THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 23 Juni 2020

Sepeda Pelenyap



Aku tak sabar lagi begitu ayahku pulang dari kebun di luar kota. Aku menanti hasilnya, apakah ia berhasil membawa pulang sepedaku kembali? Semoga saja sepeda itu tak dicuri. Ayahku mengatakan sebentar lagi akan ada mobil pengangkut yang akan membawa sepedaku kembali.

Aku begitu senang mendengarnya. Itu adalah sepeda kesayanganku dan akhirnya tak lama kemudian mobil pengakut itu pun tiba. Akhirnya sepeda kesayanganku kembali lagi. Aku tak sabar lagi ingin melihatnya.

Namun rasanya jadi kecewa juga begitu melihat kondisinya sekarang. Sepeda itu bagai sepeda butut sekarang yang tak terawat. Sepeda itu sekarang rusak berat, sedih sekali rasanya melihatnya. Sudah rusak, jelek, dan kotor pula. Aku sampai-sampai tak mengenali lagi sepedaku yang dulu. Apa benar ini sepedaku?

“Ambil saja sepeda itu, Nak. Nanti kamu akan kubelikan lagi sepeda yang baru,” kata ibuku padaku. “Kamu tunggu saja karena tantemu janji akan membelikanmu sepeda lagi.”

Aku jadi begitu bergairah mendengarnya. Semoga saja sepeda barunya akan segera tiba. Tapi kapan?

***

Sepeda itu masih awet sampai aku remaja kini. Kami segera beranjak pulang dengan menaiki sepeda aku bergengan dengan kawananku ini. Aku sudah terbiasa bersepeda pulang-pergi sekolah. Kami berani saja tuh bersepeda di jalan raya padat.

Kami pun bersepeda setelah mengambilnya dari gang. Kukendarai sepedaku ini memimpin. Aku asyik mengayuh sambil meletakkan bungkusan di sadelku. Namun begitu kukayuh kencang dan kucek lagi, bungkusan yang kulilitkan talinya itu hilang!

Ya, aku kecewa berat. Maka aku menepi di trotoar dan mencari-carinya di jalan. Tuh kan berkat kecerobohanku ini pasti jatuh di jalan deh, entah di mana. Sepertinya aku harus mengikhlaskannya saja. Seharusnya aku tak kepedean menyimpannya di sadel sepedaku karena beginilah jadinya, tak aman. Seharusnya aku simpan di saku. Huh, kapok deh tak berpikir matang tadi. Hilang deh entah di mana.

***

https://storial.co/book/kamu-akan-mati-di-usia-13-tahun

hy, readers! aku mau mempromosikan novel genre misteri horor karya THIRTEEN lainnya di STORIAL berjudul KAMU AKAN MATI DI USIA 13 TAHUN. dijamin ceritanya seru abis dan penuh ketegangan serta bikin tahan napas. ayo ramaikan karena sayangnya novel seepik ini kurang populer di storial. klik saja langsung gambar kover di atas untuk menuju link novelnya. selamat menikmati :=(D

THE EYEPATCH - 2



Beberapa bulan kemudian…

Drap drap drap…

“Eyepatch! Eyepatch!” sorak gembira para penonton dari tribun memberikan dukungan pada seorang pemanah yang tengah berlaga di panggung sirkus dengan menyebutkan nama julukannya berulang kali.

Pemanah berusia belia dan berambut ungu itu memang mengenakan penutup mata di mata kirinya. Tapi meskipun hanya mengandalkan satu mata, tembakan panahnya tak pernah meleset. Ia hanya mengenakan penutup mata itu saat pertunjukan memanahnya. Selain itu, ia tampil seperti pada umumnya orang kebanyakan.

Anya memandang ujung anak panah yang diacungkan si pemanah itu kepadanya bukannya dengan perasaan takut, tapi sepertinya dengan perasaan yang berbunga-bunga.

Syut! Sang pemanah langsung membidikkan anak panah tersebut ke sasaran dengan mantapnya. Sasarannya terbelah dua. Para penonton pun bertepuk tangan. Tak semua orang bisa melakukan pertunjukan sirkus serumit itu.

Hanya Shue the Eyepatch lah yang bisa melalukannya—begitulah nama sang pemanah tangguh berusia 17 tahun itu. Ia didandani layaknya seorang pemanah tangguh di masa kerajaan. Sorot matanya tajam seperti elang yang mampu menelan mangsanya bulat-bulat dan kemampuan memanahnya pun di atas rata-rata.

Hampir setiap malam ia menunggangi kudanya yang didandan elok pula, di sebuah lapangan besar sirkus itu untuk menampilkan sebuah pertunjukan memanah. Sambil menunggangi kuda yang terus berlari mengelilingi lapangan itu, ia ditantang untuk membidikkan anak panahnya ke sebuah papan. Bukan hanya sekadar papan, tapi di papan itu ada relawan yang rela diikat dengan sebuah apel yang berdiri di kepalanya. Anya adalah salah satu relawan yang beruntung pada malam itu. Ujung anak panah tadi telah menancap di papan tepat di atas kepalanya.

Anya tak menghiraukan anak panah di atas kepalanya itu. Hatinya tak gentar sedikit pun ketika Shue membidikkan panah ke apel di atas kepalanya. Hatinya berbunga-bunga karena sudah menjadi relawan di pertunjukan memanah pemuda yang dikaguminya itu.

Beberapa staf kemudian melepaskan ikatan Anya. Anya bagaikan terhipnotis oleh sosok Shue yang memesona. Tapi pemuda dingin itu sama sekali tak pernah memedulikannya. Raut wajah es-nya selaras dengan hati bekunya.

Usai pertunjukan, Shue segera beranjak memasuki kamarnya. Anya ingin mencegatnya karena ingin mengobrol dengannya, tapi beberapa orang gadis kemudian mengerumuni Shue untuk meminta tandatangan atau berfoto bersama, bahkan Shue pun sampai dipeluk-peluk saking dieluk-elukkannya. Tapi ekspresi wajah Shue tak berubah sedikit pun, tetap dingin.

Anya tertegun di tempat. Ia sama sekali tak ada ruang untuk mengobrol secara leluasa dengan pemuda itu karena para penggemarnya selalu saja datang mengerumuninya usai pertunjukan. Anya jadi merasa tak ada kesempatan karena merasa minder ia tak secantik dan semodern gadis-gadis yang menjadi penggemarnya itu. Ternyata penggemarnya Shue kebanyakan dari para gadis-gadis. Anya merasa lebih baik ia mundur. Gadis-gadis itu tak tersaingi olehnya.

Temannya—Lili—segera menarik tangannya. “Anya, sudahlah! Ayo kita segera pulang. Hari sudah larut. Besok kan kita shift pagi,” tegur Lili.

Anya terlihat kecewa. Lagi-lagi idenya agar bisa mengenal Shue lebih dalam gagal. Ia sengaja berkorban untuk menjadi relawan dalam pertunjukannya agar bisa mendapat kesempatan mengobrol dengannya.

Pemuda dingin itu benar-benar sudah mengambil hati Anya. Dewa cinta benar-benar telah membidikkan panah asmara ke hatinya. Tapi bagaimana dengan hati Shue?

Dengan lesunya, Anya pun beranjak pulang bersama Lili…

Rupanya dua pemuda sedang memperhatikan Shue yang sedang dikerumuni oleh para gadis. Mereka menggerutu. “Cih! Ingat tidak, sudah berapa banyak wanita yang mau jadi relawan dalam pertunjukan Shue sebulan ini, Ron?” komentar Gani.

“Aku tak mau menghitungnya dan tak mau tahu itu! Pokoknya sebelum kita berhasil menyingkirkan Shue dari tim sirkus ini, kita tak bakalan dilirik oleh para gadis!” seru Ron geram. “Gara-gara dia, kita nggak bakalan tenar dan kita nggak bakalan mendapatkan perhatian ketua lagi. Padahal dia kan anak baru di sini! Bagaimana caranya agar kita bisa menyingkirkan Shue dari sirkus ini?!”

“Sssst! Pelankan suaramu,” tegur Gani sambil menyikut Ron. “Aku tak mau ada yang tahu tentang rencana kita ini. Lihat!” Gani kemudian mengacungkan jempolnya mengarah ke seseorang.

Ron mengikuti arah jempol itu tertuju. Seorang pemuda dengan kostum badut menatap geram Shue juga. Pandangannya penuh kedengkian dan tangannya mengepal. Ia kemudian pergi dengan gusarnya.

“Hm. Badut itu? Sepertinya si badut kesal karena jumlah penontonnya jadi lebih sedikit,” komentar Ron.

“Benar! Karena pertunjukan Shue, sirkus jadi penuh terus setiap harinya. Pertunjukan memanahnya juga disambut tepuk tangan meriah para penonton, tapi tidak dengan si badut sejak kehadiran Shue di sini.”

“Jadi si badut juga punya pikiran sama seperti kita? Kita tak boleh melewatkan kesempatan ini. Bagaimana pun juga, si badut itu pernah menjadi pemanah terbaik di sirkus ini sebelum kedatangan si anak baru. Tapi karena kalah bersaing dengan anak baru itu, posisinya diturunkan menjadi badut oleh anak-anak sirkus. Badut di sirkus kita kan waktu itu lagi kosong, makanya dia diminta mengisinya.”

Mereka lalu memandangi Shue yang sedang memasuki kamarnya. “Kamu tenang saja. Pokoknya dalam waktu dekat ini, ia tak akan lagi berada di tengah-tengah kita,” kata Gani sambil tersenyum licik. “Kita harus mendekati badut itu. Mula-mula…,” ia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ron.

Ron terlihat mengangguk-angguk sambil tersenyum bengis. Mereka lalu tertawa-tawa licik sambil tos.

***

https://storial.co/book/kamu-akan-mati-di-usia-13-tahun

hy! ini karya horor thriller karya THIRTEEN di STORIAL. KAMU AKAN MATI DI USIA 13 TAHUN mengisahkan tentang seorang gadis kecil berusia 13 tahun yang berjuang untuk tetap hidup di setiap petaka tiap bulannya selama dy berusia 13 tahun. menarik banget bukan? apakah endingnya dy berhasil tetap hidup atau mati di usia 1 tahun? saksikan tantangan kematiannya tiap bulannya. silakan klik langsung gamabr kover di atas ini menuju link novelnya, dijamin seru dan menegangkan :=(D

Sabtu, 20 Juni 2020

R.E.D - 4




“Hosh-hosh…”

Para mafia berjas itu celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari-cari jejak Eve yang sudah telanjur menghilang dengan cepat.

“Sial! Ke mana gadis itu? Ke mana lagi dia bersembunyi?!”

“Itu dia!” Salah seorang di antara mereka kemudian menunjuki ceceran darah di lantai. “Dia pasti belum jauh! Ayo kita ikuti ceceran darah ini!”

Sementara itu, Eve masih saja terus berlari sambil menahan darah yang masih saja terus-menerus keluar dari lengan kanannya. Rupanya lengannya sempat terserempet peluru saat ditembak tadi sedangkan punggungnya...

Eve terhenti sejenak sambil bersandar ke tembok, melepas lelah. Dipandanginya luka di lengannya kemudian mengumpat begitu menyadari ceceran darahnya di lantai meninggalkan jejak keberadaannya.

“Argh! Sial!”

“Hei, jangan lari kamu!”

“Tangkap dia!”

Suara-suara itu harus memaksa Eve untuk kembali berlari. Ia tak punya banyak waktu beristirahat lebih lama lagi kalau masih mau masuk sekolah besok paginya.

Bruk! Eve sempat terjerembab saking lelahnya. Dipandanginya ke belakang dan melihat para mafia itu semakin mendekat.

“Ck! Bagaimana ini?!” pekiknya putus asa.

Namun jalan keluar segera menolongnya. Sebuah lift yang pintunya akan segera tertutup seolah memberinya kesempatan untuk itu di hadapannya. Dengan gerakan rolling, Eve bergegas memasuki lift itu diikuti dengan hujanan peluru. Namun peluru-peluru itu tak sampai menembus tubuh Eve untuk kesekian kalinya, melainkan hanya membuat pintu liftnya mengalami kerusakan yang tak seberapa.

“Bagaimana ini? Gadis itu mau lari ke lantai berapa?”

“Apa kita tak usah mencari-carinya, ya? Bukankah 40 menit lagi…”

“Benar juga! Lagian kalau memang gadis itu polisi, belum tentu juga kan ia bisa menemukan pengendalinya?”

“Ya, bagaimana pun kita harus segera keluar dari sini sebelum semuanya berakhir!”

***

“Hosh-hosh…”

Sambil terengah-engah tak karuan, dengan lelahnya Eve lalu tersaruk perlahan di dinding lift dan terduduk. Ia duduk sambil bersandar dengan wajah yang mulai memucat dan lelah habis-habisan. Pandangannya mulai sayu.

“Aku tak boleh menyerah … aku tak boleh berhenti sampai di sini … besok kan mau sekolah.”

Dilepaskannya syal di lehernya kemudian dibalutkannya ke luka di lengannya berkali-kali sebelum ia kehilangan banyak darah, meskipun ia sudah mulai merasa mual-mual.

“Eve! Eve?!” Terdengar suara memekik-mekik di earphone-nya.

Eve tersentak kemudian menyahut membalas sahutan rekannya. “Judit? Kupikir alat ini sudah rusak…,” tuturnya letih sambil membalut lukanya.

“Eve? Apa kamu baik-baik saja?”

“Ya, sepertinya besok aku baru bisa masuk setelah jam istirahat…” Eve mengikatkan balutan ke lukanya untuk terakhir kalinya.

“Sekarang ini kau berada di mana?”

“Entahlah. Aku ikut saja ke mana lift ini akan membawaku…”

“Keluar! Kau harus segera keluar dari gedung itu!”

“Kenapa? Kau seperti ketakutan begitu, tak seperti biasanya…”

“Kau harus keluar dari sana! Kalau bisa, kau juga harus meyakinkan orang-orang di sana untuk segera keluar karena…”

“Karena apa?!”

Bruk!

Terdengar suara mencurigakan dari seberang sana. “Jud? Judit? Kau kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kau sekarang berada di mana? Jud?”

Namun rekannya itu tak memberikan jawaban apa-apa.

“Jud? Jud?! Ayo, jawab aku!” pekik Eve mulai cemas. Napasnya semakin tak karuan karena tegang. “Dia … dia menyuruhku untuk keluar. Tapi…”

Eve menatap penanda di atas di lantai berapakah ia kini. Eve tersadar. Liftnya terus bergerak naik dan pintunya baru bisa terbuka begitu ia berada di puncak gedung pencakar langit itu.

Tring!

***

Judit memegangi kepalanya setelah menerima sebuah hantaman dari seseorang yang mendadak muncul di belakangnya. Judit berusaha untuk terus mempertahankan kesadarannya dengan gerakan menghindar spontanitas begitu ia merasakan arah serangan ke kepalanya lagi.

Ia yang tengah mati-matian mencari kode komputer pengendali itu untuk menonaktifkan bom-bom yang disebar, terpaksa harus mengerahkan tenaganya untuk melawan musuhnya yang sekarang ini…

***


Hy, readers! kali ini kuperkenalkan novel roman karya THIRTEEN di aplikasi NOVELME, silakan download dan search judulnya CAFFE LATTE FULL ROMANCE, dijamin bikin gigit jari dan seru, plus ada actionnya juga :=(D