“Sialan! Berengsek kau,
wanita sialan!”
Kid langsung mendengar
suara geraman itu begitu memasuki flatnya. Dengan jantung yang berdegup
kencang, dengan hati-hatinya ia mengintip ke dalam dan melihat ayahnya—Haya—sedang
mabuk-mabukan seperti biasanya dan tampak berang.
Wajah bengis ayahnya kemudian
membuat Kid takut. Tapi ia tak bisa mundur begitu saja begitu teringat ia harus
segera menyiapkan makan siang. Dengan langkah kikuk, ia pun melintas melewati
ayahnya dan bergegas ke dapur tanpa mengatakan apa pun. Ayahnya hanya
memandanginya tajam, tapi Kid hanya bisa merasakan sorotannya tanpa berani
melihatnya.
Kid mulai memasak untuk
menyiapkan makanan. Ia membuka kulkas untuk mengambil beberapa bawang, telur,
sayuran, dan tomat. Ia juga mengambil nasi di pemanas dan mulai meracik bumbu
nasi goreng dengan memotong bawang, tomat dan sebagainya. Seketika bau harum
yang menggiurkan merebak di dapur itu sementara Kid menghela peluh karena suhu
yang semakin memanas.
Usai menghidangkan nasi
goreng buatannya ke sebuah piring, ia pun berbalik untuk memberikannya pada
ayahnya. Namun ia terkejut begitu ayahnya itu tiba-tiba saja sudah berada di
hadapannya.
“A-Ayah?” tegur Kid
ketakutan karena melihat ayahnya melotot. “Ma-maaf baru pulang. I-ini makan
siangnya, Yah,” katanya sambil menyodorkan piring.
Prang! Tapi ayahnya itu
langsung mencengkram kerah bajunya hingga piring yang dibawanya terjatuh. Pria
itu lalu menariknya mendekati wajahnya. Kid bisa mencium bau alkohol dari aroma
napas lelaki itu.
Kid terkejut. Nasi
goreng buatannya pun berhamburan ke lantai. “Ada apa, Ayah? Apa lagi yang
membuat Ayah marah? Aku ada salah apa lagi?” Kid memberanikan diri untuk
bertanya.
“Anak berengsek! Jangan
coba-coba temui wanita itu lagi!” raung ayahnya marah.
“Ma-maksud Ayah, Nyonya
Sonia? Kenapa? Dia baik kok, Yah!” sahut Kid gugup.
“Baik apanya?!” pekik
ayahnya kalap. “Wanita itulah yang sudah membuat hidup kita menjadi seperti
ini! Dia itu perempuan jahat! Dia itu perempuan panggilan dan perempuan
panggilan itu adalah ibumu!”
Kid mengernyit. “Ayah
bicara apa? Ibu?!”
“Iya, benar! Dia itu ibumu!
Si Sonia itu adalah ibumu!” ayahnya mempertegas sambil mendorong Kid hingga
terjengkang. “Jelas?!”
Kid tampak masih belum
memercayainya. Tapi tak lama kemudian, akhirnya ia tersenyum juga. “Aku punya
ibu?! Jadi aku masih punya ibu? Dan wanita itu adalah Nyonya Sonia?” Emosi yang
ditimbulkan membuat Kid semakin mengembangkan senyumannya. “Pantas saja ia
begitu baik padaku. Pantas saja … pantas saja ia mau bertemu dengan Ayah.
Akhirnya aku punya ibu juga!” pekiknya riang.
Kid langsung beranjak
berdiri dan berlari ke pintu. Ia begitu riang dan ingin segera menemui wanita
itu lagi.
Tapi Pak Haya segera
menghadang pintu. “Kau mau ke mana? Kau mau pergi ke mana, hah?!” pekiknya.
“Aku … aku ingin
bertemu dengan Ibu! Aku mau ketemu dengannya!” seru Kid.
Tiba-tiba saja Pak Haya
mengeluarkan sesuatu dari sakunya berupa pisau lipat! Ia terkekeh-kekeh.
“Dengar ya, Kid! Sekali lagi kau bertemu dengannya, maka kau akan kubunuh,”
ancamnya.
Kid tampak syok
melihatnya. Ia melangkah mundur sambil menggeleng-geleng tak percaya.
“Aku akan membalaskan
dendamku selama ini. Berani sekali dia itu menipuku dan kabur meninggalkan
beban baru untukku. Kau sadar?! Bukankah dia itu sudah menyia-nyiakanmu?”
Kid terdiam. Ketegangan
masih menghantuinya.
“Bukankah kau juga
ingin membalaskan dendam? Gara-gara wanita itu, hidupmu jadi tak terurus begini.
Ia meninggalkanmu denganku. Padahal aku sama sekali tak berniat mengurusmu.
Dengar, tak ada yang mau mengurusmu sudah sejak dari awal karena kau bukanlah
anak yang diinginkan.”
Pak Haya perlahan
semakin mendekatinya sementara Kid melangkah mundur.
“Kelahiranmu adalah
sebuah kesalahan besar! Seharusnya kau sudah menyadari hal itu sejak awal. Dan
sekarang, kau mau menemui wanita itu dan mengakui siapa dirimu yang sebenarnya
padanya? Begitu?!”
Wajah Kid memelas.
“Ayah … kumohon—” rintihnya.
“Kau itu sudah terlalu
cepat mengambil keputusan, Nak! Takkan adil kan kalau hanya dia saja yang tidak
menderita? Buatlah dia sedikit merasakan kesedihan. Kau tahu kan apa maksud Ayah?”
“Tidak, Ayah! Jangan!”
Kid bisa sedikit mengerti apa isi kepala ayahnya yang kotor itu.
“Hanya dengan ini, kita
bisa membuatnya menderita. Hanya dengan kematianmu lah yang bisa membalas
penderitaan kita yang disebabkan olehnya. Bukankah itu hukuman yang paling pantas
diterimanya?!”
Kid menggeleng-geleng
panik. “Tapi aku ini anakmu, Ayah! Sadarlah! Aku darah dagingmu sendiri!”
“Diam! Sejak dari dulu
pun, aku ini tak pernah menganggapmu sebagai anak bahkan tak pernah
mengharapkan siapa-siapa dari wanita panggilan itu! Jadi sekarang, sebaiknya
kau lebih mendengarkan Ayah! Wanita tak bertanggung jawab seperti itu tak
pantas mendapatkanmu lagi dan berbahagia setelah mencampakkanmu selama
bertahun-tahun lamanya! Aku takkan menyerahkanmu padanya!” raungnya.
“Ta-tapi, aku yakin Ibu
sudah menyesali kesalahannya, Yah!”
Pak Haya tersenyum
bengis. “Oh, jadi kau tak marah akan apa yang kau alami seperti sekarang ini?
Kita harus hidup berpindah-pindah dan berkali-kali diusir dari kontrakan karena
tak punya uang? Kau juga jadi harus banyak kali pindah sekolah karena itu? Bahkan
kau hampir saja dikeluarkan dari sekolah karena tak punya uang, sementara kau
tahu tidak kalau dia itu hidup sejahtera dengan keluarga barunya?”
Kid meneteskan air
matanya.
“Kid, kau ini anak yang
tidak dianggap olehnya! Setelah membiarkanmu hidup terlunta-lunta seperti itu
dan mengalami hidup yang berat, apa kau masih saja mau menerimanya setelah sekian
lama kau mencarinya? Kasihan! Kau benar-benar menyedihkan! Hanya dengan
kematianmu-lah yang bisa membuatmu berguna bagiku saat ini!”
Pak Haya lalu tanpa
tanggung-tanggung lagi melayangkan pisau itu ke arah Kid. Kid tersentak dan
berusaha menghindarinya. Tapi lengannya terkena tebasannya. Kid segera
melarikan diri. Pak Haya mengejarnya dan tampak benar-benar kalap. Ia
benar-benar serius ingin membunuh Kid!
“Toloooooong!!” lolong
Kid ketakutan sambil menahan darah di lengannya yang terluka. Akhirnya ia
terjebak di dekat jendela yang merupakan jalan buntu. “Tolong akuuuu!!”
***
hay, mampir ya ke karya novel horor by THIRTEEN ini, bisa dibilang keunikan novel ini bagai kumcer sih, dijamin tak bikin bosen karna ceritanya akan lain-lain dalam satu episod, simak yuk dengan ngeklik gambar di atas. makasih kunjungannya ya :=(D