THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Selasa, 28 Juli 2020

Memutuskan Pacar Konyol





“Alvi! Cilukba!”
Lagi-lagi Ron berusaha melucu setiap kali aku tiba di kelas. Ugh, bikin malu saja! Pacarku itu memang konyol sekali. Aku jadi sebel padanya. Tiap kali ia melucu, aku selalu mengabaikannya karena memang tak lucu.
Huh! Rasanya ingin putus saja deh dengannya. Habis bikin malu saja, sih. Dalam hati memang kuputuskan, tapi aku belum menyampaikan itu padanya. Tapi begitu hari-hari berikutnya melihatnya sendirian terus, aku jadi kasihan juga melihatnya.
Ia tampak sering melamun di koridor sekolahan. Hm kenapa ia sesendu itu, padahal aku kan belum meresmikan putusnya hubungan kami ini. Apa yang membuatnya sedih begitu? Apakah ia menyadarinya karena aku selalu mengabaikannya tiap kali ia melawak?
Memang sih bagi orang lain, mungkin ia lucu tiap kali melawak. Tapi tidak denganku. Dan siang ini, ia masih berada di sana melamun dengan duduk di tepi koridor. Hm sebentar lagi aku akan melewatinya, langkah demi langkah. Aku kemudian melewatinya sambil menunduk agar tak bertemu langsung dengan mata sedihnya itu. Pura-pura tak melihat saja.
Namun ia seketika memanggilku, “Alvi!”

***

https://mangatoon.mobi/id/detail/333845/episodes

hy, readers, mampir yuk ke novel horor terbaru karya THIRTEEN ini. temanya lain daripada yang lain loh, seramnya juga beda: TOK TOK TOK. silakan klik gambar kover di atas menuju link novelnya di web MANGATOON atau lebih asiknya sih baca di aplikasi NOVELTOON, tinggal search aja. makasi banyak ya :=(D

Senin, 27 Juli 2020

THE EYEPATCH - 3


Mata Anya masih belum mau bekerja sama malam itu untuk terpejam. Hal ini dikarenakan pikirannya masih melayang ke pertunjukan memanah tadi. Shue!

…

Tiap pulang kerja, pada sore hari, ia selalu menyempatkan diri ke sirkus untuk mengintip latihan memanah Shue. Hatinya terkagum-kagum melihat kemahiran Shue memanah sasarannya. Meskipun ia harus mendapat teguran para staf  karena telah memasuki wilayah latihan, ia tak juga kapok untuk menonton Shue memanah diam-diam. Ia selalu mencari posisi yang strategis untuk memperhatikannya, hingga pada suatu hari Shue sendiri yang menegurnya.

Saat itu, tanpa sengaja anak panah Shue hampir saja mengenai Anya. Anya terkejut. Hampir saja anak panah pemuda yang dikaguminya itu mencederainya.

“Eh, kamu tuh udah berapa kali dibilangin! Kenapa sih masih bandel juga? Sudah ditulis di depan pagar ini, kan? ‘Dilarang mendekati area latihan memanah’. Kalo kamu kena, gimana?”

“Oh gitu, ya. Maaf, ya. Habis, aku suka sekali melihat latihan memanahmu,” sahut Anya terpana. Matanya tak bisa lepas dari wajah Shue.

“Kamu tidak takut?”

“Kenapa harus takut?”

Shue menatap Anya lebih dalam lagi. “Mau tahu bagaimana rasa takut itu? Bagaimana rasa takut menghadapi anak panah?”

Anya mengerutkan keningnya.

Shue mengalihkan pandangannya. “Kalo penasaran, datang saja ke pertunjukan memanahku malam minggu. Kamu akan tahu.”

Itulah alasan mengapa Shue menawarinya menjadi relawan dalam pertunjukannya. Hanya untuk mengenalkan rasa takut melihat bidikan panah.

Anya menerimanya dengan senang hati saat itu. Ia belum merasakan rasa takut yang dimaksudkan Shue karena selama jadi relawan, ia hanya memperhatikan mata tajam Shue, bukan anak panahnya…

…

Sudah dua kali Anya menjadi relawannya. Tak seperti kebanyakan gadis yang pernah jadi relawannya, tak ada yang rela melakukannya lebih dari sekali karena takut. Takut melihat anak panah yang runcing melaju ke arahnya.

Anya lalu memejamkan matanya. Wajah dan suara beku Shue masih terngiang-ngiang di benaknya. Ia memang sudah dua kali menjadi relawan dalam pertunjukannya dan ia akan melakukannya lagi. Bukannya tanpa alasan, tapi ia ingin mengenal Shue lebih dekat lagi. Shue benar-benar sudah menyita sebagian pikirannya!

Apa benar ini yang namanya cinta?

***

“Yang benar saja? Bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama orang sirkus macam Shue itu!” komentar Lili saat Anya menceritakan perasaannya pada si pemanah sirkus itu. Pagi itu mereka yang sedang berpakaian putih-putih tengah berjalan menuju tempat kerja. “Usianya juga lebih muda daripada kita.”

“Ya, mau bagaimana lagi? Namanya juga perasaan yang tak bisa dicegah. Apa salah menyukai cowok yang lebih muda? Aku kan tak kelihatan lebih tua darinya.”

“Anya … Anya! Sudahlah, jangan banyak bermimpi seperti itu sebelum kamu menyesal! Shue itu orang sirkus dan sirkus yang ditempatinya itu akan selalu berpindah tempat. Lupakanlah perasaanmu padanya. Carilah pria yang hidup menetap seperti kita,” tegur Lili. “Bisa saja kan cintamu itu hanya cinta monyet belaka, jadi jangan terlalu dianggap seriuslah!”

Anya terdiam. Ia membenarkan perkataan Lili. Ia menunduk lesu dan merenung. Anya lalu mengangkat mukanya. Tiba-tiba saja tatapannya terpaku. Tapi ia tak menatap Lili. Lili mengikuti arah pandang Anya. Dilihatnya Shue dan kedua temannya di sebuah lorong.

“Heh, panjang umur tuh anak! Baru aja diomongin,” komentar Lili.

“Ssst! Li, sepertinya ada yang nggak beres deh di antara mereka,” sahut Anya curiga. Shue tampak bersitegang dengan kedua temannya itu.

“Ala! Udah. Itu urusan mereka. Yuk, buruan! Ntar terlambat kerja, lagi,” Lili menyadarkan Anya dan bergegas menarik tangannya.

Anya tak punya alasan untuk menentang. Ia menoleh cemas ke arah Shue sebelum hilang dari pandangan.

***

“Pokoknya aku takkan kembali lagi ke sana! Titik!” seru Shue gusar pada kedua temannya tadi yang ternyata bukan orang sirkus, tapi orang yang dikenali Shue sebelum ia bergabung di sirkus.

“Tapi berbahaya, Fuad! Kau bisa celaka kalau berada di situ terus!” tegur rekannya menyebutkan nama aslinya. “Hentikan penyamaranmu ini!”

“Kalian tak bisa mencegahku untuk melakukannya! Aku akan tetap mencari geng pemanah itu! Aku takkan melepaskan mereka begitu saja! Kalian harus mengerti perasaanku mengapa aku mau bergabung ke tim sirkus itu!” Shue membantah.

“Tapi apa kamu yakin geng pemanah itu ada di sana?”

Shue kemudian menunjukkan sesuatu dari sakunya. Ia mengacungkan sebuah anak panah. “Aku menemukan anak panah yang sama di arena sirkus itu, saat mereka sedang berpawai mengelilingi desa kita dulu untuk mempromosikan sirkus mereka. Ini anak panah dengan logo kalajengking yang sama. Dan aku yakin aku tak salah lagi, dan aku takkan pernah mau mundur sebelum bisa menemukan mereka!”

Kedua rekannya saling memandangi pasrah. Mereka sadar takkan bisa mengubah pendirian Shue lagi.

“Kalian harus mengerti perasaanku. Aku takkan membiarkan mereka lolos! Sebelum aku menemukan pelakunya, aku takkan mau kembali ke panti asuhan,” tolak Shue karena kedua rekannya bersikeras mempengaruhi Shue kembali. “Aku akan terus keliling Indonesia dan terus hidup berpindah-pindah. Jadi mungkin suatu saat kalian tak bisa menemukanku lagi. Jadi sudahi saja usaha kalian karena akan sia-sia saja.”

Salah seorang rekannya kemudian menepuk bahunya. “Baiklah! Kami paham. Tapi kau harus janji kau harus jaga diri baik-baik, ya. Kami pasti akan merindukan dan mendoakanmu,” ujar temannya itu.

Mata Shue berkaca-kaca. Sudah sekitar 7 tahun mereka bertiga selalu bersama di panti asuhan. Jadi wajar saja jika mereka menginginkan kepulangannya. Shue lalu memeluk mereka berdua. “Kalian juga jaga diri kalian. Sekolah yang tinggi agar kehidupan kalian bisa lebih baik lagi. Maafkan aku tak bisa memenuhi harapan kalian untuk berkumpul lagi. Tapi aku benar-benar tak bisa sebelum bisa membalaskan dendamku, aku tak bisa tenang membiarkan mereka hidup. Kalian tenang saja dan terima kasih atas perhatian kalian. Aku pasti akan baik-baik saja di sini. Semoga  suatu saat nanti, kita bisa dipertemukan kembali.”

***

https://mangatoon.mobi/id/detail/333845/episodes

hay, readers! setelah baca ini, singgah yuk mampir ke novel horor karya THIRTEEN yang satu ini. apa aja sih yang bisa membantu kita kalau ketindihan? jawabannya ada di sini: TOK TOK TOK. klik aja gambar kover di atas ya menuju MANGATOON. atau bisa buka di aplikasi NOVELTOON aja :=(D

Jumat, 17 Juli 2020

Jawara Kampung



Perkelahian itu dimenangkan oleh para pemuda kampung desa kami. Namun pertarungan antar desa yang berlangsung itu sih sebenarnya didominasi oleh orang baru yang terdampar di desa kami.

Seorang pemuda yang tak jelas asal-usulnya, tapi beringas dalam pertarungan. Kami tak begitu mengenalinya setelah menemukannya terkapar tak berdaya dan hampir mati di balai desa. Oleh karena itulah, tentu saja kami menolongnya. Tak disangka, ia malah jadi petarung di desa ini dan akan melindungi desa ini dari kebrutalan desa seberang.

Baru dalam beberapa hari ini, ia sudah bisa akrab dengan yang lain bahkan seolah menjadi pemimpin para pemuda lainnya. Kegemarannya bertarung membuatnya betah melampiaskannya di desa ini.

Aku tak berani dekat-dekat dengan mereka. Mereka memang tampak kasar, tapi mereka tak akan berani menyakiti orang dari desa sendiri. Berkat orang baru itulah, desa kami jadi tenang dan tentram sekarang. Kami pun bisa beraktivitas secara normal lagi.

Pemuda brewok itu merupakan anugerah bagi desa kami ini. Ia bahkan mengalahkan musuh-musuhnya dengan tenang. Tak ada lagi preman dari desa sebelah yang berani berbuat onar di sini.

Aku tengah menonton TV saat mereka berlima berjalan menuju rumahku. Ia dan kawanannya kemudian duduk-duduk santai di rumah dan kuhidangkan kopi untuk mereka semua.

Tiba-tiba saja kumerasakan firasat buruk. Pemuda ini terlalu santai, ia bahkan menganggap remeh musuh-musuhnya di desa sebelah itu. Apa ia tak mewaspadai pembalasan dari mereka? Kenapa ia tak menyusun strategi untuk mewaspadainya? Kenapa ia begitu santai?

Aku tak bisa tenang! Ketenangan ini begitu membius dan bisa saja kan serangan mendadak itu muncul di saat kami lengah. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan untuk jaga-jaga? Apa aku harus membicarakan hal penting ini padanya?

Aku benar-benar tak bisa tenang melihat wajah tenangnya itu. Ia masih bisa bersantai dengan tenang seolah tak akan ada masalah, seolah semuanya sudah beres dan para preman desa sebelah tak akan berani menyerang lagi karena takut pada dirinya. Apa ia tak kepikiran kalau suasana ini terlalu tenang dan mencurigakan? Kurasa ia hanya bisa bertarung saja, tapi minim pengalaman untuk mewaspadai serangan susulan. Tak mungkin anak-anak desa sebelah berhenti sampai di sini. Mereka pasti tengah merancang siasat baru menyerang kami. Tapi apa yang didiskusikan pemuda itu dan kawanannya? Mereka setiap hari hanya bisa bersantai tanpa harus mewaspadai apa pun.

Mereka terlalu pede akan kemenangan mereka, mereka bukanlah para prajurit militer kelas atas yang genius, bukan? Hm, kita lihat saja nanti!

***

https://mangatoon.mobi/id/detail/333845/episodes

hy readers, ini karya novel THIRTEEN yang terbaru di aplikasi NOVELTOON. dijamin lain daripada yang lain karena mengangkat tema yang belum ada yakni soal ketindihan dan alam gaib. luangkan waktu tuk baca ya dengan ngeklik gambar kover TOK TOK TOK di atas ini. makasi :=(D