hay, nemenin break dulu deh baru lanjut sison 2-nya, hehe. aku mo share lagu unravel versi sedihnya yang ada di sison 2 ini soal hide (pokoke menyedihkan bangetlah). nih jadi ending song sison 2 versi slow unravel yang baper banget, belum ditambah adegannya tuh. hiks!
Toka nangis karena Anteiku terbakar di tengah hujan salju! semua dimulai saat Kaneki keluar dari kobaran api Anteiku yang dibakar ama Yomo sih, sambil gendong Hide di bawah selimut putih. hm, kok jadi kayak mayat sih karena ditutupi semua? apa dah mati nih ya? Toka dan Yomo melihatnya, tapi dibiarkan pergi saja. lalu dy terus berjalan dengan lesunya dengan wajah sedih menggendong Hide pulang. dy menarik napas dan siap mental saat melangkah melintasi para CCG yang sibuk menyelamatkan teman2nya yang sekarat (ada Juzo yang menangisi rekannya yang sekarat, juga Akira yang meratapi Amon yang tak sadarkan diri, entah Amon sudah mati atau tidak. aku penasaran! semoga Kaneki ga sampai membunuh Amon, kan sama2 orang baik). kaki Kaneki melangkah di tengah2 mayat CCG yang tergeletak dan senjata2 yang hancur (ada yang menangis sedih dll. pokoknya semua hati orang hancur!). dy melangkah dengan tenangnya di tengah2 CCG yang kemudian memelototinya. dy jadi pusat perhatian mereka. ada yang menelpon atasannya untuk melaporkannya, ada yang hampir saja menembaknya tapi ditahan temannya karena sedang menggendong anggota CCG (Hide). Kaneki melintas dengan aman di tengah mereka. wajahnya sedih sekali sambil sesekali menatap Hide--menantinya untuk membuka mata dan sadar. wajahnya sendu sekali sambil sedikit-sedikit menatap sekitarnya dengan sedih--menatap CCG yang terpana melihatnya dengan beraninya lewat. tak ada yang berani bertindak--entah takut atau gimana, atau kasihan melihatnya tengah bersedih. di tengah salju, Kaneki terus melangkah hingga perjalanannya kemudian dihadang oleh Arima yang sudah menerima laporan dan... dor (hitam)!
silakan buka ndiri dengan ngeklik gambar di bawah ini:
Toka nangis karena Anteiku terbakar di tengah hujan salju! semua dimulai saat Kaneki keluar dari kobaran api Anteiku yang dibakar ama Yomo sih, sambil gendong Hide di bawah selimut putih. hm, kok jadi kayak mayat sih karena ditutupi semua? apa dah mati nih ya? Toka dan Yomo melihatnya, tapi dibiarkan pergi saja. lalu dy terus berjalan dengan lesunya dengan wajah sedih menggendong Hide pulang. dy menarik napas dan siap mental saat melangkah melintasi para CCG yang sibuk menyelamatkan teman2nya yang sekarat (ada Juzo yang menangisi rekannya yang sekarat, juga Akira yang meratapi Amon yang tak sadarkan diri, entah Amon sudah mati atau tidak. aku penasaran! semoga Kaneki ga sampai membunuh Amon, kan sama2 orang baik). kaki Kaneki melangkah di tengah2 mayat CCG yang tergeletak dan senjata2 yang hancur (ada yang menangis sedih dll. pokoknya semua hati orang hancur!). dy melangkah dengan tenangnya di tengah2 CCG yang kemudian memelototinya. dy jadi pusat perhatian mereka. ada yang menelpon atasannya untuk melaporkannya, ada yang hampir saja menembaknya tapi ditahan temannya karena sedang menggendong anggota CCG (Hide). Kaneki melintas dengan aman di tengah mereka. wajahnya sedih sekali sambil sesekali menatap Hide--menantinya untuk membuka mata dan sadar. wajahnya sendu sekali sambil sedikit-sedikit menatap sekitarnya dengan sedih--menatap CCG yang terpana melihatnya dengan beraninya lewat. tak ada yang berani bertindak--entah takut atau gimana, atau kasihan melihatnya tengah bersedih. di tengah salju, Kaneki terus melangkah hingga perjalanannya kemudian dihadang oleh Arima yang sudah menerima laporan dan... dor (hitam)!
silakan buka ndiri dengan ngeklik gambar di bawah ini:
Kaneki Ken—teman sekelasku di SD
itu. Aku selalu memperhatikannya dari jauh. Mungkin ia tak menyadarinya, tapi
entah mengapa aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Kasihan saja lihatnya.
Ia selalu saja menyendiri. Apa ia tak merasa kesepian?
Seperti biasa, begitu istirahat
sekolah kulihat lagi ia tengah membaca buku di lapangan sendirian. Ia
benar-benar kuper dan pemalu berbaur dengan anak lainnya. Akhirnya kuputuskan
untuk menyapanya. “Hei, lo! Tiap istirahat kamu selalu menyendiri baca buku di
sini. Gak main ama temen lainnya? Apa kamu gak kesepian?”
Ia menoleh. Wajahnya sangat manis
dan imut didukung oleh mata besarnya yang indah—inosent kesannya. Rambutnya
juga standar banget dan terkesan culun. “Mangnya salah?” tanyanya polos dengan
suara imut.
“Bukannya gitu, sih!” Aku lalu
duduk di sampingnya. Akhirnya bisa berada di sampingnya juga ya. “Aku selalu
liat kamu sendirian. Takutnya kamu kesepian. Kan kasihan kamunya. Jadi aku mau
ajak kamu temenen aja. Kebetulan aku juga belum punya temen. Kamu mau gak
temenen ama aku?”
Ia menyambutnya dengan senang
hati dan mengangguk kencang. Senyumannya sangat manis. “Mau, dong! Aku Kaneki.”
“Hide!” Kami kemudian saling
berjabat tangan. Aku senang bisa mengajaknya berkenalan, sepertinya anaknya
baik banget. Sepertinya ia tipe orang pasif yang tinggal menerima… maksudku
orang duluan yang harus aktif ngajakin, baru dia mau. Kami pun selalu bersama.
Itulah awal persahabatan kami yang bertahan hingga sekarang…
“Hiks-hiks-hiks…” Kaneki keluar
rumah malam itu sambil menangis-nangis sedih setelah kepergian ibunya. Ia jadi
selalu menangis karena itu. Kasihan sekarang ia sudah menjadi anak yatim piatu
dan tinggal sendiri di rumah.
Diam-diam kuintipi dia dari dalam
rumahku. Melihatnya sesedih itu, membuatku jadi sedih juga. Aku bisa merasakan
kepedihannya. Di usia masih sekecil itu sudah harus tinggal sendirian di dunia
ini. Tapi tenang, kawan! Masih ada aku. Aku akan selalu berada di sisimu agar
kau tak kesepian lagi. Kasihan dia!
Hari-hari selanjutnya, Kaneki
masih belum bisa masuk sekolah. Ia absen melulu. Ia pasti masih sedih dan
mengurung diri di rumah saking terpukulnya. Tapi sampai kapan? Terus bagaimana
dengannya ya di rumah? Aku selalu memikirkan sahabatku itu. Aku kasihan
padanya.
Keesokan paginya, kebetulan saja
kulihat ia tengah melangkah murung di depanku menuju sekolah. Segera saja
kuberlari menghampirinya. “Kanekiiiiii!!!”
Langsung kudekap ia penuh
kehangatan begitu tiba di hadapannya. “Kaneki!” sapaku riang. “Sampai kapan
kamu mau absen mulu dan mengurung diri di rumah? Aku tuh kangen banget sama lo!
Dah lama banget kita gak barengan, aku kan jadi kesepian, sob. Aku gak bisa
belajar tanpamu.”
Ia menatapku dengan wajah sembab.
Sebenarnya aku berusaha menghiburnya, soalnya aku bukan tipe orang yang harus
ikut-ikutan murung di kala temanku sedih. Aku bukan tipikal orang pemurung. Aku
hanya tak ingin ia merasa sendiri lagi! Aku janji akan selalu menjaganya dan
meramaikan hatinya…
Persahabatan itu terus terjalin
hingga kami SMA. Saking lengketnya, hampir tak pernah bertengkar karena ia
orang yang sangat baik hati (nggak mau menyakiti orang). Persahabatan kami awet…
“Kaneki, kalau kamu jadi ghoul,
kamu mau gak makan senior kita yang resek di kelas 2 itu?” kumemberi pertanyaan
pancingan. Iseng saja, hehe!
“Kagaklah!” tanpa pikir panjang,
Kaneki langsung menjawabnya. Jawaban yang pantas untuknya. Ia memang orangnya
terlalu lembut untuk melakukan kekerasan. Itulah yang kupahami darinya. Salut!
Kami menghabiskan dan menikmati
waktu bersama layaknya saudara kandung saking dekatnya. Sampai malam pun kami
nongkrong melepas lelah dari beban sekolah di taman bermain ini. Tapi aku tak
nyangka kalau ia bakal jadi ghoul sungguhan…
Kaneki yang kukenal selama ini
orangnya sangat baik hati dan berhati lembut. Ia tak bakal tega menyakiti orang
baik itu berupa lidah apalagi anggota badannya (ngerti gak apa maksud gue?).
Sahabatku ini orang yang sangat sopan, tak pernah bicara kurang ajar apalagi
mengeluarkan kalimat kotor. Belum lagi tuh sebenarnya dia lumayan manis dengan
wajah inosentnya. Semuanya itu membuatku betah temenen ama dia. Aku sangat
sayang padanya!
“Hah? Kamu mau kencan? Kirain
kamu suka kencan di toko buku. Suit-suit, kencan di kafe.” Kumenertawakan
menggodainya setelah ia mengutarakan niatnya itu, makanya ia datang ke
Anteiku—kedai kopi ini. Wajahnya jadi merah karena malu. Sori, sob! Aku memang
begini orangnya. “Siapa yang mau kaukencani itu? Dia?” Kemudian perhatianku
menyorot seorang gadis pelayan kafe itu. “Dia manis banget! Seleramu keren,
bro.”
Gadis yang membawakan kopi ke
meja kami itu tersentak.
“Heh cewek, siapa namamu? Kamu
temen kencannya Kaneki, ya?” tanyaku blak-blakan.
“Hide, bukan!” Kaneki langsung
menepis anggapan memalukan itu.
Tapi aku sudah kayak ember bocor
orangnya. “Manis juga lo! Cocok ama Kaneki, sodaraku ini.”
Wajah gadis itu memerah karena
malu. “Nama gue Toka.” Ia langsung kabur dengan kalemnya.
Tak lama, gadis yang dimaksud
Kaneki pun datang. Oh, rupanya gadis itu. Suit-suit, cantik banget! Rize
namanya. Ia berkacamata dan… seksi juga nih cewek.
“Kaneki, sebaiknya kamu lupain
aja dia. Gak cocok. Kayak beauty and the…” komentarku. (beast).
Kaneki jadi down mendengarnya. Ia
jadi rapuh, namun segera kuberi ia semangat agar berani mendekati cewek yang
ditaksirnya itu. “Kaneki, gak usah masukin dalam hati ucapanku tadi. Aku cabut
dulu, ya. Semoga kau berhasil ngedate ama cewek seksi itu. Bay, sobat!”
Kemudian kumelangkah pergi
meninggalkannya meskipun ia masih ingin ditemani. Tapi aku tak mau ikut campur
dalam urusan asmara. Aku seneng Kaneki bisa suka sama cewek tak peduli
penampilannya yang kutu buku itu. Aku harus segera pergi sebelum Kaneki goyah.
Bergegas kurengkuh sepedaku.
Sebelum pergi, kutoleh lagi Anteiku tempat sekiranya Kaneki duduk tadi.
Kutersenyum-senyum. Semoga besok aku dapat kabar baik darinya. Kemudian
kukayuhkan sepedaku pergi…
Hari berikutnya, aku dapat kabar
kalau Kaneki masuk rumah sakit. Apa yang terjadi? Di tengah-tengah kesibukanku
ngampus, kuberusaha menjenguknya di rumah sakit. Tapi aku tak bisa menemuinya.
Akhirnya aku hanya bisa pulang dengan tangan kosong. Kupandangi lagi rumah
sakit itu kebingungan sebelum kumengayuh sepedaku. Kaneki, cepat sembuh ya,
bro…
Huft! Jadi prihatin rasanya.
Keesokan harinya di kampus, ia masih juga tak nongol-nongol. Aku jadi cemas.
Aku tak bisa menengoknya waktu sakit. Bagaimana pun, aku sudah janji akan
menjaganya sebagai “ibu” baginya, meski itu takkan pernah tercukupi. Kasihan
kan dia!
Aku hanya bisa mengirim sms, tapi
dia tak pernah membalasku. Semoga dia baik-baik saja. “Huh! Temanku ini sudah
lama tak ngampus, aku jadi mencemaskannya. Kasihan ia lagi sakit,” curhatku
pada temen seniorku—Kak Nishi.
Seniorku yang berkacamata itu
berkomentar, “Dia pasti temen yang sangat berharga bagimu, ya? Sampei kau
mencemaskannya seperti itu.”
“Oh, banget! Sudah kuanggap adik
malah. Jadi aku harus menjaganya.”
Pulang kampus, kubersepeda ke
Hypermart untuk membeli sedikit makanan. Saking kepikirannya, aku memikirkan
makanannya pula. Kasihan kalo kurang gizi, kan aku ini “ibunya”. Lagian ia
masih sakit. Kumembeli beberapa burger karena ia sangat menyukainya, juga susu
kotak.
Begitu tiba di kosannya, rupanya
ia masih belum keluar dari rumah sakit. Maka kugantung saja makanan itu di
pegangan pintu rumahnya. Ia pasti akan menemukannya kalo dah pulang nanti.
Kutuliskan pesan untuknya agar jangan malas makan dan segera masuk kampus kalo
dah baikan. Aku merindukannya!
Hari-hari berikutnya, ia masih
saja belum masuk-masuk kampus juga. Di tengah kesibukan kuliahku, akhirnya
kusms ia karena sudah kelamaan gak masuk kampus: we! Kau akan mati di mata
kuliah sejarah. Cepat masuk atau kau eror, bro…
Kumelangkah santai pagi itu dan
melihat… eh Kaneki sudah ada di depan mataku memunggungiku. Bergegas kusambar
ia dari belakang penuh kerinduan (sama persis waktu SD dulu). Kaneki, akhirnya
kau masuk juga. Aku sangat mencemaskanmu!
“Kaneki, aku akan masukin
kepalamu ke kos kakiku dan aku yakin kau takkan tahan menghirup baunya. Kau ke
mana saja, sob? Dah baikan? Bla bla bla…”
Hari ini Kaneki agak berbeda.
Karena selain ia mengenakan penutup mata medis, ia juga tampak lemas. Apa ia
sudah makan? Ia tampak pucat. Apa ia masih sakit? Kuharap ia baik-baik saja dan
akhirnya kami bisa barengan lagi. Asyik!
Sepulang kampus, aku dan Kaneki
menuju rumah Kak Nishi. Ia sempat membelikan kami burger di jalan. Tapi tak
seperti biasanya, Kaneki tak memakan bagiannya. Padahal itu kan makanan favoritnya.
Bagaimana dengan makanan yang kubelikan untuknya? Apa ia menyukainya? Kenapa
temanku ini jadi malas makan?!
***
Semuanya terjadi begitu cepat.
Kecelakaan itu membuatku harus dirawat karena luka sana-sini. Aku tak begitu
mengingat kejadiannya. Begitu kumembuka mata, aku sudah berada di sebuah kamar
di Anteiku. Ng? Kenapa aku bisa berada di sini? Apa yang terjadi?
Klep. Kembali kupura-pura
tertidur dan berbaring memunggungi mereka yang masuk—Kaneki dan Pak Yoshi.
Kaneki menangis-nangis mencemaskanku. Ia terdengar galau dan depresi berat.
“Karena aku, Hide jadi begini.
Hide tak tahu apa-apa dan ia juga tak tahu masalahku mengapa aku menghilang
sejenak dari kampus. Hampir saja aku menelannya. Ia orang yang sangat berarti
bagiku. Aku takut… aku takut tak bisa akrab lagi dengannya. Aku sudah menjadi
monster dan aku tak mau jiwanya terancam karenaku. Bagaimana pun juga, ia tak
terlibat apa-apa. Aku tak mau dia mati di tangan ghoul. Aku tetap merasa
sebagai manusia, aku bukan ghoul! Huuuuuuu…”
Pak Yoshi menenangkannya dan
mengajaknya bergabung ke Anteiku. Setelah pembicaraan panjang lebar, mereka pun
menutup pintu kamar kembali dan kumembuka mataku dengan tenangnya.
Kaneki? Rupanya kau ada masalah
berat, kawan. Kenapa kau tak cerita? Aku bisa merasakan kepedihanmu sama
seperti waktu kecil dulu, sob. Apa kau segan membagi bebanmu denganku? Bukankah
aku sudah berjanji untuk melindungimu? Tapi kau memang orang seperti ini, sama
sahabat sendiri pun kau merahasiakannya dan menutup-nutupinya saking
tertutupnya.
Aku sudah tahu semua mengapa kau
jadi sangat murung setelah keluar dari rumah sakit. Apa karena itulah aku tak
diperbolehkan menjengukmu di sana? Apa yang mereka lakukan padamu? Mengapa
mereka membuatmu menjadi setengah ghoul? Ini masalah serius!
Aku sudah membuat Kaneki banyak
menangis karena mencemaskanku. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk membuatnya
kembali menjadi manusia normal. Kasihan Kaneki! Rupanya ia sedang sangat
menderita seperti ini. Terima kasih Kaneki, karena kau sangat peduli padaku.
Ia melalui penderitaannya seorang
diri, sementara aku tak bisa berada di sisinya menghadapi masa-masa sulit itu.
Aku tahu ia tak ingin melibatkanku dalam bahaya ini. Tapi aku akan terus
menjaganya dengan berpura-pura tak tahu masalah kalau para staf Anteiku semuanya
adalah ghoul. Aku juga akan menjaga rahasia terbesar Kaneki agar jangan sampai
ia dalam bahaya…
Meskipun mengetahui semuanya
gara-gara pura-pura tak sadarkan diri kemarin itu, aku masih sering main ke
Anteiku. Kaneki menjadi salah seorang staf di kafe itu. Dengan begini, aku bisa
mengawasinya dengan sering main ke sini jadi pelanggan setia.
Mungkin ini namanya nekat. Sudah
tahu itu sarang ghoul, eh masih saja nongkrong di situ. Aku tak takut dan aku
cukup percaya diri bisa berpura-pura tak tahu seperti ini. Takkan terbongkar.
Aku akan menjaga Kaneki dari sini sebagai satu-satunya teman manusia yang
memahaminya. Cukup itu saja! Aku juga takkan membahayakan ghoul-ghoul baik ini.
Aku yakin mereka baik karena mereka mau menerima Kaneki menjadi bagian dari
mereka dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Tak mungkin kan Kaneki
menghadapi perubahannya ini melalui arahanku?
Aku harus pandai menutupi
semuanya agar jangan sampai semuanya terbongkar. Aku harus pandai berpura-pura
seolah tak terjadi apa-apa. Termasuk bagaimana bersikap dengan Kak Nishi yang
ternyata berniat menyantapku. Tapi aku tak takut masih temenen ama ghoul yang
akhirnya bergabung di Anteiku itu.
(Mungkin kalo orang lain itu
sudah menghindarlah karena pikiran waras dan hubungi CCG. Tapi karena temanku
ada di Anteiku, mau tak mau aku harus berpura-pura dan aku sama sekali tak
takut!)
Tiap cabut, seperti biasa adalah
kebiasaanku untuk menatap lagi Anteiku (kebiasaan). Seolah menatap Kaneki penuh
kecemasan. Semoga saja ia baik-baik saja dan mereka di sana bisa menjaganya
baik-baik. Aku tak akan kuat melindunginya jika berhadapan dengan bahaya ghoul
lainnya. Jujur saja, aku sangat memikirkan Kaneki meski selalu pura-pura tak
tahu…
CCG beraksi! Hal yang
kukhawatirkan terjadi juga. Aku memang tertarik memelajari gerakan dan taktik
CCG. Di kamarku ada banyak catatan yang kutempel soal CCG, bukan soal tugas
atau ujian. Semuanya demi Kaneki!
Begitu main ke Anteiku lagi,
Kaneki malah risih saat aku membahas soal ghoul dan CCG. “Kamu tertarik banget
ya soal ghoul?” tanyanya gelagapan—merasa sensitif.
Aku tahu ia tak ingin aku banyak
terlibat soal masalah ghoul ini. Aku tahu ia mencemaskanku dan berharap aku
menjauh dari pembicaraan sensitif ini. Tapi semuanya sudah bocor, tapi tentu
saja takkan kubocorkan karena ada kau di sini, Kaneki.
Maaf kalau aku pura-pura tak tahu
dan sok polos selama ini. Maafkan aku sudah menyembunyikan pengetahuanku ini
darimu dan yang lainnya, Kaneki!
Berita tentang pertempuran ghoul
(Aogiri) dan CCG pun selalu tersiar di TV. Aku jadi sangat mencemaskan Kaneki.
Ia bahkan sudah tak pernah mengirim kabar untukku. Sms gak pernah dibalas-balas.
Aku jadi galau dan gelisah di kamar. Apa yang terjadi padanya? Apakah ia
baik-baik saja?!
Ya Tuhan, lindungilah sahabatku
itu! Ia terlalu baik untuk disakiti, terlalu baik pula menjadi ghoul. Bagaimana
ini?
“Kaneki, setidaknya kau kirim
pesan padaku meski 1 huruf saja,” rintihku sambil menonton berita gawat itu di
tengah-tengah kamarku yang berbau CCG ini. Percuma saja kupegang selalu ponsel
ini. Aku selalu menunggu jawaban darimu, tapi kau seolah sudah tiada.
Aku harus berbuat sesuatu! Karena
cemas setengah mati, akhirnya kuputuskan untuk bekerja paruh waktu di CCG
sebagai staf pengantar pesan. Aku harus memata-matai pergerakan CCG. Aku akan
melindungi Kaneki dari sini—di tempat yang berlawanan dengan Anteiku itu!
(Risiko orang baik hati, kalo tak
mudah disakiti n ga membalas, pasti disayang dan dicemaskan oleh banyak orang.
Hide gak tahu waktu itu Kaneki disekap habis selama berhari-hari penuh penderitaan.)
======================================================================
dukung pula entriku dengan ngeklik gambar di bawah ini, bakal ada battle seru dari aku:
1 komentar:
UNRAVEL ��
Posting Komentar