashok menjawab kalau dia hanya punya ibu, "yang di kakinya duniaku terletak." Bindu menanyakan nama ibunya. Ashoka henak menyahut, tapi Chanakya memotong pembicaraan, "Samrat, biarkan saja. Anak ini sangat pandai memutar kata-katanya. Dia pintar tapu bukan pelakunya." Ganti guru yang menyela Chanakya, "maafkan saya, Achari. Aanak ini belum terbukti tidak bersalah." Achari Chanakya menjawab, "dia juga tidak terbukti bersalah. Semuanya berdasarkan teori.Tidak ada yang bisa membuktikan di sini kalau dia penyerangnya." Ashok menyela, "percayalah padaku. Aku melihat tabib membuat panah khusus untuk menyerang Samrat. Prajurit mengejarku, karena itu aku bersembunyi di hutan. Lalu Samrat di bawah kesana dan prajurit itu menyerangnya, tapi semua orang berpikir aku penyerangnya. Tapi disana ada seorang wanita, ia melihat penyerang itu. panggil dia!" Khorasan memberitahu Bindu kalau wanita itu belum sempat bersaksi kemarin. Dia menyuruh orang memanggil wanita itu. Dharma kembali di bawah sebagai saksi. Dia masih menutupi wajahnya dengan selendang. Guru bertanya pada Dharma apakah dia ada di sana saat pada waktu serangan? Dharma mengangguk membenarkan. Khorasan menolak pernyataan Dharma sampai identitasnya terungkap, "kita tidak bisa percaya padanya sampai kita bisa melihat wajahnya dan tahu identitasnya." Guru setuju. Dharma menolak secara halus dengan berkata kalau di keluarganya para wanita tidak menunjukan wajah secara terbuka. Bindusara menengahi dengan berkata kalau dirinya menghormati tradisi Dharma, tapi ada yang lebih penting daripada tradisi, yaitu keadilan, "tugasmu adalah membantuku menegakan keadilan." Chanakya membuka suara, " tetapi Samrat, anda tidak bisa memaksa wanita melanggar tradisinya untuk menegakan keaadilan, karena dengan memaksanya melanggar tradisi adalah ketidakadilan itu sendiri." Helena menyela, "tidak ada yang lebih dari hidup samrat." Semua penasaran ingin tahu wajah siapa di balik kerudung itu. Helena menghampiri Dharma dan menarik kerudungnya, nampaklah seraut wajah, tapi bukan wajah Dharma. Begitu kerudung terbuka dan tidak terjadi apa-apa, Chanakya tersenyum dan menarik nafas lega. Chanakya teringat bagaimana dia berkata pada Dharma kalau masalah akan semakin rumit kalau sampai Bindusara melihat dirinya. Karena itu Chanakya menyuruh Nirjara mengantikan Dharma pergi ke pengadilan.
Kembali dengan tubuh terantai Ashok di bawah ke hadapan Samrat Bindusara. Ashok menatap lurus kearah Bindusara. Bindusarapun melakukan hal serupa. Ayah-anak yang tidak saling mengenal itu saling berpandangan. Khorasan menegurnya, "kau tidak tahu bagaimana bersikap di depan Samrat?" Ashok melipat tanganya di dada dan menundukan kepala untuk memberi hormat. Bindusara bernama, "siapa namau?" Ashok tanpa gentar menjawab, "saya yang membuat orang bebas dari rasa sakit.. Ashoka!" Bindu berkata, "kau di bawah ke pengadilan karena di duga menyerang aku. Kau coba membunuhku. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap padamu." Ashok menjawab, "bersikaplah seperti seorang samrat seharusnya bersikap pada samrat lainnya." Semua orang terkejut mendengarnya. Begitu juga Bindu, "apa yang kau katakan?" Ashok menjawab, "perlakukan saya seperti Samrat." Bindu menatap Chanakya, "anda dengan itu Achari?" Pada Ashok bindu bertanya, "samrat dari mana dirimu?" Dengan berani shok menjawab kalau dia samratnya rakyat. Bindu menanyakan nama ayahnya. Ashok menjawab kalau dia hanya punya ibu, "yang di kakinya duniaku terletak." Bindu menanyakan nama ibunya. Ashoka henak menyahut, tapi Chanakya memotong pembicaraan, "Samrat, biarkan saja. Anak ini sangat pandai memutar kata-katanya. Dia pintar tapu bukan pelakunya." Ganti guru yang menyela Chanakya, "maafkan saya, Achari. Aanak ini belum terbukti tidak bersalah." Achari Chanakya menjawab, "dia juga tidak terbukti bersalah. Semuanya berdasarkan teori.Tidak ada yang bisa membuktikan di sini kalau dia penyerangnya." Ashok menyela, "percayalah padaku. Aku melihat tabib membuat panah khusus untuk menyerang Samrat. Prajurit mengejarku, karena itu aku bersembunyi di hutan. Lalu Samrat di bawah kesana dan prajurit itu menyerangnya, tapi semua orang berpikir aku penyerangnya. Tapi disana ada seorang wanita, ia melihat penyerang itu. panggil dia!" Khorasan memberitahu Bindu kalau wanita itu belum sempat bersaksi kemarin. Dia menyuruh orang memanggil wanita itu. Dharma kembali di bawah sebagai saksi. Dia masih menutupi wajahnya dengan selendang. Guru bertanya pada Dharma apakah dia ada di sana saat pada waktu serangan? Dharma mengangguk membenarkan. Khorasan menolak pernyataan Dharma sampai identitasnya terungkap, "kita tidak bisa percaya padanya sampai kita bisa melihat wajahnya dan tahu identitasnya." Guru setuju. Dharma menolak secara halus dengan berkata kalau di keluarganya para wanita tidak menunjukan wajah secara terbuka. Bindusara menengahi dengan berkata kalau dirinya menghormati tradisi Dharma, tapi ada yang lebih penting daripada tradisi, yaitu keadilan, "tugasmu adalah membantuku menegakan keadilan." Chanakya membuka suara, " tetapi Samrat, anda tidak bisa memaksa wanita melanggar tradisinya untuk menegakan keaadilan, karena dengan memaksanya melanggar tradisi adalah ketidakadilan itu sendiri." Helena menyela, "tidak ada yang lebih dari hidup samrat." Semua penasaran ingin tahu wajah siapa di balik kerudung itu. Helena menghampiri Dharma dan menarik kerudungnya, nampaklah seraut wajah, tapi bukan wajah Dharma. Begitu kerudung terbuka dan tidak terjadi apa-apa, Chanakya tersenyum dan menarik nafas lega. Chanakya teringat bagaimana dia berkata pada Dharma kalau masalah akan semakin rumit kalau sampai Bindusara melihat dirinya. Karena itu Chanakya menyuruh Nirjara mengantikan Dharma pergi ke pengadilan.
Khorasan
menanyai Nirjara, "apakah kau melihat anak ini menyerang Samrat?"
Nirjara dengan cepat menyahut, "tidak. Saya tidak melihat anak ini
menyerang Samrat. Ketika Samrat di serang, saya melihat anak ini berlari
di belakang seseorang, meminta orang itu untuk berhenti." Guru bertanya, "apakah kau melihat penyerang yang sesungguhnya?" Nirjara menjawab, "tidak." Guru
mengambil kesimpulan, "dia tidak melihat orang lain lagi, dia melihat
Ashok berlari setelah menyerang Anda. Anak ini adalah pelakunya, Dia
harus di hukum mati, Samrat." Achari Chanakya dengan tenang mengeluarkan
opininya pada Samrat., "jika anak ini adalah penyerangnya, dia harus
mendapat hukuman. Tapi apa yang dikatakan guru berdasarkan hipoteis
semata, tidak didasarkan pada bukti-bukti sehingga tidak layak di
jadikan landasan. Saya tidak ingi ketidakadilan terjadi. Untuk
memperlihatkan kebenaran agar lebih jelas, saya ingin minta izin untuk
mengulang kejadian ketika Samrat di serang di hutan. hanya untuk
membuktikan beberapa point." Bindu mengangguk, "lakukan apa saja yang di perlukan untuk menegakan keadilan. Anda bisa melakukan itu." Achari Chanakya mengucapkan terima kasih.
Di
waktu yang di tetapkan, semua orang berada di hutan untuk reka ulang
perkara penyerangan Samrat Bindusara. Chanakya menjelaskan pada Bindu,
"seperti Ashok duduk di atas pohon dengan alat memanah, seperti itu pula
aku menyuruh prajurit duduk disana. Kita akan melihat apakah dia bisa
menyerangku dari posisi itu." Dharma ada di sana juga, dia bersembunyi
di belakang semak. Chanakya berkata kalau dirinya akan berbaring seperti
Bindu saat itu terbaring. Chanakya kemudian berbaring dan menyuruh
prajurit memanahnya. Prajurit melepaskan panah. Tapi panah itu tidak
dapat mengenai Chanakya, karena ada pilar yang menghalanginya. Ashak berkata, "kalau prajurit saja
tidaka dapat mengenai sasaran, bagaimana saya bisa? Dan lagi saya tidak
bisa memanah." Chanakya mengatakan kalau penyerang pasti duduk di atas
pohon yang lain. Ashok menunjuk pohon di mana dia melihat si penyerang
duduk. Chanakya lalau menyuruh prajurit duduk di pohon yang di tunjuk
Ashok, dan menyuruhnya melepaskan panah. panah itu tepa mengenai
Chanakya. Semua orang tertegun. Chanakya menarik panah dari tubuhnya. Bindu dengan was-was bertanya, "kenapa membahayakan hidup anda?" Chanakya menyahut, "tidak ada
yang lebih penting daripada kebenaran. Dan kebenarannya adalah Ashok
terbukti tidak bersalah. Ashok tidak menyerang anda." Bindu setuju, "ini
kebenarannya. Bebaskan anak ini!" Dharma mengucap syukur mendengar
Ashok di bebaskan. Tapi Justin dan helena tidak terima. Guru berkata, "ashok terbukti tidak menyerang Samrat. Tapi ada
tuduhan lain kalau Ashok menghina prajurit, memaksa mereka berlari
mengejarnya." Ashok berkata, "Achari Chanakya akan membebaskan aku dari
tuduhan itu juga." Chanakya menjawab dengan cepat, "tidak. kau membuat
tentara mengejarmu. Kau pantas di hukum." Lalu Chanakya meminta Bindu
memerintahkan Ashok membayar denda. Ashok kesal, "berilah aku hukuman
mati daripada hukuman ini." Chanakya berkata kalau mereka harus memberi
contoh agar keadilan dapat di tegakkan, "jika dia bisa membuat prajurit
pontang-panting di usianya, apalagi yang bisa dia lakukan di masa depan?
Dia bisa dihukum untuk memberikan arah hidupnya." Bindu bertanya, "lalu
hukuman apa yang harus aku berikan?" Chanakya memberi ide, "dia
berhutang pada magadha. Untuk itu dia harus melayani Samrat. Dia harus
melakukan apapun yang di inginkan Samrat." Ashok tidak terima, "ini
tidak baik." Bindu setuju, "ini bagus. Hukumanmu adalah membayar denda.
Kau harus membayarku dengan melayaniku." Chanakya mengatakan kalau
mereka harus membawa Ashok ke Patliputra sehingga dia bisa menjalani
hukumannya. Guru mengingatkan, kalau masih ada tuduhan yang lain, yaitu
Ashok menghina tahta kerajaan dengan menyebut dirinya samrat, dia
menghina samrat. Ashok membela diri, "saya hanya mengatakan kebenaran."
Bindu bertanya, "kebenaran apa?" Ashok menjawab, "saya memberitahu
orang-orang apa yang samrat baik seharusnya lakukan, saya melakukan
dengan cara menghibur, karena orang-orang tertarik." Bindu berkata kalau
dirinya ingin di hibur juga. Ashok bertanya pada bindu, "apakah anda
akan memaafkan saya?" Bindu berkata, "aku oingin mendengarnya dulu."
Ashok memulai atraksinya. Dia mulai bericara dengan gayanya. Tanpa
gentar Ashok mengatakan kalau rakyat mati dan Samrat menikmati. Bindu
bertanya, "sekarang katakan padaku seperti apakah seorang samrat
seharusnya?" Dengan gayanya Ashok melangkah, lalu bersaldo dan mendarat
di depan Bindusara, "samrat harus sederhana. Harus hidup secara
sederhana. Bersama rakyatnya." Bindu bertanya, apakah aku tidak layak
menjadi samrat?" Ashok menjawab, "anda layak. Itu mengapa anda punya
musuh yang berpura-pura untuk mengambil hidup anda. ~Ashok memandang
Helena~ Anda kembali hidup adalah kekalahan bagimusuh anda. ~Helena
geram~ Putra Samrat Chandragupta tidak akan melakukan ketidakadilan."
Bindu terkesan, "Achari benar. Kita harus membawanya ke Patlipura."
Ashok mendengar itu dan berkata, "sekarang orang-orang ingin aku
melompat lagi." Lalu dengan gayanya, Ashok bersalto tinggi dan kabur dari hadapan Bindusara. Semua orang tertegun. Tapi bindu melarang orang mengejarnya. Bindu malah meminta Khorasan, guru dan ke kamarnya, dia juga menawari Chanakya untuk turut serta bersamanya.
Dalam
kamarnya, Bindu berkata kalau apa yang dikatakan Ashok adalah benar.
Dia harus menyelami musuh-musuhnya, "Achari, Magadha membutuhkanmu.
tolong terima posisimu kembali." Khorasa kurang setuju, 'pikirkan lagi,
Samrat. Posisi perdana menteri adalah sangat penting dan seseorang yang
pernah di curigai tidak layak menempati posisi itu." Bindu menyahut,
"Khorasan, kau tidak lupa tuduhan pada Achari Chanakya 14 tahun yang
lalau, tapi kau lupa kalau hari ini aku hidup karena Achari chanakya
saja. Dia membawa wanita yang menrawatku." Lalu pada Chanakya Bindu
berkata, "saya tahu saya atelah melukai perasaanmu dengan menuduhmu
membunuh ibuku, karena itu anda meninggalkan Patliputra. Saya dulu ingin
meminta maaf, tapi saya tidak bisa. hari ini, saya minta maaf padamu,
achari." Samrat melipat tanganya di dada dengan penuh penyesalan, "saya
tahu anda memotong perut ibu saya untuk menyelamatkan saya, tapi tidak
ada yang bisa memahaminya. Saya juga minta maaf atas nama ratu. jangan
berpikir karena saya merasa bersalah maka saya meminta anda menjadi
perdanan menteri. Tidak. saya hanya mengkhawatirkan masa depan Magadha.
Jika anda menerima posisi ini, akan sangar bagus." Chanakya dengan halus
menolak, "saya juga hanya ingin yang baik saja untuk Magadha. Dan untuk
itu saya tidak butuh posisi. Saya akan melayani anda sebagai seorang
guru istana. jadikanlah guru lain sebagai perdana menteri. Bindu setuju,
"jika itu keinginan anda, baiklah." Bindusara segera menunjuk guru yang
ada di situ sebagai perdana menteri. Dengan senang hati guru
menerimanya dan merasa senang karena Bindu berpikir dirinya layak untuk
menempati posisi itu. Bindu berkata, "kini saatnya untuk kembali ke
Patliputra." Ashok ikut rombongan Chanakya pergi ke Patliputra.. Sinopsis Ashoka Samrat episode 8
Diposting oleh arieska arief (@_@) di 7:22 AM 0 komentar
Label: sinopsis
Langganan:
Postingan (Atom)






