THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Kamis, 17 Maret 2016

Tokyo Ghoul (age)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

duh omongin soal umur sih, aku ga seperti yang terlihat masi aja aku tampil unyu kan hehe? abaikan! duh rupanya Ayato tu masi belia banget ya? masi smp, anak2 getuh. duh meski masi anak2 tapi kuat juga sih. n CCG yang dilawannya di episod 4 dulu tuh ga tega mukul dia karna tahu tu masih bocah yang ga sepadan ama kekuatan aratanya. ya, jangan pukul anak2! pukul aja Kaneki, kan dy dah kuliah. oke, sekali lagi. jangan pukulin Ayato, dy masih kecil banget. tapi kecil2 kok tega ya bantai orang? huh! dilema, nih. masih harus dikasihanin nih anak? waktu bertarung ama Kaneki duh dy buas banget padahal masih bocah getuh. tapi kok Toka kalah sih ama adiknya sendiri? huh! untung Kaneki tega ya hajar dy, sampe Ayato tuh yang masih labil banget geram n masi mo balas tapi sudah telanjur diambil ama bosnya, disuru mundur. namanya juga bocah. Ayato jadi kesal waktu Kaneki masuk Aogiri, tapi Kaneki gak peduli. Ayato kok gak nanya sih ama Kaneki diapain aja dy di ruang Yamori kemarin? ga nanya napa rambutnya berubah? Ayato hanya bisa berkata kasar, ga jauh ama mulut kakaknya tuh. duh ne bocah mulutnya kasar banget. liat dong Kaneki dewasa dan kalem, juga sopan mulutnya. huh!

btw battle seru lainnya ada di gambar ini, ya. klik aja, kayak battlenya Kaneki ama Ayato, haha:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

Tokyo Ghoul (Pliz dont go!)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

kemaren dah bahas gemana hancurnya galaunya tu si Toka waktu Kaneki mo gabung ama Aogiri n ga mo balik lagi ke Anteiku di tengah guyuran salju. sekarang bahas Toka di episod 7 ini, duh sempet kaget waktu Kaneki balik lagi ke Anteiku. kirain yang datang CCG, ga nyangka aja si. ampe2 si Roma mecahin piring lagi liatnya. semua kaget! lama banget ya ga pulang2 tuh bocah. Toka langsung nyariin deh dengan cepatnya n masih bisa ketemu di jembatan. fiuh! tahu gak apa yang kupikir kalo aku jadi Toka? yup! aku dah meluk tu Kaneki dari belakang, cegah dy pergi lagi saking kangennya. tapi bukan Toka tu namanya kalo lebay haha. kalo aku tu dah kupeluk ga akan kulepas lagi n aku akan menyet kalo selama ini aku mencintainya, dont go. dalam hati sih Toka begitu, secara tersirat. kalo aku tuh blak2an aja langsung pengen banget meluk padahal hanya penonton. kangen banget tahu ama Kaneki jarang banget dy nongolnya...

btw battle seru lainnya ada di sini ya. klik aja gambar ini:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

Tokyo Ghoul (lets go home)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

duh pertama liat ne adegan waktu aku belum nonton tokyo ghoul. aku nonton di fp ne cuplikannya, sepertinya mengharukan dan kupikir tu sahabatnya bertarung ama Kaneki, namanya juga cuplikan jadi aku ga tahu betul apa yang terjadi. n kirain pula tu yang jatuh ke lantai darahnya, duh kok banyak banget ya. tapi rupanya cuma kopi. tapi dipikir2 lagi ne kok bisa ya tahan luka selama itu, masi bisa senyum2 padahal terluka dan ini adalah pertemuan yang sangat mengharukan antar sahabat. katanya si kalo di manga Kaneki yang bunuh Hide tapi di anime Hide luka karena musuh, tu aku baca dari fans2 bule sono di fp hehe. waktu itu Kaneki terluka dan masuk anteiku n dy kaget ketemu Hide ada di sana sante2. dy tutup mata sebelahnya tapi Hide langsung mengaku kalo dy dah tah itu sejak awal di episod 2, selama ini dy rahasiakan aja n tahu Nishi mo makan dy n Kaneki yang selamatkan habis2an. percakapan yang sante2 aja. hide hanya obrolin kalo Kaneki si mata satu sangat terkenal di CCG, seolah lagi ngobrol biasa, padahal Kaneki-nya stres dicari2. dah deh kalimat terakhir Hide sebelum mati: ayo pulang!

battle seru lainnya ada di sini ya. klik gambar ini menuju sumber linknya:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880
 

Tokyo Ghoul (fren or foe)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

hey, meski namaku arieska tapi zodiakku taurus hehe! emang kan sifatku banyak kesamaannya ama Kaneki, banyak banget: pendiam, pemalu, penyendiri, tertutup, lembut wak. tak selembut penampilan yah. hm bisa gak ya ntar laki-ku tuh sebaik nih, pasti cocok banget ama aku. ya gak? doain ya!

battle seru lainnya ada di sini ya. klik gambar ini menuju entriku:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

TOKYO GHOUL (ost unravel dalam bahasa indonesia + curhat Amon Kun-1)

hey, isi waktu break, aku mo kasi lagu ost tokyo ghoul dalam bahasa indonesia. klik aja gambar di bawah ini menuju videonya, bagus kok lagunya! lumayan suka aku. tadi aku baru dapat iseng aja browshing, hehe...
jadi nih menurut aku sih videonya yah lumayanlah. semuanya pake adegan sison 1. tapi tentu saja susunannya tuh ga sebagus lagu We Are by 7shinden itu. itu video klip Tokyo Ghoul fave-ku lah karena susunan videonya duh pas banget ama lagu n ngena banget.  kalo yang ini sih biasa aja sih. soal suara sih lumayan pula kayak di tv2 ala dubber. soal liriknya pula aku suka yang 'bersetai-setai' meski ga tahu artinya, baru denger hehe (n aku sempat ngira tu bahasa inggris), juga lirik reff 'di dunia yang penuh distorsi'. hm beberapa lirik ada diksi yang menarik yang aku suka. tapi prolognya aku kurang suka terjemahan liriknya, kayak klise banget kan bisa dibuat lebih indah getuh diksinya. meski diksinya ada yang bagus, meski ga beraturan sih menurutku karna ada diksi yang kurang kreasi di beberapa bagian, misalnya di lirik 'ingatlah aku', kan bisa diberi dikti variasi. prolog videonya yah dah lumayan pas lah saat Kaneki berenang di lautan darah karena organ Rize dimasukkan ke tubuhnya. tapi setelah itu sih susunan videonya biasa aja. masih kayak acak2an, ga sesuai irama lagunya (ga kayak we are-nya 7shinden punya!) terutama di ending duh terlalu banyak saat pertarungannya ama Jason, jadi ga seimbang rasanya proporsi videonya tuh, kayak inti lagunya hanya pertarungan ending sison 1 aja. tapi yang mo kubahas nih kok unravel the ghoul sih, hehe. hm memang ya aku juga suka nyanyi lagu bahasa indo nya unravel pake versiku sendiri n banyak perbedaan meski arti sama, aku hanya pake diksi yang beda aja, aku lebih milih diksi yang lebih indah aja, ga klise. tapi kalo kunyanyiin ne versi indoku hm mungkin di bawah versi yutub mereka pastinya hehe. kepedean ya! tapi ya namanya video klip pasti kita liat cuplikan animenya aja daripada lagunya sebagai pengobat kangen. jadi ya enjoy aja sih liat videonya n ada juga adegan yang belum pernah dipake video lain misalnya saat Hinami lari di tengah hujan deras, saat Kaneki dibantai di episod 10 ama Jason dll. btw ada sedikit perubahan nada tambahan di prolognya pula, jadi terdengar agak beda sih. saran sih si pengunggahnya belajar ngevideo n atur2 audio lagu kayak 7shinden punya, mereka ambil lagu yang tepat (We Are). teks lagunya juga ada di video ini ya!
di bawah ini juga ada curhatnya Amon yang kubagi 2 bagian di sison 1 sono, yuq dengerin kisahnya:





“Kenalkan, nama saya Amon Kotaro—staf baru CCG,” kumemperkenalkan diri pada semua staf di sana sebagai orang baru. Hari ini hari pertama aku bergabung dengan CCG, rasanya tegang sekali. Makanya aku jadi serba kaku saat diajak bergaul dengan para senior di sana. Aku masih gugup karena akan terjun bertugas menghadapi ghoul.
Rasanya jadi semakin salah tingkah saat mereka memperhatikan penampilanku yang sangat rapi, bersih kinclong, dan tak santai. Namanya juga orang baru. Mereka mengomentariku macam-macam, membuatku menahan napas saja mendengarnya. Mereka mengaku penasaran mengenalku lebih jauh karena gaya bicara dan sikapku yang serba kaku. Aku memang begini orangnya!
“Amon, selamat datang! Kau partneran dengan Pak Mado, ya!” kata atasanku Pak Arima.
Pak Mado? Begitu kumelihatnya, rupanya ia seorang pria tengah baya dengan penampilan yang acak-acakan. Aneh, itulah kesan awalku. Tapi dialah partnerku dalam mengemban tugas nanti. Semoga saja kami bisa cocok. Huft!
“Apllehead?” kugumamkan julukan ghoul itu pada Pak Mado saat tengah berdiskusi di ruangan kerja. Kutatap sebuah foto seorang nenek tua berusia 60-an tahun, rambutnya putih semua. Hm, aku masih sangat meragukannya. Masa iya nenek-nenek seperti ini ghoul?
“Apa Anda punya bukti kalo dia ghoul?”
Pak Mado tertegun sejenak. “Hanya instingku saja. Kita akan membuktikannya segera.”
Ng? Aneh! Aku masih meragukan orang ini bisa menjadi partnerku untuk seterusnya. Prinsip kami saja sudah berbeda sejak awal…
Penyelidikan pun dimulai. Kami menemui nenek itu di sebuah taman. Ah, masa nenek rapuh kayak gini ghoul, sih? Pak Mado lalu berbincang dengannya kemudian berakhir—
“Oh, maaf ya aku sudah salah mengiramu sebagai ghoul.”
Gubrak! Tuh kan bilang juga apa? Nenek-nenek ya nenek-nenek. Insting? Cuih!
Kami kemudian melangkah pulang sambil berbincang. Ah, kurasa orang ini sudah tak profesional dalam menyelidiki ghoul. Aku pun protes pada kinerjanya itu. Kenapa harus sejujur itu mengatakannya?
“Amon-Kun, boleh aku lihat quinque-mu?”
Eh? Dia malah nanya senjataku ini. Kutertegun dan terhenti di belakangnya. Hatiku memberontak. Sepertinya aku sudah salah partner. Masa aku mengeluarkan quinque ini di jalan? Apa kata orang-orang nanti? Apa ia tak memikirkan hal itu? Tak salah ini?
“Maaf, Pak Mado,” ucapku sehalus mungkin. “Atas kerja samanya saya ucapkan banyak terima kasih. Tapi ini tak berhubungan dengan profesionalisme kita. Permisi!”
Kemudian kuberbalik arah meninggalkannya. Mungkin rasanya tak sopan, tapi aku sudah memutuskan untuk tak berpartneran dengannya lagi. Sudah cukup sampai di sini saja, kami berdua bukan pasangan serasi. Selalu saja tindakannya itu berkontradiksi dengan pemikiranku.
“Aneh, kok ada orang seaneh itu di CCG, ya?” komentarku sambil melangkah dan tertegun begitu melihat nenek-nenek tadi hendak menyebrang sambil membawa koper roda yang besar…
“Ah, nenek tertolong. Makasih ya, Anak Muda,” ucapnya begitu aku membantunya menarik koper roda besar itu. “Kau ingetin nenek ama cucu nenek yang sudah pergi entah ke mana. Seharusnya dialah yang membantuku berada di posisimu kini.”
“Iya, Nek. Tak usah sungkan. Ini sebagai permintaan maaf karena atasan saya tadi sudah menuduh nenek yang nggak banget,” ucapku sopan. “Tapi ngomong-ngomong, nenek kuat juga ya bisa narik koper seberat ini. Isinya apaan, sih?” basa-basiku.
Pertanyaan basa-basiku itu kemudian terjawab sudah begitu spontan saja kulirik koper itu di kegelapan terowongan. Da-darah menyembur dari sela-selanya! Darah!
Kha! Kuterperanjat—tak bisa bergerak. Nenek itu kemudian membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan rinkakunya. “Cucu. Cucu. Mang ghoul gak boleh ya nenek-nenek?” Ia kemudian melancarkan serangan kagunenya itu. “Hihihihihihihi!”
Gawat! Aku harus bertarung untuk pertama kalinya! Jangan sampai aku terus terpaku saking syoknya. Kubuka-buka tombol tas quinqueku, namun… ceklek-ceklek. Tombolnya macet! Gawat! Tak bisa terbuka! Bagaimana ini?! Tidaaaaaaaaaaaak!
Zrugh! Kumembelalakkan mata dengan tegang. Nenek itu sekarang sudah terkulai lemas setelah tubuhnya ditembus oleh quinque Pak Mado. Sumpah, aku lega sekali dia mau datang di saat-saat genting seperti ini! “Pak Mado!”
“Hati-hati! Jangan lengah!” Pak Mado menyeringai. “Dah kubilang kan, jangan pernah ngeremehin insting pria tua ini. Bagaimana? Kau sudah percaya, bukan?”
Kutertegun. Kali ini kuputuskan untuk tak meragukan beliau lagi!
“Satu lagi, Amon-Kun, meskipun harus mengorbankan tangan dan kakimu, jangan pernah lari dari ghoul,” pesannya.
“Baik, Pak!” Kumengangguk kencang menyetujuinya. Pesannya itu pun kupegang teguh hingga saat ini…
***
Tak terasa, sudah setahun lebih aku bekerja sama dengan Pak Mado. Aku sudah banyak belajar dari beliau. Dan aku sangatlah menghormati dan menyeganinya. Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagiku bisa menjadi partnernya dan aku pun mengagumi insting yang pada awalnya kupandang sebelah mata itu.
Di akhir episod 2 ini, kami hendak menyelidiki keberadaan ghoul yang paling dicari-cari—Jason gelarnya.
Saat kutengah berpikir, dengan lincahnya ia kemudian melompat ke rel kereta api dan meraih sesuatu. “Lihat! Aku menemukan ini, Amon-Kun!”
Lihat, ia bahkan lebih lincah dan teliti mencium jejak daripada aku yang masih unyu ini. Luar biasa! Ia kemudian mengacungkan sebuah tang besar berlumuran darah mengerikan. Sebenarnya untuk apa ghoul itu menggunakan tang sebesar itu dalam menjalankan aksi psikopatnya? Jason adalah ghoul psiko yang paling diburu saat ini karena sangat meresahkan.
Oke, kita sudah mendapat petunjuk untuk mendapatkannya. Lanjutkan!
Petunjuk itu membawa kami ke suatu tempat di episod 3. Apakah benar ghoul itu ada di sini? Seharusnya aku tak menanyakannya lagi begitu ghoul yang kami incar keluar dari sana dengan santainya. Pak Mado segera menyerangnya dengan quinquenya yang terbuat dari kagune ghoul yang cukup canggih. Dalam pertarungan itu, mereka sama gilanya!
Aku tak boleh tinggal diam saja dan turut terlibat dalam pertarungan itu. Kukeluarkan quinqueku dan mencoba menyerang ghoul itu, namun ghoul itu dengan santainya menghindar. Cepat sekali!
Terakhir, ghoul itu pun berhasil kabur, meninggalkan ruangan yang kacau balau berkat pertarungan kami. “Ya, quinqueku rusak!” keluh Pak Mado tenang.
“Maaf, Pak Mado! Ghoul-nya lolos,” ucapku serius.
“Tenang aja, kita coba aja nanti. Masih banyak waktu untuk itu,” gumam Pak Mado sante. “Lagipula kita bisa tangkap yang satunya.”
Kemudian ghoul yang tersisa di sana dibekuk. Ghoul itu tampak tak berdaya dan ketakutan. Tanpa segan, Pak Mado malah menghabisinya di tempat. Kasihan juga rasanya melihatnya. Tapi ghoul tetaplah ghoul! Untuk apa dikasihani? Bukankah mereka juga membantai manusia tak pandang bulu? Aku tak boleh lemah untuk ini! Tega diharuskan untuk menghadapi mereka.
Yang ditinggalkan ghoul itu hanya selembar gambar anak-anak yang kini berlumuran darah. Bukanlah sebuah petunjuk yang penting. Tapi, yang kupertanyakan kini adalah… apakah ia memiliki keluarga pula?
Pak Mado lalu mengambil kagune ghoul malang itu untuk dijadikan quinque barunya—menggantikan quinquenya yang rusak tadi. Ia punya banyak sekali koleksi quinque saking maniaknya pada kagune ghoul…
Perburuan ghoul kembali diteruskan! Dengan menggunakan kagune ghoul malang kemarin, kami memancing keberadaan keluarganya di episod 6-7 di tengah hujan deras. Sesuai dugaan Pak Mado yang cerdik, anak-istri ghoul itu mengendus kagune tersebut dan mengira kepala keluarga mereka itu masih hidup. Kami pun beraksi!
Si ghoul wanita mengeluarkan kagunenya yang sangat indah, namun kagunenya tak digunakannya untuk bertarung melainkan melindungi dirinya dan anaknya dari serangan kami. Kemudian si ghoul wanita menyuruh anak perempuannya untuk kabur meski berderai air mata dan ghoul itu tetap di sana. Tapi wajah bocah ghoul tadi sudah dikenali.
Pak Mado kemudian mengeluarkan quinquenya yang terbuat dari kagune suami ghoul itu. Melihatnya, ghoul wanita itu terbelalak. Namun anehnya, ia malah tersenyum pasrah saat akan dihabisi dan… zrugh!
Entah mengapa, aku sendiri jadi tak tega melihat saat Pak Mado menghabisi ghoul cantik itu. Ia memenggal kepala ghoul berwajah keibuan itu dengan kagune milik suaminya sendiri. Kok rasanya jadi jahat sekali ya? Darah pun bercampur dengan air hujan… zzzzzzzzzzzz…
Manusia yang jahat ataukah ghoul yang jahat?! Apakah ini salah? Apakah mereka benar? Aku harus bertanya pada siapa?! (Akhirnya akan ada orang yang bermaksud membuatku memahaminya di episod berikutnya!)
Nuraniku seolah memberontak. Benarkah yang kami lakukan selama ini? Btw apa pentingnya pula membantai ghoul suami-istri yang tak berbahaya itu? Mereka bahkan tak melakukan perlawanan meski memiliki kagune yang hanya digunakan untuk melindungi diri saja. Itu saja kegunaan kagune mereka, tak lebih. Sejauh ini, kagune mereka tak digunakan untuk mencederai orang. Mereka hanyalah ghoul lemah!
Lalu bagaimana dengan anak mereka tadi? Kasihan kan sudah menjadi yatim piatu. Aku terus memikirkannya dalam konflik batinku ini. Tapi aku CCG yang diamanahkan untuk mengamankan ghoul, terus mengapa aku harus kasihan pada mereka?
“Huuuuuuu,” isak-tangis seorang bocah yatim piatu kemudian menyadarkanku. Kasihan anak itu. Ortunya mati dimakan ghoul. Melihatnya, akhirnya kuluruskan kembali prinsipku: ghoul itu memang harus dibinasakan! Tak ada yang namanya kasihan-kasihan. Mereka semua kan makan orang. Kenapa aku sempat merasa kasihan?! Cuih!
Tapi apakah SEMUA ghoul harus dibasmi?!
Sepulang bekerja, seperti biasa kuhabiskan waktu dengan minum-minum bersama rekan-rekanku ini.
“Amon, kau tak tertarik naik jabatan, ya? Dengar-dengar kau ini dari akademi.”
Aku yang duduk di tengah menjawab, “Bagiku ini sudah menjadi tanggung jawabku. Pangkat itu urusan belakangan.”
“Tapi kamu hebat, loh! Prestasimu tinggi sekali. Kau juga sangat serius berburu ghoul. Btw di akademimu ada cewek nggak?”
“Ada 2 orang,” jawabku kalem. Mereka lalu tampak bergairah. “Tapi mereka mati begitu cepat karena terlalu baek ama ghoul.”
Rekan-rekanku kemudian tertegun hingga menciptakan suasana canggung. Tak lama, aku pun pulang duluan karena saking disiplinnya. Mereka hanya terperangah melihat kekakuanku yang tak pernah berubah sejak awal masuk CCG ini. Sifatku yang masih tertutup ini dan enggan bicara banyak soal ghoul, membuatku tak bisa mengeluarkan emosi lebih banyak lagi. Tapi sejujurnya, pembicaraan tadi membuatku merasa sensitif. Kebencianku pada ghoul kembali menguat! Ghoul itu tak ada yang bisa dipercaya…
“Wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh!”
Ng? Itu suara temanku! Apa yang terjadi padanya?!
Bergegas kuberbalik arah ke sumber suara dan tak jadi pulang dulu. Kulihat ada salah satu temanku dibantai dengan kejinya oleh ghoul bertopeng kelinci dan yang lainnya hampir saja dibantai pula kalau saja aku tak segera menahan serangan si kelinci. Ciat!
Hiaaaaaaarrrrghhhh! Kumencoba melawan si kelinci dengan quinqueku, namun gerakannya cepat sekali! Kelinci ini membuatku geram setengah mati. Ia sudah membunuh temanku! Takkan kumaafkan!
Namun rupanya si kelinci itu bukanlah lawan yang seimbang bagiku. Untung saja Pak Mado segera datang menanganinya. Kupercayakan saja semuanya padanya. Meskipun gerakannya lincah, tapi Pak Mado berhasil menciderai kelinci itu. Tapi akhirnya kelinci itu kabur juga dengan meninggalkan luka mendalam bagiku.
Sial! Awas kau, Kelinci! Kau sudah membunuh temanku yang tak bersalah ini. Kenapa? Kenapa harus ia yang kena?! Aaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggghhhhhh!!!
Hari-hari berikutnya, masih merupakan hari berkabung bagi CCG karena kehilangan salah seorang anggota baiknya. Aku pun turut sedih. Tapi Pak Mado tak menghadiri upacara berkabung itu saking terobsesinya ia berburu ghoul. Ia benar-benar maniak! Tapi tak masalah buatku karena akulah yang mewakilinya.
“Mado nggak datang, ya? Jangan heran kalo dia ntar ga datang ke upacara pemakamanmu kelak,” komentar partner temanku yang meninggal di tangan Kelinci itu.
Akhirnya pulang kerja, kami tinggal berdua saja singgah minum-minum. Kesedihan masih basah di hati kami. Padahal temanku itu orang yang baik, tapi mengapa Kelinci itu membantainya? Apa salahnya?!
Aku masih tak bisa terima! Aku bersumpah akan membalaskan kematian temanku itu. Akan kuburu kelinci itu sejauh apa pun meski harus mengorbankan tangan dan kakiku. Kesal! Kesel! Kesaaaaal!
“Hiks! Aku sudah tak punya partner lagi untuk ditraktir,” isak temanku itu. Kasihan! (tapi ntar partnernya diganti ama Rei—cewek stres plus psiko yang dibesarkan ama ghoul).
Demi menghibur hatinya, aku pun makan banyak agar dia bisa mentraktirku—anggap saja aku bagian dari kehidupannya yang seperti biasa agar ia tak begitu kehilangan. “Bersiap-siaplah karena aku akan melubangi dompetmu!”
Dia tersenyum sendu. Sungguh beruntung almarhum temanku itu bisa punya partner yang doyan nraktir ini. Aku akan berusaha menghapus kesedihan rekanku ini. Kami berdua tengah berkabung karena ulah bejat kelinci itu. Aku bersumpah akan balas dendam dan ia adalah buruan utamaku demi temanku!
Semua ghoul itu jahat! Benarkah begitu?! Pertemuanku dengan si Eyepatch sempat membelokkan pemikiranku ini. Siapakah dia sebenarnya? Mengapa aku begitu tertarik ingin mengenalnya lebih jauh lagi? Mengapa aku begitu penasaran seperti apa wajahnya dan ingin membahas soal ghoul padanya lebih lama lagi? Dan lagi… mengapa kumerasa ia bukanlah orang jahat? (episod 8).

======================================================================

selain pertarungan Amon vs Kaneki, ada battle seru dari aku. klik gambar ini ya menuju link sumbernya:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

Rabu, 16 Maret 2016

anime horor/gore selain Tokyo Ghoul

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

gile, mas admin! koleksi animenya keren2 hehe. aku jadi bergairah nih. atas saran ini, aku akan nonton mua deh kayaknya seru2 nih. selain tokyo ghoul, aku tertarik juga nonton corpse party karna lagunya bagus, penasaran juga si ceritanya kayak apa. aku juga mo coba nonton another cus selalu ada gambarnya di web. pokoke mua deh, makasih deh admin fp kaneki tampung banyak anime horor kayak gini, aku jadi laper n bergairah mo nonton mua, pasti selera admin keren2 deh...

battle seru lainnya ada dengan ngeklik gambar ini ya:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

Tokyo Ghoul (mask ghoul Kaneki)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

hm ga nyangka ya cowok selembut n sesopan n sangat baik hati ini bisa bermetamorfosis jadi ghoul, kasian si jati dirinya berubah. cowok idaman ni sifatnya, pasti banyak cewek suka sifat baik hati Kaneki sebelum jadi ghoul. iparku kayak getu hehe. mo dapat yang kayak Kaneki deh, amin. ga habis pikir, kok bisa ya ada cowok hatinya sangat lembut kayak gini, hadapi musuhnya aja dia sopan bicaranya, padahal kalo orang biasanya berkelahi pake mulut kasar eh yang ini sopan2. pokoke banyaklah pelajaran berharga dari karakter utama ini, terlalu baik n pasti banyak orang yang punya sifat sebaik Kaneki di luar sana. aku malah curiga jangan2 pengarangnya yang punya sifat sebaik ini ya?

battle seru dari aku, klik gambar ini ya:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

Tokyo Ghoul (ga selembut penampilan)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

dia gak selembut penampilannya, begitu koment teman2nya. tentu saja di balik penampilannya yang lemah dia punya kekuatan Rize dalam tubuhnya. teman2ku juga perna koment yang sama tentang penampilanku yang tampak lemah, tapi kuat juga kan larinya. bener2 ga disangka ya komentnya hehe. sama dong aku ama Kaneki terima koment kayak getu. banyak persamaannya ya aku ne ama ne cowok. tapi saat memutuskan untuk bener2 kuat, dia pun berubah identitas jadi ghoul dan gene deh jadinya wajah sangarnya tak tampak lemah lagi. sekali lagi, ia memutuskan untuk kuat luar dalam, ga mau tampil lembut lagi. kuat!

battle seru lainnya ada di sini, klik ya gambarnya menuju entriku:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

Tokyo Ghoul (final battle)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

iya sih kok endingnya gene. kirain ada battle seru getu ama Arima hiks. tapi ne sendu juga endingnya dihadang ama Arima yang ga bakal mau lepasin dia pergi, gayanya dah mau bantai tu Kaneki. dihadang persis di depannya n Kaneki letakkan mayat Hide ke tanah n tatap Arima dengan sendunya. Arima ga bakal lepasin karena dia ghoul yang paling dicari, akhirnya Arima bisa liat mukanya juga. tapi nih diliat muka2 inosent deh, kok masih tega ya bantai Kaneki? lalu habis deh ga diliat bagaimana Arima membantai Kaneki. hm, padahal di sison 3 Kaneki amnesia dan diadopsi ama Arima jadi CCG...

sambil nunggu sison 3 nih ya, dukung ya entriku dengan ngeklik gambar di bawah ini. ada battle seru dari aku:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

Tokyo Ghoul (Lonely)

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

dia orang yang kesepian, sama kayak aku hehe. selalu menyendiri pula, hm sama persis kayak aku ya. tertutup, eh sama lagi kayak aku. aku pernah baca di web, kalo dia tu lindungi temen-temennya karena egonya sendiri, soalnya dia ga mo sendiri lagi di dunia ini. apa itu salah? apa itu egois dan memikirkan diri sendiri? entahlah, tapi aku suka gayanya yang kayak gene kayak kesepian banget, selalu termenung sendiri dengan sorot mata sendu. hiks-hiks...

ada battle seru dari aku di sini, klik ya gambarnya:

http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/03/fbc-015-ghoul.html?showComment=1457134334921#c4115306077024512880

TOKYO GHOUL (unravel saat kematian Hide)

hay, nemenin break dulu deh baru lanjut sison 2-nya, hehe. aku mo share lagu unravel versi sedihnya yang ada di sison 2 ini soal hide (pokoke menyedihkan bangetlah). nih jadi ending song sison 2 versi slow unravel yang baper banget, belum ditambah adegannya tuh. hiks! 
Toka nangis karena Anteiku terbakar di tengah hujan salju! semua dimulai saat Kaneki keluar dari kobaran api Anteiku yang dibakar ama Yomo sih, sambil gendong Hide di bawah selimut putih. hm, kok jadi kayak mayat sih karena ditutupi semua? apa dah mati nih ya? Toka dan Yomo melihatnya, tapi dibiarkan pergi saja. lalu dy terus berjalan dengan lesunya dengan wajah sedih menggendong Hide pulang. dy menarik napas dan siap mental saat melangkah melintasi para CCG yang sibuk menyelamatkan teman2nya yang sekarat (ada Juzo yang menangisi rekannya yang sekarat, juga Akira yang meratapi Amon yang tak sadarkan diri, entah Amon sudah mati atau tidak. aku penasaran! semoga Kaneki ga sampai membunuh Amon, kan sama2 orang baik). kaki Kaneki melangkah di tengah2 mayat CCG yang tergeletak dan senjata2 yang hancur (ada yang menangis sedih dll. pokoknya semua hati orang hancur!). dy melangkah dengan tenangnya di tengah2 CCG yang kemudian memelototinya. dy jadi pusat perhatian mereka. ada yang menelpon atasannya untuk melaporkannya, ada yang hampir saja menembaknya tapi ditahan temannya karena sedang menggendong anggota CCG (Hide). Kaneki melintas dengan aman di tengah mereka. wajahnya sedih sekali sambil sesekali menatap Hide--menantinya untuk membuka mata dan sadar. wajahnya sendu sekali sambil sedikit-sedikit menatap sekitarnya dengan sedih--menatap CCG yang terpana melihatnya dengan beraninya lewat. tak ada yang berani bertindak--entah takut atau gimana, atau kasihan melihatnya tengah bersedih. di tengah salju, Kaneki terus melangkah hingga perjalanannya kemudian dihadang oleh Arima yang sudah menerima laporan dan... dor (hitam)!
 silakan buka ndiri dengan ngeklik gambar di bawah ini:





Kaneki Ken—teman sekelasku di SD itu. Aku selalu memperhatikannya dari jauh. Mungkin ia tak menyadarinya, tapi entah mengapa aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Kasihan saja lihatnya. Ia selalu saja menyendiri. Apa ia tak merasa kesepian?
Seperti biasa, begitu istirahat sekolah kulihat lagi ia tengah membaca buku di lapangan sendirian. Ia benar-benar kuper dan pemalu berbaur dengan anak lainnya. Akhirnya kuputuskan untuk menyapanya. “Hei, lo! Tiap istirahat kamu selalu menyendiri baca buku di sini. Gak main ama temen lainnya? Apa kamu gak kesepian?”
Ia menoleh. Wajahnya sangat manis dan imut didukung oleh mata besarnya yang indah—inosent kesannya. Rambutnya juga standar banget dan terkesan culun. “Mangnya salah?” tanyanya polos dengan suara imut.
“Bukannya gitu, sih!” Aku lalu duduk di sampingnya. Akhirnya bisa berada di sampingnya juga ya. “Aku selalu liat kamu sendirian. Takutnya kamu kesepian. Kan kasihan kamunya. Jadi aku mau ajak kamu temenen aja. Kebetulan aku juga belum punya temen. Kamu mau gak temenen ama aku?”
Ia menyambutnya dengan senang hati dan mengangguk kencang. Senyumannya sangat manis. “Mau, dong! Aku Kaneki.”
“Hide!” Kami kemudian saling berjabat tangan. Aku senang bisa mengajaknya berkenalan, sepertinya anaknya baik banget. Sepertinya ia tipe orang pasif yang tinggal menerima… maksudku orang duluan yang harus aktif ngajakin, baru dia mau. Kami pun selalu bersama. Itulah awal persahabatan kami yang bertahan hingga sekarang…
“Hiks-hiks-hiks…” Kaneki keluar rumah malam itu sambil menangis-nangis sedih setelah kepergian ibunya. Ia jadi selalu menangis karena itu. Kasihan sekarang ia sudah menjadi anak yatim piatu dan tinggal sendiri di rumah.
Diam-diam kuintipi dia dari dalam rumahku. Melihatnya sesedih itu, membuatku jadi sedih juga. Aku bisa merasakan kepedihannya. Di usia masih sekecil itu sudah harus tinggal sendirian di dunia ini. Tapi tenang, kawan! Masih ada aku. Aku akan selalu berada di sisimu agar kau tak kesepian lagi. Kasihan dia!
Hari-hari selanjutnya, Kaneki masih belum bisa masuk sekolah. Ia absen melulu. Ia pasti masih sedih dan mengurung diri di rumah saking terpukulnya. Tapi sampai kapan? Terus bagaimana dengannya ya di rumah? Aku selalu memikirkan sahabatku itu. Aku kasihan padanya.
Keesokan paginya, kebetulan saja kulihat ia tengah melangkah murung di depanku menuju sekolah. Segera saja kuberlari menghampirinya. “Kanekiiiiii!!!”
Langsung kudekap ia penuh kehangatan begitu tiba di hadapannya. “Kaneki!” sapaku riang. “Sampai kapan kamu mau absen mulu dan mengurung diri di rumah? Aku tuh kangen banget sama lo! Dah lama banget kita gak barengan, aku kan jadi kesepian, sob. Aku gak bisa belajar tanpamu.”
Ia menatapku dengan wajah sembab. Sebenarnya aku berusaha menghiburnya, soalnya aku bukan tipe orang yang harus ikut-ikutan murung di kala temanku sedih. Aku bukan tipikal orang pemurung. Aku hanya tak ingin ia merasa sendiri lagi! Aku janji akan selalu menjaganya dan meramaikan hatinya…
Persahabatan itu terus terjalin hingga kami SMA. Saking lengketnya, hampir tak pernah bertengkar karena ia orang yang sangat baik hati (nggak mau menyakiti orang). Persahabatan kami awet…
“Kaneki, kalau kamu jadi ghoul, kamu mau gak makan senior kita yang resek di kelas 2 itu?” kumemberi pertanyaan pancingan. Iseng saja, hehe!
“Kagaklah!” tanpa pikir panjang, Kaneki langsung menjawabnya. Jawaban yang pantas untuknya. Ia memang orangnya terlalu lembut untuk melakukan kekerasan. Itulah yang kupahami darinya. Salut!
Kami menghabiskan dan menikmati waktu bersama layaknya saudara kandung saking dekatnya. Sampai malam pun kami nongkrong melepas lelah dari beban sekolah di taman bermain ini. Tapi aku tak nyangka kalau ia bakal jadi ghoul sungguhan…
Kaneki yang kukenal selama ini orangnya sangat baik hati dan berhati lembut. Ia tak bakal tega menyakiti orang baik itu berupa lidah apalagi anggota badannya (ngerti gak apa maksud gue?). Sahabatku ini orang yang sangat sopan, tak pernah bicara kurang ajar apalagi mengeluarkan kalimat kotor. Belum lagi tuh sebenarnya dia lumayan manis dengan wajah inosentnya. Semuanya itu membuatku betah temenen ama dia. Aku sangat sayang padanya!
“Hah? Kamu mau kencan? Kirain kamu suka kencan di toko buku. Suit-suit, kencan di kafe.” Kumenertawakan menggodainya setelah ia mengutarakan niatnya itu, makanya ia datang ke Anteiku—kedai kopi ini. Wajahnya jadi merah karena malu. Sori, sob! Aku memang begini orangnya. “Siapa yang mau kaukencani itu? Dia?” Kemudian perhatianku menyorot seorang gadis pelayan kafe itu. “Dia manis banget! Seleramu keren, bro.”
Gadis yang membawakan kopi ke meja kami itu tersentak.
“Heh cewek, siapa namamu? Kamu temen kencannya Kaneki, ya?” tanyaku blak-blakan.
“Hide, bukan!” Kaneki langsung menepis anggapan memalukan itu.
Tapi aku sudah kayak ember bocor orangnya. “Manis juga lo! Cocok ama Kaneki, sodaraku ini.”
Wajah gadis itu memerah karena malu. “Nama gue Toka.” Ia langsung kabur dengan kalemnya.
Tak lama, gadis yang dimaksud Kaneki pun datang. Oh, rupanya gadis itu. Suit-suit, cantik banget! Rize namanya. Ia berkacamata dan… seksi juga nih cewek.
“Kaneki, sebaiknya kamu lupain aja dia. Gak cocok. Kayak beauty and the…” komentarku. (beast).
Kaneki jadi down mendengarnya. Ia jadi rapuh, namun segera kuberi ia semangat agar berani mendekati cewek yang ditaksirnya itu. “Kaneki, gak usah masukin dalam hati ucapanku tadi. Aku cabut dulu, ya. Semoga kau berhasil ngedate ama cewek seksi itu. Bay, sobat!”
Kemudian kumelangkah pergi meninggalkannya meskipun ia masih ingin ditemani. Tapi aku tak mau ikut campur dalam urusan asmara. Aku seneng Kaneki bisa suka sama cewek tak peduli penampilannya yang kutu buku itu. Aku harus segera pergi sebelum Kaneki goyah.
Bergegas kurengkuh sepedaku. Sebelum pergi, kutoleh lagi Anteiku tempat sekiranya Kaneki duduk tadi. Kutersenyum-senyum. Semoga besok aku dapat kabar baik darinya. Kemudian kukayuhkan sepedaku pergi…
Hari berikutnya, aku dapat kabar kalau Kaneki masuk rumah sakit. Apa yang terjadi? Di tengah-tengah kesibukanku ngampus, kuberusaha menjenguknya di rumah sakit. Tapi aku tak bisa menemuinya. Akhirnya aku hanya bisa pulang dengan tangan kosong. Kupandangi lagi rumah sakit itu kebingungan sebelum kumengayuh sepedaku. Kaneki, cepat sembuh ya, bro…
Huft! Jadi prihatin rasanya. Keesokan harinya di kampus, ia masih juga tak nongol-nongol. Aku jadi cemas. Aku tak bisa menengoknya waktu sakit. Bagaimana pun, aku sudah janji akan menjaganya sebagai “ibu” baginya, meski itu takkan pernah tercukupi. Kasihan kan dia!
Aku hanya bisa mengirim sms, tapi dia tak pernah membalasku. Semoga dia baik-baik saja. “Huh! Temanku ini sudah lama tak ngampus, aku jadi mencemaskannya. Kasihan ia lagi sakit,” curhatku pada temen seniorku—Kak Nishi.
Seniorku yang berkacamata itu berkomentar, “Dia pasti temen yang sangat berharga bagimu, ya? Sampei kau mencemaskannya seperti itu.”
“Oh, banget! Sudah kuanggap adik malah. Jadi aku harus menjaganya.”
Pulang kampus, kubersepeda ke Hypermart untuk membeli sedikit makanan. Saking kepikirannya, aku memikirkan makanannya pula. Kasihan kalo kurang gizi, kan aku ini “ibunya”. Lagian ia masih sakit. Kumembeli beberapa burger karena ia sangat menyukainya, juga susu kotak.
Begitu tiba di kosannya, rupanya ia masih belum keluar dari rumah sakit. Maka kugantung saja makanan itu di pegangan pintu rumahnya. Ia pasti akan menemukannya kalo dah pulang nanti. Kutuliskan pesan untuknya agar jangan malas makan dan segera masuk kampus kalo dah baikan. Aku merindukannya!
Hari-hari berikutnya, ia masih saja belum masuk-masuk kampus juga. Di tengah kesibukan kuliahku, akhirnya kusms ia karena sudah kelamaan gak masuk kampus: we! Kau akan mati di mata kuliah sejarah. Cepat masuk atau kau eror, bro…
Kumelangkah santai pagi itu dan melihat… eh Kaneki sudah ada di depan mataku memunggungiku. Bergegas kusambar ia dari belakang penuh kerinduan (sama persis waktu SD dulu). Kaneki, akhirnya kau masuk juga. Aku sangat mencemaskanmu!
“Kaneki, aku akan masukin kepalamu ke kos kakiku dan aku yakin kau takkan tahan menghirup baunya. Kau ke mana saja, sob? Dah baikan? Bla bla bla…”
Hari ini Kaneki agak berbeda. Karena selain ia mengenakan penutup mata medis, ia juga tampak lemas. Apa ia sudah makan? Ia tampak pucat. Apa ia masih sakit? Kuharap ia baik-baik saja dan akhirnya kami bisa barengan lagi. Asyik!
Sepulang kampus, aku dan Kaneki menuju rumah Kak Nishi. Ia sempat membelikan kami burger di jalan. Tapi tak seperti biasanya, Kaneki tak memakan bagiannya. Padahal itu kan makanan favoritnya. Bagaimana dengan makanan yang kubelikan untuknya? Apa ia menyukainya? Kenapa temanku ini jadi malas makan?!
***
Semuanya terjadi begitu cepat. Kecelakaan itu membuatku harus dirawat karena luka sana-sini. Aku tak begitu mengingat kejadiannya. Begitu kumembuka mata, aku sudah berada di sebuah kamar di Anteiku. Ng? Kenapa aku bisa berada di sini? Apa yang terjadi?
Klep. Kembali kupura-pura tertidur dan berbaring memunggungi mereka yang masuk—Kaneki dan Pak Yoshi. Kaneki menangis-nangis mencemaskanku. Ia terdengar galau dan depresi berat.
“Karena aku, Hide jadi begini. Hide tak tahu apa-apa dan ia juga tak tahu masalahku mengapa aku menghilang sejenak dari kampus. Hampir saja aku menelannya. Ia orang yang sangat berarti bagiku. Aku takut… aku takut tak bisa akrab lagi dengannya. Aku sudah menjadi monster dan aku tak mau jiwanya terancam karenaku. Bagaimana pun juga, ia tak terlibat apa-apa. Aku tak mau dia mati di tangan ghoul. Aku tetap merasa sebagai manusia, aku bukan ghoul! Huuuuuuu…”
Pak Yoshi menenangkannya dan mengajaknya bergabung ke Anteiku. Setelah pembicaraan panjang lebar, mereka pun menutup pintu kamar kembali dan kumembuka mataku dengan tenangnya.
Kaneki? Rupanya kau ada masalah berat, kawan. Kenapa kau tak cerita? Aku bisa merasakan kepedihanmu sama seperti waktu kecil dulu, sob. Apa kau segan membagi bebanmu denganku? Bukankah aku sudah berjanji untuk melindungimu? Tapi kau memang orang seperti ini, sama sahabat sendiri pun kau merahasiakannya dan menutup-nutupinya saking tertutupnya.
Aku sudah tahu semua mengapa kau jadi sangat murung setelah keluar dari rumah sakit. Apa karena itulah aku tak diperbolehkan menjengukmu di sana? Apa yang mereka lakukan padamu? Mengapa mereka membuatmu menjadi setengah ghoul? Ini masalah serius!
Aku sudah membuat Kaneki banyak menangis karena mencemaskanku. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk membuatnya kembali menjadi manusia normal. Kasihan Kaneki! Rupanya ia sedang sangat menderita seperti ini. Terima kasih Kaneki, karena kau sangat peduli padaku.
Ia melalui penderitaannya seorang diri, sementara aku tak bisa berada di sisinya menghadapi masa-masa sulit itu. Aku tahu ia tak ingin melibatkanku dalam bahaya ini. Tapi aku akan terus menjaganya dengan berpura-pura tak tahu masalah kalau para staf Anteiku semuanya adalah ghoul. Aku juga akan menjaga rahasia terbesar Kaneki agar jangan sampai ia dalam bahaya…
Meskipun mengetahui semuanya gara-gara pura-pura tak sadarkan diri kemarin itu, aku masih sering main ke Anteiku. Kaneki menjadi salah seorang staf di kafe itu. Dengan begini, aku bisa mengawasinya dengan sering main ke sini jadi pelanggan setia.
Mungkin ini namanya nekat. Sudah tahu itu sarang ghoul, eh masih saja nongkrong di situ. Aku tak takut dan aku cukup percaya diri bisa berpura-pura tak tahu seperti ini. Takkan terbongkar. Aku akan menjaga Kaneki dari sini sebagai satu-satunya teman manusia yang memahaminya. Cukup itu saja! Aku juga takkan membahayakan ghoul-ghoul baik ini. Aku yakin mereka baik karena mereka mau menerima Kaneki menjadi bagian dari mereka dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Tak mungkin kan Kaneki menghadapi perubahannya ini melalui arahanku?
Aku harus pandai menutupi semuanya agar jangan sampai semuanya terbongkar. Aku harus pandai berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Termasuk bagaimana bersikap dengan Kak Nishi yang ternyata berniat menyantapku. Tapi aku tak takut masih temenen ama ghoul yang akhirnya bergabung di Anteiku itu.
(Mungkin kalo orang lain itu sudah menghindarlah karena pikiran waras dan hubungi CCG. Tapi karena temanku ada di Anteiku, mau tak mau aku harus berpura-pura dan aku sama sekali tak takut!)
Tiap cabut, seperti biasa adalah kebiasaanku untuk menatap lagi Anteiku (kebiasaan). Seolah menatap Kaneki penuh kecemasan. Semoga saja ia baik-baik saja dan mereka di sana bisa menjaganya baik-baik. Aku tak akan kuat melindunginya jika berhadapan dengan bahaya ghoul lainnya. Jujur saja, aku sangat memikirkan Kaneki meski selalu pura-pura tak tahu…
CCG beraksi! Hal yang kukhawatirkan terjadi juga. Aku memang tertarik memelajari gerakan dan taktik CCG. Di kamarku ada banyak catatan yang kutempel soal CCG, bukan soal tugas atau ujian. Semuanya demi Kaneki!
Begitu main ke Anteiku lagi, Kaneki malah risih saat aku membahas soal ghoul dan CCG. “Kamu tertarik banget ya soal ghoul?” tanyanya gelagapan—merasa sensitif.
Aku tahu ia tak ingin aku banyak terlibat soal masalah ghoul ini. Aku tahu ia mencemaskanku dan berharap aku menjauh dari pembicaraan sensitif ini. Tapi semuanya sudah bocor, tapi tentu saja takkan kubocorkan karena ada kau di sini, Kaneki.
Maaf kalau aku pura-pura tak tahu dan sok polos selama ini. Maafkan aku sudah menyembunyikan pengetahuanku ini darimu dan yang lainnya, Kaneki!
Berita tentang pertempuran ghoul (Aogiri) dan CCG pun selalu tersiar di TV. Aku jadi sangat mencemaskan Kaneki. Ia bahkan sudah tak pernah mengirim kabar untukku. Sms gak pernah dibalas-balas. Aku jadi galau dan gelisah di kamar. Apa yang terjadi padanya? Apakah ia baik-baik saja?!
Ya Tuhan, lindungilah sahabatku itu! Ia terlalu baik untuk disakiti, terlalu baik pula menjadi ghoul. Bagaimana ini?
“Kaneki, setidaknya kau kirim pesan padaku meski 1 huruf saja,” rintihku sambil menonton berita gawat itu di tengah-tengah kamarku yang berbau CCG ini. Percuma saja kupegang selalu ponsel ini. Aku selalu menunggu jawaban darimu, tapi kau seolah sudah tiada.
Aku harus berbuat sesuatu! Karena cemas setengah mati, akhirnya kuputuskan untuk bekerja paruh waktu di CCG sebagai staf pengantar pesan. Aku harus memata-matai pergerakan CCG. Aku akan melindungi Kaneki dari sini—di tempat yang berlawanan dengan Anteiku itu!

(Risiko orang baik hati, kalo tak mudah disakiti n ga membalas, pasti disayang dan dicemaskan oleh banyak orang. Hide gak tahu waktu itu Kaneki disekap habis selama berhari-hari penuh penderitaan.)

======================================================================

dukung pula entriku dengan ngeklik gambar di bawah ini, bakal ada battle seru dari aku: