THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Kamis, 24 November 2011

cuplikan ending: konflik sengit antara paman dan ponakannya

biasa midnight kali ini. Suka nonton midnight cos bagus2 film tengah malam. Aku lagi ol juga jadi ga terlalu perhatikan.
Mulanya kupikir critanya kayak the departed versi mandarin. Mungkin ini lanjutannya karna pemainnya sama, ada andy launya...

Critanya kayak dulu, ada polisi (chen) yang jadi mata2 di ganster. Jadi gak seperti polisi lagi. Bedanya, penjahatnya yang dulu, andy lau sudah bertobat dari jalannya yang sesat dulu.
Seorang pemuda hadir di hadapan andy. Andy berusaha ingat2 siapa pemuda itu. Pemuda itu lalu mengingatkannya sesuatu.
Andy lalu teringat bocah kecil, ponakannya yang suka main di atap rumah beberapa tahun silam. Dy suka nakut2i bocah itu dengan melemparnya ke bawah. Mungkin karna saking gemasnya ama bocah itu, dan kini bocah itu tlah tumbuh dewasa yang sekarang berada di hadapannya.
"paman," sapanya. Seperti apakah bocah ini sekarang?
Beberapa kasus kejahatan terjadi, tak diketahui siapa dalangnya. Muanya kecurigaan polisi tertuju pada andy yang dulunya penjahat. Alias kayak fitnah nih andy harus menanggung risikonya, dikejar2lah.
Chen berusaha mengusut pelaku sebenarnya. Ia yakin andy sudah berubah. Polisi yang menduga chen tau keberadaan andy ngejar2 chen ampe harus diborgol dalam toilet, hehe. Chen jadi slalu membela2 dan melindungi andy dari tuduhan karna yakin andy ga bersalah.
Andy dan keluarganya ditawan gangster. Tapi akhirnya mereka berhasil melarikan diri, tapi istri andy meninggal T.T dalam peristiwa tembak2an itu.
Chen menjenguk salah 1 korban di rs. Dy tanya siapa dalangnya karna dy tau. Di situlah dy tau pelaku sebenarnya begitu orang itu menuliskan sebuah nama.
Chen dan polisi lainnya membekuk si ponakan andy. Kan chen mata2 di ganster tempatnya berkecimpung, jadi dy curiga ama pemuda itu. Dy gak nyangka kalo chen polisi, ia mengiba2 agar tak ditangkap.
Eh tau2nya pemuda ini memang licik. Ia menembaki polisi n chen pun mengejarnya.
Pemuda itu memiliki banyak tipu muslihat. Chen sempat menembak sosoknya, tapi ternyata itu cermin. Dy malah ditembak balik oleh pemuda itu. Dy pun melarikan diri ke atap.
Eh pas di atap dy ketemu pamannya. Andy mengancamnya dengan pistol, disurunya pemuda itu naik ke atap. Sebenarnya dy marah atas apa perbuatan ponakannya itu padanya. Tapi dy cool2 ajah.
"waktu kecil kau suka main ke atap kan?" kata andy sambil merekam kembali memorinya saat mengangkat2 bocah itu di atap, sungguh hangat dan ceria. Tapi sekarang lain. "kalau saya tahu besarmu jadi seperti ini, seharusnya sejak kecil kau sudah kulempar ke bawah dari atas atap."
Bocah itu tumbuh menjadi penjahat, dan sudah banyak merugikannya. Dy juga munafik n licik. Sunggu ga disangka bocah lucu itu sekarang menjadi mengerikan seperti ini, menjadi seorang pembunuh, juga menyebabkan kematian istri tercintanya.
Andy membekuk ponakannya sambil menodonginya. Pandangannya penuh rasa ingin membunuh. Beberapa kali diliriknya ke bawah, seolah benar2 ingin melempar ponakannya ke bawah, candaannya beberapa tahun lalu ingin dilakukannya dengan serius.
Chen datang mencegah andy yang ingin membunuhnya. "jangan! Kau sudah di jalan yang benar, jangan berbalik ke belakang gara2 dy!"
Chen tak ingin andy membunuh lagi seperti dulu. Andy melepaskannya setelah dibujuk2. "ingat anakmu."
Eh si pemuda itu memang licik. Begitu andy membelakanginya, dy ambil kesempatan untuk menembaknya. Tapi keburu chen yang menyadarinya, dy menembak kepala pemuda itu hingga jatuh dari atap. Aaahhh....
Menghantam mobil tubuhnya. Mati deh >.<
Chen terperangah. "dy tak punya peluru," ia menyadarinya.
Ternyata andy lebi licik lagi. Ia sudah mempertimbangkan kalo si ponakan akan menyerangnya dari belakang. Sambil tersenyum andy memperlihatkan isi pistol ponakannya pada chen. "ga perlu mengotori tanganku sendiri bukan untuk menghabisinya."
"kau memanfaatkanku untuk membunuhnya. Kau sudah merencanakan semuanya. Kau sudah bisa memperkirakan ini akan terjadi. Kau memanfaatkan spontanitasku, padahal dy sama sekali tak berpeluru. Kau sudah membuatku membunuhnya!" chen menyesali diri. Ia syok.
Andy meresponnya dengan santai lalu meninggalkannya.
Di lihatnya mayat ponakan kecilnya yang tumbu menjadi penjahat itu, lalu sambil tersenyum puas ia pergi sambil mencium cincin pernikahannya. "babe, dendammu sudah terbalaskan."
***

Endingnya gubrak! >.< andy dah tobat sih, tapi kemarahan dan dendam membuatnya kembali bernafsu membunuh. Duh ini si ga sepenuhnya berubah. Kelicikannya masi menyala saat mendendam. Keinginannya menghabisi ponakannya terkabul tanpa campur tangannya. Iya si ga membunuh lagi, tapi dengan liciknya memanfaatkan kebaikan hati chen yang berniat menolongnya.
Andy sudah berubah? Tidak juga! >.

Rabu, 23 November 2011

Ftv action Indonesia: KUCARI NAMAMU (part 1 of 4)

Kalo dah mengenali produksi label filmnya, yah pastilah ftv action lagi yang slalu tayang di indosiar. Aku suka banget ama ftv jenis ini di indosiar, karena adegan laganya dan alur critanya yang bagus. Palagi pas mula, langsung baca roger danuarta pemeran utamanya si galih hehe, hyuk :p
b^0^d
Gerombolan penjahat itu datang di saat keluarga di rumah itu sedang tertidur, di siang hari. Mereka masuk secara paksa dan menyeret kepala rumah tangganya keluar. Istri dan anak-anaknya yang sedang tertidur dalam sebuah kamar langsung terbangn begitu mendengar suara keributan itu. Sang istri melihat suaminya dianiaya oleh seorang bos penjahat. Dia lalu menyuruh ketiga anaknya yang masih kecil untuk segra melarikan diri. Ketiganya terisak-isak ketakutan akan apa yang terjadi, namun sulit dijelaskan untuk anak sekecil mereka.
Sang ibu nyuruh si galih yang tertua di antara mereka untuk menjaga kedua adiknya, yaitu galuh dan gina. Saat kedua adiknya berhasil keluar, galih berbalik lagi hendak menyelamatkan ayahnya yang sedang dianiaya. Tapi ibunya mencegah. Akhirnya galih hanya bisa mematuhinya.
Sang ibu lalu keluar untuk melindungi suaminya. Galih hanya bisa diam melihat kebiadaban mereka membunuh kedua orangtuanya dengan perasaan sedih, dan tak berdaya karna masih kecil. Dy ketakutan.
Dengan sadisnya si bos penjahat yang memakai asesori jari telunjuk itu lalu menghantam guci ke punggung wanita yang sedang melindungi suaminya itu hingga keduanya tewas. Ia lalu menyuruh orang-orangnya untuk membunuh semua orang yang ada di rumah itu. Galih dan adik-adiknya pun bergegas melarikan diri lewat jendela.
Mereka terus berlari, sementara para penjahat itu mencari-cari mereka. Tiba-tiba saja si gina yang terkecil, terluka sehingga galih pun menggendongnya di punggung. Gina menangis-nangis ketakutan. Galih menenangkannya, “jangan nangis, tenang ada kakak di sini,” hiburnya.
Gina mempertipis isakannya, sementara mereka terus dikejar-kejar penjahat. Tapi untungnya mereka berhasil lolos. Akhirnya mereka pun menjadi anak jalanan. Galih berteguh untuk melindungi kedua adiknya dengan penuh rasa kasih sayang. Dy tidur di sisi kedua adiknya dan setia selalu bersama kedua adiknya, tak terpisahkan…
Mereka bertiga pun jadi anak panti asuhan, di mana mereka satu per satu diadopsi, kecuali sang kakak, galih…
***
Lima belas tahun kemudian…,
Seorang pemuda tampan mendatangi sebuah kota bersama dengan tunangannya siang itu untuk mencari adiknya. Nama pemuda itu galuh. Dy mendengar kabar kalo adiknya berada di sebuah smp. Tapi betapa terkejutnya dy begitu keinginannya tak sesuai dengan harapan.
Seorang wanita culun dan gendut mengaku sebagai gina dan menyebut galuh dengan panggilan kakak. Tentu saja galuh yakin itu bukan adiknya. Kayak dikerjain nih, hehe.
Seorang guru yang mempertemukan mereka protes, “kenapa bukan? Apa karena dy gendut dan jelek lantas kau tak mengakuinya sebagai adikmu? Memangnya kau yakin apa adikmu cantiknya kayak apa? Percuma juga kau masang berita di Koran tentang adikmu yang hilang itu.”
Si wanita culun cemberut. Tapi galuh tetap saja tak mengakuinya. Masa adiknya yang cantik bisa berubah jelek seperti itu sih, hihi :p
Akhirnya mereka pun keluar. Tiba-tiba saja ada yang memanggil galuh dengan sebutan kakak, meskipun suaranya terdengar sayup-sayup. Galuh berbalik lagi kearah gedung sekolah dan melihat seorang wanita cantik yang rupanya guru di sana. Tak salah lagi, dy lah gina. Galuh langsung berlari kearahnya, begitu pun dengan gina, akhirnya mereka bisa bertemu lagi. Mereka saling berpelukan melepas rindu…
Mereka semua akhirnya berkumpul dengan keluarga gina. Gina memperkenalkan orangtua angkatnya yang baik sekali padanya, yaitu sang ibu. Dy telihat menyayanginya dan bahagia di sana. Lalu dy memperkenalkan tunangannya yang rupanya guru yang kerjain tadi. Galuh hanya bisa memperkenalkan tunangannya. Mereka pun terlihat akrab dan berbaur kemudian bersulang atas pertemuan kembali itu.
Galuh memberitahukan kalo dy ingin mencari sang kakak, galih. Gina mau ikutan dengan antusiasnya. Mereka dah lama berpisah dengan sang kakak dan begitu merindukannya. Akhirnya gina pun meninggalkan rumah dan pergi bersama galuh mencari sang kakak…
Mereka kembali ke panti asuhan tempat mereka dirawat dulu dan menanyakannya ke kepala panti. Tapi kepala panti bilang si galih dah lama pergi dan tak pernah kembali-kembali lagi. Galuh dan gina jadi kebingungan karna kakaknya ilang gitu aja. Kepala panti lalu bercerita.
“sejak ditinggal ama kalian, si galih jadi pemurung dan sedih. Dy jadi suka kabur dari panti. Kalo diajak balik, dy suka ga mau dan malah kabur lagi. Sekarang dy entah berada di mana. Tapi terakhir kali aku menemuinya di jalanan.”
“apa ada orang yang mengetahui di mana tepatnya dy sekarang?” selidik galuh.
“yah. Ada. Orangnya namanya cyuwanara…”
Maka mereka pun mencari orang yang bernama cyuwanara itu. Mereka menyelidiki dan tibalah mereka di sebuah kafe. Mereka menanyakan keberadaan orang yang bernama cyuwanara itu pada seorang pelayan.  Pelayan itu malah menyuruhnya menanyakannya langsung pada seorang pemuda yang sedang bermain bilyar di sana.
Galuh dan gina langusung menghampiri seorang pemuda yang lagi main bilyar. Galuh bertanya mana cyuwanara, tapi pemuda itu meresponnya dingin, “jangan ganggu aku,” sahutnya cuek tanpa memandang sedikit pun. Pemuda itu terus saja main bilyar.
Galuh berusaha mengorek lagi, “kami lagi cari kakak kami yang bernama galih,” ujarnya meskipun dah dicuekin abis-abisan.
Pemuda itu tertegun. Ia menghentikan permainan bilyarnya. Dy lalu menatap mereka berdua. “mang kalian siapa?”
Galuh kemudian memperkenalkan diri dan gina sebagai adik-adiknya galih. Pemuda itu kemudian ngaku sebagai cyuwanara setelah terdiam beberapa saat. Galuh pun menanyakan keberadaan kakaknya. Pemuda itu tertegun kembali, tatapannya suram.
“galih sudah mati waktu berkelahi. Hidup kami sebagai anak jalanan diwarnai kekerasan dan perkelahian,” tuturnya sendu sambil membayangkan masa lalunya yang penuh dengan perkelahian dengan geng lain. Terlintas bayangan seorang pria gondorng seram dan dirinya sendiri yang sedang berkelahi.
Galuh dan gina terhenyak seketika. Mereka serasa tak percaya, hingga pemuda itu pun membawa mereka ke sbuah makam…
Mereka bertiga pun dihadapkan dengan sebuah makam tanpa nama. Galuh dan gina menangisinya. Sementara pemuda itu menatap misterius. “nah liat kan udah mati. Sekrang kalian percaya?”
“tapi kakak kami bukan preman,” sangkal galuh sedih.
“jangan bilang. Kalian ga sangka kan kalo anak keluaran panti banyak jadi orang yang ga bener?”
Galuh dan gina terus menangisi makam itu karena belum sempat bertemu lagi, tapi merasa harus berpisah untuk slamanya. Pemuda itu menatap mereka kosong. Ia lalu melangkah pergi.
“aku pergi dulu, ya. Oh iya, setelah ini, jangan cari-cari aku lagi, ya…,” pesannya kaku…
 Pemuda itu merenung memandangi sebuah foto masa kecilnya di sebuah tempat yang indah. Di foto itu terlihat galih, galuh dan gina waktu kecil dipanti asuhan. Pemuda itu lalu mengenang masa kecilnya dari foto itu…
“aku ga mau!” pekik galuh kecil saat bu panti mengatakan akan ada keluarga yang ingin mengadopsinya. “aku ga mo pisah ama kakak dan adek!”
Tapi bu panti terus-terusan membujuknya. Kedua sodaranya merasa sedih akan ditinggal. Gina menangis-nangis, “aku ga mo pisah ama kak galuh, huuuu…,” isaknya.
Galuh kemudian berlari dengan kesalnya, gina mengikuti. Bu panti kemudian membujuk galih untuk membujuk adiknya agar mau diadopsi. Galih mengiyakan demi kebahagiaan adeknya. (duh, kakak kecil yang paling dewasa heh).
Galih kemudian bicara ama adeknya. Ia membujuknya, “dek, kamu harus mau diadopsi ya. Apa enaknya si tinggal dip anti. Kalo kau tinggal ama keluarga kaya itu, kamu bisa dapetin cita-cita kamu, kalo kamu masi terus di sini kamu ga akan sukses. Jangan sia-siakan kesempatan ini, oke?”
Akhirnya galuh menurut. Kakaknya begitu bijak dan dewasa, ia memikirkan kebaikan adeknya itu. Akhirnya galuh pun pergi diiringi isak tangis sodara-sodaranya. Bye, galuh…
“gina janji ga akan ninggalin kak galih,” tekad gina sambil memandang sedih kursi galuh yang kosong di ruang makan.
Galih berharap gitu sih, tapi tiba-tiba saja sepasang suami istri masuk dan menyapa gina. “duh, lebi cantik ya anaknya daripada di foto,” sahut mereka ramah.
Gina yang merasa mau diadopsi, malah marah dan menumpahkan makanannya, “ga mau!” pekiknya. Karena merasa kurang berkenan, kedua lalu marah dan meninggalkan ruangan. Sementara itu, gina nangis tersedu-sedu.
Demi kebahagiaan sang adik, galih bela-belain mengejar pasangan suami istri yang dah mo pulang tadi, ”kumohon adopsilah gina dan peliharalah dy baik-baik. Dy anak yang baik kok, hanya aja ga mau pisah ama saya,” tuturnya lalu berlutut.
Permohonan galih dikabulkan oleh keduanya yang merasa iba. Akhirnya gina pun diadopsi mereka dan dibawa. Gina masih menangs-nangis, tapi galih menyuruhnya untuk ikut mereka demi kebahagiaanya.
“apa kakakku ga bisa diadopsi juga?” isak gina perih. “aku ga mo pisah ama kakak.”
Bu panti menjawabnya karna perekonomian keluarga baru gina ga menckupi dan hanya bisa merawat gina saja. Akhirnya gina pun juga pergi. Galih ga keliatan saat perpisahan, dy menangis diam-diam sambil mengintip kepergian adik-adiknya, dan seorang gadis kecil selalu memberikannya sapu tangan untuk menghapus air matanya itu…
Tiba-tiba saja sebuah telepon di hapenya menyentakkan lamunan masa lalu pemuda yang ternyata tak lain adalah galih itu. Dy disuru ketemuan ama gengnya. Dy pun segera menuju ke sana, jon dan temannya menantinya uring-uringan. “lelet!” cercanya.
Galih diam aja dicerca ama rekannya itu. Dy lalu mengikuti mereka naik mobil untuk beraksi. Tentu saja aksi kejahatan…
Begitu tiba di lokasi, galih permisi untuk solat sejenak di musollah, jon ngizinin dengan kasarnya dan melanjutkan perjalanan. Tapi di musollah, galih melihat segerombolan geng yang ternyata telah siap sedia dengan senjata masing-masing dan mereka adalah anak buah musuh gengnya…
Usai itu, galih menyusul ke sebuah lokasi transaksi dengan geng musuh. Mereka tengah berdebat. Jon mengatakan bahwa sebentar lagi bos mereka akan datang. Kan galih anak baru, jadi belum kenal bosnya.
Akhirnya seorang pria berwajah sangar muncul dengan lantangnya. Ternyata itulah bos geng barunya. Bos lalu duduk sambil terbahak-bahak. Tapi yang membuat galih terpana adalah jari si bos.
Asesori itu… galih kembali teringat penjahat yang dulu membunuh kedua orangtuanya secara brutal. Asesori itu begitu khas hingga galih benar-benar mengingatnya. Ternyata dy sudah tergabung digeng di mana bosnya adalah si pembunuh ortunya. Galih jadi dilemma dan syok…
b^0^d
bagaimana kah kelanjutannya? Apa yang akan dilakukan oleh galih selanjutnya? Membunuhnya atau gemana? Serta bagaimana dengan para gerombolan yang akan menyerang gengnya itu? Dan apakah kebohongan yang dilayangkan pada adik-adiknya akan terungkap, jika dy masih idup? 

NB: aku potong-potong yah, supaya seru hihi… :p tapi kasian juga neh si galih dy yang paling merana setelah mua adik-adiknya ninggalin dy, tapi demi kebahagiaan adik-adiknya dy rela ngelepasin mereka. Wow, tipe kakak yang pengasih dan lembut, tapi akhirnya terjun jadi preman. Dy pasti kesepian setelah ditinggal pergi dan stress serta sedih membumbuhi perasaannya. Makanya dy jadi preman, tapi preman yang baik hati :p

=====================================================================

admin mau promosiin buku perdanaku berjudul PIN BB RAMADHAN, yuq invite!

http://animanga-oushiza.blogspot.com/2014/08/pin-bb-ramadhan-29-pintu-berkah-di.html

Telah tebit....

PIN BB Ramadhan
By Aa’ & Chika, 2014

Editor : Tim Pena
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing
Desain Sampul : C. I. Wungkul
ISBN : 978-602-1238-74-5

Cet. I, September 2014
vi + 93 hlm. ; 13 x 19 cm

Diterbitkan Oleh :
Goresan Pena
Jl. Jami no. 230 Sindangjawa – Kadugede - Kuningan – Jawa Barat 45561
Phone : 085-221-422-416 Email : goresanpena2012@gmail.com
Website : www.goresanpena2012.blogspot.com

Harga : RP. 30.000
Untuk pemesanan Ketik PIN_NAMA_NO HP_ALAMAT_JUMLAH kirim ke 085221422416 atau inbox ke Capten Iwan Wungkul dan Arieska Arief
—
======================================================

TOK-TOK!
Mulanya, suara ketukan di pintu kamarku itu kuabaikan begitu saja. Aku masih ingin terlelap karena masih ngantuk. Paling kedua orangtuaku yang membangunkanku untuk sahur. Namun tak lama kemudian, aku ketindihan!
TOK-TOK-TOK!
Suara itu membuatku terbangun lagi. Tapi anehnya, begitu kubuka pintu itu, aku tak melihat siapa-siapa di luar sana…
…
Penasaran?
Mau invite buku ini sampai ke tanganmu? Dan temukan berbagai kisah unik nan ajaib, inspiratif, lucu, mengharukan, menyebalkan sampai yang mengerikan mengenai bulan Ramadhan yang tak ter-DC kan disertai beragam kisah terutama mengenai BB, Pilpres, Gaza, Piala Dunia dan… isinya tak cukup terwakili tentunya oleh display picture-nya!

Minggu, 20 November 2011

Aa’ dan ii’



“Kenalkan, namaku Arieska Arief,” kataku pada cowok yang tak setampan Romeo itu.
Oh, jadi cowok bertampang jutek ini yang akan menjadi bos di posko lapangan belajar nanti? Selama dua minggu kami akan kembali ke peraduan zaman nenek moyang dengan berteduh di desa yang apa adanya, sebagai tugas salah satu mata kuliah kami.
Cowok yang akan memimpin kami itu sebagai koordinator desa bernama Icank. Penampilannya kacau dan ugal-ugalan. Ini sih masih mending begitu kubayangkan di desa nanti mungkin ia akan lebih berantakan lagi. Icank menatapku seperti kucing yang mau digaruk punggungnya dengan mendekatkan telinganya ke arahku.
“Apa?! Awieska Awief?”
Gubrak!!! Aku runtuh seperti kucing kesambar petir.
Begitulah perkenalanku dengan cowok aneh sejagad raya bernama Icank itu. Suara merduku yang serba cadel itu menghentakkan dunia gondrongnya. Ingin rasanya kuacak-acak rambutnya yang gondrong itu biar kutunya pada tak betah. Tapi ternyata ia tak seburuk yang kuduga. Ia menerawang. Ternyata hasil terawangannya itu bukan untuk menerjemahkan bahasa cadel yang kukatakan, melainkan memberikanku sebuah panggilan baru, tanpa berpikir untuk menyembelihkan seekor kambing imut berpita untukku.
“Bagaimana kalo kupanggil kamu AA’ saja?” tanyanya tanpa perasaan berdosa.
Kumerenung, ternyata inisial namaku bisa juga jadi seperti itu. Lalu aku pun tersenyum karena merasa geli. AA’, ya itulah panggilan baruku sekarang. Ternyata Icank tak sejutek dugaanku, ia malah gokil banget!
= ^-^=
“Icank! Bangun! Subuh, oi!” pekikku membangunkannya sambil berusaha mengguncang-guncangkan tubuhnya sedahsyat gempa bumi dengan skala richter terbesar.
“Ng? Inikan hari libur…,” sahutnya dengan mulut berlumuran pulau, plus tsunami kecil yang menyiprat-nyiprati baju kebangsaanku.
“Ih, solat ngga ada liburnya tauk!” gusarku menatap wajah bantalnya dengan perasaan gemuruh. Mungkin aku perlu payung begitu ia berbicara lagi, untung Cuma gerimis.
“Cewek aja ada cutinya… kok cowok ngga sih…,” sahutnya teler. Pulau ciptaannya menetesi bantal. Huh, harus ganti bantal nih!
Aku tak menjawab. Kali ini kubuat gempa bumi segempar mungkin dengan berlari-lari di sekitarnya. Hihi, untung rumah panggung bisa kubuat segempar mungkin. Wajahnya yang masih bersatu dengan bantal itu lalu membuka mata. Dengan mata yang seterang senter redup itu ia lalu mengambil air wudhu.
Kupuas berhasil memisahkan wajahnya dari bantal. Untung aja hari itu ia teler di ruang tamu, jadi bisa kubangunkan dengan mudah, seperti merebut mainan dari anak ingusan.
= ^-^ =
Kami bertujuh menempati rumah pak kepala desa sebagai posko kami selama beraksi. Posko kami berupa rumah panggung yang sangat sederhana, tapi kehidupan kami nyaman tersubsidi. Di sini fasilitasnya mencukupi, tak seperti posko di desa yang lain. Orang-orang desa ramah-ramah. Kami harus menjalankan tugas sebaik mungkin memberi penyuluhan kesehatan pada mereka yang sudah menyambut kami seperti ada acara akikah saja.
Hidup kami di pedalaman ini memang memenuhi. Tapi hari itu para pemilik rumah sedang tak di posko. Hanya ada aku siang itu yang sedang menjaga posko sambil menyiangi ruang nonton dengan gossip-gosip terafdol.
Icank pulang dari pengembaraannya yang panjang menelusuri jalan-jalan desa penuh rintangan empang di kanan kirinya. “AA’, masak dong! Lapar!” rengeknya bengis.
What! Masak?! Lapar?! Aku merinding, seolah takut ditusuk garpu olehnya karena dikira daging. Mana tak ada orang lagi mengudara di sekitarku. “Ah, masak aja sendiri,” balasku sambil menyembunyikan ‘aib’ yang tak terselamatkan. Dia menatapku memelas seperti anak kucing yang dibuang. “Aku… aku ngga bisa masak,” kataku lagi tanpa belas kasihan.
Gubrak!!! Icank menggelepar-menggelepar menggenaskan. Kasihan Icank di tengah terik begini hanya ditemani olehku. Perutnya semakin membahana. Tapi untunglah pertolongan segera datang. Bantuan bahan pangan tiba. Teman-temanku yang bisa memasak akhirnya nongol juga setelah melepas sandal-sendal yang menggelitik kaki-kaki mereka.
Kami pun mulai memasak. Icank juga menaikkan lengan bajunya tanpa pamrih. Mulanya kumeremehkannya. Heh, cowok yang tadinya gersang tadi mana bisa masak? Hihi. Aku tengah mengaduk-aduk telur yang belum siap untuk mematuk, kemudian memberanikan diri menghadapi wajan yang tersenyum menyeringai dengan gelak tawa api di bawahnya.
“Kyaaa!!” pekikku begitu telur memeluk muka wajan yang jerawatan. Suaranya begitu mengerikan berhasil menumbangkan sisi feminismeku. Aku ketakutan dan menjauh seolah wajan itu akan melemparkan telur ke wajahku hingga akhirnya Icank yang ambil alih sambil terkekeh-kekeh, mencoba menjadi stunt man hantu di film-film horor.
Ia menggoreng telur itu seperti emak-emak. Seharusnya aku berterima kasih, tapi, “Hyah, getoh ajah dah kayak dipatok telur. Gini nih caranya,” katanya belagu. Huh, untung ngga sempat mengucurkan kata terima kasih, hehe. Makasih ya, lidah…
Akhirnya makan siang sok restoran kami terhidang sudah. Sudah tersaji beraneka ragam makanan yang aneh-aneh bentuknya. Kami makan melantai melingkar. Aku duduk di dekat Icank. Rasanya tak sabar teman-teman mencoba telur buatanku, hya meskipun yang goreng hasil tangan ajaib si Icank sih. Masakan pertama nih. Bagaimana kalau dibandingkan dengan ikan goreng buatan Icank ya? Hehe.
Sepertinya teman-teman tak terlalu merespon masakan kecilku. Tapi saat mencicipi masakan Icank, “Hm,, enak ikannya,” kata mereka dengan tak lupa jika mereka masih memiliki jempol untuk diacungkan.
Hah?! Kucoba telurku dulu, rasa asin memeluk mesra lidahku. Tapi tetap kuhabiskan. Kujuga mengambil ikan buatan Icank dan rasanya memang enak. Ternyata Icank jago masak juga. Jadi minder karena aku cewek. Saingan emak aku nih!
Baru saja kumenyesali sisi feminimku yang kurang berapi sambil memejamkan mata sejenak, dalam sekejap mata nasi di piringku sudah bertambah. Hah? Darimana datangnya nih? Kumendongak ke atap, nggak mungkinlah. Yang logis saja dong. Lalu kumenolehi Icank. “Kalo makan jangan melamun, nambah baru boleh!” katanya sambil belajar senyum terpayah, tapi ia juga menyikat habis telur dodolku. Seharusnya aku terharu ia mau makan adonan kritisku, tapi…
“Icaaaaaankk!!” jeritku. Namun meskipun perutku mampus, kuhabiskan juga mati-matian semua nasi segunduk itu karena takut mubasir. Dasar Icank, keterlaluan! Ingin rasanya kuberi cap bekas telapak tanganku di pipinya.

= >.< =


Setiap sore posko kami ramai seperti ada acara pembagian sembako saja. Teman-teman dari posko lain rela antri demi menjejakkan kaki di kamar mandi posko kami yang bersejarah untuk pertama kalinya. Hm, sebenarnya bukan kamar mandi istimewa yang ada pemancur dan bak mandi disertai sabun buih melenakan. Tapi hanya saja kebanyakan posko mereka tak ada airnya, hehe. Kemarau deh mereka…
Kamar mandi yang menyelamatkan banyak jiwa itu telah memanjakan beberapa teman-teman kami. Pak kepala desa tak keberatan akan hal itu, karena sumber air posko kami tinggal ditimba dari sumur ‘emas’, hehe. Posko kami seperti menjadi objek wisata permandian yang wajib didatangi. Tapi tentu saja tak semuanya datang, dan juga tidak setiap hari menyantuni posko kami. Semoga tak ada yang menyebarkan brosur kenyamanan posko kami, ntar semua pada mau tinggal di sini lagi.
Sore itu seharusnya dosen pembimbing kami memunculkan batang hidungnya. Tapi jam segini belum juga kedengaran sapa mesra raungan motornya. Padahal kami mau minta pengarahan untuk proyek sejuta umat besok.
“Teman-teman, aku punya kabar tentang Pak Wali yang janjinya mau membekaskan jejak kakinya di sini,” kata Icank sambil meluncur di hadapan kami.
“Apa tuh?” Tanya kami seadanya, sok mau tahu demi menghargai Icank yang sudah capek-capek meluncur.
“Ada dua kabar. Satu kabar baik dan yang satunya lagi kabar buruk.”
“Kabar baiknya dulu deh,” kata kami harap-harap cemas tapi tak secemas para ayah yang menanti kelahiran selusin anaknya.
“Kabar baiknya, Pak Wali lagi meluncur ke sini.”
“Bagus dong,” respon kami simple sok antusias. Kami sudah terlihat bernafas lega seolah baru saja mengenal udara. Tapi begitu Icank membeberkan kabar buruknya,
“Kabar buruknya, motor Pak Wali kecebur di empang sehingga beliau tidak jadi kemari,” jelasnya tanpa perasaan berdosa telah membuat kami menghirup udara kehampaan.
Kami menatap wajah innocence-nya dengan pandangan kosong, sambil membuka mulut kayak ikan tersedak. Padahal di benak kami ingin rasanya menggigiti kepalanya kemudian memangkas habis rambut gondrongnya itu. Biar dengan begitu otaknya jadi lebih intensif membedakan kabar baik dan kabar buruk.
“Itu sama saja, dodol!!! Intinya tetap aja kabar buruk! Mana kabar baiknya?!” kami memekik-mekik kayak anak burung yang lupa diberi makan emaknya. Kami ingin mencekik lehernya, tapi lehernya terlalu kecil untuk tangan-tangan berlumuran dosa kami berenam.
= >.< =
Awan ‘kintom’ kecil, kendaraan tak bersertifikat milik Son Goku itu terparkir di wajahku. Kusegera mengibas-ngibaskan tanganku untuk melenyapkannya, kayak tukang parkir kehabisan modal. Kucari sumber ‘merapi’ tersebut dan sudah menduganya. Rupanya asap dari rokok edan Icank. Ini yang tak kusuka darinya. Ia selalu saja bercumbu dengan rokok di setiap rapat pada malam itu.
Aku sudah berkali-kali menegurnya, tapi teguranku itu hanya sampai sebatas asap rokok yang tak dipedulikan. Padahal mahasiswa kesehatan, tapi kok merokok? Aku sudah mengibarkan bendera seputih melati jika menegurnya. Kupandangi kotak rokok kegemarannya itu di meja. Benda itu sudah membuat masa depan rapat yang penuh berkah jadi suram.
Tiba-tiba saja sebuah lampu yang kepedean menyinari kepala jeniusku. Maafkan aku, Icank. Tapi aku harus ngelakuin ini…
= >.< =
Seperti biasa pagi itu aku membangunkan ‘korban-korban’ keganasanku untuk solat subuh, termasuk Icank. Hari ini ia mendengkurkan nafasnya di kamarnya. Tentu saja aku tak berani masuk. Setelah ketukan pintu hati dikacangin, kumencoba caraku sendiri.
Kurakit pesawat-pesawatan dari kertas-kertas yang tak kuasa melawan pelintiran jemari-jemari emasku, lalu kulayangkan mereka dengan hati bersih melalui sela atas pintu yang lebar. Entah mengapa aku memilih cara konyol begini. Memang sih dengan mempercayakan masa depan pada teori trial and error ini kuharap bisa merampas tidurnya yang semena-mena.
Pesawat pertama masih tak ada reaksi darinya. Lalu kucoba lagi dengan pesawat kertas lainnya, hingga terdengar suara, “Hah! Apa ini?!” pekik suara orang jantungan di dalam. Mungkin ada salah satu seranganku yang menjatuhkan bom di lelap tidurnya.
Kuketuk pintu sangkarnya sekaligus pintu hatinya. “Icank, solat yuk!” ajakku berlagak malaikat putih salah jadi.
 ***
Icank turun sarapan pagi itu sambil menggenggam kertas-kertas bekas terlipat sana-sini. Ia seperti sedang membaca-baca satu per satu isi kertas-kertas itu dengan memindahkan kertas yang satu ke belakangnya lagi dan seterusnya.
“Serius amat? Surat cinta dari siapa sebanyak itu?” tanya Ani sok penasaran.
Icank mencibir. “Ditulis dengan tinta putih,” katanya sambil melirikku. Aku lalu menyadari rupanya kertas-kertas pesawat itu prajurit-prajurit yang kukerahkan untuk membangunkannya. Aku diam-diam saja berlagak autis. Hehe, sepertinya Icank bakal mencari-cari sesuatu hari ini…
Tapi siang itu Icank terlihat santai-santai saja kayak nenek-nenek. Apa rencanaku kurang semempan baygon ya? Kok ia tak mencari-cari belahan jiwanya? Aih, mesti ganti merek nih.
Iya. Sebenarnya tadi malam aku menyembunyikan rokoknya di bawah kursi. Kusembunyikan, di dalam sebuah ‘peti’ yang terkubur rapi. Kalau bisa biar dimakan tikus busung lapar tuh rokok. Tapi hingga saat ini tuh anak belum juga merasakan sesuatu yang beda di saku kumalnya. Aneh. Tumben ia bisa hidup sepanjang ini tanpa merokok.
Tiba-tiba saja Pak Anto, pak kepala desa uring-uringan. Pasti ia mencari-cari kunci motornya lagi. Kubantu ia mencari tanpa direstui. Tapi kuhentikan pencarian begitu ia mengumandangkan sesuatu yang menggetarkan duniaku.
“AA’, kamu lihat rokok bapak tidak?”
Aku seperti membatu. Tak bergerak. Jadi, rokok itu… rokok itu… bagaimana ini? Bagaimana caranya menyembunyikan bukti kriminalitasku yang berujung KDRT ini?! Somebody, help me!!!
Untung saja Icank segera menyelamatkanku. “Pak, nih rokokku dibawa saja,” katanya sambil menyerahkan sebungkus rokok. Karena buru-buru, Pak Anto meminjam rokok kebangsaan Icank dulu, lalu berangkat ke kantor.
“AA’, kamu napa?” tanyanya keautis-autisan. Entah Icank menyelamatkan siapa. Aku atau pak kepala desa? Tapi ia telah menyelamatkan jiwa-jiwa yang malang ini.
= >.< =
Akhirnya tibalah derai-derai air mata mengiringi kepulangan kami setelah 2 minggu menunaikan misi kesehatan. Memang berat perpisahan ini. Banyak kenangan manis dan kenangan lucu dengan penduduk setempat yang ramah-ramah. Baru kali ini kulihat si Icank menyemburkan air mata. Wajahnya jadi sedamai Romeo sekarang.
Kami pun melambaikan tangan keharuan. Tanpa belas kasihan, mobil pun berkeluh kesah bergegas memisahkan kami dengan penduduk desa menyisakan bulir-bulir air mata. Uh sedihnya! Selamat tinggal, bye-bye…!!!
= T.T =



 Di mataku telah muncul seorang cowok berambut rapi dan bersih. Kutatap baik-baik cowok kinclong itu. “Icank?!” Ia mengangguk bangga sok merapikan dasinya. “Kamu cukur ya? Huah…,” tapi aku gengsi seribu abad mengakuinya. ‘Rapi sekali,’ batinku merah jambu.
Ternyata beberapa hari di desa tak membuat Icank semakin berantakan, tapi malah sebaliknya. Icank jadi belajar hidup rapi dan bersih di desa. Omong-omong sebenarnya sih isi kopernya yang selalu bergerumul keluar dari tempatnya menghirup udara kebebasan itu jadi sarang kucing melahirkan. Kucing-kucing yatim piatu itu senang tidur di atas baju-bajunya yang bergelimpahan keluar koper, hehe.
Lalu terbersit ide di kepalaku, masa kepalanya. Kuhadiahkan ia sebuah nama yang tak terpikirkan olehnya selama 19 tahun kami hidup. “Bagaimana kalo kupanggil kamu Ii’?” kataku semena-mena. “Karena kamu sudah ngga gondrong lagi, namamu kupangkas juga.”
Ia tersenyum pepsodent, meskipun tak diberi upah. “Jadi Aa’ dan Ii’ dong.” Begitulah ‘tragedi’ sejarah nama jadul kami berdua. Tapi tentu saja tak sampai mengorbankan nyawa kambing lebih banyak lagi.
(Jumat, 19 November 2010, jam 1 siang)
V(^_^)V

Kamis, 17 November 2011

SERIGALA TERAKHIR (part 4 of 4)

(nah gitulah kehidupan jarot yang selalu dikejer2 mantan sahabatnya ndiri yang mau membunuhnya, padahal jarot ga tega lukain sahabatnya dikit ajah, kecuali si jako n sadam tuh yang ga bisa dimaafin yah suruh fatir aja bunuh tanpa harus mengotori tangannya. Tapi jarot sepenhnya masih cinta ma sahabat2nya itu. Fatir yang slalu ngelindungin jarot malah smakin ngebuat jarot terkambinghitamkan, cos dy ga ragu2 ngebunuh. tapi tuh mua fatir lakuin cos dy ingin menunjukkan dy tuh lebih setia kawan daripada mantan sahabat2nya dulu waktu semasih unyu. Karna fatir yang overprotektif malah buat jarot muak dilindungi terus…)



Sesampainya di markas malam itu, jarot dimarahi habis2an oleh gengnya. Jarot terdiam.
“kamu nih pacaran ama aisa. Kamu kan tau aisa itu adek musuh lu!”
“bahaya, tahu. Bisa aja dy tuh jadi alat ale tuk menjebak kamu!”
Jarot ngebantah, “ah, aisa ga seperti itu…”
“apapun alasannya tinggalkan aisa. Lagipula bahaya untuknya kalo kau melibatkannya dalam masalah kita. Dy ga bersalah, ini demi kebaikannya,” saran temannya. “demi kebaikanmu juga.”
Mereka yang marah setelah mencerca jarot habis2an lalu keluar ruangan. Fatir meskipun dalam diamnya dy setuju dengan yang lain, ia pun ikut keluar. Jarot menunduk, dilemma…
Pagi itu, jarot menghampiri kawan2nya yang tengah asik menikmati pizza.
“hepi birthday, jarot. Thanks ya pizzanya.”
Jarot kaget karna dy ga pesen pizza. “aku ga pesen pizza.”
Duar! Tiba2 saja terdengar suara ledakan di luar. Sambil membawa pistol masing2 mereka bergegas keluar dan melihat mobil mereka meledak. Mereka kesal, karna sudah berhasil diteror oleh geng lawan…
Di ruangan itu, si bos mendelik memarahi mereka, “kalian ini gemana? Urus geng itu aja ga sanggup?”
Mereka hanya terdiam dimarahi karna lengah akan peristiwa ledakan tadi. Mereka diminta tuk lebih waspada lageh. Setelah dimarahi bos, mereka pun keluar…
Salah 1 temennya jarot lagi asik2an mabuk di sebuah bar ditemani dengan seorang cewek. Cewek itu minta permisi kemudian mengodekan sesuatu yang mencurigakan pada seorang pemuda.
“salam dari bos ale…”
Dor! Dor! Dor! Pemuda itu kemudian menembak temennya jarot yang ga curigaan itu tanpa pikir panjang. Dy pun mati bersimbah darah…
Akhirnya 1 temen geng jarot mati sudah n terbaring kaku di sebuah kamar. Bosnya marah karna ada anak buahnya yang mati. Lex sedih karna temen baiknya mati. Karna gusar, dy lalu menodongkan pistol ke jarot.
“napa bukan kau saja yang mati?! Napa?!” raungnya. Tapi jarot hanya terus menunduk pasrah. “ini semua gara2 kamu!” lex menyalahkan.
Di mana2 disalahin terus kayaknya si jarot neh T.T (di keluarga, digeng ale n gengnya ndiri).
Lex yang kalap hamper aja nembak, kalo aja ga ditolongin fatir. Fatir buru2 mencegahnya. Lex memelototinya. “kau bela dia?!” lex semakin gusar.
Lex menangis sedih sambil memegang wajah mayat temannya dengan lembut. Dy bener2 merasa kehilangan. Dy lalu keluar dengan gusarnya. Jarot juga sedih, dy ga menyangka ini akan terjadi n semua menyalahkannya. Fatir juga keluar kamar, meninggalkan jarot sendiri yang termenung2 di depan mayat temennya…
Ibu aisa membuka kamar aisa. Aisa masi saja terus menangis. Dy lalu menghampiri ibunya, “bu, izinkan aisa pergi, bu. Aisa cinta ama jarot. Aisa… aisa hamil, bu…”
Sang ibu terkejut mendengarnya. Aisa kemudian menangis2 sambil berlutut di hadapan ibunya. Ibunya membelai2nya penuh kasih sayang.
“maafin aisa, bu. Maaf. Aisa memang salah. Biarin aisa pergi, bu…”
Ibunya mengangguk. “pergilah, nak. Tapi kau tahu kalo kau pergi dari kampong ini, kau tak boleh kembali pula untuk selamanya…”
Nih ibunya berkata antara marah, sedih n sayang deh. Semuanya tercampur aduk, karna kasih sayangnya yang besar ama aisa, anak gadis satu2nya, tapi dy juga marah n kecewa karna aisa hamil di luar nikah…
Aisa pun pergi dari rumahnya. Dy menghentikan taksi n pergi ke suatu tempat ketemua ama jarot di atas gedung. Siang itu mereka kembali ketemu. Aisa memeluk jarot penuh kerinduan. Jarot perasaannya tercampur aduk meresponnya, dy bersikap dingin.
“jarot, aku mau ikut sama kamu. Aku dah pergi dari rumah,” tutur aisa senang.
Jarot memandanginya berat penuh kepedihan. “aisa, kita putus aja…,” ucapnya berat.
Aisa kaget n syok. “apa? Tapi kenapa?!”
“ini semua demi kebaikan kamu, aisa,” jarot memberi alasan. “dan juga demi kebaikanku.”
Aisa mengernyit. “demi kebaikanku ato demi kebaikanmu saja?”
Jarot memegang kedua bahu aisa yang masi tak terima. “ini demi kebaikan kita berdua. Aisa, ini demi keselamatanmu ndiri,” ia meyakinkan.
Aisa menggeleng2kan kepalanya. Padahal dah cape2 datang menemui jarot, bela2in malah denger kalimat putus yang mengecewakan. Aisa hamper menangis. “kamu nyerah? Kamu nyerah gitu ajah setelah apa yang kita jalani?!” protesnya kecewa.
Aisa menangis tersedu2. Tapi jarot berusaha untuk tega meninggalkannya menangis ndiri. Aisa membelakangi jarot yang dengan langkah berat mulai turun meninggalkan aisa. Jarot sebenarnya dilemma setelah merenungi semuanya kemarin, muanya terasa berat, dy harus tega meninggalkan aisa dan mengecewakannya gitu ajah tanpa alasan yang yang bisa diterimanya. Ia hanya ga mau jatuh korban lebih banyak lagi setelah kematian temennya kemaren.
Sebuah langkah kaki mendekati aisa. Orang itu lalu menepuk bahu aisa yang lagi menangis. Aisa merasakan secercah harapan, ia kemudian berbalik sambil tersenyum seneng. Namun kecewa karna pemikirannya ga sesuai harapannya, ternyata yang megang bahunya adalah fatir. Aisa merasa dikit ketakutan melihat wajah dingin itu.
Sementara itu jarot melangkah dengan berat di bawah. Dy merasa terpukul harus melepaskan aisa. Mua kebahagiaannya terlihat gamang dan kosong. Dy bener2 depresi. Dy ga sadar kalo seorang gadis berpakaian putih jatuh dari puncak gedung.
Bruk! Jarot terkejut begitu melihat mayat aisa terhempas ke tanah berlumuran darah tepat di hadapannya. Ia syok setengah mati. Ia langsung mendekap aisa, terpukul dan menangis sedih. Lagi2 dy harus ditinggal pergi orang yang dicintainya. Hatinya bener2 nelangsa, karna harus timbul korban lagi. (eh nangisnya jarot tenang amat yah, ga kayak lukman yang nangisnya ampe meraung2, hehe. Emang karakter jarot super kalem n penyabar alias menangis seperlunya n ga berlarut2).
Jarot lalu menelpon polisi dan melaporkan ada mayat jatuh. Setelah menelpon, dy melangkah dengan langkah terseok2 dan menangis tersedu2 deket box telpon umum itu. Bener2 terpukul n merana kehidupannya. Sedih deh T.T
Mengetahui adeknya mati, ale begitu dendam kesumat ama jarot. Pasti jarot yang dipersalahkannya terlebih dahulu karna dy berani memacari adeknya itu padahal di antara mereka ada bahaya. Ale semakin benci ama jarot dan ia ingin balas dendam secepatnya!
Ale jadi sering mabuk2an sejak saat itu, sendirian. Tak ada lagi yang menemaninya, muanya habis. Dy menatap foto gangster mereka berlima, kini tinggal jarot n dy yang tersisa. Dy lalu ambil pistol dan melampiaskan kemarahannya yang sangat dengan menembak ke langit berkali2. Marah sekali pada jarot. Ia meraung2 sekeras mungkin…
“aku mau ini semua berhenti. Stop sampai di sini,” jarot mengemukakan keinginannya di hadapan fatir di markas itu. Sekarang mereka tinggal berdua doang.
Fatir mendelik protes. Jarot tahu fatir akan meresponnya demikian, karna fatir ada dendam kesumat ama geng ale.
“stop. Aku mau kita berdamai dengan geng sebelah. Hormati wilayah mereka, kita jangan ngedar di sana lagi. Jangan ganggu daerah mereka lagi. Aku ga mo ada jatuh korban lagi,” jarot menegaskan.
Fatir terus mendelik melawan penuh protes. Jarot melawan arti tatapan itu. “kalo kau tak menyanggupinya, maka akan kubunuh kau! Ngerti?” ancamnya kemudian meninggalkan fatir.
Fatir jengkel sekali, jarot jadi bersebrangan banget ama dy. Sebenarnya sih sejak awal, hanya aja jarot baru berani menentangnya dengan keras sekarang. Padahal fatir ngebunuh pacarnya jarot agar jarot focus bertugas ngedar ke wilayahnya, tanpa harus memikirkan wanita. Tapi muanya sekarang sia2 aja…
Jarot yang masih terpukul akan kematian aisa terus mabuk2an di bar malam itu. (hehe si lex malah asik2an main bilyar tuh).
Siang berikutnya, jarot menelpon ale. Ale kaget karna jarot berani menelponnya. Jarot bilang mau ketemuan 4 mata. Ale tentu saja menyanggupi, toh dy mau menghabisi jarot. Tentu saja dy akan pergi menemuinya…
Ibunya masih berkabung di depen jenazah aisa. Ia membaca doa2 zikir gitu mengantar kepulangan aisa kealam baka. Ia tampak sedih n marah. Ale mendekati ibunya n pamit pergi.
“temukan yang bunuh aisa. Dy harus mati,” katanya penuh dendam tanpa melirik ale sedikit pun. Ale merasa menyesal karna ibunya bersikap dingin padanya, pasti ibunya kecewa n menyalahkannya atas kematian aisa. Karna aisa terpaksa harus dilibatkan dalam bahaya sengketa mereka. Tapi ibunya aisa juga geram pada jarot yang ditudingnya sebagai penyebab kematian aisa.
Ale akan segera bertemu dengan jarot sambil bawa pistol. Ale berpapasan dengan adeknya yang masih unyu, “jaga ibu, ya. Jaga kehormatan keluarga,” itulah pesan terakhirnya tuk adek. Adeknya mengiyakan. Ale pun berlalu…
Ale lalu menemui jarot yang menungguinya deket truk2 di kampong mereka. Ale tampak garang, karna akhirnya bisa berhadapan juga dengan jarot setelah mengejar2nya sekian lama. Jarot tersenyum melihatnya, dy bernostalgia.
“ingat ga? Waktu kita masih berlima dulu kita sering main di sini, berkelahi dan berbuat onar.”
Wajah Jarot terlihat damai mengenang masa lalunya, serasa ingin kembali ke masa2 indah itu. Ale meresponnya negative, dy mencibir bengis. Perasaan bencinya pada jarot memuncah.
“itu dulu, sebelum kau menghancurkan semuanya dengan membunuh sahabat2 kita,” tuntut ale garang.
“aku tak membunuh sahabat2 kita. Justru kalian yang ingin membunuhku duluan. Justru kalian yang mau saya mati, kan? Apanya yang sahabat? Sodara? Bahkan saat di penjara ke mana kalian semua? Mengapa kalian tak peduli sama aku? Padahal aku mencintai kalian semua! Tapi apa?” jarot mengemukakan kepedihan hatinya. “di mana semua sahabat2ku saat perih?! Kalian dah nusuk aku dari belakang! Kalian ga ngerti bagaimana perasaanku!”
“oh kau juga ga ngerti kan bagaimana perasaanku saat kau bergabung dengan naga hitam?!” ale membalas mengeluarkan uneg2nya. “kita neh udah bersebrangan.”
Jarot mengalah. Ale masih aja egois tanpa memikirkan napa dy ampe gabung ama naga hitam, kalo saja mereka ga mencampakkannya waktu di penjara gitu aja. (sebenarnya malah aku yang geram karna jarot ga mengemukakannya). Jarot dah letih bersengketa dengan orang yang masih dianggapnya sahabat itu. Makanya ia memilih diam n mengalah, ga banyak melawan kata2 ale menghindari perdebatan.
“aku mau kita damai aja,” hanya itu yang bisa jarot ucapkan.
Tapi ale ga terima. “dame?! Dame katamu? Semudah itu setelah kau membunuh semuanya?! Aisa tuh hamil n dy mati gara2 kamu, tahu!” tuntutnya sambil menodongkan pistol ke jarot.
Jarot yang tengah dicekik geram oleh ale, terkejut. “apa? Aisa hamil?” ia baru tahu. “ta.. tapi aku ga bunuh aisa. Aku begitu mencintainya. Aku ga mungkin membunuhnya…”
Tapi ale yang kalap tak mau mendengarkan kata2 yang keluar dari mulut jarot lagi. Mereka kemudian bergulat. Ale pengen nembak jarot, sedangkan jarot ngehadangnya agar dirinya ga tertembak. Dy dalam bahaya sekarang.
Dor! Tiba2 saja terdengar suara tembakan di tengah2 pergulatan mereka. Jarot terlihat syok. Wajah panas ale kemudian runtuh saat dy rubuh. Jarot termegap2, ia terbaring dengan ale. namun begitu menyadari ternyata yang kena tembak itu ale ndiri, jarot langsung bangkit dan mendekap tubuh ale.
Ale tampak sekarat karna luka tembak (hehe, senjata makan tuan tuh). Jarot mencoba menolongnya dengan membekap lukanya agar ga banyak darah yang keluar. Mata ale sayu redup. “le, ale, bertahanlah!” pekik jarot cemas.
Ale tersentuh karna jarot masih peduli padanya. Kepedulian jarot masih lebih besar, meskipun dy berusaha membunuhnya, tapi jarot masih tetep mencintainya sebagai sahabat. Haru T.T
“jarot… kupengen kayak dulu lagi… kupengen kita barengan kayak dulu berlima, bersama2 melewati hari2 yang indah n ceria. Coba kita bisa kembali ke masa2 dulu…” (hiks2, kok malah jadi ancur gini yah hubungan mereka? T.T)
Jarot mendengarkan keinginan sahabatnya yang sama dengan dirinya itu. Duh keinginan yang buat terharu siapa aja yang mendengarnya.
“rot, aku minta maaf yah karna sudah mau membunuh n mencelakakanmu…,” akhirnya ale rela minta maaf di saat2 terakhirnya itu. Tentu saja jarot memaafkannya (good boy T.T). jarot menangis sedih hingga pada akhirnya ale menutup mata tuk slama2nya.
Jarot menangisi kematian ale yang tadinya ingin membunuhnya itu. Ia lelah banget semuanya pergi meninggalkannya. Dy merasa tak punya apa2 lagi, hampa. Dy lalu melangkah pergi meninggalkan mayat ale dengan langkah yang terseok2. Dy begitu sedih n terpukul.
Inikah serigala terakhirnya? Hehe… (mulanya kupikir getuh sih, dy bakalan tetep idup…)
Dor! Tiba2 saja seseorang menembak bahu jarot. Jarot tersentak begitu merasakan panas di bahunya. Tapi dy masi kuat berdiri. Dy melihat siapa yang menembaknya. Fatir.
Fatir menembak dengan wajah garangnya. (?!). mulut jarot yang berlumuran darah tersenyum lemah menyambutnya, dy seolah mengisyaratkan fatir untuk melanjutkannya. Senyum terakhir yang terlihat tulus n ikhlas.
Dor! Fatir menembak lagi, kali ini menghujam dada jarot, dan jarot pun rubuh terjerembab di samping mayat ale. Kini dua2nya dah mati. Tapi raut wajah fatir seolah sedih setelah ngebunuh jarot. Begitulah dy menyampaikan rasa sayangnya pada jarot, yaitu dengan membunuhnya, karna dy ga mau orang2 kembali memburu n mau membunuhnya karna ale tanpa sengaja tewas di tangannya. Dy ga mau jarot kembali menderita n terkambinghitamkan. Dy terlalu baik untuk itu, jadi fatir merasa lebih baik jarot tewas dan mati dengan tenang di tangannya…
Gile ya, tuh si fatir, tapi kebisuannya yang misterius dan tak mudah ditebak apa isi pikirannya ini membuatku suka pada karakter seperti ini, hehe… :p tindakannya selalu tak disangka2 n mengejutkan… tapi intinya sih fatir tuh jahat n psikopat yang suka membunuh, makanya ampe2 melampiaskan rasa sayangnya juga dengan membunuh. Ampe jarot mati, fatir ingin tetap dianggap setia kawan olehnya. Habis, jarot suka marah2 kalo fatir ngebunuh orang demi dirinya, yah udah sekalian dimampusin aja sekalian. >3<
Kemudian terrekamlah kembali masa lalu yang ada di saat mereka masih slalu bersama2: bagaimana mereka bernyanyi2 riang, saat mereka tawuran antar geng kampong, saat dikejar2 polisi karena terlibat tawuran itu mereka berlari dengan riangnya, saat bermain sepak bola mereka saling tolong menolong waktu itu jarot kebanting dan ale membopongnya jalan, dan pula saat mereka berfoto bersama
“inilah dia kelima orang kampong yang akan menjadi orang besar. Persahabatan yang setia sampe mati,” terdengar dengungan komitmen mereka di masa lalu.
Duh sedihnya, kalo saja mereka selalu mengingat2 kenangan manis saat mereka bersahabat ini, pasti takkan terjadi kebencian dan dendam yang mendalam seperti ini T.T
…Tampak foto kelima sahabat dalam box itu, terlihat persahabatan yang kental dan ceria, namun berakhir tragis. Orang itu lalu mengambil pistol di deket foto itu, dan tampak wajah dendam adik kecilnya ale di sana. Diselipkannya pistol itu di pinggangnya.
Mungkin inilah serigala terakhirnya. Kedua kakaknya telah mati. Dy kemudian berjalan dan perlahan diikuti oleh teman2 sekampungnya menyusuri gang2. Mereka berjalan dengan garangnya. Sekarang dy adalah penerus yang menggantikan kepemimpinan ale, kakaknya. Untuk membalaskan dendam ke naga hitam… (tinggal fatir kale ye)
Narasi (suaranya jarot): di dunia ini slalu ada kejahatan dan kebaikan… yang baik belum tentu menang, dan yang jahat belum tentu kalah… semuanya hanya menjadi serigala tuk dirinya sendiri… dendam yah haruslah dibayarkan dengan darah… perang belum usai

=========================================================

selain suka nulis film, yuq invite buku perdana admin berikut ini!

 
Telah tebit....

PIN BB Ramadhan
By Aa’ & Chika, 2014

Editor : Tim Pena
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing
Desain Sampul : C. I. Wungkul
ISBN : 978-602-1238-74-5

Cet. I, September 2014
vi + 93 hlm. ; 13 x 19 cm

Diterbitkan Oleh :
Goresan Pena
Jl. Jami no. 230 Sindangjawa – Kadugede - Kuningan – Jawa Barat 45561
Phone : 085-221-422-416 Email : goresanpena2012@gmail.com
Website : www.goresanpena2012.blogspot.com

Harga : RP. 30.000
Untuk pemesanan Ketik PIN_NAMA_NO HP_ALAMAT_JUMLAH kirim ke 085221422416 atau inbox ke Capten Iwan Wungkul dan Arieska Arief
—
======================================================

TOK-TOK!
Mulanya, suara ketukan di pintu kamarku itu kuabaikan begitu saja. Aku masih ingin terlelap karena masih ngantuk. Paling kedua orangtuaku yang membangunkanku untuk sahur. Namun tak lama kemudian, aku ketindihan!
TOK-TOK-TOK!
Suara itu membuatku terbangun lagi. Tapi anehnya, begitu kubuka pintu itu, aku tak melihat siapa-siapa di luar sana…
…
Penasaran?
Mau invite buku ini sampai ke tanganmu? Dan temukan berbagai kisah unik nan ajaib, inspiratif, lucu, mengharukan, menyebalkan sampai yang mengerikan mengenai bulan Ramadhan yang tak ter-DC kan disertai beragam kisah terutama mengenai BB, Pilpres, Gaza, Piala Dunia dan… isinya tak cukup terwakili tentunya oleh display picture-nya!